Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 45


__ADS_3

Kini Varen sudah berada di ruangan kantornya. Ririn tampak sedang menjelaskan sesuatu sambil berdiri di depan meja kerjanya.


"Kau yakin, Ririn?"


"Saya yakin, pak Varen."


Sebentar Varen tampak menghela napas cukup dalam. Kemudian dia mengambil usb dari dalam laci meja kerjanya. Usb putih itu diulurkannya pada Ririn yang juga langsung diambil alih oleh Ririn dengan cepat.


"Pelajari semua itu. Kerjakan tugasmu dengan sangat hati hati dan rapi. Jangan lengah sedikitpun."


"Baik, pak Varen."


"Ingat, hanya kau yang tahu tentang misi ini. Jangan sampai keceplosan memberi tahu siapapun termasuk Adam." Titah Varen dengan tegas.


"Iya, pak Varen. Saya akan bekerja dengan sangat hati hati, teliti dan rapi."


"Bagus, kau patut aku hadiahi paket pernikahan megah nanti saat kau menikah dengan Adam."


"Terimakasih hadiahnya, pak Varen. Tapi, saya masih baru mau memulai misi ini."


"Ya kau benar. Sepertinya aku terlalu buru buru. Baiklah, kalau begitu hadiahnya disimpan sampai misi ini berhasil."


Ririn mengangguk sambil tersenyum, kemudian setelah memberi hormat dia pun bergegas meninggalkan ruangan Varen.


Begitu Ririn menghilang di balik pintu ruangannya, Varen menyenderkan punggungnya kesandaran kursi, lalu memejamkan matanya. "Ah, aku bahkan melihat senyum manis itu disaat saat seperti ini. Apa yang telah kau katakan pada Tuhan hingga aku menggilaimu, Aila."


Bayangan Aila terus mengikutinya hampir seharian sejak dia meninggalkan vila tadi pagi. Dia sangat ingin menemui wanita itu, memeluknya, berbaring dipangkuannya, menciumnya dan berbincang seharian bersamanya. Varen benar benar terserang virus cinta. Ini pertama kali dalam hidupnya.


Namun, bayangan wajah merintih ibu, ayah dan Levanrino membuat senyuman diwajahnya berubah menjadi merah padam. Hatinya kembali dipenuhi rasa benci, dendam dan amarah pada pria yang telah memisahkannya dengan orang orang tercintanya.


"Aku tidak akan membiarkan dia merebut Aila dariku. Aku bahkan akan menyimpan ma ya t Aila sekalipun jika sampai Aila benar benar harus mati." Gumamnya dengan suara berat yang khas dan akan membuat orang yang mendengarnya merasa terancam.


Sementara itu, di Vila. Aila sedang mencoba akrab dengan penghuni vila lainnya dengan cara dia ikut masuk ke dapur untuk membantu dua orang maid cantik yang sepertinya seumuran dengannya itu yang tengah mempersiapkan bahan masakan.


"Nona Aila!" Sapa mereka dengan sedikit menundukkan kepala saat melihat Aila berada di dapur.


"Hai, kalian tidak perlu menunduk padaku. Aku Aila-- aaa kalian pasti sudah tahu siapa aku. Tapi, kalian harus tahu, aku juga hanya pelayan di vila ini." Ujar Aila dengan sedikit tersenyum.


"Nona Aila bukan pelayan, tapi nyonya di vila ini."


Itu suara Susan. Mendengarnya membuat Aila menoleh kebelakang dan menunduk memberi salam pada Susan.

__ADS_1


"Jangan menundukkan kepala padaku, nona Aila. Jika Tiger melihatnya mungkin dia akan menembak kepalaku." Gumam Susan.


"Tidak, madam. Jangan salah paham, aku hanya seorang tawanan yang kebetulan berkesempatan untuk melihat vila indah ini."


"Nona Aila terlalu merendah. Tidak ada tawanan yang dibawa ke vila rahasia ini, nona. Lagi pula saya pikir Tiger tidak benar benar menganggap nona Aila sebagai tawanan, tapi baginya nona Aila spesial."


Mendengar satu kata terakhir yang diucapkan madam Susan membuat Aila tersenyum getir. Rasanya dia sudah sering mendengar kata itu dari beberapa orang yang ada di mansion. Ternyata di vila pun ada juga yang menyematkan kata mewah itu padanya.


"Ikutlah dengan saya, nona Aila. saya akan mengantar nona berkeliling vila." Ajak Susan.


Aila yang tampak sudah mulai lelah untuk berdebatpun akhirnya mengangguk setuju dan ikut mengekor dibelakang Susan untuk melihat lihat area vila yang indah.


"Ini dulunya taman bunga mini milik nyonya, ibu-nya Tiger." Tutur Susan menjelaskan sejarah sepetak tanah kosong.


"Nyonya Lena sangat menyukai bunga tulip, tapi dia tidak bisa menanamnya di rumah kaca mansion."


"Kenapa?"


"Karena Tiger sangat membenci bunga tulip."


"Membenci bunga tulip?" Tanya Aila sedikit berteriak. Dia agak kaget saja mendengar penuturan Susan.


