Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 74


__ADS_3

Baron sudah melangkah masuk ke dalam mansion, tapi tiba tiba langkahnya berhenti saat melihat Tiger turun dari tangga dengan langkah khas mengintimidasinya.


"Hai, Baron."


"Tiger! Bukankah kau telah tewas?"


"Tidak semudah itu, Baron."


Langkah Tiger semakin dekat pada Baron, hingga membuat Baron melangkah mundur dan terus mundur hingga dia kembali keluar dari mansion. Tentu saja anak buahnya juga mengikuti langkahnya.


"Aku bisa saja langsung membolongi kepalamu sekarang juga, tapi kau terlalu lemah untuk menjadi lawanku." Gumam Tiger sambil menodongkan pistolnya ke kepala Baron.


Mau tidak mau, Baron dan keempat anak buahnya mengangkat tangan mereka ke atas.


"Apa yang kau inginkan, Tiger?" Tanya Baron terbata bata.


"Katakan pada Arnold untuk datang menemuiku segera. Jika berani, satu lawan satu."


Dorr--


Suara tembakan itu berasal dari arah gerbang mansion. Jika saja Tiger tidak cepat megelak, peluru itu akan mengenai bahunya.


"Kau masih hidup, Tiger?"


Itu suara Adrian. Dialah yang menembakkan pelurunya pada Tiger.


"Kau sudah tumbuh menjadi mafia dalam hitungan minggu, bung?" Tiger tersenyum mengejek.


"Jangan meremehkan aku, Tiger. Aku bukan pria polos yang kau kurung di penjara bawah tanahmu yang dingin itu lagi. Aku Snake king yang kuat."


Prokkk


Prokkk


Prokkk


Tiger memberikan tepuk tangan atas pencapaian hebat luar biasa Adrian.


"Haruskah aku takut?" Tiger berakting seakan dia ketakutan.


"Jangan mengejekku, brengsek!"


Dorrrr---


Lagi lagi Adrian menembakkan pelurunya untuk melukai Tiger, sayangnya Tiger sangat cekatan, hingga tanpa Adrian sadari, pistol yang tadi dipegangnya dengan kedua tangannya telah pindah posisi ke tangan Tiger dan ujung pistol itu tepat di pelipisnya.


"Kau bukan tandinganku, Adrian."


Dorrr--


Dorrr--


Dengan sigap pula Arjin menembak Baron dan ke empat anak buahnya yang tadinya hendak menembak Tiger.

__ADS_1


"Lion? Kau mengkhianati ayahku!" Teriak Adrian meski kepalanya terancam bisa tertembak detik itu juga.


"Apa aku tahu Adrian? Arnold yang memerintahkan mask Rabbit untuk menculik dan membunuh Aila saat masih bayi--"


Arjin juga menodongkan pistolnya tepat ke kepala Adrian. Kini tiga pistol bisa membolongi kepalanya seketika.


"Apa maksudmu, Lion?"


"Arnold sengaja mengandu domba Lion dan Tiger, demi menguasai dunia mafia. Dia sengaja membuatku membunuh Tiger king dengan mengkambing hitamkan Tiger king atas penculikan bayi-ku."


"Siapa yang memberitahu anda, Lion?" Tanga Tiger. Dia menurunkan kedua pistol ditangannya yang tadi tertuju di kepala Adrian.


"Aila. Dia mendengar sendiri Arnold mengatakan itu."


Sebentar Varen menghela napas panjang. Lalu dilemparkannya kedua pistol di tangannya sembarangan. Hal itu membuat Lion dan Adrian bingung.


Bruukkk---


Satu pukulan kuat menghantam area perut Adrian, hingga pria itu terdorong kuat kebelakang bahkan jatuh begitu saja di tanah.


"Itu belum seberapa untuk membalas perbuatanmu yang berani beraninya menyentuh kandungan Aila, brengsek!"


Varen menarik kerah jaket kulit Adrian dengan kuat hingga pria itu kembali berdiri. Bukannya takut, Adrian malah memberikan seringaian mengejek yang membuat Varen bertambah emosi.


Brruukkk


Satu pukulan lagi menghantam tepat batang hidung Adrian, hingga darah segar muncrat dari kedua lubang hidungnya.


Varen melampiaskan rasa amarahnya dengan memukul berkali kali wajah Adrian yang terbaring tak berdaya di bawahnya.


"Tuan, berhenti! Tuan--"


Itu suara Aila, dia berlari dari arah mansion menuju kearah Varen yang terus terusan memukul Adrian tanpa henti.


"Cukup, tuan-- hentikan, kau bisa membunuhnya---" Pekik Aila yang berusaha mencegah suaminya membunuh Adrian.


Sayangnya Varen tidak menghiraukan teriakan Aila, dia belum puas menghajar Adrian. Dia tidak berniat untuk membunuh Adrian, karena telah berjanji pada Aila bahwa dia tidak akan membunuh lagi, tapi dia hanya ingin membuat Adrian merasakan sakit yang dialami Aila saat Adrian mengambil paksa janin dalam rahimnya.


