
Meninggalkan kekacauan di mansion. Justru di markas, saat ini Tiger tengah sibuk menyusun rencana untuk menyerang Snake dan rencana untuk menembak kepala Dewi yang berani mengkhianatinya.
"Apa yang kau temukan, Kinan?"
"Semuanya, Tiger. Tidak ada yang tersisa. Kita mendapatkan Snake."
"Kalian cukup potong ekornya. Aku akan menghancurkan kepalanya."
"Siap, Tiger."
Adam, Adit dan Kinan yang ada di markas bersama Tiger. Tentu saja anak anak Tiger lainnya juga ada di disini bersama mereka.
"Mengapa, Seon tidak ikut dalam misi ini Tiger?" Tanya Adam penasaran.
"Karena dia pemburu. Jadi tugasnya cukup berburu dan membawakan mangsa padaku."
Adam mengangguk saja. Meski dia tidak benar benar tahu apa yang tersirat dibalik kalimat yang diucapkan Tiger mengenai Seon.
"Tiger, Jack ingin bicara." Itu Adit yang bicara.
"Sambungkan."
Segera Adit menghubungkan panggilan dari Jack pada Tiger.
"Tiger. Mungkin aku akan kehilangan kepalaku setelah mengatakan ini."
"Cepat katakan, Jack."
"Nona Aila bertingkah Aneh."
"Biarkan dia. Dia tidak penting."
"Baik, Tiger."
Bohong jika Tiger mengatakan Aila tidak penting. Matanya sedikit bergetar setelah mengatakan itu. Dia mulai merasa penasaran dengan keanehan apa yang terjadi pada Aila. Tapi, dia Tiger, tidak pernah mau diatur atau di ikat oleh apapun itu.
"Siapkan serangan malam ini."
__ADS_1
"Siap Tiger."
Untuk beberapa saat Tiger terdiam. Dia blank. Pikirannya tiba tiba kosong. Dia benar benar ingin membolongi kepala Jack karena dengan lancangnya memberitahukan informasi yang membuat fokusnya terganggu.
"Aku akan kembali ke mansion. Kalian tetap di markas. Persiapkan semuanya untuk serangan nanti malam."
"Siap kapten."
Tiger meraih kunci mobil di tangan Adit, lalu segera melangkah meninggalkan markas.
"Tidak biasanya Tiger menyetir sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi, Jack?" Adit mempertanyakan hal itu pada Jack melalui sambungan.
"Nona Aila berkelakuan aneh. Pin dan Lyn mengira kemungkinan nona Aila tengah hamil." Jawab Jack. Dia baru saja mendengar perbincangan Lyn, Aila dan Pin di area memanah.
"Apa? Dan kau memberi tahu itu pada Tiger?"
"Tidak. Belum. Aku hanya mengatakan, nona Aila bersikap aneh sejak pagi tadi."
"Oh syukurlah. Katakan pada Lyn dan Pin untuk merahasiakan tentang itu. Kita masih membutuhkan Aila dalam misi kali ini." Titah Adit pada Jack.
"Aku baru saja memberitahu mereka. Tenang saja, Lyn dan Pin tidak akan segegabah itu."
"Adit disini, Tiger."
"Tunda penyerangan hingga dua hari kedepan."
"Siap Tiger."
Setelah panggilan itu berakhir, Adit menghela napas dalam dalam dan itu membuat Kinan heran.
"Apa yang dikatakan Tiger?" Kinan penasaran.
"Tunda penyerangan hingga dua hari ke depan--" Jawab Adit dengan nada kecewa.
"Kenapa? Apa yang terjadi?" Kali ini Adam yang ikut menimpal dalam obrolan itu.
"Entahlah. Semoga semuanya baik baik saja." Adit tampak lesu. Dia duduk kembali di kursinya sambil mengusak wajahnya dan memijit keningnya. Sementara Kinan dan Adam hanya bisa menatapnya bingung.
__ADS_1
...🐯(NATM)🐯...
Saat sedang menyetir, Tiger mendapat panggilan dari Seon. Dia mengabarkan bahwa Arnold adalah king Snake yang sebenarnya. Baron hanya tangan kanan Arnold. Dan Arnold bersembunyi dibawah perlindungan Cakra dengan menyamar sebagai sekretarisnya. Tiger segera mengabarkan bahwa penyerangan markas Snake akan ditunda dua hari kedepan. Tiger akan berdiskusi dengan Seon, Juno dan Jack terlebih dahulu tentang hal mengejutkan ini.
