Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 66


__ADS_3

"Aila, kamu kenapa?"


Adrian tiba tiba masuk ke kamar dan mendapati Aila duduk di lantai. Saat itu juga dengan cepat Aila menekan tombol merah untuk menonaktifkan gps Tiger, remote kecil itu langsung dia sembunyikan kembali di dalam saku cardigannya.


"Kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu--" Adrian mendekatinya dan ikut berjongkok untuk melihat wajah pucat Aila.


"Aku haus-- Aku mau mengambil air, tapi kaki ku tidak bisa digerakkan lagi." Kilahnya.


"Ya sudah, aku bantu kamu kembali ke kasur ya. Nanti aku yang ambilkan minum."


Aila mengangguk. Dan Adrian meminta Aila untuk memegangi tangannya yang terbungkus lengan kemejanya. Aila pun menerima bantuan Adrian untuk berdiri dan kembali ke kasur. Begitu Aila kembali duduk di kasur, barulah Adrian mengambilkan segelas air putih untuk Aila.


"Minumlah."


Segelas air putih itu direguk habis oleh Aila. "Terimakasih, Adrian."


"Jangan selalu mengatakan itu, Aila. Aku melakukan semuanya bukan untuk mendapat ucapan terimakasihmu."


Adrian menatap wajah sendu Aila yang semakin terlihat pucat.


"Kamu merasa tidak enak badan?"


Hati hati sekali Adrian menanyakan hal itu.


"Mmh, kepalaku pusing."


"Kalau begitu berbaringlah. Aku akan menemani kamu di sini."


Mata Aila kembali terpejam, tapi dia tidak benar benar tidur. Pikirannya terus tertuju pada Tiger, hatinya merasa sesuatu terjadi pada suaminya itu.


Sementara itu, Seon, Vac dan Taw berhenti tiba tiba saat Kinan mengabarkan bahwa titik keberadaan Tiger menghilang.


"Seon, sepertinya Tiger ditahan oleh musuh. Untuk sementara kembali ke rencana awal."


Itu suara Adam. Dia merasa ada sesuatu yang besar akan terjadi jika Seon tetap melanjutkan perjalanan kearah utara.


Mau tidak mau, Seon dan rekannya kembali ke rencana awal, menyusup masuk ke mansion untuk meletakkan bom waktu disana.


"Tetap pantau titik keberadaan Tiger. Aku sangat yakin itu benar benar Tiger." Titah Seon pada Kinan.


Namun, hal yang dikhawatirkan Adam tidak benar benar terjadi pada Tiger. Malah, saat ini dia berhasil melepaskan diri dari posisi tubuhnya yang digantung. Meski tubuhnya masih menggigil, setidaknya rasa hangat dibahunya yang masih terasa seakan menyebar keseluruh tubuhnya.

__ADS_1


Tempatnya dikurung sangat gelap dan lembab. Namun, mata Tiger bak mata hewan buas yang mampu melihat jelas dalam kegelapan. Dengan mudah dia membuka gembok besar yang mengunci jalan keluar dari pintu besi gudang itu. Lalu, perlahan Tiger melangkah menghampiri empat orang penjaga yang tengah terlelap. Tiger tidak perlu membangunkan mereka, dia hanya mengambil empat senjata api yang tergantung di pinggang mereka.


Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit berjalan dalam kegelapan dan Tiger berhasil keluar dari markas rahasia Tam. Sayangnyan, Tiger melupakan sesuatu. Jack si telinga angin itu menangkap pergerakannya yang semakin menjauh dari area markas.


Jack mengabarkan pada Baron bahwa Tiger telah kabur dari penjara. Jack dan Juno saat ini berada di menara markas rahasia Snak, dan Tam juga Sarwa berada di markas ini untuk sementara karena mansion sedang dalam masa pembersihan hama, katanya.


Baron dan anak buahnya langsung mengejar Tiger begitu mendapat kabar dari Jack.


"Baron, ini saatnya kau mengabulkan keinginan putraku, Adrian Burbara."


"Akan saya laksanakan sesuai titah tuan muda Snake."


Langkah Baron tampak percaya diri sambil menodongkan senjatanya kearah Tiger yang berlari menuju hutan.


Dorrr--


"Berhenti atau kau akan mati Tiger!"


Baron memperingatkan dengan terus menembak kearah Tiger. Sengaja tembakannya tidak tepat sasaran, karena hanya ingin membuat Tiger mendengarkan intruksinya.


