Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 49


__ADS_3

Entah apa yang terjadi, Aila tidak berani bertanya. Dia hanya terus memberikan pelukan hangat untuk suaminya itu.


"Tuan? Apakah tuan tidur?"


Aila merasa bahunya berat karena Tiger menumpukan berat badannya disana. Dia terlelap nyenyak dibahu Aila.


"Tuan harus berbaring dengan nyaman." Aila mengelus lembut dahi Tiger, lalu perlahan membaringkannya dengan nyaman di kasur. "Tidur yang nyenyak, tuan." Di ke cu p nya dahi pria yang memiliki wajah menggemaskan saat terlelap seperti itu.


Kemudian, Aila melepas mukenanya. Lalu dia pergi ke kamar mandi untuk mengambil handuk kecil yang dibasahinya. Dia kembali mendekati Tiger.


"Maafkan aku, tuan." Bisiknya sambil melepaskan satu persatu kancing kemeja Tiger. Setelah terbuka, Aila mengelap tubuh itu dengan handuk basah tadi.


Setelah itu, Aila melepaskan ikat pinggang yang mungkin akan membuat Tiger tidak nyaman tidur dengan ikat pinggang yang terpasang. Kemudian, dia pun juga membasahi telapak kaki Tiger dengan handuk basah. Terakhir, Aila menggunakan handuk basah lainnya untuk membersihkan wajah Tiger.


"Terimakasih, tuan. Setidaknya malam ini aku bisa mempraktekkan pekerjaanku sebagai seorang istri yang mencoba merawat suamiku dengan baik." Gumam Aila sambil membelai lembut wajah lelap pria yang terkadang membuatnya kesal, marah, benci dan bahkan kadang ingin memakinya.


Karena mulai merasa mengantuk, Aila pun ikut berbaring disamping Tiger. Tapi, baru saja dia memejamkan mata, terdengar suara Tiger yang berteriak tertahan dengan raut wajah sedih. Sepertinya Tiger bermimpi buruk.


"Tuan! Tuan, bangun--"


Aila mencoba menggerakkan tubuh Tiger untuk membuatnya bangun, tapi itu sama sekali tidak berhasil. Tiger terus bergerak resah, bahkan peluh mulai terlihat di dahinya. Wajahnya tampak semakin sedih dan takut, lalu mulutnya mengucapkan sesuatu yang entah apa. Aila tidak bisa mendengarnya dengan baik.


"Tuan, anda bermimpi buruk? Bangun tuan--"


"Ayah-- Ibu--- Tidak. Jangan bunuh mereka! Jangan sentuh adikku---" Teriak Tiger sangat lantang yang membuatnya bangkit dari posisi berbaring.


Aila terkejut, dia terdiam tak berkutik duduk di samping Tiger. Menyadari dia hanya bermimpi, Tiger pun menoleh kesampingnya. Diraihnya tubuh Aila masuk dalam pelukannya.


"Aku membuatmu terbangun?" Bisik Tiger ditelinga Aila, dia mengira tadinya Aila juga tertidur. Dengan cepat Aila menggeleng.


"Mimpi itu, aku bermimpi buruk lagi. Mimpi itu tidak pernah datang lagi sejak kau ada di mansion ini. Tapi, malam ini mimpi itu datang lagi." Ungkapnya menjelaskan.

__ADS_1


Mimpi seperti apa yang membuatnya tampak sangat ketakutan? Haruskah aku bertanya--


"Kau tidak ingin menanyakan tentang mimpi yang barusan aku alami?"


Mata Aila membola mendengar kalimat itu, seperti nyambung dengan apa yang barusan dipikirkannya.


"Bolehkan aku bertanya?" Aila melepaskan diri dari pelukan Tiger untuk menatap raut wajahnya.


"Untuk malam ini, aku izinkan kau bertanya apapun yang ingin kau tanyakan."


Aila tersenyum senang. "Kalau begitu, ceritakan mimpi apa yang tuan lihat sampai membuat tuan sangat sedih dan ketakutan."


Tubuh Aila kembali dirangkulnya. Dia bahkan memberikan izin untuk Aila menyenderkan kepalanya didadanya dengan nyaman.


"Dua puluh tahun yang lalu. Saat itu aku berusia dua belas tahun--" Tiger mulai bercerita. "Ibu membawa aku dan adikku keluar dari mansion untuk pertama kalinya. Saat itu adikku menagih hadiah ulang tahun yang telah lewat beberapa hari, dia ingin membeli kue langsung di toko kue. Dia tidak mau kue yang dibuatkan oleh koki di mansion." Tiger bercerita dengan suara yang indah seperti sedang berdongeng.


"Kemudian, setelah mendapatkan kue untuk adikku-- kami pun berencana untuk kembali ke mansion. Tapi, tiba tiba mobil yang kami tumpangi di hadang oleh segerombolan pria bertubuh besar dan tingi."


