
Tiga minggu kemudian.
Acara Aqiqah putra Adam sudah dilaksanakan dua minggu lalu. Putra kecil mereka diberi nama Ahmad Yusuf. Adam sendiri yang memberi nama indah itu untuk putranya.
Namun, janji mereka untuk terbang ke Thailand terpaksa di tunda karena kondisi Aila yang tiba tiba sudah mengalami rasa nyeri hendak melahirkan.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Kinan." Titah Varen meminta Kinan memutar mobil menuju rumah sakit.
"Baik pak Varen."
Mobil yang tadinya hendak menuju bandara, malah putra balik menuju rumah sakit bersalin.
Tiket penerbangan mereka hari ini pun dibatalkan begitu saja. Karena terbang ke Thailand bisa dilakukan di lain hari, sementara kondisi Aila yang hendak melahirkan tidak mungkin di tunda.
Kini mereka sudah tiba di rumah sakit, dengan hati hati Varen menggendong Aila masuk lalu membaringkannya di ranjang troli yaag sudah di siapkan pihak rumah sakit.
"Bapak silahkan isi formulir terlebih dahulu." Saran seorang suster pada Varen.
"Tolong istri saya suster. Dia kesakitan."
Varen tampak sangat khawatir terlebih saat melihat Aila merintih mengeluh sakit yang teramat sangat.
"Bapak tenang ya, kami akan membawa ibu ke ruangan bersalin. Kami akan membantu ibu untuk melahirkan dengan normal jika memang memungkinkan."
"Iya suster."
Aila di bawa masuk ke ruangan bersalin sementara Varen hendak mengisi formulir dan mengurus administrasi.
"Pak Varen, lebih baik bapak menemani ibu Aila saja. Biar saya yang mengurus semuanya." Ujar Adam.
__ADS_1
"Terimakasih Adam."
Varen langsung berlari mengejar Aila. Dia meminta izin pada dokter yang membantu persalinan Aila untuk ikut menemani Aila berjuang melahirkan buah hati mereka. Untungnya Varen mendapat izin itu.
Kini Aila sudah berada di meja khusus tempat dia akan melahirkan. Bidan yang membantunya melahirkan adalah seorang wanita yang sangat ramah dan sabar. Dia menuntun Aila untuk tetap tenang dan mengajak Aila terus mengobrol agar sedikit mengurangi rasa sakit saat mentubannya pecah.
"Tarik napasnya bu Aila.." Ajaknya dengan mencontohkan.
Aila pun ikut menarik napas dalam dalam.
"Hembuskan sambil dorong perlahan ibu, tidak usah terburu buru…" Mencontohkan lagi.
Aila kembali mengikuti, dan rasanya sungguh sakit tak tertahan saat dia mencoba memberi dorongan. Tangan Aila digenggam erat oleh Varen. Dan Varen membacakan doa doa, berbisik di telinga Aila.
"Sedikit lagi ibu. Kita ulangi lagi ya, tarik napasnya.."
"Iya bagus ibu… tarik sekali lagi…"
"Kamu kuat sayang, kamu bisa.." Ucap Varen memberi semangat dan dukungan untuk istrinya. Tidak lupa juga Varen menyapu keringat dingin dan air mata istrinya.
"Sekarang dorong yang kuat ibu…"
"Mmmhh eaaggrrhh…"
"Bagus ibu, sebentar lagi.."
Dokter itu membantu mendorong dengan mengurut perlahan perut Aila.
"Dorong lagi ibu, yang kuat.."
__ADS_1
Aila mengejan lagi, Varen terus menggengam erat tangan Aila. Tidak lupa Varen mengucapkan istiighfar berulang di telinga Aila hingga akhirnya..
"Bayinya keluar ibu.." Dokter menarik pelan kepala bayi hingga seluruh tubuhnya berhasil dikeluarkan dari rahim Aila.
Segera saja suster memberikan gunting pemotong tali pusar pada dokter dan langsung di putus asupan oksigen si bayi selama dalam kandungan. Barulah terdengar suara tangisan bayi itu dengan sangat lantang.
Saat itulah Varen mengecup wajah Aila, mengecup keningnya dan juga memberi pelukan. Sementara bayi mereka di urus oleh suster. Dokter kembali pada Aila menyelesaikan tugasnya.
"Sayang, kamu baik baik saja?" Bisik Varen pada Aila yang hanya bisa mengangguk lemas.
Dia tampak sangat pucat, bahkan dia tidak bisa mendengar jelas suara bayi mereka yang masih menangis.
"Selamat ibu, bapak.. bayinya perempuan." Ucap suster yang mengurus bayi mereka.
Suster itu mendekatkan bayi itu pada Aila dan meletakkanya di atas Aila hingga Aila bisa memeluk erat buah hatinya. Aila menangis bahagia bersamaan dengan jerit tangis bayi mereka.
"Silahkan bapak, di iqomahkan dulu bayinya." Saran suster yang sudah mengambil kembali bayi itu dari Aila.
Suster itu memberikan bayi itu pada Varen, dan Varen pun langsung menyambut kedatangan bayi mereka di dunia dengan lantunan iqomah di telinga si bayi.
Setelah itu, bayi mereka di ambil lagi oleh Suster untuk di pakaian bedong tambahan agar bayi tidak kedinginan. Lalu bayi itu di bawa bersamaan dengan Aila menuju ruang VIP tempatnya yang sudah dipesankan Adam sebelumnya.
Tangan Varen tidak pernah melepaskan tangan Aila, begitu juga Aila, dia seakan mengambil banyak energi dari genggaman tangan suami tercintanya itu.
"Mau diberi nama apa dedek bayi-nya ibu, bapak?" Tanya Suster yang melangkah di samping Varen membawa bayi mereka.
Sebentar Varen menatap pada Aila yang tersenyum dan memberi anggukan seakan menyetujui Varen untuk segera memberi nama pada bayi cantik mereka.
"Sayyidah Khodijah Mark." Jawabnya yakin.
__ADS_1
"Nama yang sangat indah. Halo selamat datang Sayyidah." Sapa suster itu dengan mengelus lembut pipi halus Sayyidah penuh cinta.