
Kebetulan hari ini hari minggu, Varen mengajak Aila untuk jalan jalan pagi. Sekedar berjalan santai mengelilingi komplek sekitar lima belas menit saja. Aila pun setuju, karena katanya dia merasa sangat sesak jika terus terusan dirumah saja. Dia ingin menghirup udara segar dipagi hari.
"Sayang, aku mau makan buah mangga muda pakai kuah rujak. Boleh nggak?"
"Boleh, tapi satu buah mangga saja cukup ya."
Aila bersungut kesal. Rasanya satu buah saja tidak cukup. Entah mengapa pagi ini mulutnya terasa aneh dan ingin memakan apa saja yang pasti harus asam. Nah kebetulan mereka baru saja melewati pohon mangga milik tetangga yang sedang berbuah muda.
"Ya udah deh, iya satu buah saja."
Varen pun memanggil pembantu pemilik rumah yang tengah menyiram bunga.
"Ada apa, mas?"
Varen pun berbisik pada wanita setengah baya itu yang membuatnya tersenyum.
"Silahkan mas. Nyonya sama tuan mengizinkan siapa saja yang mau memetik buah mangganya asalkan benar benar untuk dimakan."
"Terimakasih ya, bik." Ucap Varen.
Lalu dia memetik satu buah mangga, memberikannya pada Aila.
"Kita pulang sekarang ya sayang. Aku sudah tidak sabar mau makan mangga muda ini dicocol kuah kacang." Aila tampak sangat bersemangat.
"Ya sudah, ayok kita pulang."
Aila melangkah lebih dulu dari Varen sambil menenteng satu buah mangga muda ditangannya. Dari belakang dia terlihat menggemaskan seperti anak kecil yang kegirangan mendapatkan buah mangga di pagi hari.
"Untunglah, hamil kali ini aku tidak muntah seperti waktu itu. Ahh rasanya sangat tersiksa jika harus muntah setiap pagi."
Varen masih mengingat jelas bagaimana dirinya waktu kehamilan pertama Aila. Dia muntah muntah dan itu sangat menyiksanya. Bahkan karena perkara muntah itulah, akhirnya dia tidak bisa mengendalikan diri, hingga ditahan oleh Arnold dan berakhir kehilangan banyak orang orang terkasihnya yang sudah menemaninya selama hampir puluhan tahun terakhir.
"Sayang, boleh tidak kalau aku memanggil sayang dengan sebutan mas saja?" Oceh Aila yang sudah memperlambat langkahnya untuk bisa mengimbangi langkah Varen yang jauh tertinggal di belakangnya.
"Mmm, boleh. Sayang boleh memanggil dengan sebutan apapun selama itu membuat sayang merasa nyaman."
Senyum ceria menghiasi wajah Aila. Betapa bahagianya dia pagi ini. Tapi, tiba tiba wajah ceria itu berubah lesu seketika.
"Ada apa sayang?"
"Kaki ku rasanya lemas, nggak bisa diajak jalan lagi." Rengeknya manja.
Sebentar Varen menghela napas, dia tahu istrinya sedang memberi kode bahwa dia ingin digendong. Tanpa perlu berlama lama lagi, Varen pun langsung menggendong Aila ala pengantin. Aila menyenderkan kepalanya di ceruk leher Varen yang menurutnya memiliki aroma yang khas dan sungguh membuat Aila nyaman,
"Apa aku berat, mas?"
"Sama sekali tidak, sayang."
__ADS_1
"Jadi menurut mas, aku terlalu kurus?"
Kalimat barusan bukan pertanyaan tapi lebih pada pernyataan yang menyalahkan Varen mengatainya ringan.
"Bukan begitu sayang. Maksudku, hehe.. maksud mas gini.."
"Turunkan. Aku benci mas Varen. Aku lebih baik jalan kaki saja." Rutuknya sambil berontak turun dari gendongan Varen,
Aila langsung melangkah cepat menuju rumah, karena memang jarak rumah sudah sangat dekat. Sementara Varen hanya bisa menggeleng gelengkan kepala merasa heran dengan hormon istrinya yang acap kali berubah ubah.
"Ini baru permulaan. Semakin bertambah umur kehamilannya, maka akan semakin banyak perubahan lainnya yang mungkin bahkan akan membuatku shok berat nantinya." Guman Varen mengingatkan pada dirinya sendiri.
...🐯(NATM)🐯...
Bhika memperhatikan Nur yang sedang mengulek beberapa butir cabe rawit, ditambah gula merah, sedikit garam dan kacang tanah yang sudah di sangrai.
