Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 51


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Sudah sangat lama Tiger tidak menemui Aila. Dia benar benar sibuk mempersiapkan segala hal untuk menghadapi serangan dari Snake dan juga mungkin serangan dari para pengkhianat. Tiger mempersiapkan semuanya dengan bantuan dari Ririn yang mulai secara perlahan dan diam diam memindahkan sedikit demi sedikit saham miliknya ke tempat lain. Karena menurut prediksinya seseorang akan mengklaim Mark holding.


Tiger juga berdiskusi dengan Sony untuk siaga menjaga pabrik senjata dan juga vila rahasia. Tentu saja Sony bingung saat Tiger mengatakan hal itu, dia hampir saja bertanya jika Tiger tidak memintanya untuk jangan mempertanyakan apapun, hanya cukup jalankan apa yang diperintahkannya.


"Satu yang om harus tahu, Adrian akan menjemput Aila segera. Tugas om bukan melindungi Aila, tapi melindungi Vila. Biarkan Adrian membawa Aila pergi, setelah mereka semua keluar dari vila. Om tetap tinggal di vila, aktifkan mode rahasia sampai aku memberi kode untuk membukanya. Dan juga jaga pabrik. Jangan lupakan itu."


"Baik Tiger."


Sebenarnya berat bagi Sony untuk menerima titah itu, tapi dia yakin Tiger sudah menyusun rencana yang rapi untuk bisa melakukan sebuah misi besar, mungkin.


Setelah berdiskusi dengan Sony, Tiger langsung menuju vila tentu saja untuk menemui Aila. Dan begitu tiba di kamar, Aila baru saja hendak merebahkan punggungnya keatas kasur, tapi langsung diurungkan saat melihat kedatangan Tiger.


"Tuan--" Sapanya sambil tersenyum senang. Aila senang karena suami yang dirindukannya itu akhirnya menemuinya lagi setelah cukup lama tidak datang berkunjung.


"Kau tampak pucat, Aila? Apa kau datang bulan lagi?"


Tiger melepas jasnya, meletakkanya sembarangan di lantai. Lalu menaikkan lengan kemejanya dan juga membuka tiga kancing teratas.


"Tidak tuan. Aku tidak sedang datang bulan."


Pipi Aila merona saat mengatakan itu. Rasanya aneh dan sedikit membuatnya malu membahas masalah itu dengan Tiger.


"Bukankah harusnya kau datang bulan?"


"Hah?"


Aila termangah, Tiger benar harusnya Aila sudah kedatangan tamu lagi sejak dua hari yang lalu. Tapi, bagaimana Tiger bisa mengingat waktu datang bulannya.


"Kau bahkan mudah sekali melupakan hal hal kecil seperti itu. Apakah kau tidak menandai tanggal tanggal saat harusnya kau datang bulan?" Tiger mendekati Aila. Dia duduk di pinggir ranjang setelah melepas ikat pinggangnya.


"Saya mengingatnya tuan. Dan saya telat dua hari, tapi tenang saja tuan itu masih normal kok." Ungkap Aila menjelaskan. Dia tidak ingin Tiger menuduhnya hamil lagi. Karena jika Tiger berpikir dia hamil, Tiger pasti akan menyiksanya.


"Mmh."

__ADS_1


Hanya itu respon Tiger, kemudian dia langsung berbaring dengan nyaman di kasur.


"Kau tidak ingin berbaring disampingku?" Tiger mengatakan itu dengan mata terpejam.


Aila tidak menjawab, dia hanya langsung ikut berbaring di samping Tiger dengan meletakkan guling diantara mereka sebagai pembatas. Dia melakukan itu, karena mengira Tiger mungkin kesal padanya dan mengira dia hamil karena telat datang bulan.


Hanya hitungan detik bantal guling itu dibuang oleh Tiger kelantai begitu saja. Hal itu membuat Aila sedikit panik. Sementara Tiger malah menyelipkan lengan kanannya dibawah leher Aila, dia membuat Aila menjadikan lengannya sebagai bantalan. Lalu, tangan satunya menarik punggung Aila untuk miring berhadapan dengannya.


"Aku hanya ingin tidur seperti ini. Aku tidak akan melakukan itu denganmu saat ini. Itu masih terlalu kecil, jika aku paksakan mungkin akan membahayakan nyawamu." Celotehnya dengan mata tetap terpejam.


Aila tidak mengerti apa yang dikatakan Tiger, otaknya terlalu sibuk memberitahu pada anggota tubuhnya untuk tetap diam berada dalam dekapan Tiger sehangat ini. Wajah Aila tepat berada ceruk leher indah Tiger yang tetap wangi meski seharian bekerja diluar.


Ya Allah, lembutkan hati suamiku. Bimbing dia untuk menuju hidayahmu, izinkan dia mencintaimu ya Allah. Sesungguhnya dia lelaki yang baik. Dendam masa lalu karena kehilangan orang terkasihnya membuatnya tumbuh menjadi lelaki yang angkuh. Ya Allah, izinkan kami saling mencintai karena Engkau.


