Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 15


__ADS_3

Dua hari berlalu.


Sejak malam itu Aila tidak pernah lagi mencoba melakukan sesuatu yang dilarang oleh Pin dan Lyn. Dia juga tidak keluar kamar sama sekali. Dia hanya menghabiskan harinya untuk membaca Qur'an dan sholat saat waktunya telah masuk. Sementara makanan diantarkan oleh Lyn dan Pin secara bergantian. Tentu saja makanan halal yang dimasakkan oleh pak koki islam itu.


Baik Lyn maupun Pin tidak lagi mengobrol dengan Aila. Mereka hanya sekedar mengantarkan makanan lalu pergi tanpa menyapa Aila. Hal itu membuat Aila merasa sedih namun akhirnya dia kembali sadar bahwa dirinya hanyalah tawanan.


Bukan tidak ada alasan yang membuat Lyn dan Pin tidak mau menyapa Aila lagi. Tapi, semua itu mereka lakukan agar tidak terus terusan mengasihani Aila. Karena percuma saja mereka merasa kasian sementara mereka tidak akan bisa membantu Aila lolos dari cengkraman Tiger.


Hari ini, untuk pertama kalinya Lyn dan Pin diajak dalam sebuah misi penyamaran untuk melepaskan anak Tiger yang sedang di tawan di kandang musuh. Tentu saja rencana ini telah disetujui Tiger. Lyn, Pin, Seon, Kinan dan Vac. Mereka pasukan yang sempurna. Mereka terbang ke Bali dengan menggunakan pesawat biasa tentunya dengan penyamaran mereka. Ah andai Aila tahu Lyn dan Pin akan mengunjungi Indonesia, mungkin Aila akan minta dibawakan mie instan kesukaannya.


Sementara itu, saat ini Aila yang sudah sangat merasa bosan memutuskan untuk keluar dari kamar. Dia melihat dari kamarnya, di bawah sana ada rumah kaca yang sangat cantik dengan berbagai macam jenis tanaman hias. Aila sangat menyukai taman hias. itulah yang menjadi alasanya keluar dari kamarnya.


Kaki Aila melangkah perlahan, hingga ia berhenti tepat di depan ruangan kerja Tiger seperti yang dikatakan Pin malam itu. Berhubung Tiger sedang tidak ada, Aila terpikir untuk mengintip ruangan itu. Ya, Aila sangat penasaran.


Perlu di ketahui, Tiger sudah pulang subuh tadi. Dan kini dia mungkin saja berada di ruang kerjanya.


"Sakitttt tolong berhenti---"


Aila mendengar jeritan itu dari dalam ruang kerja Tiger. Dia pun merasa iba dengan suara jeritan itu dan tanpa aba aba membuka pintu itu yang memang ternyata tidak terkunci sama sekali.


Boom---


Mata suci Aila mendapati pemandangan yang sangat membuatnya akan kembali muntah.


Tiger dengan penuh semangat mendorong dirinya pada seorang wanita yang membelakanginya dengan leher bagian belakangnya dicekik oleh Tiger. Wanita itu merintih kesakitan, dia tidak benar benar telan-ja-ng. Dresnya hanya disingkap keatas dan ****** ******** melorot di kakinya. Begitu juga dengan Tiger, kemeja putihnya masih terpasang rapi, hanya celananya yang sedikit melorot ke bawah.


Aila tidak benar benar mengerti apa yang sedang terjadi, dia segera hendak berbalik dan meninggalkan ruangan itu, tapi tiba tiba suara serak nan berat terdengar erotis milik Tiger mencegahnya untuk pergi.


"Jangan membelakangiku, Aila. Berbaliklah."


Dengan sangat ketakutan dan terpaksa, Aila berbalik dan menundukkan pandangannya dalam dalam serta menutup matanya erat erat dan tangannya menutup telinganya dengan erat pula.

__ADS_1


"Tatap aku Aila atau timah ini akan membolongi kepalamu si-a-lan!" Pekiik Tiger murka.


Kaki Aila gemetar hebat. Dia sangat ketakutan, ingin berlari sekencang mungkin tapi itu tidak mungkin dilakukannya. Hingga akhirnya ia kembali patuh dan mencoba membuka matanya menatap kearah Tiger yang sudah kembali berpakaian rapi, sementara wanita malang itu masih terbaring lemah di atas meja kerja Tiger. Wanita itu cantik, kulitnya putih dan tampak halus. Ah mungkin dia pacarnya. Itulah yang terbersit dipikiran Aila.