"Boleh saya mencicipi rasanya…" Bhika menggerakkan tangannya mengode pada Nur meminta izin untuk mencicipi kuah rujak yang dibuatnya.
"Silahkan nyonya."
Bhika pun mengambil satu iris kecil daging mangga muda yang sudah di kupas dan di cuci bersih oleh Nur sebelumnya. Lalu Bhika mencocolkan ujung daging mangga muda pada kuah rujak yang masih di dalam ulekan.
"Mmhh…" Wajah Bhika tampak aneh saat lidahnya merespon rasa asam mangga muda dan pedasnya kuah rujak itu.
"Pedas ya nyonya. Ini minum dulu…" Dengan cepat Nur memberikan segelas air putih untuk Bhika.
"Pedas ya nyonya?"
Bhika tidak merespon, karena tidak mengerti apa yang dikatakan Nur.
"Coba deh nyonya cocol timun ini ke kuah rujaknya. Rasanya pasti lebih enak dan segar."
Nur mencontohkan pada Bhika untuk memakan timun dengan kuah rujak. Meski ragu, Bhika pun mencobanya dan begitu timun yang sudah dicocol kuah rujak masuk ke mulutnya, dia merasakan sensasi yang berbeda.
"Uum enak." Bhika mengatakan dengan mengankat kedua jempolnya.
"Nyonya mau lagi?" Nur mendekatkan dua potong timun yang dipotong memanjang olehnya.
Bhika pun mengulangi lagi cara makan timun dengan kuah rujak. Dia benar benar suka rasa pedas, manis dan segar perpaduan timun dan kuah rujak.
Melihat Bhika menyukai itu, Nur memasukkan kuah rujak beberapa sendok kedalam mangkok yang lebih kecil dari mangkok kuah rujak yang akan diantarkannya pada Aila.
"Ini untuk nyonya."
Bhika berterimakasih dengan menundukkan sedikit kepalanya sambil tersenyum pada Nur.
Kemudian, Nur pun melangkah menuju ruang depan membawakan mangga muda dan kuah rujak untuk Aila.
__ADS_1
"Non, ini rujaknya."
"Terimakasih bik."
"Iya non. Mm non mau dibuatkan jus buah?"
"Boleh."
"Sebentar saya buatkan ya non."
Begitu Nur melangkah kembali ke dapur, Aila pun langsung mencocol daging mangga muda ke kuah rujak. Dan begitu tiba di mulutnya, Aila tampak kegirangan.
"Mm enak. Bik Nur memang juara bikin kuah rujak." Pujinya sambil terus menyantap dengan lahap. Tapi, setelah dua potong daging mangga muda berhasil di makannya, dia pun berhenti.
Varen yang memperhatikan Aila sejak tadi dari tempatnya duduk di depan laptopnya, langsung melangkah menghampiri istrinya itu.
"Sayang, mangga mudanya masih banyak loh ini."
"Udah kenyang."
"Masak sih kenyang secepat itu. Baru juga makan dua iris kecil kok udah kenyang aja."
"Ya udah kalau gitu mas saja yang habiskan."
"Benaran?"
Aila mengangguk yakin. Dan Varen pun duduk di sofa yang sama tepat di sebelah Aila.
"Mas, aku ngantuk." Merebahkan kepalanya di bahu suaminya.
"Loh loh kok ngantuk. Ini masih pagi lo sayang, nanti kalau mau tidur jam sepuluh ya." Bujuk Varen sambil mengelus punggungnya.
"Iih mas apaan sih. Orang ngantuk sekarang, malah disuruh tidur nanti jam sepuluh. Ya mana bisa mas, mataku sudah nggak kuat nih."
Suaranya semakin memelan dan Aila benar benar langsung lelap di bahu Varen.
"Ya sudah, tidur saja. Tapi bentar aja ya sayang, kamu masih belum mandi pagi loh." Ocehnya meski dia tahu Aila sudah tidak mendengarnya lagi.
Saat itu juga Nur membawakan segelas jus strobery kesukaan Aila beberapa hari terakhir.
"Nyonya, ini jus stroberi-nya." Nur meletakkan segelas jus diatas meja dihadapan Aila dan Varen tanpa melihat keadaan Aila yang sudah terlelap.
"Bibi simpan saja dulu jus nya di dalam kulkas. Aila tidur." Ucap Varen dengan suara sangat pelan.
Nur pun melirik kearah wajah Aila, lalu dia tersenyum gemas melihat wajah lelap Aila yang seperti bayi tidur karena kekenyangan.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi den Varen." Pamitnya.
__ADS_1
Dia membawa serta gelas berisi jus stroberi itu kembali ke belakang untuk disimpan di kulkas menjelang Aila bangun.