Cerita berlanjut. Saat mobil mereka di kepung. Sopir pribadi yang juga kesatria kepercayaan sang ayah saat itu pun langsung turun tangan untuk menghadapi para bandit itu. Sayangnya, hanya dalam hitungan detik, pria malang itu meregang nyawa. Tiger, ibu dan adiknya ketakutan. Ibu pun memeluk erat kedua putranya saat seorang pria tinggi itu membuka pintu mobil.


"Tenanglah nyonya Tiger."


Pria itu meraih paksa tubuh adiknya dari rangkulan sang ibu. "Lepaskan putraku!"


Ibu berusaha menarik kembali tubuh putra bungsunya. Sayangnya saat itu juga seorang pria lainnya memukul tengkuk ibu hingga ibu tak sadarkan diri.


"Ibu, lepaskan ibuku--" Teriak Tiger mengejar orang orang yang membawa ibu dan adiknya masuk kedalam mobil mereka.


"Lepaskan ibu---" Tiger melempar seorang pria lainnya menggunakan sepatunya tepat dikepala pria itu.


Pria itu menoleh, dengan wajah merahnya dia menodongkan senjata kearah Tiger. Tepat saat itu terdengarlah sirine polisi dari kejauhan, hingga membuat sekumpulan pria itu pergi membawa ibu dan adiknya. Mereka sengaja membiarkan Tiger, agar bocah itu mengadu pada ayahnya bahwa adik dan ibunya telah diculik.

__ADS_1


"Aku kembali ke mansion sendirian sambil menangis. Aku mengatakan ibu dan adikku di culik oleh orang orang jahat. Dan saat itu, orangtua phi Tam yang langsung pergi untuk menyelamatkan ibu dan adikku. Sayangnya, dia juga tertangkap oleh kelompok itu."


"Kenapa mereka menculik ibu dan adik, tuan?" Aila tidak sabar untuk mendengar kelanjutan cerita itu.


"Karena, pimpinan mereka kehilangan bayi-nya yang baru lahir. Dan mereka menuduh ayah yang menculik bayi-nya."


"Benarkah? Apakah ayah tuan benar benar menculik bayi itu?"


"Tidak. Ayah bahkan tidak sedikitpun tertarik untuk berurusan dengan kelompok mafia itu."


"Lalu bagaimana mereka bisa menyimpulkan bahwa bayinya di culik oleh ayah-tuan?"


Sebentar Tiger menatap lekat wajah penasaran Aila. "Ada kelompok mafia lain yang mencoba mengadu domba ayahku dengan mereka."


"Mengapa?"


"Karena mereka ingin memiliki pabrik senjata kelompok Tiger."


Aila mengangguk saja walaupun sebenarnya dia tidak benar benar paham. "Lalu apa yang terjadi pada ibu dan adik, tuan?"


Tiger melepaskan pelukannya pada Aila. Dia bahkan bangkit dari tempat tidur, langkahnya membawanya mendekat ke dinding kaca dan menyibak gorden untuk menatap suasana diluar sana.


"Ibu dan adik-ku, dijadikan umpan untuk menjebak ayah agar ayah memberitahukan dimana bayi itu. Dan hari berikutnya, ayah datang untuk menyelamatkan ibu, adikku dan juga orangtuanya phi Tam. Namun, ayah datang tanpa persiapan hingga ayah, ibu, adikku dan mereka semua dibunuh oleh kelompok mafia itu, dia murka karena tidak dapat menemukan bayin-nya."


Aila terkejut mendengar itu. Segitu mudahnya mereka melakukan pembunuhan tanpa melakukan penyelidikan terlebih dahulu. "Mengapa mereka membunuh padahal mereka juga tidak tahu pasti siapa yang mencuri bayi itu. Mereka terlalu buru buru membunuh--"


Kalimat itu tidak bisa dilanjutkan oleh Aila, karena Tiger menutup mulutnya dengan bibirnya. Tiger men ci um Aila sangat dalam, dan sedikit ka sa r. Hal itu membuat Aila terkejut dan hendak berontak tapi tidak bisa, karena Tiger terus terusan menyerangnya sampai Aila menyerah dan pasrah dalam pelukan Tiger.


"Kekeliruan itu, menghancurkan aku, Aila. Dua puluh tahun lalu, mereka merenggut orang orang yang sangat aku sayangi. Dan, sekarang--" Ci um an telah berhenti, kini Tiger manatap wajah bingung Aila.


Aku juga akan kehilanganmu sebentar lagi. Mereka akan merebutmu dariku, Aila. Mereka akan memisahkan kita segera.

__ADS_1


"Aku telah bersumpah untuk membalaskan dendam kedua orangtuaku pada mereka. Aku akan membunuh mereka semua, tanpa terkecuali." Tiger mengatakan itu dengan menatap tajam kedua bola mata Aila dan menggenggam erat kedua bahu Aila hingga membuat Aila merintih merasakan sakit.


Jangan lakukan itu, Tiger. Jika anda membunuh mereka untuk membalaskan dendam, berarti anda juga akan sama seperti mereka. Sementara kedua orangtua-mu tidak akan kembali, meski kau membunuh semua orang di dunia ini.


__ADS_2