
Pagi ini Aila kembali muntah, begitu juga dengan Varen yang sedang di perjalanan menuju desa tempat Aila tinggal.
"Tuan mabuk mobil?" Tanya supir taksi itu pada Varen.
Varen tidak menjawab karena dia masih terus muntah dengan membuang muntahnya kedalam kantong plastik yang memang disediakan oleh pemilik taksi itu.
"Coba minum ini tuan, pelanggan saya yang mabuk mobil selalu saya kasih obat ini."
Varen menolak dengan menggelengkan kepalanya. Lalu dia kembali muntah lagi.
Tidak jauh berdeda dengan Varen, Aila pun juga bolak balik kamar mandi untuk muntah. Bhika sampai khawatir dan hendak memanggil dokter Dimas lagi, tapi di larang oleh Aila.
"Aku baik baik saja, ma. Tidak usah memanggil dokter Dimas." Sahut Aila yang kini duduk di kursi meja makan sambil merebahkan kepalanya ke permukaan meja.
"Kamu yakin baik baik saja?"
"Iya, ma. Aku hanya mual biasa karena bawaan janin."
Tiba tiba Aila teringat saat dulu kehamilan pertama dan kedua, varen lah yang mengambil alih peran muntah dan mengidam. Apa kali ini hal seperti itu tidak lagi terjadi pada Varen, justru Aila yang mengalami sendiri.
"Mama…" Panggil Aila pelan.
"Iya, ada apa, sayang?" Sahut Bhika.
"Aku takut ma…"
__ADS_1
"Takut kenapa? Kamu takut sama siapa…"
Aila menatap wajah khawatir mamanya. "Aku takut mas Varen benar benar tidak akan percaya bahwa ini adalah anaknya." mengelus perutnya.
"Kenapa kamu berpikir begitu, nak." Bhika menghampiri Aila, dielusnya lembut punggung putrinya itu.
"Mama tahu sendiri, mas Varen mengalami muntah dan mengidam menganggantikan aku saat aku hamil pertama dan kedua. Tapi, sekarang aku malah mengalami langsung muntah dan mengidam ini ma. Itu artinya mas Varen tidak lagi mengalaminya. Jadi, pasti dia tidak akan percaya bahwa ini adalah anaknya…" tutur Aila merasa khawatir.
"Bagaimana mungkin aku tidak percaya, sementara aku sendiri juga mengalami muntah dan mual lebih dulu dari kamu, Aila."
Itu suara Varen. Dia sudah tiba di desa dan kini dia sudah berada di rumah Aila, berdiri tepat dihadapan Aila.
"Varen!" Seru Bhika terkejut dan rasa tidak percaya melihat kehadiaran Varen yang tiba tiba muncul.
Aila juga tak kalah terkejutnya. Sangking terkejutnya, Aila bahkan tampak bingung, dia tidak tahu harus melakukan apa dan harus bereaksi seperti apa.
Aila masih terus menatap kearah Varen dengan mata yang mulai berkaca kaca. Varen pun perlahan mendekati Aila, tapi tiba tiba matanya melihat sebuah apel terletak di atas meja makan.
Huuweekkk…
Varen hampir muntah dihapan Aila jika saja dia tidak segera berlari menuju wastafel.
"Nak Varen kenapa?" Tanya Bhika khawatir.
Sedangkan Aila masih terdiam seperti tadi. Dan Kinan yang juga sudah tiba di rumah itu pun langsung menyingkirkan apel yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Phi Varen selalu muntah saat melihat buah apel." Tutur Kinan yang berhasil membuat Aila dan Bhika terkejut sekali lagi melihat keberadaan Kinan secara tiba tiba dan juga terkejut karena pernyataan Kinan barusan.
"Dia muntah karena melihat buah apel?" Ulang Aila sambil menatap wajah Kinan.
"Iya, phi." Jawab Kinan.
Sebentar Bhika dan Aila saling bersitatap, lalu mereka serentak menatap pada Varen yang sudah selesai muntah.
"Maafkan aku Aila.." gumam Varen menatap pada Aila.
Air mata Aila akhirnya menetes dan dia menangis terisak, melihat itu tentu Varen tidak diam saja. Dia langsung menghampiri Aila untuk memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku sayang." Bisik Varen sambil mempererat pelukannya.
"Aku tidak bermaksud membohongi mas Varen. Aku hanya takut kehilangan suamiku…" tutur Aila dalam tangisannya.
Varen mengangguk paham sambil mengelus punggung Aila lembut. Lalu dia membawa Aila kedalam gendongannya untuk dibawanya menuju kamar Aila.
"Dimana kamarmu, sayang?" Tanya Varen.
Aila menunjuk pintu kamarnya yang tidak jauh dari mereka. Varen pun langsung membawa Aila masuk ke kamar itu dan mengunci pintunya dengan rapat. Sedangkan Kinan dan Bhika hanya bisa memandang kejadian itu.
"Mama, maukah mengobrol denganku di luar?" Tanya Kinan pada Bhika.
"Tentu mau." Sahut Bhika.
__ADS_1
Kinan merangkul tangan Bhika dan mereka pun melangkah keluar dari rumah itu membiarkan sepasang suami istri yang baru bertemu itu melepas rindu mereka yang telah lama terpendam.