Kini Tiger tiba di mansion. Suasana sore tampak mendung, sepertinya akan turun hujan. Langkah kakinya membuat suara yang jelas bahwa dialah raja Tiger yang sesungguhnya, hingga membuat siapa saja yang melihatnya tunduk menyambut kedatangannya.
"Selamat sore, Tiger." Sapa Juno sambil membukuk.
Tiger tidak menjawab, dia terus melangkah menuju kamarnya. Juno dapat mengerti, sepertinya Tiger sedang tidak baik baik saja. Itu tandanya Aila akan berada dalam masalah besar. Dan ini sepertinya berkaitan dengan tingkah aneh yang dilakukan Aila sepanjang hari ini.
"Oh sungguh kasihan, Aila yang malang." Guman Juno merasa iba.
Dan kini Tiger tiba di depan pintu kamar. Dia membuka pintu itu dan yang pertama tertangkap matanya, dimana Lyn dan Pin sedang tertawa bersama menggoda Aila, hingga wajah Aila merona merah. Tiger menatap tawa bahagia dengan tatapan datarnya.
Tiger sudah berdiri hampir satu menit di depan pintu, tapi tidak ada yang menyadari kehadirannya. Tiga wanita itu tenggelam dalam tawa bahagia mereka. Hingga akhirnya Tiger berniat untuk melangkah mundur dan hendak kembali menutup pintu kamar itu, tapi sebelum itu terjadi, Pin lebih dulu menyadari keberadaannya.
"Tiger!"
Sontak Pin turun dari ranjang, menyisakan Aila dan Lyn yang terkejut mendengad Pin menyebut nama itu. Perlahan mereka pun ikut menoleh kearah pintu.
"Tiger!" Lyn pun turun dari ranjang.
Pin berdiri di sebelah kanan ranjang, menunduk memberi hormat pada Tiger, begitu pula dengan Lyn yang berdiri di sebelah kiri ranjang. Sedangkan Aila menunduk diam diatas ranjang. Ia tidak berani menatap kearah Tiger.
Tiger mulai melangkah masuk. Dia mendekati ranjang, pada saat itulah Pin dan Lyn langsung berlari keluar meninggalkan kamar itu. Tidak lupa mereka menutup pintu.
"Lyn, apa yang akan terjadi pada Aila?" Ucap Pin setelah mereka keluar dari kamar meninggalkan Aila sendirian menghadapi Tiger.
"Berdoa. Kita harus mendoakan semoga Aila akan baik baik saja."
Mereka berpegangan tangan, melangkah menuruni tangga sambil berdoa untuk keselamatan Aila.
Sementara itu, Aila masih tertunduk di atas kasur seperti saat mereka tinggalkan. Dan Tiger sudah duduk di pinggir ranjang. Tangannya menarik dagu Aila hingga dia bisa menatap wajah merona Aila yang telah berganti menjadi rona takut. Wajah itu tampak pucat dengan bola mata yang menatap tak fokus.
Tiger menggertakkan rahangnya tidak suka mendapati wajah pucat Aila. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah pucat itu, lalu meletakkan bibirnya tepat diatas bibir Aila. Hal itu sontak membuat Aila membolakan matanya. Ciuman yang Tiger berikan sangat lembut. Aila dapat merasakan bahwa tidak ada nafsu disana.
"Apa aku semenakutkan itu?" Bisik Tiger ditelinga Aila, kemudian dia menarik tubuh Aila untuk dipeluknya.
__ADS_1
Jantung Aila berdebar kencang. Seseorang tolong sadarkan Aila, bahwa Tiger hanya sedang menjalankan misinya untuk membuat Aila jatuh cinta padanya, lalu menyiksanya hingga Aila tidak sanggup lagi untuk hidup. Aila tahu tentang misi itu. Dia tahu itu dari Seon, beberapa saat lalu. Itu saat Aila kembali dari arena memanah. Ia tidak sengaja berpapasan dengan Seon, dan Seon memberitahunya tentang alasan Tiger memperlakukannya dengan baik.
Tapi kelembutan dan kehangatan yang Tiger berikan sore ini, sungguh mulai meruntuhkan dinding pertahanannya yang beberapa jam lalu baru di bangunnya. Sesaat setelah pertemuannya dengan Seon, Aila bertekad untuk tidak akan jatuh pada perangkap Tiger. Namun, pada akhirnya ia tidak bisa membohongi hatinya yang perlahan luluh oleh rayuan Tiger.