Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 83


__ADS_3

Di kediaman Ririn dan Adam.


Sebulan terakhir, Ririn benar benar lemas. Dia bahkan tidak bisa hanya sekedar untuk duduk saja, kepalanya sangat pusing hingga membuatnya mual, lalu muntah. Karena itulah sebulan terakhir Ririn tidak memberi Aila kabar ataupun menemui Aila.


Setiap pagi usai sholat subuh, Ririn muntah. Lalu setelah menelan dua suap sarapan dia muntah lagi. Berakhirlah dia hanya berbaring diatas tempat tidur. Beruntungnya dia memiliki mertua yang sangat perhatian seperti ibu kandungnya sendiri.


Adam sebenarnya sangat mengkhawatirkan keadaan Ririn, tapi dia tidak pernah berbagi cerita mengenai keadaan Ririn pada Varen. Entah apa alasannya hanya dia yang tahu.


"Sayang, mas bawain ayam goreng bumbu yang katanya kamu kepengen banget itu loh."


Adam baru saja kembali dari membelikan ayam goreng bumbu yang diinginkan Ririn sejak kemarin. Nah berhubung kemarin kehabisan, jadi Adam baru mendapatkannya sekarang.


"Aku mau mas, tapi kalau makan nanti muntah lagi." Rengeknya dengan suara lemas.


"Makan sedikit saja ya sayang. Kalau perut kamu kosong, nanti dedek bayinya kelaparan." Bujuk Adam.


Mama Adam memperhatikan cara Adam memperlakukan Ririn dengan penuh kasih sayang. Itu membuat hatinya bahagia dan lega. Adam mirip seperti mendiang papanya, sangat perhatian dan bertanggung jawab.


"Ayo sayang, buka mulutnya. Mas suapin yok…"


Adam sudah siap menyuapkan daging ayam yang dicubitnya sedikit berbarengan dengan bumbu bumbunya yang keriuk. Perlahan Ririn membuka mulutnya dan Adam berhasil memasukkan daging ayam kedalam mulut istrinya. Segera saja Ririn mengunyahnya dengan perlahan.


"Gimana? Enak nggak?"


Ririn menggeleng. "Enakan ayam bumbu buatan mama."


Adam menghela napas. Kemaren mama sudah membuatkan ayam goreng bumbu untuk menantunnya itu. Tapi, setelah ayamnya matang, Ririn malah bilang maunya ayam bumbu yang di rumah makan padang.


"Memangnya sayang sudah pernah mencicipi ayam goreng bumbu buatan mama?"


"Mmm, waktu mas pergi beli… mama suapin aku ayam goreng bumbunya. Tapi, baru satu gigitan aku langsung muntah." Tuturnya.


"Sekarang sayang nggak mau muntah kan?" Selidik Adam saat memastikan Ririn sudah menghabiskan ayam goreng yang tadi disuapkan padanya.


"Nggak. Mau lagi dong, aaaa…"


Meski bingung, Adam pun segera menyuapkan lagi sedikit demi sedikit ayam goreng itu bahkan tanpa sadar Ririn hampir menghabiskan satu daging dada ayam goreng bumbu yang lumayan cukup besar.


"Udah, nggak mau lagi. Pahit." Tolaknya saat Adam hendak kembali menyuapinya.


"Mau minum susu." Rengeknya.

__ADS_1


Dengan sigap, mama datang dari dapur membawakan segelas susu khusus ibu hamil berperasa vanila. Mama sudah tahu kesukaan menantunya, karena kemarin setelah makan ayam goreng dan muntah, Ririn juga meminta minum susu.


"Susunya datang!" Seru Mama.


"Mama kok cepat banget buatnya?" Tanya Adam heran.


"Iya dong, mama kan sudah hafal kalau menantu mama pasti mau minum susu setelah makan ayam goreng bumbu. Iya kan sayang?"


"Mama hebat. I love you, mama." Ujar Ririn tersenyum manis pada mertuanya itu.


"Ayo diminum susunya, supaya dedek kamu cepat pulih dan dedek bayinya juga sehat."


"Iya ma."


Mama membantu Ririn untuk meminum hingga habis segelas susu itu.


"Enak!" Tanya Adam melihat Ririn menghabiskan segelas susu dalam sekali reguk.


"Mmm, rasanya enak dan segar. Mas mau?"


"Nggak ah. Itu kan susu khusus buat ibu hamil. Nanti kalau mas yang minum, bisa bisa mas ikutan hamil, repot loh nanti." Celetuknya bergurau.


Benar saja gurauan Adam berhasil membuat istri dan mamanya tertawa. Dan dia pun ikut tertawa bersama dengan wanita wanita tercintanya.


