
_Mansion Tiger king_
Seon, Vac dan Taw tiba di mansion. Beruntungnya mereka bisa menghindari penjaga yang dititahkan Tam untuk menjaga mansion. Dan kini mereka sudah berada di ruang utama mansion untuk memasang bom yang mereka bawa.
Setelah selesai, mereka menuju tembok yang terhubung dengan Vila. Tapi, mereka benar benar tidak bisa masuk. Sangking kesalnya Seon sampai memaki Aila karena Tiger hanya memberitahu Aila tentang kunci rahasia untuk membuka akses menuju ke vila.
"AILA!"
Seon menahan teriakannya dengan menyenderkan punggungnya ketembok yang terdapat pintu rahasia menuju vila. Dan termbok itu bergerak seakan merespon teriakan tertahan Seon.
"Seon, sepertinya tembok merespon saat kau menyebut nama nona Aila." Ujar Vac.
Dahi Seon berkerut bahkan tampak hampir menyatu. Dia menatap tembok itu lekat lekat, diletakkanya kedua tangannya di sana. "A-I-L-A."
Tembok kembali bergerak, tapi belum terbuka. Hanya sekedar merespon.
"Coba nama lengkap nona Aila, Seon." Taw menyarankan.
Seon menghela napas. Dia tidak seutuhnya percaya ini akan berhasil, meski dia sudah melihat sendiri tembok itu merespon.
"AILA KHANZA." Ucapnya cepat namun jelas.
Ddrrrriiiittttt-----
Tembok bergeser, lalu pintu menuju akses ke vila pun terbuka. Mereka terperangah kagum dan sedikit tidak percaya, mengetahui semudah itu kunci rahasia membuka akses menuju vila.
"Dasar bucin." Rutuk Seon dengan sedikit tersenyum geli. Ya menggelikan sekali mengetahui kebucinan seorang pimpinan mafia yang kejam dan angkuh seperti Varen.
Taw dan Vac hanya mengangkat bahu mereka sambil ikut tersenyum geli bersama Seon. Kemudian mereka segera masuk ke vila dan secara otomatis akses itu tertutup kembali.
Kedatangan mereka disambut dengan todongan senjata api dari Sony dan madam Susan.
"Seon!" Seru madam Susan begitu bisa melihat wajah Seon dengan jelas.
"Turunkan senjara kalian, pak tua. Aku datang bukan untuk menyerang."
Segera saja Susan menurunkan senjata, tapi tidak dengan Sony. Dia masih terus menodongkan senjatanya, dia tidak mau cepat percaya pada Seon yang mungkin saja bagian dari pengkhianat. Kecurigaan itu bukan tak berdasar, justru melihat Seon bisa dengan mudah masuk ke vila ketika semua akses terkunci rapat menambah kecurigaannya.
__ADS_1
"Bagaimana kalian bisa masuk ke vila."
Seon Taw dan Vac masih mengangkat kedua tangan mereka ke udara. Meski begitu, Seon tampak tenang menanggapi pertanyaan Sony.
"Tiger memasang sandi kunci akses pintu itu menggunakan nama nona Aila." Jawab Seon dengan wajah mencoba meyakinkan Sony yang tampak jelas mencurigainya.
"Jangan coba menipu saya, Seon."
"Untuk apa menipu anda pak Sony. Tapi, melihat respon terkejut anda, sepertinya anda pun tidak tahu, kan?" Seon tersenyum sebentar.
"Saya pun tidak percaya dengan kenyataan konyol ini." Tangannya sudah dia turunkan diikuti oleh dua rekannya.
"Setahuku sandi aksesnya hanya benda ini." Sony memperlihatkan aplikasi di layar handphonenya dan dia juga sudah menyimpan kembali senjata apinya kebalik punggungnya.
"Aku kira Tiger tidak benar benar mencintai nona Aila. Ternyata dia sampai membuat sandi atas nama nona Aila untuk melindungi vila." Ujar madam Susan lega. Dia tersenyum lega mengetahui Varen tidak seperti yang dituduhkannya kemarin.
"Apa kalian masih tidak akan mempersilahkan kami masuk?"
Itu suara Taw, dia merasa sangat kelelahan karena jika dihitung mungkin mereka sudah berlari ratusan kilo meter sejak kemarin.
"Ayo, ayo masuk--" Ajak Susan ramah.
