Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 22


__ADS_3

Semalaman Aila menangis dan memikirkan banyak hal, terutama tentang siapa sebenarnya dirinya dan mengapa berada di tempat ini. Dan kini Aila baru saja selesai sholat subuh. Jam menunjukkan pukul enam kurang lima menit.


Aila sudah memutuskan, bahwa dirinya akan menjadi bagian dari pelayan di rumah ini dan tentu saja tidak akan melupakan bahwa dia hanyalah tawanan yang sewaktu waktu akan meregang nyawa. Aila tidak ingin menunggu kematiannya dengan hanya duduk diam di kamar. Dia ingin melakukan sesuatu setidaknya sebelum dia menutup mata untuk selamanya meninggalkan dunia ini.


Setelah menetralkan tarikan napasnya, akhirnya Aila membuka pintu kamar, dia mulai melangkah menuju bagian dapur. Kakinya dibawanya untuk masuk ke mini market, memilih beberapa bahan makanan lalu ke dapur dan mulai bersiap untuk masak.


"Nona Aila, apa yang anda lakukan?"


Kepala Koki menghampiri Aila. Dia bicara pada Aila menggunakan bahasa yang tidak dipahami oleh Aila, sehingga Aila hanya menjawab dengan menyapanya sambil tersenyum.


"Selamat pagi, sir. Aku akan membantu memasak untuk sarapan pagi."


"Tidak nona. Anda tidak diizinkan untuk memasak. Saya akan mati di tembak jika Tiger melihat anda masak di dapur, nona." Celoteh kepala koki mencoba menghentikan Aila.


"Tidak perlu membantu, sir. Aku bisa melakukan semuanya sendiri."


"No. No. Don't touch!"


"Maaf, sir, aku tidak bisa berbahasa inggris." Kilah Aila dan melanjutkan aktivitasnya.


Jack yang merupakan telinga angin di Mansion dan juga untuk Tiger, terbangun karena mendengar keributan di dapur. Jack segera menelpon Lyn.


"Lyn. Kau sudah bangun. Ada keributan di dapur."


Mata Lyn terbuka lebar mendengar suara Jack yang memekakkan telinganya. Lyn menguap lalu duduk perlahan dari tempat tidurnya. Dia tidak ingin mengganggu tidur Seon yang masih sangat lelap. Maklum saja Seon baru pulang pukul empat dini hari tadi.


"Keributan apa Jack?"


"Entahlah, sepertinya nona Aila dan kepala koki bertengkar."


"Apa?"


Segera Lyn memakai sweeternya dan langsung melangkah keluar dari kamar menuju dapur.


"Aila, apa yang kau lakukan?"

__ADS_1


"Oh Lyn. Selamat pagi. Aku hanya melakukan tugasku sebagai pelayan di mansion ini. Aku membuat sarapan tentu saja." Jawabnya sambil tersenyum.


Lyn melihat senyum itu palsu. Mata Aila bengkak seperti habis menangis semalaman. Lyn yakin Aila sedang tidak baik baik saja.


"Biarkan para koki yang menyiapkan sarapan, Aila."


"Tidak apa Lyn. Mereka bisa menyiapkan sarapan untuk para anak anak Tiger, dan aku membuat sarapanku sendiri."


"Berhenti Aila."


Lyn meraih pisau di tangan Aila secara paksa dan itu membuat papan irisan dan juga sosis yang di potongnya jatuh kelantai. Aila hanya tersenyum, dia berjongkok dan memunguti potongan sosis itu. Hal itu membuat Lyn benar benar marah dan bingung dengan kelakuan Aila pagi ini.


"Jangan melarangku, Lyn. Biarkan aku melakukan apapun yang aku inginkan sebelum Tiger benar benar membunuhku." Ungkap Aila dengan nada suara yang tenang namun memiliki makna yang sangat membuat Lyn merasa iba.


"Apa yang terjadi?"


Suara itu berasal dari Pin.


"Selamat pagi, Pin. Apa tidurmu nyenyak? Oh ya, aku akan membuat sarapan. Apakah kau mau memakan sarapan yang aku buat?"


"Tentu Aila. Aku ingin mencicipi masakanmu."


Lyn melotot pada Pin. Tapi Pin malah tersenyum dan sedikit menggeleng seakan memberi tahu Lyn untuk ikut dalam kekacauan ini.


"Lyn juga mau mencicipi masakanku?"


