Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 31


__ADS_3

Pagi ini mansion terasa sangat sunyi. Anak anak Tiger sedang terlelap pulas setelah perperangan mereka tadi malam. Tiger sendiri sudah bangun dua puluh menit yang lalu. Kini dia bahkan sudah keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar. Dia memakai bathrobe yang dibiarkan tanpa ikatan. Bagian bahu yang terdapat luka itu dibiarkan diluar tanpa terganggu oleh bathrobe itu.


Tiger mengambil kotak p3k yang ada didalam laci nakas samping tempat tidurnya. Dia mulai mengambil perban dan memakainya kembali untuk menutupi bagian bahunya. Dia melakukan itu tanpa merasa kesusahan sama sekali, baginya pekerjaan seperti mengobati luka ditubuhnya hanya pekerjaan kecil yang sangat enteng.


Setelah selesai membalut bahunya, Tiger melangkah menuju ruang ganti di sudut kanan lemari pakaian. Dia berganti pakaian disana. Tiger memakai pakaian formal stelan jas. Sepertinya dia akan berangkat ke kantornya sebagai CEO Mark group. Usai berpakaian rapi, dia melangkah keluar dari kamar itu dengan menggandeng tablet kesayangannya.


Langkahnya melewati ruang kerjanya. Dia terus melangkah, melewati bar, klinik dan dapur. Tujuannya tentu untuk menemui Adrian terlebih dahulu. Saat tiba di sana, dia melihat Adrian tampak melamun. Sarapan paginya tak disentuhnya sedikitpun.


"Sarapan ini tidak cocok dengan lidah indonesia mu itu?"


Suara Varen membuyarkan lamunan Adrian. Dia menatap Varen dengan tatapan penuh amarah. "Apa yang kau lakukan pada Aila? Dimana Aila?" Teriakan Adrian memekakkan telinga Varen hingga membuatnya mengernyitkan keningnya dan menyipitkan matanya.


Meski begitu Tiger tidak menanggapi apapun dari apa yang di tanyakan Adrian. Dia malah duduk di kursi kayu yang ada di depan ruangan tempat Adrian di kurung.


"Tuan, saya mohon. Bisakah tolong izinkan saya untuk menemui Aila? Tolong jangan sakiti Aila--" Beberapa saat lalu Adrian berteriak, lalu sekarang malah memohon sambil berlutut. Hal itu membuat satu sudut bibir Varen terangkat.


"Untuk apa kau mau menemui Aila?"


"Saya hanya ingin melihat apakah dia baik baik sa--"


"Dia mungkin baik baik saja, tapi saya tidak begitu yakin." Varen memotong kalimat yang masih belum selesai di ucapkan Adrian.


"Apa maksud tuan?"


Adrian mengkhawatirkan Aila, karena pagi ini yang mengantar sarapan untuknya bukan Aila tapi diantarkan oleh orang lain. Hal itu membuatnya khawatir terjadi sesuatu pada Aila.


Varen menatap tajam kedua bola mata Adrian yang tampak bergetar, entah karena takut padanya atau karena mengkhawatirkan Aila. "Berdoalah untuk dirimu sendiri dalam keadaan seperti ini, anak muda."


Setelah mengatakan itu, Tiger pun melangkah pergi meninggalkan ruangan sempit dan lembab itu.


"Tuan saya mohon, jangan sakiti Aila. Aila gadis yang sangat baik--" Teriak Adrian dengan penuh harap. Sayangnya Varen tidak mau mendengarkan apa yang diucapkan Adrian. Dia hanya terus meninggalkan tempat itu. Dia datang hanya untuk sekedar memeriksa keadaan pria yang mengaku sebagai kekasih dari istrinya itu.


...🐯(NATM)🐯...


Aila baru saja membuka matanya saat sinar mentari pagi yang menusuk masuk melalui celah lubang angin jendela kamar. Cahaya itu menyilaukan matanya.


"Matahari sudah bersinar, rupanya." Aila tidak sholat subuh sebab dia masih menstruasi. Mungkin dia akan mandi keramas sore nanti. Seulas senyum menghiasi wajah Aila.


"Ya Allah, alhamdulillah. Engkau masih memberi kesempatan untukku menghirup udara segar di pagi ini."

__ADS_1


Dia mulai menginjakkan kakinya di lantai dingin itu. Kakinya melangkah membawanya mendekati jendela dan membukanya. Begitu jendela terbuka, pemandangan yang bisa dilihat Aila adalah pak Sony si tukang kebun tengah menyiram bunga bunga di rumah kaca.


"Selamat pagi, pak!" Sapanya dengan sedikit berteriak. Maklum, kamar Aila saat ini berada di lantai dua mansion. Sementara, kamar Tiger yang dulu ditempatinya berada di lantai tiga mansion ini.


"Nona, Aila! Kau kah itu?" Sony menoleh dan tersenyum dengan sedikit menundukkan kepala menghadap kearah Aila.


