
Saat Aila dan Juno mulai melangkah pergi, Lyn mengajak Sarwa untuk diantarkan ke kamarnya. Aila sempat melirik kebelakang untuk memastikan ke kamar mana Lyn akan mengantarkan Sarwa.
Langkah Lyn dan Sarwa tampak mulai mendekati anak tangga menuju kamar utama, saat itulah Aila langsung menoleh kembali ke depan. Hatinya terasa sakit saat mengetahui kenyataan ada wanita lain yang mengandung anak dari pria yang dianggapnya suami.
Sadarlah wahai diri. Sejak awal kau sudah tahu bahwa pria itu menikahimu hanya karena terpaksa menuruti kemauanmu agar tak disentuhnya tanpa ikatan yang halal. Tidak ada cinta dihatinya untukmu, dia bahkan tak serius menganggapmu sebagai istri. Kau hanya wanita pe-lam-pi-as naf-su-nya belaka.
Hati Aila lagi lagi terluka. Entahlah. Rasanya sangat sakit menerima kenyataan ini.
Sangking jauhnya Aila terbawa dalam lamunan, dia tidak menyadari, kini kakinya berhenti tepat di depan tembok tinggi sangat tinggi.
"Nona Aila, kita sudah hampir tiba di vila."
Suara Juno menyadarkan Aila dari lamunannya. Dia pun melirik sekitarnya yang ternyata mereka sudah sangat jauh dari mansion. Mungkin ini tembok pembatas mansion dengan dunia luar. Ah, Aila belum pernah berkeliling sampai sejauh ini di area mansion.
Juno menekan sesuatu yang mirip seperti batu kericil kecil yang timbul di permukaan tembok. Lalu tiba tiba tembok itu membuka seperti pintu.
"Wuaahhh, MasyaAllah!!" Aila kagum melihat apa yang baru saja terjadi.
"Mari ikut saya, nona Aila." Juno memberi isyarat agar Aila melangkah masuk terlebih dahulu.
Dengan masih menatap kagum pada pintu yang tersembunyi di balik tembok itu, kaki Aila pun melangkah tanpa ragu melewati pintu itu yang juga diikuti Juno. Seketika setelah mereka masuk, pintu itu kembali tertutup. Dan yang pertama ditangkap oleh kedua bola mata Aila, hanyalah hamparan padang rumput yang luas, dan bunga matahari yang tumbuh sejajar membentuk jalan.
"Apa nona Aila menyukai bunga matahari?" Tanya Juno yang mulai melangkah mengikuti setapak ditengah tengah padang bunga matahari itu.
"Ya, aku sangat menyukai bunga matahari-- tidak, sebenarnya aku menyukai semua jenis bunga. Hanya saja aku tidak punya banyak kesempatan untuk merawat bunga." Jawab Aila. Kedua tangannya ia rentangkan untuk menyentuh bunga bunga cantik itu.
"Ini seperti di film india saja." Gumamnya yang teringat salah satu adegan film india, dimana pemeran utama pria dan wanita bernyanyi dihamparan padang bunga matahari.
"Tiger meminta penjaga vila untuk menanam bunga bunga ini." Ujar Juno menjelaskan.
"Mengapa dia memerintahkan untuk menaman bunga bunga cantik ini disini? Kenapa tidak di tanam di sekitaran mansion saja."
"Entahlah. Mungkin karena Tiger ingin mempercantik pemandangan di sekitar vila."
__ADS_1
Sebentar Aila terdiam setelah mendengar kalimat barusan. Dia tampak memikirkan sesuatu.
Ah mungkin Tiger ingin memberikan hadiah terakhirnya pada korban korbannya sebelum dia membunuh mereka. Yah, setidaknya sebelum menghembuskan napas terakhir, aku bisa melihat keindahan ini yang seindah surga.
Aila pikir vila adalah tempat pembuangan korban. Ya, mungkin Tiger akan menembak kepala korbannya di vila ini. Itulah yang terpikir pertama kali oleh Aila saat Juno mengatakan Tiger meminta Aila untuk di pindahkan ke vila.
Sesungguhnya hidup dan matiku adalah milik Allah. Aku pasrah ya Allah. Terimakasih atas segala nikmat dan rahmat yang Engkau limpahkan dalam hidupku selama dua puluh tahun ini.
"Kita sudah tiba di vila, nona Aila."