Kaki Tiger berhenti melangkah. Kedua tangannya terangkat keatas dan dia mulai berbalik perlahan untuk menatap Jack dan Juno yang tengah memerhatikannya dari menara markas.


"Menyerahlah Tiger. Setidaknya phi Tam dan tuan Arnold tidak akan membunuhmu jika kau kembali ke gudang segera." Titah Jack dari atas sana. Dia tahu Tiger tidak akan pernah patuh pada perintah siapapun apa lagi yang memberi perintah adalah pengkhianat.


"Ya. Aku bangga bisa lepas dari pria pengecut sepertimu yang begitu mudahnya jatuh hati pada ja la ng mu itu."


"Jaga bicaramu, Jack. Aila adalah istri-ku."


"Hahahhaaa-- kau benar benar lemah Tiger. Kau dibutakan oleh pesona wanita mu ra han itu."


"Dia bukan wanita mu ra han. Justri kau lah yang murahan. Kau mengkhianatiku demi mendapatkan keuntungan dari phi Tam. Tapi, kalau boleh aku menyarankan, baiknya jangan berharap banyak dari phi Tam. Dia akan menyingkirkan apapun yang tidak lagi dibutuhkannya, termasuk kau."


Doorrr--


Paha Tiger terkena peluru timah dari pistol Baron. Dan dengan cekatan juga, Tiger berhasil menembakkan peluru ke dada atas penjaga disebelah Baron karena Baron cepat mengelak.


Suara tembakan itu menghebohkan markas. Semua penjaga keluar dan mulai menembak Tiger yang berlari di tengah gelapnya hutan.


"Tangkap dia jangan sampai kalian kehilangan dia--" Titah Tam yang murka mengetahui Varen lepas.


Sedangkan Snake hanya menonton melalui layar rekaman cctv. "Mereka semua bodoh." Gumamnya.

__ADS_1


"Jack, apa kau tidak melakukan pekerjaanmu dengan baik?"


"Aku hanya--"


Doorrr--


Peluru timah bersarang tepat di kening Jack. Tam yang menembaknya dari bawah. Tubuh Jack oleng dan terjun bebas dari menara menuju tanah, hingga kepala itu terbentur kuat dan pecah menyemburkan darah kental bahkan percikannya mengenai wajah Juno yang baru saja tiba di dekat Tam.


"Jack!"


Juno berlari mengejar Jack yang sedang sekarat seperti ayam yang baru disembelih.


"Mengapa phi membunuh Jack?" Juno bertanya pada Tam yang dengan santainya meniup ujung pistolnya.


"Bereskan mayatnya, jika kau tidak ingin berakhir sepertinya."


Setelah mengatakan kalimat itu, Tam kembali masuk ke markas dengan tenang seakan tidak terjadi apa apa.


Sementara, Tiger masih terus berlari terpincang karena pahanya yang terluka. Penjaga penjaga suruhan Tam masih terus mengejarnya, mereka mengikuti jejak darah yang menetes dari paha Tiger.


Dan kini langkah Tiger terhenti, dia tiba di pinggir jurang. Tidak ada tempat untuk pergi selain terjun bebas ke bawah sana yang rupanya dibawah sana adalah sungai besar.


Musuh semakin mendekat, Tiger semakin lemah dan merasakan pahanya seakan ingin meledak.


Dorrr---


Dorrrr--


Sebisa mungkin Tiger menghindari puluhan peluru yang mengejarnya. Dan satu satunya cara adalah terjun. Sebelum benar benar terjun Tiger menghela napas dalam, lalu--


Doorrr


Doorrr


Satu peluru berhasil bersarang di punggung lengan kiri Tiger, sementara satu peluru lainnya tepat dibahu kanannya, hampir mengenai gps yang tertanam disana. Hingga akhirnya tubuh itu ambruk terjun bebas ke jurang dan terpental kedasar sungai.


"Dia jatuh. Aku rasa dia mati."


"Ya, peluruku tepat membolongi jantungnya." Ujar seorang anak buah Baron yang ternyata hanya menembak lengan kiri Tiger.


"Temukan mayatnya segera. Kita akan membawa mayat Tiger kehadapan tuan muda Adrian. Temukan segera sebelum matahari terbit!"

__ADS_1


"Baik kapten."


Mereka pun mencari jalan untuk turun kebawah sana mencari tubuh Tiger yang telah hanyut dibawa arus sungai.


__ADS_2