Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 81


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Berita bahagia kehamilan Ririn akhirnya sampai pada Aila melalui kabar yang dibawa langsung oleh Varen, tanpa Varen sadari bahwa kabar bahagia itu memicu percikan api dihati Aila. Memang, Aila dan Ririn tidak bertemu atau berkomunikasi sebulan terakhir tanpa alasan yang jelas.


Saat ini, Varen dan Aila sedang menyantap makan malam dengan lahap. Hingga di saat saat terakhir, Varen mulai berceloteh santai tanpa mengerti suasana hati Aila yang baru saja mulai menyesuaikan diri dengan usianya yang baru saja menapaki usia dewasa. Namun, mentalnya masih belum sedewasa usianya.


"Sayang, apa kamu sudah mendengar berita bahagia hari ini?"


"Mmm belum. Memangnya berita bahagia apa, sayang?" Tanya Aila yang masih melanjutkan makan malamnya.


"Itu loh sayang, Ririn hamil. Ah mungkin dia lupa memberitahu kamu sangking bahagianya."


Raut wajah Aila mendadak berubah menjadi merah padam dan bodohnya Varen belum menyadari itu, hingga dia melanjutkan ceritanya.


"Usia kandungannya sudah memasuki minggu ke dua belas kalau tidak salah. Uh bahagia sekali mereka. Iya kan, sayang?"


"Iya." Jawab Aila singkat dan Varen masih belum ngeh dengan ekspresi wajah Aila.


"Kamu tahu, saat Adam mendengar berita kehamilan Ririn, dia langsung menebak bahwa nanti anaknya cowok. Lucu kan Adam. Belum apa apa sudah main tebak saja. Bisa jadi nanti yang lahir malah bayi girl.." Celoteh Varen panjang lebar lengkap dengan ekspresi senang diwajahnya.


Aila masih diam, tapi dia mulai menyudahi makan malamnya. Bhika yang pertama menyadari perubahan mood di wajah Aila langsung menendang kaki Varen di bawah meja. Merasa kakinya di tendang tendang oleh mama mertuanya, membuat Varen menatap dan mama mertuanya malah memberi kode agar Varen melihat wajah Aila.


"Sayang.. kamu kenapa?" Tanya Varen hendak menyentuh tangan Aila, tapi dengan cepat dia menarik tangannya agar tidak di sentuh Varen.


"Ya, kamu benar. Adam beruntung mempunyai istri yang sempurna yang bisa hamil. Sementara aku…"


Varen baru menyadari, ternyata ocehannya beberapa saat lalu yang membahas kehamilan Ririn ternyata menyakiti hari istrinya itu.


"Jika mas mau menjadi pria seberuntung Adam, sana cari saja wanita yang bisa langsung hamil dengan hanya sekali sentuh saja." Celetuk Aila.


"Sayang, aku tidak.."


Aila tidak memperdulikan Varen, dia sudah melangkah pergi meninggalkan meja makan.


"Ma, aku salah ya?" Tanya Varen pada Bhika dan hanya mendapat anggukan dari mama mertuanya itu.


"Bujuk Aila sana. Tenangkan hatinya, beberapa hari ini, mama lihat moodnya memang kurang bagus." Tutur Bhika.

__ADS_1


"Ya sudah, aku bujuk Aila dulu ya ma. Mama makan sendirian dulu tidak apa apa ya, ma."


"Iya tidak apa. Udah cepat sana bujuk Aila."


Varen pun menyudahi makan malamnya dan langsung menghampiri Aila yang sudah menangis terisak dengan membenamkan wajahnya pada permukaan bantal.


"Sayang…"


Varen ikut berbaring di atas kasur, sambil memeluk punggung Aila dan mencoba melihat wajahnya.


"Kamu pasti menyesal menikahi wanita seperti saya, kan?"


Entah mengapa Varen malah tersenyum gemas mendengar kalimat barusan yang keluar dari mulut Aila sambil menangis terisak.


"Sayang, aku tidak pernah menyesal memilih kamu. Selamanya akan tetap seperti itu." Bujuknya sambil mengelus kepala Aila.


"Kamu bohong. Buktinya kamu sangat bahagia mendengar kehamilan Ririn. Itu sama saja kamu menyindirku, kan?"


"Astaghfirullah, sayang. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ikut bahagia mendengar kabar bahagia itu dari sahabat kita."