Dari dalam mansion, Bhika ikut berlari tertatih mengejar Aila, melihat itu Lion mengejar istrinya dan membantunya berjalan. Saat mereka lengah itu, ternyata Baron yang hanya kehilangan kesadaran untuk sementara, tiba tiba meraih pistol yang tadi dibuang oleh Varen.


Baron mengarahkan muncung pistol itu ke arah Aila, tapi sebelum peluru itu benar benar ditembakkan, Arjin menyadari putrinya dalam bahaya.


"Aila, awaaaasss!"


Dorrr--


Aila menoleh kebelakang dan mendapati, Arjin tertembak tepat di dadanya.


"Aaaaa---" Teriak Bhika mengejar suaminya yang sudah jatuh di tanah bersimbah darah.


Tanpa peduli apapun, Tiger seperti terbang kearah Baron untuk menendang pistol ditangan baron yang masih ditujukannya pada Aila.


Braakk--

__ADS_1


Pistol itu terpelanting jauh, dan Tiger langsung mematahkan tangan Baron, juga menginjak luka tembak di bahunya hingga membuat Baron menjerit hebat sampai kehabisan kesadarannya.


Rupanya, Adrian mencoba melemparkan sebilah pisau ke punggung Tiger, namun Aila melihat itu dan hendak menjadi tameng untuk suaminya, tapi entah bagaimana dengan gerakan yang sangat cepat, Varen meraih tangan Aila hingga Aila masuk dalam pelukannya dan pisau yang dilemparkan Adrian di tendangnya kuat. Pisau itu ternyata kembali pada tuannya, tertancap tepat di leher Adrian.


"Aku tidak bermaksud melakukan itu, Aila. Aku hanya mencoba melindungimu." Bisik Adrian di telinga Aila sambil mendekap erat kepala Aila di dadanya agar Aila tidak melihat kejadian na'as itu.


Aila menangis dalam pelukan Varen. Dia menangis karena begitu shok melihat langsung rangkain tragedi kriminal yang membuatnya ketakutan.


"Maafkan aku, sayang. Maafkan aku--"


Tidak henti hentinya Varen mengucapkan kata maaf pada Aila. Dia khawatir Aila akan membencinya atau takut setelah melihat siapa dirinya yang sebenarnya.


"Bawa aku pergi dari dunia menakutkan ini, tuan. Aku mohon, bawa aku pergi sejauh mungkin--" Ucap Aila dalam tangisannya.


Sungguh hari yang tragis. Bhika, terus menangis sambil memangku kepala suaminya. Sedangkan Adrian tewas dengan lidah menjulur dan pisau tertancap di lehernya. Baron dan anak anak buahnya juga tewas tergeletak berserakan begitu saja di tanah.


Saat itu jugalah, Ben dan rombongan tiba di mansion. Mata mereka menangkap pemandangan penuh darah itu.


"Lion king!"


Ben langsung menghampiri Lion king yang maisih berada dalam pangkuan istrinya.


"Tiger, Aila!"


Itu Seon. Dia langsung berlari memeluk Tiger yang sedang memeluk Aila.


"Nona Aila." Panggil Susan.


Aila mengintip dari balik tubuh Varen. Segera saja dia melepaskan diri dari pelukan suaminya dan langsung berlari menghambur dalam pelukan madam Susan.


"Aila--"


Lyn dan Pin ikut memeluk Aila. Sementar, rekan laki laki mengahmapiri Tiger dan memeluk pimpinan mereka itu.


Hanya Ririn yang tetap berdiri sendiri melihat keharuan itu, matanya juga ikut berair.


"Tolong, tolong bantu ayahku, madam." Aila memohon.


Mendengar kalimat permohonan Aila, barulah mereka sadar, bahwa Lion king telah tewas.


Sony mendekati tubuh Arjin, lalu mengusap wajahnya hingga kedua mata Arjin tertutup rapat.


"Mama!" Aila langsung berlari memeluk tubuh rapuh Bhika.


"Oh Tuhan, kau telah kembalikan putriku, tapi kau ambil suamiku." Bhika menagis terisak dalam pelukan putri yang sangat dirindukannya itu.


"Maafkan aku. Aku--" Tiger mendekati Bhika.


Bhika mendongak untuk menatap wajah Tiger. "Terimaksih karena memberikan kesempatan untuk suamiku menerima hukuman yang setimpal. Terimakasih karena telah mengampuni suamiku. Terimakasih karena telah mencintai putriku."


Tiger berlutut. Dia meminta maaf karena tidak bisa melindungi Lion king hingga pria itu tewas.


"Berjanjilah untuk membawa Aila pergi dari dunia penuh darah ini, nak Varen." Ujar Bhika sambil menarik Tiger masuk dalam dekapannya.

__ADS_1


__ADS_2