"Kalian pasti kelaparan. Tapi, sementara aku memasak, istrirahatlah dulu."
Susan mengantarkan mereka ke kamar tamu yang cukup luas dan nyaman untuk mereka istirahat.
Sementara Taw dan Vac beristirahat, Seon malah mengobrol dengan Sony diruang tamu.
"Apa kemungkinan anda tahu dimana Tiger pak Sony?"
"Tidak. Terakhir aku bicara dengannya saat dia memintaku untuk melindungi vila dan pabrik. Saat itu aku sudah curiga hal buruk akan terjadi. Tapi saat hal buruk benar benar terjadi. Tiger malah tidak bisa dihubungi sama sekali."
"Sebelum kami tiba di vila, Kinan sempat menemukan titik keberadaan Tiger. Tapi hanya sekitar lima menit, kemudian gpsnya kembali tidak terdeteksi." Tutur Seon.
"Semoga Tiger baik baik saja."
Sejenak suasana menjadi hening, baik Sony maupun Seon hanya diam dengan pikiran mereka masing masing.
__ADS_1
"Seon apa mungkin kau tahu siapa yang telah berkhianat? Sony mengatakan, kemungkinan Jack dan Juno yang berkhianat--"
Itu suara madam Susan yang datang dari dapur membawakan dua gelas teh hangat dan sepiring biskuit.
"Pak Sony benar mereka yang telah mengkhianati Tiger. Tapi, yang lebih mengecewakan lagi mereka menjadi pengikut phi Tam yang ternyata dalang dari semua kekacauan ini." Ungkapnya menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi. Hal itu membuat Madam Susan terkejut sekaligus bersedih.
"Sudah aku duga ada yang aneh pada Tam sejak dia tiba tiba meminta Tiger mengakui kehamilan Sarwa." Ucap Sony sambil mengepalkan kedua tangannya sangat erat menahan rasa marah dan kecewanya pada pria itu.
"Tuan muda Varen-ku yang malang. Dia pasti sangat terpukul mengetahui Tam telah mengkhianatinya." Susan merasa iba untuk Tiger.
Waktu terus berlalu, kini sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Seon, Taw dan Vac masih terlelap. Sepertinya mereka benar benar kelelahan.
Susan sudah menyiapkan sarapan dan menatanya di meja makan. Sedangkan Sony sejak pagi mencoba mencari keberadaan Tiger melalui satu aplikasi yang juga di buatkan khusus oleh Tiger untuk melacak lokasinya.
"Kau masih belum bisa menemukan, Tiger?"
"Belum, sayang."
"Seon bukankah kau bilang tadi malam Kinan sempat menemukan gps Tiger aktif, dimana tepatnya keberadaan Tiger?" Tanya Sony saat melihat Seon keluar dari kamar.
"Kinan bilang, kemungkinan Tiger tertangkap. Lokasinya sangat jauh dipedalaman hutan."
"Bagaimana Tiger bisa tertangkap. Tidak. Justru yang lebih penting siapa yang menangkap Tiger?"
"Tam. Dia yang mungkin menangkap Tiger--" Tebak
Susan.
"Sayangnya aku tidak tahu bagaimana Tiger bisa ditahan dan siapa yang menahan Tiger. Tapi, aku setuju dengan kalian."
"Tapi, bagaimana kalau ternyata malah Lion--"
"Tidak madam. Aku yakin Tam pelakunya. Buktinya dia meletakkan para penjaganya untuk melindungi mansion dan membasmi semua orang yang masih setia pada Tiger. Begitu banyak darah yang telah tumpah sejak kemarin sampai hari ini di mansion. Padahal Tiger melarang pertumpahan darah di mansion demi menjaga kenyamanan nona Aila yang tengah hamil muda."
Seon mengatakan itu penuh rasa menyesal, karena tidak bisa mematuhi perintah Tiger untuk tidak melakukan pembunuhan di mansion.
"Nona Aila-- Entah bagaimana keadaanya saat ini, semoga dia dan kandungannya baik baik saja." Gumam Susan.
__ADS_1
"Setidaknya Adrian tidak akan melukainya. Adrian sangat menyayangi Aila."
"Ya, semoga saja pak Sony benar. Meski aku rasa pria itu aneh dan matanya seperti mata seorang pembunuh berdarah dingin." Ungkap Seon menilai Adrian dari apa yang pernah dilihatnya.