
Malam ini, Dewi kembali mencoba menggoda Tiger. Dia bahkan hampir me-le-pas seluruh pakaiannya dan duduk manja diatas meja kerja Tiger. Sedangkan Tiger duduk di kursinya dengan mata yang fokus menatap layar laptop. Dia benar benar tidak berselera pada Dewi.
"Mengapa kau menyerang Aila?"
"Ja-la-ng itu merasa lebih suci dariku, sayang." Dewi berucap dengan nada suara mendesah. Dia sengaja menggoda Tiger.
"Dia memang wanita suci. Dia istriku."
Suara Tiger sangat tenang tanpa ada penekanan.
"Kau bahkan tidak pernah menyebut wanita manapun sebagai kekasihmu. Mengapa tiba tiba kau menyebut ja-la-ng itu istrimu--"
Rahang Dewi digenggam erat oleh Tiger hingga membuatnya merintih merasakan sakit saat kulit lehernya terkena kuku Tiger yang panjang.
"Dia bukan ja-la-ng. Dia tidak sama sepertimu, Dewi. Dia bagaikan berlian. Jangan pernah menyebutnya dengan kata kotor itu lagi!"
Tiger menegaskan, memperingatkan dan memerintahkan agar Dewi tidak merendahkan Aila.
"Sakiiitttt--" Dewi mencoba melepaskan tangan Tiger dari dagunya dengan menggunakan kedua tangannya. Namun, tidak bisa. Tiger bahkan kini beralih mencekiknya hingga membuat Dewi benar benar kesakitan dan hampir kehabisan napas.
"Membunuhmu jauh lebih mudah-- Ah ya, rasanya sudah sangat lama aku tidak membunuh dengan cara mencekik seperti ini. Senjata sungguh hebat, aku tidak perlu menghabiskan seluruh tenagaku hanya untuk mencekik seperti ini!"
Kedua tangan Dewi perlahan terlepas dari pergelangan tangan Tiger yang terus mencekiknya semakin kuat. Tapi, suara langkah kaki mendekat ke arah pintu ruangannya, membuat Tiger terganggu. Cekalan di leher Dewi semakin mengendor, mata Tiger fokus menatap kearah pintu yang akhirnya terbuka.
Saat mata Tiger menatap sosok yang membuka pintu itu, dengan segera dia mencium bibir Dewi. Mata Dewi yang tadinya hampir terpejam pun kembali membola saat merasakan bibir Tiger menyapu bibirnya dengan kasar.
Sepasang mata Aila lagi lagi ternodai. Dia yang baru saja membuka pintu itu menatap pemandangan yang menyesakkan dadanya. Matanya langsung menunduk menatap ubin lantai. Hatinya beristighfar.
__ADS_1
Harusnya aku tidak masuk ke tempat ini sebelum mengetuk pintu.
Aila menyesal mengikuti perintah Juno untuk langsung masuk ke ruangan Tiger tanpa mengetuk, karena Tiger sudah menunggunya cukup lama. Apakah ini rencana Tiger untuk menyiksanya, membuat hatinya terluka semakin dalam. Tidak. Aila tidak berhak untuk merasakan sakit seperti yang di harapkan Tiger. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak masuk dalam permainan licik Tiger yang berusaha membuatnya jatuh cinta pada pria tak berperasaan itu.
"Aahhkkk--"
Itu suara jeritan Dewi. Perlu di garis bawahi, itu bukan jeritan karena nikmat, tapi jeritan karena Tiger menggigit bibir Dewi hingga berdarah.
Aila hanya terus beristighfar dalam hatinya. Dia bahkan mulai memejamkan matanya dan mencoba membuat pikirannya penuh dengan ayat ayat quran yang telah dihafalkannya. Aila berhasil. Dia tenggelam dalam pikirannya dengan dihiasi ayat ayat indah yang menenangkan hatinya.
Merasa Aila hanya diam saja, membuat Tiger mengintip. Matanya menangkap wajah cantik nan anggun itu tengah tersenyum dengan kedua mata terpejam. Senyuman Aila sangat manis dan membuat hati Tiger terasa sejuk.
