
Malam ini, sepulang dari kantor. Varen memanggil Aila untuk datang ke kamarnya. Dan Aila datang tepat setelah dia selesai mandi. Varen juga sudah berganti pakaian. Dia memakai piyamanya. Ini pertama kali Aila melihat Varen menjadi pria biasa yang menggemaskan. Sungguh Varen begitu menggemaskan dengan stelan piyamanya.
"Kenapa kau tersenyum. Apa ada yang lucu?"
"Maaf tuan." Aila berhenti tersenyum.
"Kau sudah selesai melakukan ibadahmu itu?"
Mata Aila membola mendengar pertanyaan itu. Rasanya sangat romantis, ketika suami menanyakan apakah istrinya sudah selesai sholat atau belum.
"Kenapa tidak menjawab?" Varen melangkah mendekati Aila yang sejak tadi berdiri di depan ranjangnya.
"Kau marah karena aku membuat Adrianmu terkurung atau karena aku mengizinkan Dewi tinggal disini? Atau kau cemburu?"
Tidak ada respon apapun dari Aila, dia tetap diam. Melihat Aila masih terus diam, akhirnya Varen menarik tubuh itu masuk dalam dekapanya. Aila terkejut, karena ini sangat tiba tiba. Ayolah Aila, bukankah Varen memang selalu tiba tiba memelukmu sesuka hatinya.
"Temani aku tidur malam ini." Bisik Tiger sambil meletakkan dagu tajamnya itu tepat diatas puncak kepala Aila yang bersender didada bidangnya.
Detak jantung Varen sangat normal seperti biasanya yang selalu Aila dengar. Tentu saja Aila sering menempelkan telinganya di dada Varen, setiap kali Varen tiba tiba memeluknya. Detak jantung Varen benar benar tenang dan teratur dan itu berarti menandakan Varen tidak memiliki perasaan apapun padanya selain hanya menganggapnya wanita penghibur.
"Maaf tuan, bisakah lepaskan aku sebentar, rasanya pengap."
Varen langsung melepas pelukan itu. Dia menatap wajah sendu Aila. "Ada apa? Kenapa ekspresimu seperti itu?"
Varen bersikap manis lagi. Kata kata menyakitkan apa lagi yang akan dikatakannya padaku. Pikir Aila. Dia menyiapkan hatinya dengan baik agar tidak terlalu terbawa perasaan saat Varen mungkin akan mengeluarkan kalimat tajam itu lagi.
"Mengapa tuan meminta izinku untuk ditemani tidur. Bukankah selalunya tuan melakukan itu tanpa peduli keadaan dan perasaanku."
Kedua sudut bibir Varen terangkat sempurna. Dia tersenyum manis yang membuat Aila merinding ngeri.
"Malam ini, aku tidak akan menyakitimu. Aku akan memperlakukanmu dengan sangat lembut dan hati hati." Bisiknya dengan suara serak nan khas menggoda wanita.
Dibawanya Aila dengan sangat hati hati untuk ikut berbaring bersamanya. Setelah itu, Varen melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh Aila seakan Aila adalah guling. Kemudian, dia mengucapkan mantra dalam bahasa Thailand, yang entah apa artinya Aila tidak tahu, mantra itu membuat seluruh penerangan di kamar itu mati.
__ADS_1
"Phom rak khun." (Aku cinta kamu)
Varen mengungkapkan isi hatinya, setelah melakukan banyak pertimbangan. Dia ingin bersama Aila dengan terus bersikap manis padanya, sebelum melepaskan Aila kembali pada Lion King.
Mata Aila membola mendengar kalimat yang dia pahami maksudnya. Adam yang mengajarkannya beberapa kalimat berbahasa Thailand termasuk ungkapan cinta yang barusan Tiger katakan. Namun meski hati Aila sempat bergetar, dia tidak sebodoh itu untuk percaya pada kebohongan Tiger.
Apa yang terjadi? Mengapa Tiger tiba tiba mengungkapkan isi hatinya pada Aila. Apakah itu benar benar tulus atau hanya sekedar melemparkan umpan untuk memenangkan hati Aila untuk kemudian menyiksa Aila seperti rencananya.
Ya. Tiger sudah hampir mencapai target pembalasan dendamnya. Dan sesungguhnya tiga hari yang lalu, Tiger berhasil menyandera Hubo, putra angkat king Lion yang baru berusia tujuh belas tahun. Hubo dalam pengawasan Vio dan Rey di pabrik senjata.