Mata Aila menoleh kearah depan. Vila yang indah terlihat. Vila klasik yang terdiri dari dua lantai, berdiri kokoh dipinggir lembah. Melihat vila ini membuat Aila kembali memikirkan sesuatu.
Benarkah vila seindah dan semewah ini digunakan Tiger untuk mengakhiri hidup orang orang yang tidak disukainya?
Apa yang Aila pikirkan hanyalah imajinasinya saja. Baik Juno, pak Sony ataupun Lyn dan Pin tidak pernah mengatakan bahwa Aila akan diantarkan ke tempat eksekusi. Yang ada mereka malah kagum, karena Aila dipindahkan ke vila, padahal baru tiga bulan menetap di mansion. Sementara mereka yang sudah bertahun tahun bahkan ada yang puluhan tahun tinggal di mansion pun, belum pernah berkesempatan melihat vila rahasia kesayangan Tiger, kecuali para maid penjaga vila tentunya.
Perlu diketahui, selain pak Sony, hanya Juno dan Seon yang diberi izin untuk datang ke vila oleh Tiger. Itupun hanya saat saat tertentu saja.
Juno membuka pintu utama vila dan mempersilahkan Aila untuk masuk. Dengan ragu, Aila melangkahkan kakinya melewati pintu utama.
Suara itu milik para pengurus vila yang berdiri memanjang dikedua sisi kiri dan kanan Aila. Mereka tersenyum sebentar saat menyapa, lalu menundukkan sedikit badan mereka kearah Aila. Sambutan yang meriah seperti menyambut kedatangan seorang putri dari kerajaan saja.
"Nona Aila, mari ikut saya." Ucap seorang wanita setengah baya menghampiri Aila.
Aila tampak bingung, sebentar dia menoleh kearah belakang untuk melihat Juno yang ternyata sudah tidak berada disana lagi. Ya, Juno sudah kembali ke mansion. Tugasnya hanya mengantar Aila sampai di depan pintu vila.
"Saya akan mengantarkan nona Aila ke kamar utama." Ulangnya saat melihat raut kebingungan di wajah Aila.
Tunggu! Tempat apa ini? Maksudku, vila apa ini. Mengapa mereka menyambutku seperti ini.
Matanya menelisik setiap sudut ruangan itu, hingga ia menatap foto keluarga yang terpasang di dinding dengan bingkai yang sangat besar, hampir memenuhi seluruh tembok ruang tamu itu. Ya, setidaknya ruangan itu tampak seperti ruang tamu dimata Aila.
Apakah itu kedua orangtua Varen dan bayi itu adiknya--
__ADS_1
Foto itu memperlihatkan potret raja dan ratu. Sang raja menggenggam erat jemari putra sulungnya, sementara si bungsu berada dalam gendongan sang ratu. Potret itu, melambangkan siapa yang membangun vila ini.
"Nona Aila! Anda baik baik saja?"
Suara itu mengembalikan Aila kealam sadarnya. "Ya, saya baik baik saja."
"Mari ikut saya--"
Wanita setengah baya itu berjalan lebih dulu melewati para penjaga vila yang masih berdiri memanjang menunduk hormat pada Aila. Dengan ragu pula Aila mengikuti langkah wanita itu.
Sambil melangkah Aila terus melirik benda benda yang ada di vila, hingga matanya menatap potret gagah seorang Levarendo Mark di sudut tembok lainnya.
Aila tersenyum malu malu. Entah mengapa menatap foto itu membuat hatinya seperti berbunga bunga bak seorang remaja yang sedang jatuh cinta.
Kini mereka melangkah menaiki anak tangga menuju lantai atas dimana kamar utama berada.
"Ini kamar anda, nona Aila."
"Terimakasih, buk."
"Tidak. Jangan panggil saya begitu. Panggil saja saya madam Susan."
"Terimakasih, madam Susan." Ulang Aila.
Sebelum Wanita setengah baya bernama Susan itu pergi, terlebih dahulu dia membuka pintu kamar itu.
Aila pun masuk dan menutup pintu dengan langsung menguncinya.
"Kenapa lama sekali, nona Aila!"
Suara itu, Aila sangat mengenalnya. Dia terperanjat kaget dan langsung menoleh kearah depan saat mendengar suara itu.
"Tiger!"
__ADS_1
Aila yang masih dalam keadaan kaget berteriak asal menyebutkan nama gelar kekuasaan Tiger. Dan dengan segera pula dia membekap mulutnya sendiri saat mendapati kedua mata pria itu melotot padanya.