Malam ini, Aila tidak mau tidur di kasur. Dia mengajak Varen tidur di atas karpet yang digelar di lantai.


"Sayang, nanti kalau sudah larut malam, lantainya akan terasa sangat dingin loh."


"Justru karena itu, mas. Aku suka rasa dingin dari lantai. Kalau diatas ranjang rasanya sempit dan panas, gerah."


"Nanti mas tambah deh suhu dinginnya ya. Dan supaya tidak sempit, sayang saja yang tidur di ranjang sendirian. Mas tidur di sofa. Gimana?" Bujuknya.


"Tidak mas. Pokoknya kita tidur di sini berdua. Aku mau tidur dipeluk sama kamu mas." Tegasnya.


"Tapi lantainya dingin sayang."


"Mas kok jadi nggak mau ngalah gini sih. Iiih sebel deh. Mas keras kepala, egois, mentingin diri sendiri, nggak peka…" Gerutu Aila panjang lebar mencaci suaminya.


Varen hanya bisa menghela napas dan mengatur agar bibirnya tetap tersenyum manis.


Aila sayang, rasanya sungguh sakit telingaku mendengar ocehanmu itu. Lagian kapan aku egois, kapan aku keras kepala dan bagian mananya yang aku nggak peka, wahai Aila istriku tersayang sejagat raya??

__ADS_1


"Tuh kan, mas masih aja egois." Ulang Aila sambil menatap sinis pada Varen yang berdiri di dekat ranjang sambil tersenyum manis pada istrinya itu.


"Ya sudah, kalau gitu mas saja yang tidur di ranjang. Aku tidur di lantai sendirian saja. Maksudnya kita tidur di lantai saja ya dedek sayang. Biarkan saja papa tidur di ranjang sendirian." Ocehnya tanpa sadar tangannya mengelus perutnya.


Hal itu membuat Varen mengerutkan dahinya bingung. Bukankah Aila belum menyadari kehamilannya? Lah kok sekarang dia malah bicara pada dedek bayi-nya.


"Sayang, kamu hamil?" Selidik Varen berpura pura tidak tahu.


"Iya. Makanya aku mau mas temani tidur di lantai. Iih kesal deh, tadinya aku mau memberitahukan kehamilanku bukan dengan cara seperti ini. Semuanya gagal." Rutuknya lagi yang membuat Varen tersenyum bahagia.


Sebenarnya, setelah sholat isa tadi, saat Aila ingin pipis dia langsung mengecek kehamilannya. Dan ternyata hasilnya benar benar garis dua bahkan sangat jelas. Aila yang awalnya tidak begitu percaya, sampai mengetes ulang dan mendapat hasil yang sama.


"I love you sayang." Teriak Varen.


Dia menghampiri Aila, berbaring disebelah Aila dan mencium puncak kepalanya berulang kali.


"Terimakasih sudah sabar menungguku, mas."


"Sayang, mas yang harusnya berterimakasih karena sayang mau menerima mas meski tahu masa lalu mas sangat kotor dan busuk..."


Aila menutup mulut Varen dengan bibirnya yang membuat Varen sedikit terkejut karena gerakan Aila sangat cepat dan tiba tiba.


"Jangan membahas masa lalu, mas. Sekarang saatnya kita fokus pada masa depan kita yang semoga semakin berkah dan membahagiakan."


Senyum bahagia penuh haru tidak lepas dari wajah Varen. Betapa dia bahagia saat ini.


Alhamdulillah, terimakasih ya Allah. Betapa indah rahmatmu, batapa luas kasih sayangmu padaku yang hanya manusia hina berlumur noda dan dosa yang bahkan sebanyak isi dunia, mungkin lebih.


Ditariknya tubuh Aila masuk dalam pelukannya, diciumnya lagi bibir lembut candunya itu. Hanya ciuman lembut tidak diikuti nafsu.


"Mas harus mempersiapkan diri mulai sekarang."


"Ya, mas akan mempersiapkan diri untuk menjadi suami dan papa yang siap siaga."


Aila menggeleng dalam dekapan suaminya. "Bukan hanya bersiap untuk itu saja, mas. Tapi, dua minggu lagi, kita akan bertemu dengan bulan suci Romadhon."


"Bulan romadhon? Bulan yang umat muslim wajib untuk berpusa sebulan full, kan?" Tanya Varen.


"Iya, mas."


"Kata Adam, saat puasa itu kita tidak boleh makan dan minum sejak subuh sampai magrib.."

__ADS_1


Aila mengangguk mengiyakan. Kemudian dia juga menjelaskan apa saja yang dapat membantalkan atau mengurangi pahala puasa jika dilakukan saat sedang berpuasa. Dan Varen mendengarkan dengan baik semua penuturan istrinya.


__ADS_2