"Sungguh sayang. Aku berani bersumpah.."


Aila mendongak untuk melihat wajah Varen saat mengatakan sumpahnya.


"Kalau begitu lakukan dengan serius. Buat aku hamil." Rengeknya manja masih sambil terisak.


Sungguh Varen sangat gemas dengan tingkah istrinya itu.


Tunggu! Wajah pucat ini… sepertinya aku pernah melihat wajah pucat ini. Apakah Aila hamil?


Varen langsung mendudukkan Aila dalam pangkuannya. Dia menyenderkan punggungnya di sandaran kepala ranjang. Tangannya mulai memeriksa denyut nadi Aila dan juga menyentuh bagian bawah perutnya. Tidak merasa puas, Varen bahkan membuka jilbab instan Aila dan membuangnya sembarangan.


"Lakukan seperti waktu masih dimansion. Lakukan seperti itu agar aku segera hamil. Akhir akhir ini kamu menyentuhku terlalu lembut, mungkin karena itulah aku tidak hamil hamil juga." Rengek Aila.


Dia benar benar bertingkah aneh dan tidak malu meminta untuk di sentuh oleh Varen, padahal biasanya selalu malu malu saat Varen akan menyentuhnya.


Varen menatap lekat ceruk leher depan Aila, melihat bagaimana tarikan napas Aila turun naik disana. Dan Varen yang masih belum yakin, langsung membuka empat kancing teratas piyama Aila hingga membuat Aila men de sa h tanpa disentuhnya.

__ADS_1


Kedua sudut bibir Varen terangkat sempurna saat dia berhasil mengintip lingkaran hitam di pu ti ng Aila melebar dan sangat hitam. Tanpa pikir panjang, Varen langsung memeluk erat tubuh Aila dan mencium bibirnya sangat lembut dan cukup lama.


"Sayang, apakah sayang tidak melakukan pemeriksaan kehamilan hari ini?" Bisik Varen.


"Tidak. Hasilnya pasti selalu negatif." Rutuk Aila tampak sangat kesal saat Varen membahas soal kehamilan.


"Benarkah?"


"Iya. Kenapa? Kamu kecewa kan sama aku. Aku masih tidak hamil juga." Ujarnya cetus. Dan Aila sudah mengancing kembali piyamanya dengan rapi. Dia turun dari ranjang dan malah berbaring di atas sofa.


"Sayang kok kamu malah menjauh sih. Katanya mau aku buat sampai kamu benar benar hamil…" Goda Varen hendak mendekatinya.


"Jangan mendekat. Aku tidak suka aroma tubuhmu. Kamu belum menyikat gigimu dan belum mandi. Kamu bau…"


Bukannya tersinggung atau marah, Varen malah gemas melihat istrinya yang mulai menunjukkan gejala awal kehamilan dengan suka marah marah, baperan dan tidak mau dekat dekat suami ketika suami belum mandi dan gosok gigi.


"Ya sudah, kalau gitu aku mandi dulu, sama gosok gosok gigi. Tapi, sayang harus kembali ke kasur ya. Sayang harus tidur yang nyaman." Bujuk Varen tampa mendekat pada Aila.


"Kalau begitu gendong."


Dahi Varen berkerut hebat bahkan hampir membuat alisnya bertemu. Aila mengatakan tidak suka mencium bau tubuhnya karena belum mandi, lah sekarang malah minta di gendong.


"Tapi aku masih belum mandi, sayang."


"Aku tutup hidung."


Satu tangan Aila menutup hidungnya, sementara satu tangan lainnya terbuka lebar bersiap agar digendong oleh Varen.


"Baiklah nyonya Aila."


Varen menggendong Aila untuk dibawa kembali keatas kasur. Setelah tubuh istrinya itu berbaring nyaman di kasur, Varen menyelimutinya, lalu mencium dahinya hingga membuat Aila kembali menutup hidungnya.


"Tidurlah duluan, sayang. Aku mandi dulu." Bisiknya.


Kemudian Varen pun langsung menuju kamar mandi untuk segera mandi membuat tubuhnya harum dan tidak lupa menggosok gosok giginya sesuai permintaan istri tercinta.


Sedangkan Aila, dia benar benar sudah terlelap nyenyak tanpa ada lagi rasa marah, sedih dan moodnya sepertinya sudah kembali membaik.

__ADS_1


__ADS_2