
Tiger merasakan hal aneh. Sejak tadi malam sampai siang ini, sudah enam wanita yang melayaninya, tapi dia tidak bisa puas sama sekali. Dia sangat tersiksa karena menginginkan tubuh Aila. Namun gadis itu sangat susah untuk di taklukkan. Bukan. Bukan tidak bisa ditaklukkan oleh Tiger. Dia bisa saja langsung memper-ko-sa gadis itu semaunya. Ya bisa saja karena Tiger punya kuasa. Tapi, tidak dia lakukan karena mungkin hatinya masih memiliki rasa kemanusiaan. Mungkin.
Kini dia sedang menyantap makan siang, tapi makanan itupun bahkan enggan untuk ditelan.
"Lyn--"
"Iya Tiger." Jawab Lyn cepat.
"Kau mengerti caranya menikahi wanita islam?"
Pertanyaan itu membuat Lyn tersedak air yang sedang diminumnya. Namun dengan cepat ia kendalikan dirinya saat bola mata tajam itu menatap padanya.
"Maafkan aku, Tiger."
Lyn memperbaiki cara duduknya yang tadi tengah menikmati makan siangnya di meja yang sama dengan Tiger. Dia meletakkan sendoknya kembali di atas piring dan mulai serius menatap pada Tiger.
"Mungkin bisa ditanyakan pada Adam. Bukankah Adam pernah bersekolah di sekolah keagamaan dan tentu saja dia juga seorang Islam."
"Panggil Adam menghadap ke ruangan saya."
"Baik, Tiger."
Lyn bergegas menuju markas belakang untuk memanggil Adam yang sedang melatih pengawal baru dalam ilmu bela diri. Setidaknya itulah tugas adam sejak bergabung dengan Tiger lima tahun lalu. Adam belum diizinkan turun kelapangan, karena belum ada perintah apapun dari Tiger selain melatih ilmu bela diri untuk para pengawal yang bertambah setiap harinya.
"Hai, Adam." Lyn melambaikan tangannya kearah Adam yang berada di tengah tengah muridnya yang sedang melakukan atraksi bela diri.
"Ada apa cantik. Tumben sekali menemuiku saat sedang mengajar."
Adam menghampiri Lyn. Adam pernah menaruh hari pada Lyn, tapi pilihan Lyn jatuh pada Seon. Tentu saja karena memang wajah Seon jauh lebih tampan dari pada Adam yang memiliki wajah khas warga Indonesia asli. Tapi, Adam hitam manis yang sangat manly. Apa lagi senyumannya sungguh mempesona. Lyn hampir jatuh hati pada senyuman Adam andai saja Seon tidak lebih dulu mengajaknya berkencan.
"Senyummu selalu membuatku terpesona, Adam."
"Senang mendengar nya, Lyn. Tapi sungguh jangan katakan itu dihadapan Seon. Bisa saja pelurunya menembus kepalaku."
Lyn hanya tersenyum manis menanggapi ocehan Adam yang menurutnya hanya candaan belaka. Tapi sungguh, jika saja Lyn memuji Adam di hadapan Seon, mungkin benar apa yang dikatakan adam. Seon sangat mencintai Lyn, begitu pula sebaliknya.
"Kau sudah mendengar tentang gadis dari Negaramu yang dibawa Tiger ke mansion?"
"Ya, aku sudah mendengarnya. Seperti apa rupanyanya, Lyn? Ku dengar kau yang dipercaya untuk melayani gadis itu."
"Dia cantik. Lebih tepatnya sangat anggun. Matanya memacarkan ketulusan dan membuat luluh orang yang menatapnya. Dia memakai penutup kepala." Tutur Lyn mengingat bagaimana gadis itu.
"Andai aku bisa berjumpa hanya untuk saling menyapa. Pasti menyenangkan bertemu seseorang dari Negara yang sama."
__ADS_1
Adam mengatakan itu dengan raut kerinduan. Ya, dia mulai merindukan tanah kelahirannya, dimana dia telah meninggalkan ibu dan adik adiknya di sana untuk waktu yang cukup lama.
"Berhentilah meratap, Adam. Aku kemari membawa berita baik-- mungkin."
"Apa itu Lyn?"
"Tiger memanggilmu ke ruanganya."
"Sungguh?"
Demi apa. Akhirnya Adam bisa bertatap muka dan sedikit mengobrol dengan Tiger. Selama berada di tempat ini, Adam belum pernah benar benar di panggil secara khusus seperti ini oleh sang mafia.
"Kau sangat menyukainya, Adam."
"Tentu saja, Lyn. Jika bukan karena Tiger, malam itu aku sudah habis dibantai oleh kawanan Singa lapar itu." Ungkapnya bersemangat mengingat malam dimana ia terperangkap dalam kandang mafia singa yang akan menjadikannya umpan untuk mengelabui Tiger. Beruntungnya, Tiger berbaik hati memungutnya menjadi bagian dari Tiger. Itu tidak akan pernah terlupakan sampai kapanpun oleh Adam.
"Kalau begitu, cepatlah temui Tiger di ruangannya."
Adam melangkah cepat, hingga akhirnya ia tiba di ruangan Tiger. Matanya tertunduk menatap susunan ubin di ruangan yang beraroma wangi sangat wangi. Ini pertama kalinya Adam menginjakkan kaki di ruangan ini. Tiger tidak sendiri. Ada Seon dan Adit juga disana.
Seon dan Adit duduk di sofa mewah ruangan itu, sedangkan Tiger masih tenang di kursi singasananya sambil sesekali menyesap rokok dan meniupkan asapnya membentuk bulatan bulatan.
"Kau seorang Islam?"