"Ya." Jawab Lyn singkat kemudian dia berlalu meninggalkan dapur.


"Siapkan sarapannya, manis. Aku dan Lyn akan mandi dulu."


Pin tersenyum dan melambaikan tangan pada Aila. Dia menyusul Lyn dan mengajak Lyn untuk berdiskusi sebentar di ruang tamu.


"Apa yang terjadi pada Aila. Padahal kemarin semuanya baik baik saja. Dia bahkan dengan bahagianya menyambut kedatangan Tiger. Bahkan Tiger menggendongnya--"


"Kita hanya tahu apa yang terjadi di luar kamar, Lyn. Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar." Ucap Pin.

__ADS_1


Sejenak suasana jadi hening, baik Pin maupun Lyn sama sama berdebat dengan pikiran mereka masing masing. Hingga akhirnya Lyn yang lebih dulu mengungkapkan pendapatnya.


"Tiger sedang dalam misi besar. Sebisa mungkin kita jangan mengganggunya. Jadi, aku rasa saat ini kita ikuti saja dulu permainan Aila." Lyn menatap tajam, berharap Pin akan setuju dengan sarannya.


"Baik. Kita hanya perlu menemani Aila dan tetap selalu disampingnya."


Setelah mendapat solusi sementara, Lyn dan Pin mandi, lalu kembali ke dapur, mereka makan bersama Aila. Usai sarapan, Aila mencuci piring dan membersihkan dapur. Pin dan Lyn hanya bisa memperhatikan tanpa diizinkan untuk membantu.


"Lyn, ayo memanah." Aila mengajak Lyn untuk memanah.


Lyn menyenggol bahu Pin untuk meminta bantuan, tapi Pin malah menaikkan kedua bahunya lalu ikut mengekor dibelakang Aila yang sudah lebih dulu menuju arena memanah.


Aila siap dengan busur dan anak panah yang siap di tembakan. Sedangkan Lyn dan Pin lagi lagi hanya duduk menonton pertunjukan panah Aila yang luar biasa. Mereka bahkan sampai memvideokan saat Aila menembakkan anak panah.


Setelah hampir satu jam memanah, dimana Lyn dan Pin akhirnya ikut memanah, Aila kini merasa bosan. Dia duduk bermenung di gazebo.


"Apa yang terjadi, Aila?" Pin mendekatinya.


Sedangkan Lyn membereskan arena panah yang tampak kacau. Adam akan marah jika melihat kekacauan ini.


"Pin, bisakah kau memberitahuku alasan Tiger belum membunuhku juga dan mengirimkan mayatku kembali ke tanah airku?"


Kalimat itu membuat Pin bungkam. Dia merasa iba pada Aila, tapi sungguh Pin tidak tahu alasan Tiger membiarkan Aila sebebas ini dan memperlakukan Aila sebaik ini, sementara Aila hanya seorang tawanan. Jawaban Pin hanya satu, karena Aila spesial di hati Tiger. Mungkin.


"Lyn bilang, Tiger tidak bisa diikat dengan apapun. Bahkan jika aku hamil pun, itu tidak akan mengikat Tiger. Yang ada Tiger akan membunuhku dan janinku sekaligus."


Aila hamil? Mungkin saja. Lihatlah perubahan sikapnya yang tiba tiba menjadi manja, lalu bertindak semaunya. Oh tidak. Jika benar Aila hamil, ini akan menjadi petaka.


"Pin? Kenapa diam saja. Apa kau mendengarku?" Aila menyentuh tangan Pin, hingga Pin terbangun dari lamunannya.


"Aila, apa mungkin kau hamil?" Pin menatap tajam kedua bola mata Aila yang tampak tidak fokus.


"Apa kau benar hamil, Aila?"


Itu suara Lyn. Dia menghampiri Aila dan Pin setelah membersihkan kekacauan di arena memanah.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak hamil. Kenapa kalian menuduhku seperti itu?" Aila berdiri, dia langsung melangkah menjauh dari Pin dan Lyn yang menuduhnya telah hamil. Aila tidak tahu apakah dia hamil atau tidak. Bukankah pertanda hamil dengan terjadinya muntah di pagi hari. Oh ayolah, Aila tidak mengalami hal itu. Ya, sejauh ini Aila belum mengalami hal itu. Jadi bisa dipastikan Aila belum hamil saat ini.


__ADS_2