Lion king belum tahu Hubo hilang. Dia hanya berpikir Hubo baik baik saja di asramanya. Hubo sekolah di pusat kota Thailand dan tinggal di asrama putra.
Tiger baru mengetahui Lion king memiliki seorang putra angkat sekitar seminggu yang lalu. Info itu diperolehnya dari Ririn yang memiliki adik yang juga tinggal di asrama yang sama dengan Hubo. Tanda pengenal kependudukan Hubo dimasukkan pada daftar pengenal orang lain. Tapi, hari itu saat Ririn berkunjung dia melihat Ben mengunjungi Hubo.
Rasa penasaran Ririn terjawab setelah adiknya mengatakan bahwa Ben adalah paman Hubo dan ayah angkat Hubo sering berkunjung ke asrama. Bahkan adik Ririn memperlihatkan foto ayah angkat Hubo yang tertata rapi di meja samping ranjang Hubo.
...🐯(NATM)🐯...
Aila bangun untuk sholat malam pada pukul tiga pagi. Matanya melirik keseluruh sudut ruangan. Dia tidak melihat tanda tanda keberadaan Tiger lagi di kamar itu.
Kakinya melangkah menuju kamar mandi. Aila akan mandi terlebih dahulu, maklum tadi malam Tiger menyentuhnya lagi dan lagi. Tapi, benar saja. Tiger begitu lembut dan memperlakukan Aila penuh kasih sayang. Rasanya sangat menyenangkan dan manis, meski dia tahu semua itu hanya lakonan Tiger semata.
"Apa yang aku pikirkan!"
Aila memukul mukul pelan kedua belah pipinya yang terasa hangat saat mengingat kejadian tadi malam.
"Dia bahkan langsung meninggalkanku setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Sungguh, berhentilah berharap pada manusia seperti dia wahai Aila_"
Kedua telapak tangannya membawa air untuk membasuh wajahnya terlebih dahulu, jika tidak seperti itu, mungkin Aila akan kembali tertidur di dalam kamar mandi.
Meninggalkan Aila yang berceloteh di kamar mandinya, Tiger justru sedang bersiap untuk menjemput Seon dan Jack yang ditahan di markas Lion. Kabar itu diketahuinya kurang dari satu jam yang lalu. Semua berawal dari keresahan Lyn yang merasa heran, karena Seon dan Jack tak kunjung kembali dari misi perburuan mereka.
Lyn meminta bantuan Kinan untuk mengecek keberadaan Seon.
__ADS_1
"Titik koordinasi Seon dan Jack terdeteksi di markas Lion." Ucap Kinan yang membuat Lyn semakin cemas.
Kinan dan Pin memeriksa dimana tepatnya titik koordinasi Seon dan Jack yang tersambung pada mereka. "Seon dan Jack sepertinya dikurung di penjara bawah tanah mansion Lion."
Penjelasan Pin, membuat Lyn langsung berlari menuju kamar Tiger. Dia mengetuk dengan sangat keras, hingga membuat Tiger terbangun. Beruntungnya Aila tidak terbangun, hingga membuatnya lebih mudah meninggalkan kamar itu.
"Apa yang terjadi, Lyn?"
"Seon--" Lyn terisak dan langsung memeluk Tiger.
"Ada apa dengan Seon?"
"Seon dan Jack diam diam melakukan transaksi dengan pemuda Jepang. Tapi, rupanya itu hanya jebakan dari Lion. Dan sekarang mereka terkurung di penjara bawah tanah mansion, Lion."
Suara itu milik Juno. Dia yang satu satunya mengetahui transaksi yang dilakukan Seon dan Jack. Tapi, karena janjinya pada kedua pria itu, dia terpaksa diam dan baru bicara sekarang.
"Juno, kau harus bertanggung jawab atas kekacauan ini." Tiger menatap kecewa padanya.
"Siap Tiger."
"Adit, kau ikut aku. Kita harus segera membebaskan Seon dan Jack."
"Siap, Tiger."
"Tiger, izinkan aku ikut!" Juno menawarkan diri.
"Tetaplah disini, Juno." Dia menatap kecewa pada Juno, lalu menatap kearah Adam dan Kinan. "Adam, kutitipkan Mansion padamu."
"Baik Tiger."
"Kinan, kau lakukan tugasmu seperti biasa."
"Siap Tiger."
__ADS_1
Sebelum benar benar pergi, Tiger menatap kearah pintu kamarnya untuk beberapa saat, entah mengapa rasanya berat untuk meninggalkan Aila. Tapi kemudian kakinya terus melangkah menuju mansion Lion bersama Adit.