Perlahan tangannya melepaskan Dewi. Langkah kakinya semakin menjauh dari Dewi yang tampak bingung melihat Tiger semakin mendekat pada Aila. Yang lebih mengejutkan lagi, Dewi melihat Aila tersenyum bak seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
Langkah kaki Tiger berhenti tepat di depan Aila, jarak mereka mungkin hanya tinggal sejengkal saja. Aila bahkan tidak terusik, dia masih tenggelam dengan ayat ayat indah yang terus dilantunkannya dalam hati dan pikirannya. Hingga akhirnya, sentuhan tangan Tiger di kedua pipinya membuatnya membuka mata.
Empat bola mata itu saling menatap. Tatapan Tiger sangat lembut dan penuh kekaguman. Aila tidak mengerti mengapa pria itu menatapnya seperti itu. Mata Aila hanya menatap heran wajah pria penuh pesona di hadapannya.
"Tinggalkan ruangan ini!" Perintah Tiger tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Aila.
Dia memintaku untuk pergi-- atau dia meminta Dewi--
"Tinggalkan ruangan ini, Dewi!" Ulangnya.
Dengan segera Dewi meninggalkan ruangan itu. Dan setelah Dewi menghilang, Tiger melepaskan tangannya yang menyentuh kedua pipi Aila. Dia melangkah mendekati pintu untuk menguncinya. Kemudian Tiger beralih untuk duduk di sofa dan menggamit agar Aila ikut duduk di sebelahnya.
Tanpa berpikir lama, Aila pun mengikuti perintah Tiger. Kini dia duduk tepat di samping Tiger.
__ADS_1
"Buka jilbabmu?"
Apa? Dia akan menyentuhku lagi setelah bercinta dengan wanita itu--
"Aku akan mengobati luka di dagumu, Aila." Lanjut Tiger dengan suara lembutnya. Dia melangkah untuk mengambil kotak p3k yang disimpan dilaci meja kerjanya.
Aku sudah mengobati luka ini-- Pikirnya sambil membuka tautan jarum pentul yang menjadi penghubung jilbabnya.
Tiger kembali duduk di sampingnya. Dia tampak sibuk membuka tutup obat merah, lalu meneteskan obat merah itu pada secuil kapas. "Dongakkan kepala, aku akan mengobati lukamu."
Entah mengapa Aila menjadi sangat penurut. Dia mendongakkan kepalanya menghadap langit langit, lalu dengan perlahan Tiger memoleskan obat merah itu ke goresan samar yang ada di bagian bawah dagu Aila. Goresannya sangat samar, karena sudah mulai sembuh.
"Apa tidak ada penutup kepala yang tanpa harus menggunakan jarum di lehermu?"
"Ya?"
Dahi Aila berkerut mendengar pertanyaan itu. Apa pedulinya pria itu, hingga mempertanyakan hal seperti itu.
"Berhentilah memakai jilbab yang bisa membuat lehermu terluka." Lanjut Tiger sambil menempelkan hansaplast untuk menutup goresan luka itu.
Kenapa dia bersikap manis dan lembut malam ini. Apakah Allah mengabulkan doaku beberapa menit yang lalu?
"Jangan coba coba untuk kabur, Aila. Aku tahu kau menyusun rencana untuk kabur bersama kekasihmu. Jika itu sampai terjadi, aku akan membolongi kepala Adrian tepat didepan kedua matamu." Bisik Tiger kemudian.
Mata Aila membola saat mendengar kalimat peringatan yang dibisikkan Tiger padanya. Sudah Aila duga, Tiger tidak mungkin bersikap manis dan lembut padanya secepat itu.
"Jangan menyentuh Adrian sedikitpun selama aku masih hidup!" Aila menegaskan. "Bunuh aku lebih dulu, sebelum kau membunuh Adrian_--"
__ADS_1
Aila mengatakan itu dengan menyatukan kedua rahangnya dengan erat. Tatapan matanya dan tarikan nafasnya pun dapat menunjukkan betapa seriusnya dia dengan apa yang diucapkannya.
Bagaimana tanggapan Tiger. Tentu saja dia tersenyum sinis, kemudian langsung mencium bibir Aila tanpa memberi Aila kesempatan untuk protes sama sekali. Ciuman itu semakin dalam hingga terjadilah penyatuan antara pasangan suami istri itu. Ya, meski hanya pihak suami yang merasa diuntungkan, sedangkan istri merasa terpaksa melayani hasrat sang suami semata karena merasa itu sudah menjadi kewajibannya.