"Tinggalkan ruangan ini."


Dengan langkah cepat Aila hendak meninggalkan ruangan itu, tapi lagi lagi Tiger tidak memerintahkannya untuk pergi.


"Bukan kau Aila!"


Langkah Aila terhenti dan akhirnya Aila benar benar jatuh terduduk di lantai dengan posisi membelakangi Tiger. Aila menatap langkah tertatih wanita cantik tadi berlalu menghilang dibalik pintu ruangan yang kemudian ditutup rapat oleh Tiger dan tidak lupa menguncinya.


Ya Allah, selamatkan aku. Tolong ampuni semua dosa dosaku. Aku berlindung hanya padamu ya Allah. Batin Aila ketika Tiger berjongkok dihadapannya dengan meraih dagunya mencengkalnya erat hingga menyisakan rasa perih disana.


"Berani sekali kau membuka pintu ruangan ini, sayang."


"Maafkan saya tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi." Kalimat itu yang berhasil lolos dari mulut Aila.


Tiger menghepaskan dagu Aila dengan kuat membuat Aila tersentak dan meringis. Sementara Tiger sudah kembali duduk di kursinya menatap mejanya yang berantakan.


"Bersihkan kekacauan ini. Itu hukuman untukmu."


Sungguh? Tiger hanya menyuruhnya membersihkan meja sebagai hukuman. Itu setidaknya melegakan untuk saat ini.


Dengan langkah takut dan hati hati, Aila menuju meja itu dan merapikan beberapa barang, file dan juga kertas kertas yang berserakan disana. Kemudian Aila mengelap meja itu menggunaka tisu yang memang tersedia. Saat itulah,Tiger tiba tiba berdiri di belakang Aila yang sedikit membungkuk saat mengelap permukaan meja.


"Kau sangat menggiurkan, sayang." Tiger langsung melingkarkan tangannya di pinggang Aila. Itu sungguh membuat Aila sangat ketakutan.


Tiger mulai mengendus punggung Aila, bahkan satu tangannya dengan kasar melepas jilbab Aila hingga jarum menggores leher bawah dagu Aila, itu terasa perih dan mengeluarkan darah segar. Tiger tidak tahu itu karena dia belum melihat bagian depan Aila.


"Tuan, jika tuan menginginkan saya, alangkah baiknya tuan mandi terbih dahulu. Saya tidak mau disentuh saat tuan baru saja menyentuh wanita lain. Itu tidak baik untuk kesehatan, bukan?"

__ADS_1


"Kau sungguh berani dan kurang ajar."


Tiger melepaskan tubuh Aila, lalu dia keluar dari ruangan itu dengan membanting kuat pintu itu yang membuat Aila terkejut.


Juno melihat bagaimana emosinya wajah Tiger keluar dari ruangannya. Hingga kakinya cepat melangkah untuk memeriksa apa yang terjadi pada Aila. Juno tahu Aila disana, karena dia mendengar cerita dari wanita yang baru saja dia obati lukanya sebab di hajar oleh Tiger beberapa menit yang lalu.


"Nona Aila. Kau baik baik saja."


Juno menghampiri Aila dan hendak membantu Aila berdiri, tapi ditolak oleh Aila. Dia tidak mau disentuh lelaki yang tidak halal untuknya setidaknya saat dia dalam keadaan sadar seperti saat sekarang.


"Kau terluka, nona?"


"Tidak. Terimakasih."


"Aku Juno. Aku seorang dokter di sini. Jadi jika ada yang sakit kau boleh menemuiku biar aku bantu obati."


"Terimakasih, dokter Juno."


Aila sudah memakai kembali jilbabnya sebelum Juno masuk keruangan itu. Tentu saja.


"Tapi bolehkan aku meminta kapas, obat merah dan perban?"


"Oh tentu, nona. Mari ikut saya."


Aila mengikuti Juno ke Klinik kecilnya yang ternyata memiliki obat obatan yang lengkap serta alat alat kedokteran yang juga lengkap tentunya.


"Kalau boleh tahu, untuk apa kau meminta ini, nona Aila?" Juno menyelidik.


"Aku lihat lengan Tuan Varen terluka, aku akan membantu mengobatinya."


Juno tersenyum sambil mengangguk. Semoga saja Aila berhasil membujuk untuk mengobati luka di tubuh Tiger. Karena sejauh ini belum ada yang diizinkan untuk mengobati lukanya termasuk Juno. Karena memang Tiger lebih suka mengobati lukanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2