
_Markas Rahasia Snake_
Tadi sore Tam tiba di markas rahasia Snake bersama Sarwa dan Juno. Ya, Snake mengizinkan mereka untuk tinggal sementara di tempat ini.
Dan kini Tam menemui Varen dengan tanpa adanya rasa bersalah sedikitpun karena telah mengkhianati Varen.
"Nong, kau sangat malang. Kau mempertaruhkan segalanya hanya karena wanita itu. Kau bahkan melupakan bagaimana Lion membunuh orangtua kita dengan cara yang menyakitkan. Karena itulah phi tidak menyukai nong lagi."
"Wanita yang kau cintai itu, dia memilih menggugurkan bayimu. Dia tidak sudi mengandung bayi dari pria yang berusaha membunuhnya. Itu yang dia katakan, sebelum akhirnya dia memilih untuk ikut bersama Adrian, kekasihnya."
"Apa maksudmu, phi?"
Tiger bertanya seakan dia tidak tahu apa yang telah terjadi. Padahal Snake sudah lebih dulu memberitahu tentang itu. Suaranya gemetar hebat karena dia hampir pingsan di dalam air yang semakin dingin menusuk hingga ketulang.
Tam tidak memberikan respon apapun. Dia hanya tampak kesal karena Tiger masih tetap tenang tidak terpancing sedikitpun dengan ceritanya. Tiger bahkan tidak memperlihatkan amarah atau memaki saat melihatnya padahal dia telah berkhianat.
"Oh ya ada satu lagi yang harus kau ketahui, nong." Tam berhenti sebentar untuk tersenyum mengejek Varen. "Kau memang sulit untuk ditipu. Kau benar, bayi yang ada dalam perut Sarwa bukan bayimu, tapi itu bayiku calon pewarisku yang akan mengambil alih semua milikmu."
"Jadi kau benar benar jatuh cinta pada wanita itu phi. Wanita be ka s ku--" Ejek Tiger meski suaranya nyaris tak terdengar, matanya bahkan sudah tidak bisa terbuka lebar. Dingin benar benar melumpuhkan kinerja tubuhnya. Dia sudah hampir dua belas jam berendam di dalam air kolam yang dingin nan dalam itu.
"Dalam keadaan seperti ini harusnya kau tidak menghinaku, Nong. Harusnya kau bermohon untuk dilepaskan atau mungkin memohon agar aku membantumu lepas dari Snake."
"Aku tidak sudi melakukan itu pada pengkhianat sepertimu, phi."
"Kau masih bisa menggerakkan lidahmu rupanya" Ditatiknya rambut Tiger, lalu dibenamkannya kepala itu kedalam air.
"Kau sangat menyebalkan. Kau bahkan memerintahkan tua bangka Sony untuk menyembunyikan pabrik dan menutup akses menuju vila." Dia kembali membenamkan kepala Varen.
"Segera perintahkan dia membuka akses menuju pabrik dan vila, jika kau masih ingin bernapas, br en gs ek!" Pekiknya murka.
"Tidak akan aku biarkan pengkhianat sepertimu memiliki vila dan pabrik. Bajingan!" Gumam Varen dengan senyum sinis mengejek. Dan itu membuat Tam semakin tersulut emosi.
Tam kembali membenamkan kepala Varen berulang kali ke dalam air tampa peduli keadaan Tiger yang sudah sangat mengenaskan. Dia kehabisan oksigen hingga akhirnya dia benar benar kehilangan kesadarannya.
Merasa Tiger tidak lagi menggerakkan kepalanya sama sekali, Tam menghentikan ulahnya. Ditatapnya raut wajah pucat yang sudah terpejam seutuhnya dengan posisi yang tentunya sangat tidak nyaman. "Ini salahmu sendiri, nong. Kau yang memilih tidak patuh padaku." Bisiknya ditelinga Tiger meski dia tahu Tiger tidak lagi bisa mendengarkan bisikannya.
__ADS_1
"Keluarkan dia dari air. Tetap ikat tubuhnya dalam keadaan tergantung di gudang belakang." Titah Snake pada Baron saat mendapati tubuh kaku Tiger.
"Baik, tuan."
Dua orang penjaga itu mengeluarkan tubuh Tiger dari air, lalu mereka membawa Tiger dan menggantungnya di gudang belakang.
Sementara Tam hanya diam menatap dengan sedikit iba. Namun, beberapa detik kemudian dia mendengarkan laporan Jack yang mengatakan, semua saham Varen di Mark holding telah ditransfer seutuhnya secara rahasia. Dan Mark holding masuk dalam pasar lelang.
"Bagaiaman ini? Siapa yang melakukannya--"
"Sekretaris Varen, phi. Ririn."