Aila juga membacakan surah yusuf ayat ke empat sebanyak tiga kali, lalu meniup niupnya dengan lembut kebagian leher dan dada Tiger.


"Aila, apa kau sudah tidur?"


Mata Aila langsung terpejam saat mendengar suara Tiger. Dia pura pura tidur.


"Mau aku beri tahu satu rahasia penting?"


"Ada gps yang tertanam di bahuku yang pernah tertembak."


"Aa-- Apa?"


"Gps ini hanya aku yang bisa mengaktifkannya. Saat gps itu aktif, Kinan bisa mendeteksi keberadaanku."


Tiger membuka matanya, tangannya yang melingkar di punggung Aila dia pindahkan ke saku celananya untuk mengambil benda persegi panjang selebar dua jari memiliki tombol seperti remote.


"Kalau aku menekan tombol hijau ini, gps ku tersambung pada laptop Kinan. Tapi, kalau aku menekan tombol merah, maka tidak ada yang bisa menemukan keberadaanku termasuk Kinan." Tuturnya panjang lebar menjelaskan fungsi benda itu.


Aila mendengarkan dengan baik, meski dia tidak tahu apa maksud Tiger memberitahunya rahasia seperti itu.


"Apa tuan berencana untuk pergi ke suatu tempat?" Aila hanya sekedar bertanya.

__ADS_1


"Mungkin--"


Tangannya kembali memeluk punggung Aila. "Tidurlah. Jangan meniup leherku atau sesuatu akan terjadi."


Segera saja Aila memejamkan matanya. Ternyata Tiger merasakan tiupan lembutnya tadi setelah membaca surah yusuf.


"I love you, Varen." Bisik Aila sangat pelan, tapi karena mulutnya dekat dengan telinga Varen, sudah pasti pria itu mendengarnya. Tapi, Varen tidak membalasnya, dia hanya mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Aila sebelum dia benar benar terlelap. Aa, satu lagi, Varen memasukkan alat seperti remote miliknya kedalam saku cardigan yang kini dipakai Aila.


Waktu terus berputar, bahkan tidak terasa ternyata sudah hampir subuh. Varen terbangun lebih dulu dari Aila karena dia merasa perutnya sangat mual. Perlahan Tiger mencoba menarik lengannya yang menjadi bantal Aila. Saat tangan itu ditarik, Aila menggerakkan tubuhnya dan itu membuat Varen berhenti, untungnya Aila malah bergeser dan membelakangi Tiger. Itu memudahkannya menarik lengannya tanpa membangunkan Aila.


Segera saja Varen berlari kelaur dari kamar. Dia turun menuju kamar mandi yang ada di dapur. Setibanya di sana, Varen muntah berkali kali.


Madam Susan yang melihat Varen tadi masuk ke kamar mandi pun menguping. Dia mendengar suara muntahan Varen.


"Tiger! Tiger kau baik baik saja?" Teriaknya dari depan pintu kamar mandi.


"Madam Susan, tolong buatkan aku teh hangat. Aku rasa perutku aneh. Rasanya sangat mual, aku sepertinya masuk angin." Titahnya.


"Baik Tiger."


Segera saja Susan membuatkan segelas teh hangat. Dan begitu keluar dari kamar mandi Tiger langsung menyeduhnya. Rasanya sangat melegakan dan menghangatkan. Perutnya terasa lebih baik dari sebelumnya.


"Kenapa anda muntah pagi pagi begini, Tiger. Apa mungkin nona Aila mengandung--" Celoteh Susan begitu saja tanpa bisa mengendalikan lidahnya.


"Sudah tiga hari terakhir aku selalu muntah saat subuh dan aku rasa penyebabnya bau farpumku. Tapi, ini rasanya sangat parah dari sebelumnya."


"Sepertinya Tiger menggantikan nona Aila mengalami muntah pagi hari karena gejala hamil muda, mungkin."


"Madam benar, Aila memang hamil. Tapi, kenapa harus aku yang muntah?"


"Apa? Nona Aila benaran hamil? Anda tahu dari mana, apa nona Aila memberitahu--"


"Kau terlalu bersemangat, madam. Pertanyaanmu membuat aku bingung."


"Maafkan saya, Tiger."

__ADS_1


Varen kembali menyeduh tehnya. "Dia harusnya sudah datang bulan, tapi sampai saat ini masih belum. Aku rasa dia mulai hamil. Terlihat dari wajah pucatnya dan aku memeriksa denyut nadinya yang memang menandakan dia tengah hamil." Tutur Varen.


Dia tidak hanya asal bicara, tapi dia punya ilmu kebidanan itu. Ya, Tiger ahli dibidang itu. Makanya, dia bisa tahu bahwa Aila telah hamil dan dia juga yakin seratus persen kali ini Aila mengandung calon buah hatinya.


__ADS_2