Sony dan Aila sudah saling mengenal baik sejak Aila sering mendatangi rumah kaca dan kebetulan Sony juga bisa berbahasa Indonesia meski hanya sedikit sedikit, setidaknya bisa dipahami oleh Aila.


"Bisakah aku mendapatkan setangkai mawar pagi ini, pak?" Teriak Aila lagi.


"Tentu, nona."


Sony langsung memetik setangkai mawar merah muda, lalu membuang durinya.


"Turunkan keranjang bunganya, nona Aila-"


"Ya?"


Aila menatap bingung. Dia tidak mengerti apa yang diperintahkan Sony.


"Lihatlah diatas lemari pakaianmu, disana ada keranjang bunga yang sudah terikat tali." Keranjang bunga itu milik putri Sony dan kamar itu juga milik putrinya, sebelum putrinya meninggal lima tahun yang lalu. "Ulurkan keranjang itu ke bawah sini--" Teriak Sony mengintruksikan apa yang harus Aila lakukan.


"Setangkai mawar cantik untuk nona Aila." Sony menarik narik keranjang itu seperti kail pancing yang berhasil menangkap ikan. "Tariklah, nona Aila."


"Tarik--" Dengan sedikit ragu, Aila menarik tari yang digenggamnya perlahan hingga akhirnya dia melihat keranjang berisi setangkai mawar mulai mendekat padanya.


Setelah menarik selama beberapa detik, keranjang mawar itu berhasil di raihnya. "Terimakasih, pak Sony. Aku suka mawarnya."


Sony mendongak untuk melihat senyum manis diwajah Aila.


Namun, tiba tiba senyum diwajah Aila beralih menjadi sendu, Sony yang bingung pun menoleh kearah samping, rupanya disana ada Varen yang berdiri menatap kearah jendela kamar Aila.


"Tiger!"


"Apa yang anda lakukan?"


Suara berat Tiger membuat Sony sedikit merinding. Tapi, kemudian Sony tersenyum. "Memberikan setangkai mawar merah muda untuk nona Aila."


"Kau suka?"

__ADS_1


Tiger sedikit berteriak. Rupanya dia menanyakan itu pada Aila yang masih berdiri di depan jendela dengan menundukkan kepalanya.


Aila tidak menanggapi karena dia pikir Tiger tidak bicara padanya. Hal itu membuat raut wajah Tiger menjadi merah padam.


"Nona Aila, apa kau menyukai mawarnya? Tiger bertanya!" Teriak Sony sebelum Tiger memaki Aila yang terdiam diatas sana.


Perlahan Aila menegakkan kembali kepalanya. Dia menarik napas perlahan, lalu menghembuskan juga perlahan. Barulah kemudian dia menoleh keraha Tiger yang memberinya tatapan tajam.


"Aku menyukai mawarnya. Terimakasih--"


"Kau harus membayarnya. Harga setangkai mawar itu bahkan jauh lebih mahal dari harga tubuhmu." Celoteh Tiger yang berhasil membuat Aila tersulut emosi.


Tanpa peduli apapun Aila meremas mawar itu lalu melemparkannya kekuar dari kamar. Saat Tiger termangah dan hendak marah, Aila langsung menutup kembali jendela kamarnya.


"Ailaaaa--!" Teriak Tiger murka.


Sony hanya bisa menggelengkan kepala melihat pertengkaran suami istri di pagi hari ini.


"Om lihat! Betapa menyebalkannya dia."


"Kaulah yang menyebalkan." Rutuk Sony menuduh.


"Om?"


"Jangan melukai hatinya dengan terus terusan mengatakan bahwa tubuhnya tidak berharga. Itu melukai perasaannya."


Tiger diam. Dia menghela napas untuk mengembalikan mood nya di pagi hari ini. .


"Sayang, kau mau berangkat ke kantor?"


Suara itu milik Dewi. Perempuan ular itu rupanya sudah berganti pakaian dan mencoba menggoda Tiger di pagi hari nan cerah ini.


"Apa kau tidak punya pakaian yang layak sama sekali, Dewi?" Celetuk Tiger sambil memalingkan wajahnya dari Dewi. Dia tidak berselera sama sekali melihat tubuh **** Dewi dibalut busana yang sangat memperlihatkan lekak lekuk tubuh moleknya itu.


"Tiger, bukankah kau sangat menyukai saat aku memakai gaun seperti ini? Aku bahkan sudah diperiksa oleh Juno--"


Dewi memeluk Tiger. Dia juga mulai mengendus ngendus ceruk leher Tiger dan mengelus dada bidangnya yang terbungkus kemejanya.


"Berhenti Dewi. Aku tidak menyukaimu lagi. Kau memuakkan."

__ADS_1


Tiger mendorong Dewi menjauh darinya, kemudian dia mendongak menatap jendela kamar Aila yang sudah tertutup rapat itu, kemudian dia melangkah pergi menuju mobilnya yang sudah disiapkan oleh Adit.


__ADS_2