"Ririn?!" Napasnya naik turun mengetahui Ririn ternyata mengkhianatinya.
Tam menitipkan urusan perusahaan seutuhnya pada Ririn, setelah menyuap Ririn dengan sejumlah uang. Tapi, ternyata Ririn malah memberitahukan hal itu pada Varen. Itulah awal mula Varen tahu rencana pengkhianatan Tam.
"Temukan wanita itu segera!" Titahnya.
"Baik, tuan."
Jack memerintahkan bebera anak buahnya bergerak untuk mencari keberadaan Ririn.
"Bukan masalah besar, tuan Arnold."
"Kalau begitu duduklah dulu. Kita ngobrol santai sebentar sebelum kau kembali ke mansion."
Tam menghela napas dalam dalam, barulah kemudian dia ikut bergabung dengan Snake.
...🐯(NATM)🐯...
Malam ini Aila tidak bisa tidur. Begitu banyak yang berputar dipikirannya. Namun, yang lebih membuatnya tidak bisa tidur karena dia merindukan Varen. Dia tahu mungkin Varen akan segera membunuhnya. Terlebih karena dia adalah putri dari pria yang telah membunuh kedua orangtua dan adiknya. Tapi, rasa rindu dihatinya tidak bisa ditepis sama sekali.
"Wahai Sang pemilik hati, mudah bagimu untuk membolak balikkan hati manusia yang Engkau kehendaki. Dengan ke Agunganmu, aku mohon kirimkan rindu ini padanya. Lembutkan hatinya untuk menerima aku sebagai wanita halalnya--- Lindungi dia ya Allah--" Bisikan doa Aila kirimkan untuk menghibur hatinya. Ya setidaknya dengan berdoa dia merasa hatinya lebih baik.
Diam diam Adrian mengintip dibalik celah pintu yang dibukanya sedikit. Tatapan tajam menyiratkan rasa cemburu dan amarah yang hampir tak terbendung. Ada kekecewaan juga bercampur disana. "Apa yang membuatmu mencintai mafia itu, Aila. Mengapa kamu tidak pernah bisa mencintaiku sebagai pria, padahal aku adalah satu satunya pria yang selalu ada untukmu."
__ADS_1
Tokk--
Tokk--
Adrian akhirnya membuka pintu kamar setelah memberi ketukan pelan.
"Aila, kamu belum tidur?"
Mendengar suara itu, memnuat Aila memalingkan wajahnya untuk kemudian menyapu sisa sisa air mata di pipinya.
"Kamu tidak bisa tidur karena masih memikirkan tentang kedua orangtua mu?"
Adrian duduk di pinggir ranjang, dia menatap Aila dengan tatapan lembut penuh kasih. Ditangannya ada segelas air berwarna kekuningan.
"Awalnya akan sulit untuk menerima kenyataan, tapi perlahan lahan kamu akan membaik dan mulai terbiasa menerima kehadiran mereka sebagai orangtua-mu."
"Adrian_-"
Suara Aila begitu lembut seperti sebelumnya.
"Iya, Aila." Jawab Adrian dengan senyum bahagia diwajahnya. Bagaimana tidak bahagia saat Aila memanggil namanya selembut itu lagi.
"Maafkan aku."
"Tidak perlu meminta maaf pun aku sudah memaafkan kamu, Aila."
"Kapan aku bisa menemui kedua orangtua-ku, Adrian?"
"Setelah kamu membaik. Aku janji akan mengantarmu menemui mereka. Jadi, sekarang minumlah obat ini. Ini ramuan detok rahim yang bagus untuk wanita yang mengalami keguguran--"
Adrian mendekatkan gelas itu kemulut Aila, dan tanpa protes mulut Aila terbuka diikuti dengan Adrian yang membantu untuk meminum ramuan herbal tersebut. Aila meminunnya sampai habis tak tersisa.
"Sekarang, cobalah untuk tidur. Besok saat bangun, kamu akan merasa lebih baik."
Aila berbaring nyaman di kasurnya, Adrian membantu memperbaiki selimutnya. Dan tidak butuh waktu lama, Aila memejamkan matanya. Adrian pun langsung meninggalakan Aila dikamarnya karena dia pikir Aila benar benar telah terlelap.
__ADS_1
Namun, saat Adrian sudah menghilang dari balik pintu, mata Aila kembali terbuka, mata itu kembali mengeluarkan butir butir bening dengan cukup deras. Aila menangis dalam diam dibawah selimutnya.
"Tuan Varen, aku benar benar telah termakan jebakanmu. Aku sangat tersiksa saat aku tidak lagi bisa melihatmu. Rasanya, aku benar benar ingin mati karena aku ingin tidur dalam pelukanmu." Gumamnya berbisik pada dirinya sendiri.