Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 58


__ADS_3

_Mark Holding_


Sejak pagi Ririn tidak bisa menghubungi Varen. Padahal harusnya Varen ada di perusahaan saat ini, karena mereka harus membahas kelanjutan misi mereka untuk memasukkan Mark Holding ke pasar lelang nanti malam.


"Apa mungkin telah terjadi sesuatu?"


Ririn mencoba menghubungi Adam, namun tidak juga bisa tersambung sama sekali. Dia benar benar tampak frustasi, karena sepertinya seseorang hampir mengetahui rencana pemidahan saham Mark holding.


"Gawat. Apa yang harus aku lakukan."


Ririn mondar mandir di ruang kerja Tiger, "Aaaaarrrghhk-- Apa yang harus aku lakukan."


Saat dalam kepanikan dan kebingungan itu, Ririn akhirnya ingat bagaimana caranya untuk menghubungi Adam saat dia tidak bisa menghubungi Tiger sama sekali.


Ririn menekan tombol pada benda yang mirip ponsel jadul itu untuk tersembung pada Adam.


Benar saja, Adam yang tengah bergelantungan di tebing sungai sambil berusaha membantu Adit untuk naik lebih dulu keatas tebing, merasakan alat yang terpasang ditelinganya bergetar.


"Dit, cepat naik. Sepertinya Tiger memberi kita signal." Tutur Adam semangat membantu Adit.


Taw dan Vac yang sudah lebih dulu tiba di atas tebing, membantu menarik tangan Adit hingga Aditpun berhasil tiba di atas tebing.


"Kalian tidak melupakan aku, kan?" Teriak Adam di bawah sana.


"Tentu tidak, bung. Jangan khawatir, kami akan membantumu."


Dan dalam hitungan detik saja, Adam pun berhasil tiba di atas tebing.


"Apakah masih ada signal dari Tiger?" Tanya Adit pada Adam.


Adam tidak menjawab, dia mencoba memperbaiki alat kecil itu yang ternyata kemasukan banyak air. "Alat ini rusak. Aku yakin Tiger akan terus memberi signal sampai bisa terhubung dengan kita. Jadi, kita harus memperbaiki alat ini."


Taw tidak mendengarkan Adam sama sekali. Dia malah memunggungi tiga rekannya itu. Matanya menatap jauh kearah hutan sana. "Kita hanyut terlalu jauh dari mansion." Gumamnya tanpa ada respon dari siapapun.


Ggrrrkk---


"Halo, Tiger! Kau mendengarku?" Teriak Adit saat alat itu mulai berfungsi lagi.


Gggrrrkk--


Ggrrrrrkk


"Halo!" Kali ini Adam yang mencoba bicara.


"Adam, kau kah itu?" Suara Ririn terdengar diseberang sana.


"Ririn!"

__ADS_1


"Iya. Adam apa kau baik baik saja?"


Adam tersenyum lega, ternyata yang menghubungi adalah kekasihnya.


"Keadaan memburuk. Semuanya kacau. Apa kau tahu dimana Tiger?" Adit yang mengambil alih pembicaraan itu.


"Aku tidak bisa menghubungi Tiger sama sekali. Karena itulah aku menghubungi Adam, aku pikir kalian tahu dimana Tiger--"


"Kami tidak tahu dimana Tiger, Rin. Mansion diserang. Banyak anak anak Tiger dan maid yang terbunuh. Kami berhasil melarikan diri."


"Apa maksudmu, Dit. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas!" Teriak Ririn yang merasa kesal karena tiba tiba jaringan mereka terputus.


"Ya ampun. Apa yang dikatan Adit. Mansion, terbunuh-- Siapa yang terbunuh."


Ririn mencoba untuk tersambung lagi dan kali ini satu kali panggilan langsung terhubung kembali.


"Kenapa terputus. Kalian dimana?" Tanya Ririn.


"Kami hanyut disungai, sayang. Jadi alat ini tidak bisa berfungsi dengan baik."


"Hanyut bagaimana Adam. Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Mansion diserang, semua anak anak Tiger dan maid terbunuh. Kami berhasil lolos dari kejaran musuh dan kini kami berada di daerah barat mansion. Tapi kami terbawa arus sungai sangat jauh dari mansion." Jelas Adam panjang lebar, tegas dan jelas.


"Ok. Kalian tetap disana. Aku akan menyusul. Usahakan benda ini tetap menyala, sayang. Dengan begitu aku bisa menemukan kalian dengan mudah."


