
Saat Aila bangun untuk sholat subuh, Varen masih terlelap disampingnya. Sejenak sebelum bangkit dari tempat tidur Aila menatap dalam dalam wajah Varen, tangannya bahkan mulai menyentuh wajah itu. Aila tersenyum saat menyentuh bibir, hidung, pelupuk mata dan alis Varen. Dia sangat menyukai pria itu bahkan semuanya. Dia menyukai semua yang ada pada Varen.
Bisakah tuan benar benar menerimaku? Bukan sekedar pelampiasan, tapi sebagai istri yang sebenarnya. Aku sepertinya semakin egois, aku ingin memiliki tuan untuk diriku sendiri.
Tiba tiba bayangan wajah Sarwa kemarin sore terlintas dipikiran Aila. Bagaimana mungkin dia menginginkan Varen menjadi miliknya seorang, sementara wanita lain tengah mengandung benihnya.
Raut bahagia beberapa detik lalu berubah menjadi sendu. Hanya dengan mengingat kehamilan Sarwa saja membuatnya tersadar bahwa kehadirannya tidak ada arti sama sekali dalam hidup Varen.
Aila bangkit perlahan. Kakinya membawanya masuk ke kamar mandi. Dia mandi dan berwudu, lalu kembali dengan sudah memakai pakaian yang baru.
"Tuan, mau ikut sholat subuh bersama?" Tanya Aila saat mendapati Varen menatap kearahnya yang sedang bersiap untuk sholat.
"Lakukan sendiri. Jangan pedulikan aku."
Suara itu terdengar sangat dingin ditelinga Aila. Ya, dia kembali ke mode dinginnya, tidak lagi sehangat tadi malam.
"Baik tuan."
Aila melanjutkan sholatnya hingga selesai, sementara Varen sudah beralih ke kamar mandi.
Usai Aila sholat, Varen pun juga sudah selesai mandi. Dia keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk di bagiaan bawahnya.
"Bisakah kau ambilkan kemeja dan celanaku di dalam lemari sana?"
Tiger memerintahkan Aila untuk mengambilkan pakaiannya di lemari yang ada di pojok ruangan. Lemari putih yang semua pintunya dari kaca.
"Baik tuan."
Segera Aila melangkah kearah lemari, dia membuka lemari itu dan tampaklah jejeran kemeja berwarna putih semua tergantung rapi. Diambilnya satu kemeja, lalu satu celana kain yang juga tergantung rapi, tidak lupa Aila juga mengambilkan jas berwarna senada dengan celana.
"Ini tuan."
Varen mengambil pakaiannya dari tangan Aila. Dia langsung membuka handuk yang melingkar di pinggangnya hingga menyisakan celana boksernya saja. Melihat itu sontak saja Aila membalikkan tubuhnya membelakangi Tiger.
"Tidak usah sok sok malu. Bukankah kau sudah melihatku bahkan tanpa sehelai benangpun di tubuhku." Celoteh Varen yang mulai memakai celana panjangnya, berikut kemeja.
Aila hanya bersemu merah mendengar ocehan Varen. Dia juga mulai melangkah hendak menjuah dari pria itu, tapi--
"Kancingkan kemejaku."
Perintah itu membuat Aila mengurungkan langkahnya, perlahan dia berbalik dan mendapati perut Varen yang tampak kekar dan berotot.
"Cepatan!"
__ADS_1
Varen menarik tangan Aila untuk menyentuh ujung kemejanya. Dengan cekatan pula Aila mengancingkan kemeja itu hingga terpasang semua.
"Masukkan juga ujung kemeja kedalam celana."
"Apa?"
Aila kaget. Dia tidak menyangka, Varen memintanya memasukkan kemejanya kedalam celana. Bagaimana mungkin.
"Tunggu apa lagi, cepatan." Lagi lagi Varen menarik kedua tangan Aila dan membuatnya memegang bagian pinggangya.
Tidak bisakah kau memasukkan bajumu sendiri. Bagaimana caranya? Haruskan aku memasukkan tanganku kedalam celananya--
Varen mendengus kesal karena Aila hanya diam bergelantungan di pinggangnya tanpa berusaha memasukkan ujung kemeja kedalam celananya.
"Lama!" Rutuk Varen kesal.
Digenggamnya kedua lengan tangan Aila, dibimbingnya agar kedua tangan itu menarik sedikit bagian pinggang celananya kebawah. "Apa kau tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya?"