Susan tersenyum, lalu dia duduk di kursi yang terbuat dari semen di samping taman mini yang kosong itu. "Tuan muda Varen, sangat membenci bunga tulip." Ulangnya masih dengan senyumnya yang manis.


"Padahal bunga tulip bunga yang indah." Gumam Aila yang ikut duduk di samping Susan.


"Nona Aila ingin tahu cerita awal tuan muda Varen menjadi sangat membenci bunga tulip?"


"Bolehkah aku mendengarnya?"


"Tentu---"


Susan mulai menceritakan cerita yang menurutnya lucu dan menggemaskan. Kejadian itu terjadi saat Varen berusia delapan tahun. Hari itu, ibunya sedang menyiram bunga tulip kesayangannya, lalu tiba tiba dua ekor burung hinggap di kelopak bunga tulip. Ibunya yang tidak mengetahui ada burung disana meneruskan menyiram bunga hingga mengenai dua burung tersebut. Anehnya, dua burung yang kaget itu langsung menyerang wajah ibunya tanpa ampun.


Varen yang melihat itu berlari mengejar ibunya dan berusaha mengusir burung burung itu. Tapi, sebelum pergi burung burung itu merusak kelopak kelopak bunga tulip kesayangan ibunya.


"Oh tidak. Bungaku, tulip kesayanganku!" Lena tampak sangat bersedih bahkan sampai menangis, dia berusaha memperbaiki kelopak bunga yang terpisah dari tangkainya.


"Kenapa ibu menangisi bunganya? Apa bunga itu merasakan sakit!" Teriak Varen kesal.


"Sayang, kenapa kau berteriak pada ibu?"

__ADS_1


Wanita itu bahkan tidak menatap wajah putra sulungnya, dia hanya sibuk menatap sedih bunga bunganya.


"Wajah ibu mengeluarkan darah. Burung itu melukai ibu dan ibu hanya peduli pada bunga tulip jelek ini. Aku benci bunga tulip."


Varen mengatakan itu sambil berteriak dan menangis. Dia masih sangat muda untuk mengungkapkan bahwa dia mengkhawatirkan ibunya yang terluka.


"Sayang, maafkan ibu---" Segera saja dia memeluk tubuh mungil itu dan mengelus punggungnya untuk menenangkannya.


"Wajah ibu berdarah, ibu terluka. Berhenti mengkhawatirkan bunga jelek ini. Aku tidak mau ibu terluka." Ocehnya sambil terisak dan itu membuat ibunya tersenyum gemas.


"Maafkan ibu, ya. Jangan menangis. Lukanya tidak sakit dan tidak berbahaya kok. Sebentar lagi juga akan sembuh." Bisiknya sambil terus mengelus punggung putranya yang maish terisak bahkan sampai tubuhnya bergetar.


"Aku benci bunga tulip. Aku tidak mau melihat bunga tulip dimanapun di mansiaon ini." Titahnya menegaskan dalam keadaan masih terisak.


"Oohh, baiklah sayang. Tidak akan ada lagi bunga tulip di mansion."


"Aku benci bunga tulip. Aku sangat membencinya!"


"Iya, ibu tahu. Ibu janji, kau tidak akan melihat bunga tulip lagi mulai sekarang, ya--"


Lena memberi kode pada Susan untuk menyingkirkan bunga bunga tulip kesayangannya. Meski rasanya sulit menyingkirkan bunga bunga itu, tapi membuat putranya merasa nyaman dan tenang jauh lebih penting dari apapun di dunia ini.


Aila terdiam seribu bahasa setelah Susan menyelesaikan ceritanya. "Ada apa, nona Aila?"


"Aa-- hah--" Aila tampak bingung, karena dia baru kembali dari dunia bawah sadarnya.


"Nona baik baik saja?"


"Aaa tentu madam. Aku baik kok. Hanya saja, rasanya ingin mengutarakan pendapat--"


"Maksud, nona Aila--"


"Ya, maksudku harusnya tuan Varen membenci burung yang melukai ibunya, bukan malah membenci bunga yang sangat disukai ibunya."


Madam Susan tersenyum, "Awalnya saya juga berpikir begitu. Tapi, begitulah tuan muda Varen. Dia akan membenci sesuatu yang disukai oleh orang yang dicintainya, jika sampai yang disukai orang tercintanya itu malah menyakiti orang yang dicintainya."


Sebentar Aila menghela napas, dia tampak kesulitan memahami apa yang dikatakan madam Susan barusan. Dan ternyata madam Susan menyadari itu. Hingga dia pun kembali menjelaskan dengan contoh yang lebih mudah dipahami.


"Begini nona Aila. Bukankah nona Aila pernah bilang bahwa nona Aila sangat menyayangi Adrian. Nah jika saja Adrian menjadi penyebab nona Aila mendapatkan kesulitan atau mungkin terluka, maka tuan muda Varen akan sangat membenci Adrian, bahkan mungkin bisa menyingkirkan Adrian selamanya dari kehidupan nona Aila."


Sungguh sulit dipahami pemikiran tuan Varen. Ternyata sejak kecil dia memang sudah suka menyingkirkan apa saja yang tidak disukainya. Ya, selanjutnya aku akan segera disingkirkannya karena dia juga tidak menyukai aku, kan?

__ADS_1


__ADS_2