"Tidak usah khawatir, Adam. Aku bisa menjaga diriku dengan baik."


"Baiklah, aku harap kau selalu dilindungi, sayang."


"Aku akan selalu dilindungi, Adam. Aku harus berhasil menyelesaikan misi ini karena hadiah yang Tiger janjikan sangat bagus untuk kita berdua."


"Apa maksudmu, sayang. Misi apa dan hadiah apa?"


Ririn tidak langsung menjawab. Dia mulai keluar dari perusahaan. Kini dia tiba di parkiran dan mulai mengendarai mobilnya menuju tempat Adam dan rekan rekannya terdampar.


"Tiger memintaku untuk membantu saat kelompoknya dalam bahaya. Jika aku berhasil dari misi ini, Tiger berjanji akan membiayai seluruh pernikahan kita."


"Apa?"


"Bersabarlah, sayang. Aku sedang menuju kesana. Jangan lakukan apapun. Kalian harus tetap diam disana. Ini perintah Tiger."


"Kau berbohong, Ririn."


Itu suara Adit yang ikut dalam obrolan pasangan kekasih itu.


"Aku tidak berbohong, Adit. Tiger memang memerintahkan aku untuk mengatakan pada kalian, jika sampai sesuatu yang buruk terjadi, kalian harus bisa bertahan hidup meski harus bersembunyi seperti pengecut. Tiger bilang, dia tidak ingin kehilangan apapun dan siapapun."

__ADS_1


"Kau serius, Ririn!"


"Seratus persen aku serius, Adit."


"Kapan Tiger mengatakan itu? Apa Tiger sudah mengetahui akan terjadi kekacauan ini?"


"Kau benar Adit. Tiger sudah tahu akan terjadi hal seperti ini. Tapi, harusnya tidak seperti ini. Rencana Tiger sepertinya tidak berjalan dengan semestinya, hingga membuat kita semua dalam bahaya. Tapi, aku rasa justru Tiger yang benar benar berada dalam bahaya."


Mobil Ririn sudah tiba di pinggir hutan. Dia turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke hutan sendirian dan tentunya tanpa ada seorangpun yang mengikutinya.


"Adit, cobalah hubungi Seon atau Kinan. Tanyakan keberadaan Tiger pada mereka."


"Baiklah akan aku coba." Jawab Adit lesu.


Sebenarnya sudah sejak tadi dia mencoba menghubungi Jack, Juno ataupun Seon, tapi tidak ada satupun yang bisa tersambung.


"Sayang, kau sudah hampir sampai?" Tanya Adam mengambil alih pembicaraan saat Adit mencoba menghubungi Seon.


"Ya, aku rasa aku akan segera sampai. Tapi, bisakah kalian berjalan sekitar dua kilo meter kearah utara. Disana ada markas kecil tempat Tiger biasa mengintai musuh."


"Berjalan dua kilo ke utara?" Sahut Taw dan Vac berbarengan.


"Iya. Sekarang." Jawab Ririn tegas.


Mereka yang sudah sangat kelelahan dan kedinginan itupun terpaksa berjalan sejauh dua kilo meter kearah utara untuk mencari markas kecil yang dimaksud Ririn.


Saat dalam perjalan, Adit akhirnya bisa menghubungi Seon. "Seon, kau bisa mendengarku?"


"Adit, kau kah itu!"


"Seon, kalian dimana?"


"Kami menuju markas lama Snake untuk menjemput Lyn dan Pin. Mereka disekap disana."


"Pin, juga di sekap bersama Lyn?" Tanya Adit tampak khawatir.


"Iya, Dit. Kau dimana?"


"Seon, dengarkan aku. Untuk saat ini, abaikan saja dulu, Pin dan Lyn--"


"Apa maksudmu, Dit. Aku harus segera menyelamatkan Lyn."


"Aku tahu, Seon. Tapi, masion di serang. Banyak yang gugur di mansion dan kita semua tidak bisa menghubungi Tiger sama sekali--"


Belum selesai Adit bicara, Seon langsung menarik tangan Kinan untuk ikut berlari bersamanya menuju mansion.


"Apa yang terjadi, Seon? Kenapa kita kembali. Kita harus segera menyelamatkan Lyn dan Pin--"

__ADS_1


"Kita bisa menyelamatkan mereka nanti, Kinan. Saat ini kita harus kembali ke mansiaon. Karena Adit bilang mansion diserang. Banyak korban berjatuhan--" Ungkap Seon menjelaskan sambil menambah kecepatan larinya.


__ADS_2