Aila mengeleng kuat sambil memejamkan matanya yang terlalu dekat dengan dada telanjang Varen.
"Rapikan ujung kemejaku, lalu tarik kembali celanaku keatas, dan kaitkan kancingnya, lalu tarik resletingnya. Apa kau masih tidak bisa?"
"Bisa tuan."
Varen tentu merasakan itu, dia bahkan tampak menahan napasnya. Untuk sesaat keduanya hanya terdiam seakan waktu berhenti berputar.
"Kau menyentuhnya, nona Aila--" Ucap Varen sambil mengantapkan geramnya.
"Maafkan saya tuan. Saya tidak bermaksud--"
Tunggu! Mengapa aku harus minta maaf. Bukankah salahnya sendiri yang meminta aku melakukan itu. Dasar kejam, mesum.
"Andai aku tidak harus berangkat bekerja, sudah kuterkam lagi kau!"
Bisik Varen yang mendekatkan mulutnya ketelinga Aila, dan Varen akhirnya menarik sendiri resleting celananya. Dia melangkah semakin mendekat pada Aila, hal itu membuat Aila juga ikut melangkah mundur, lagi dan lagi, hingga tubuh Aila tersudut di tembok samping lemari. Varen mendekatkan wajahnya semakin dekat ke wajah Aila, hingga membuat Aila memejamkan mata.
Manis. Pikir Varen yang tersenyum melihat Aila memejamkan matanya.
Plakk--
Sontak mata Aila terbuka saat dirasa keningnya mendapat pukulan dari Varen, tidak terlalu keras tapi cukup membuatnya meringis sakit, tangannya bahkan menyentuh keningnya.
"Dasar mesum. Apa yang kau pikirkan sampai memejamkan mata, ha?"
__ADS_1
Varen melangkah kesamping Aila, dia membuka laci bawah lemari dan mengambil satu dasi.
Sementara Aila masih tediam ditempat semula sambil menggerutu kesal dalam hatinya.
"Jangan bilang kau tidak bisa memakaikan dasi?"
"Bisa tuan."
"Bagus. Setidaknya kau berpotensi menjadi pelayanku." Memberikan dasi itu pada Aila.
Tanpa protes, Aila pun memakaikan dasi itu pada Varen.
"Tuan, apakah tuan akan membunuh nona Sarwa?" Pertanyaan itu tiba tiba keluar dari mulut Aila. Dia hanya penasaran, karena Lyn bilang Tiger akan membunuh wanita yang hamil.
"Kau bertemu Sarwa?" Varen balik bertanya. Tapi dia tampak santai.
"Iya. Kemarin sore sebelum tiba di vila, aku tidak sengaja mendengar bahwa nona Sarwa mengandung bayi, tuan."
"Ya, dia mengandung."
Dasi selesai dipasang. Aila melangkah mundur beberapa langkah menjauh dari Varen.
"Lalu, apa yang akan tuan lakukan padanya?"
"Kenapa kau bertanya? Tentu saja aku akan merawat Sarwa hingga bayinya lahir."
Kalimat itu menyakiti Aila. Ucapan Tiger beberapa waktu lalu yang memintanya untuk berdoa pada Tuhan agar tidak mengandung benihnya pun kembali terdengar di telinganya. Lagi lagi Aila tersadar, betapa tidak berartinya dia dalam hidup Tiger.
"Kenapa wajahmu tampak sedih begitu?"
Raut sedih diwajah Aila tampak jelas. Bahkan Varen pun menyadarinya.
Segera Aila memalingkan wajahnya, dia mengedipkan matanya berkali kali untuk menahan agar bulir bening itu tidak tumpah.
"Oh, ayolah Aila. Apa kau kecewa karena aku akan memiliki bayi dari wanita lain?" Varen mengatakan itu sambil terenyum mengejek.
"Berhentilah merasa kecewa pada sesuatu yang tidak penting untuk kau pikirkan. Kau tidak berhak kecewa."
Dia mendekati Aila. Menyentuh bibir Aila dengan jempol tangannya. Kemudian Varen meraih jas yang tergeletak diatas kasur, lalu memakainya.
"Ingat Aila. Aku bukan pria yang bisa diikat dengan apapun. Kau harus mengingat itu, setidaknya."
Setelah mengatakan kalimat itu, Varen pun meninggalkan Aila di kamar itu sendiri menahan rasa sesak didadanya yang perlahan menyiksanya.
__ADS_1