Tiger langsung ke intinya tanpa perlu basa basi. Dia tidak suka basa basi, kecuali memang diperlukan untuk pemanis belaka.
"Kalau begitu, aku tugaskan kau untuk mengurus pernikahanku dengan--" Lidah Tiger terasa berat untuk menyebutkan Aila sebagai ja-la-ngnya. Itu tentu saja bukan kehendaknya, tapi entah mengapa lidahnya terasa berat tanpa alasan.
"Gadis dari Negaramu itu sungguh merepotkan. Kau tahu aku tadinya berencana untuk langsung membunuhnya seperti perintah klien ku. Tapi, aku tidak mau melewatkan untuk menikmati tubuh indahnya--"
Tiger mulai bangkit dari kursinya. Ia melangkah mendekat kearah adam yang masih berdiri kokoh tanpa gentar. Itulah yang menjadi point tambah seorang Adam dimata Tiger. Dimana Adam tidak mudah takut pada sesuatu yang mengintimidasinya.
"Kau tahu Adam. Gadis itu tidak mau disentuh jika belum dinikahi. Jadi, dia mengatakan untuk dinikahi terlebih dahulu, baru aku boleh menyentuhnya dan kemudian setelah aku puas, aku bisa langsung membunuhnya."
Kalimat kali ini membuat mata Adam sedikit bergetar. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana gadis malang itu akan mati mengenaskan ditangan Tiger. Mungkin itulah takdir gadis malang itu.
"Bicaralah, Adam!"
Suara itu milik Adit. Dia mewakili Tiger untuk menyuruh Adam memberikan tanggapan atas pidato terpanjang Tiger barusan.
"Maaf sebelumnya Tiger. Saya akan mempertanyakan hal yang lancang terlebih dahulu--"
Adam mendongak sebentar untuk melihat mimik wajah lawan bicaranya. Ternyata Tiger tengah menanti kelanjutan ucapannya.
__ADS_1
"Apakah Tiger bagian dari pemeluk Islam?"
Lancang. Sangat lancang pertanyaan itu keluar dari mulut Adam. Seon bahkan sampai menodongkan kepala pistolnya kearak Adam tepat di mulutnya. Adam merasakan itu saat laser hijau bersinar di area mulutnya. Ia tahu itu berasal dari pistol Seon.
"Turunkan senjatamu, Seon."
Seon menurut meski dengan perasaan masih kesal.
"Aku terlahir dari seorang ibu yang melayu dan Islam. Tapi aku tidak pernah tahu apakah aku juga Islam atau bukan, karena sejak kecil hanya diajarkan dan dikenalkan dengan dunia mafia oleh ayahku."
Tiger menjawab dengan sangat tenang, namun suara beratnya membuat siapa saja yang mendengar merasa dibawah tekanan.
"Salah satu syarat menikahi wanita Islam, harus sama sama Islam, Tiger."
"Urus segera keperluan pernikahan sialan itu, Adam."
"Baik Tiger. Tapi--"
"Katakan."
"Apakah Tiger telah disunat?"
Pertanyaan lancang berikutnya yang membuat kesabaran Seon mulai habis. Ia hampir menarik pelatuknya jika saja Tiger tidak langsung menjawab pertanyaan Adam.
"Tentu sudah. Ya--aku rasa dia telah dipotong saat aku masih kecil, aku berusia enam tahun-- iya aku yakin tentang itu."
"Jika begitu, mungkin Tiger harus membawanya ke Provinsi bagian Thailand Selatan. Karena disana ada masayarakat islam dan akan lebih mudah untuk menikah disana, Tiger." Jelas Adam.
Tiger kagum lagi pada Adam yang tahu banyak tentang seluk beluk Thailand bahkan sampai pada provinsi bagian selatan. Dia kira Adam hanya pria malang yang tersesat. Rupanya dia tidak sedang tersesat. Luar biasa. Jangan harap Tiger mengucapkan pujian seperti itu pada bawahannya kecuali pada Kinan sesekali. Karena bocah itu sangat menarik perhatiannya.
"Jack. Apa kau mendengarnya!"
Dia berucap pada sosok lain yang berada di sudut lain bagian mansion. Mereka terhubung melalui panggilan otomatis yang bisa hidup saat Tiger memerintahkan untuk tersambung dan akan mati jika Tiger ingin privasi.
"Saya sudah menemukan daerah yang tepat untuk pernikahan anda Tiger. Tepatnya provinsi Pattani." Sahut Jack.
"Saya akan menyiapkan jet pribadi anda dan Adam yang akan mengurus segala urusan di provinsi Pattani, Tiger." Adit pun ikut menyahut untuk ambil peran melaksanakan tugasnya seperti biasa.
"Kau dengar Adam?"
Adam mengangguk cepat.
"Persiapkan semuanya, Adam. Pernikahan ini hanya diantara aku dan gadis itu dihadapan Tuhannya."
__ADS_1
Adam mengerti maksudnya. Tiger menginginkan pernikahan yang sah secara agama belaka. Alias nikah siri. Adam menghela napas lega. Gadis itu beruntung sekali. Dia dilindungi oleh Allah dari kejahatan iblis yang bersarang dalam diri Tiger. Dan mungkin saja, dengan kehadiran gadis itu, iblis yang ada di tubuh Tiger merasa kepanasan hingga pergi pontang panting meninggalkan Tiger.
Tiger pria yang sangat baik dan berwibawa. Setidaknya itu penilaian Adam. Tiger juga sangat dermawan dan murah hati, terlepas dari sifat kejinya saat berhadapan dengan musuh. Tapi bisa Adam akui, Tiger benar benar contoh mafia yang syar'i mungkin saja. Dan sepertinya itu cocok untuk menggambarkan mafia bengis nan baik hati seperti Tiger.