Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 11


__ADS_3

Lyn dan pin memapah Aila perlahan membantunya menaiki anak anak tangga yang menuju ke kamar utama. Aila tampak merintih menahan rasa sakit yang teramat sangat. Bagian 'itu' Aila sedikit sobek dan berdarah.


"Apakah sangat sakit?"


Itu suara Pin. Ini kali pertamanya membuka mulut pada Aila. Dan Aila hanya tersenyum miris sambil mengaggukkan kepalanya.


"Karena ini yang pertama bagimu, Aila. Itulah mengapa rasanya sangat sakit. Dulu aku juga begitu."


Sontak Lyn dan Aila menatap tajam kearah Pin. Mereka mengira Pin pernah disentuh oleh Tiger.


"Oh ya ampun. Tidak tidak. Jangan salah paham. Aku tidak melakukannya dengan Tiger. Sama sekali tidak." Pin menegaskan apa yang mungkin disangkakan dua wanita itu tidaklah benar.


Lyn menghela napas lega, begitu juga dengan Aila. Entah mengapa dia merasa lega. Mungkin karena dia mulai merasa tidak nyaman jika saja benar Pin pernah melakukan 'itu' dengan Tiger. Apakah Aila mulai merasa cemburu? Entahla hanya Aila dan Tuhannya yang tahu.


Aila dibaringkan perlahan diatas ranjang. Kemudian Lyn mengambil sesuatu dari kantong plastik yang tadi dibawanya. Benda itu seperti salep. Atau mungkin memang salep.


"Aila sayang, bolehkah aku mengoleskan ini pada bagian--" Lyn menatap kebagian bawah Aila.


"Saya bisa memoleskannya sendiri, Lyn." Teriak Aila yang langsung duduk hingga ia merasakan sakit yang kembali luar biasa itu.


"Baiklah. Oleskan sendiri, secara perlahan dan hati hati."


Lyn memberikan salep itu pada Aila yang masih merintih kesakitan.


"Tiger yang meminta kita membelikan salep untuk mengobatimu, Aila. Tiger tahu itumu sobek." Lanjut Pin. Dia pikir Aila harus tahu bahwa Tiger yang tidak pernah peduli pada Ja-la-ngnya setidaknya memperdulikan Aila.


Wajah Aila bersemu merah, dia malu saat Pin dengan lancangnya menyebut kata sobek dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Tidak usah malu, sayang. Itu hal wajar. Kau tahu, wanita yang selalu menjadi penghibur Tiger juga sering mengeluh karena senjata Tiger sangat besar dan kadang membuat mereka kesakitan." Sambung Lyn.


Aila semakin bersemu merah, ia merasa tubuhnya panas. Bagaimana mungkin Lyn mengatakan hal itu dengan santai dan itu membuat perut Aila mual.


"Oleskan salepnya, dan selamat beristirahat."


Lyn dan Pin meninggalkan Aila sendirian di kamar. Aila pun langsung melangkah perlahan menuju kamar mandi untuk mengoleskan obat itu. Setelah selesai Aila kembali berbaring di atas tempat tidur.


Aila kini sudah berpakaian yang layak seperti pertama kali dia tiba di mansion ini. Lyn dan Pin membelikannya beberapa pakaian yang cocok untuknya saat mereka di Pattani. Setidaknya Aila merasa senang dan sedikit lega. Dan satu lagi yang sangat penting, Aila sudah bisa sholat menggunakan mukena yang merupakan mahar dari Tiger untuknya.


Mata Aila berkaca-kaca menatap tumpukan mukena dan sajadah serta diatasnya ada Al-Qur'an kecil. Aila ingin segera menyentuh mereka, tapi matanya terlalu berat untuk dibuka hingga akhirnya Aila terlelap nyaman dibalik selimut motif bunga sakura.


...🐯(NATM)🐯...


Lyn benar benar menemui Tiger. Dia menatap tajam wajah tenang Tiger yang sedang fokus di depan laptopnya.


"Kau keterlaluan!" Teriak Lyn yang membuat kedua Alis Tiger menukik.


"Apa lagi kali ini?"


Akhirnya Tiger mengalihkan fokusnya untuk menatap wajah kesal Lyn, adik kecil kesayangannya.


"Kau menyakiti Aila. Kau tahu, Aila bukan wanita penghibur. Dia tidak terbiasa melakukan hal itu. Terlebih kau melakukannya dengan kasar hingga membuat Aila sangat tersiksa dan kesakitan."


Lyn bicara dengan cepat tanpa jeda. Tentunya tatapan amarahnya pun tidak lepas dari wajah Tiger yang hanya tersenyum simpul.


"Bukankah aku mengambilnya memang untuk dijadikan sebagai wanita penghibur?" Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan yang menegaskan pada Lyn, bahwa Aila memang hanya sebatas penghibur baginya, jadi terserah padanya mau memperlakukan Aila seperti apa.

__ADS_1


"Lagi pula aku sudah membelikan obat. Kau pikir aku pernah membelikan obat untuk mainanku yang terluka?" Lagi lagi itu bukan pertanyaan tapi pernyataan yang akhirnya membungkam mulut Lyn.


"Kenapa diam, Lyn. Apa sudah selesai protesmu." Tiger menatap sebentar wajah Lyn, lalu kembali fokus pada Laptopnya.


"Pergilah jika tidak ada yang ingin kau sampaikan lagi. Aku harus bekerja."


Lyn menghela napas kasar, lalu dia pergi dari ruangan itu dengan sedikit suara bantingan pada pintu. Itu membuat Tiger merasa ingin marah, tapi dia sudah berjanji tidak akan marah pada adik kecilnya itu, atau Lyn akan benar benar hilang dari pandangannya.


Lagkahnya terhenti saat tubuhnya menabrak dada bidang Seon.


"Ada apa sayang?" Seon menyibak rambut yang menggangunya untuk menatap wajah kekasihnya itu.


"Aku sangat membenci Tiger. Dia menyakiti Aila." Adunya sambil menghambur dalam pelukan Seon.


Seon mengelus lembut punggung kekasihnya dan menciumi puncak kepalanya yang wangi dan menjadi candunya.


"Mau berlatih memanah?"


"Tiger akan marah." Ucapnya menggemaskan.


Ya, Lyn dilarang menggunakan senjata tajam apapun itu oleh Tiger karena tidak mau Lyn terluka sedikitpun. Seperti itulah cara Tiger menjaganya. Tapi kali ini, Tiger sengaja memerintah Seon untuk membawa Lyn berlatih memanah. Karena Tiger tahu Lyn sangat suka olahraga memanah dan berkuda.


"Anggap saja ini sebagai permintaan maaf Tiger karena membuat adik kesayangannya ini merasa kesal." Seon menarik tubuh Lyn dari pelukannya, lalu mencubit manja hidung kesukaannya itu.


"Benarkah aku boleh memanah?"


"Tentu sayang."

__ADS_1


Lyn dan Seon pergi ke area memanah. Dan Lyn yang sudah lengkap dengan pakaian memanahnya siap menarik busur untuk menghantarkan anak panah pada sasaran. Lyn menembak sasaran dengan sempurna padahal baru percobaan pertama. Itu karena memang Lyn ahli dalam memanah. Hanya saja dulu dia pernah terluka oleh busur panah, hingga membuat Tiger marah dan berakhir melarangnya menggunakan senjata tajam apapun.


__ADS_2