Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 40


__ADS_3

Menjelang senja, Aila duduk di taman. Dia hanya diam menatap bunga bunga yang bermekaran.


"Nona, Aila. Setangkai mawar merah untuk nona yang cantik."


Sony menghampiri Aila dengan memberikan setangkai mawar merah yang tentunya sudah tidak ada duri lagi ditangkainya. Menatap wajah Sony membuatnya membayangkan wajah Sunee.


"Terimakasih, pak." Aila mengambil mawar itu, lalu menciumnya.


"Nona tampak sedih?"


"Adrian pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan. Itu membuat saya bersedih."


"Bukankah nona Aila harusnya bahagia karena Adrian sudah bebas."


"Ya, saya senang Adrian sudah bebas tapi, dia pergi begitu saja dan itu membuatku sedih."


Sony tersenyum menanggapi curahan hati Aila. "Kalian pasangan kekasih?"


"Mengapa kalian semua beranggapan seperti itu?" Gumam Aila tampak sedikit kesal.


"Nona Aila tampak sangat perhatian dan melindungi Adrian. Jadi, semua orang beranggapan Adrian adalah kekasih, nona Aila."


Aila tidak langsung menanggapi. Dia menghela napas dalam dalam, lalu menghempasnya cukup kuat. "Aku tumbuh bersama dengan Adrian. Sejak kedua orangtua ku meninggal, Adrianlah yang selalu menghiburku. Dia selalu ada saat aku bersedih, dia selalu melindungiku saat aku dimusuhi oleh teman teman sekolahku. Hanya Adrian yang selalu ada disampingku selama ini-- itulah mengapa aku sangat menyayangi Adrian."


"Tapi, menurut saya-- tidak seharusnya nona Aila memperlihatkan rasa sayang pada Adrian dihadapan Tiger. Bukankah Tiger suami, nona Aila?"


Senyum sinis terlihat di wajah Aila. "Suami? Aku tidak berhak untuk itu. Tiger selalu memperingatkan agar aku tidak menaruh harapan sedikitpun padanya. Dia selalu memintaku untuk menyadari posisiku dalam hidupnya."


Sony terdiam mendengar penjelasan Aila. Kemudian dia memberikan setangkai mawar lagi untuk menghibur Aila. Tentunya Aila menerima mawar itu dengan senang hati seperti sebelumnya.


"Lyn bilang, pak Sony dulu memiliki putri yang sangat cantik. Maukah pak Sony menceritakan tentangnya padaku?"


Pertanyaan Aila membuat Sony sedikit kaget. Tapi, dia mencoba untuk tak terlihat kaget. "Namanya Sunee. Dia putri tunggal kami yang sangat ceria dan juga tentunya cantik seperti nona Aila."


"Mmm, pastinya Sunee jauh lebih cantik dariku." Wajah Aila tampak aneh saat mengatakan itu. Wajah cemberut karena cemburu.


"Dia sudah disurga sekarang, tentulah dia jadi jauh lebih cantik dari nona Aila."


Sony tampak sedih saat mengatakan itu. Bayangan putrinya ketika masih hidup kembali berputar dikepalanya. Mendapati wajah sedih pak Sony, Aila merasa tidak enak hati dan untuk menghiburnya, Aila mengulurkan setangkai bunganya pada pak Sony.


"Nona Aila. Ternyata nona disini rupanya_"

__ADS_1


Itu suara Juno yang muncul tiba tiba menghampiri Aila di taman mansion.


"Pak Sony, maaf sepertinya saya akan membawa Aila-"


"Kemana?" Tanya Aila dengan nada jutek.


"Tiger memerintahkan saya untuk mengantar nona Aila menuju vila."


"Apa akhirnya dia mengusirku?" Aila bangkit dari posisi duduk nyamannya.


"Tiger tidak bermaksud mengusir, nona Aila. Dia hanya mencoba melindungi nona Aila." Tutur Sony yang juga ikut berdiri.


"Berhenti menghiburku, pak Sony. Aku bukan anak kecil yang bisa dikelabui dengan kata kata manis seperti itu."


Sony hanya tersenyum menanggapi ocehan Aila. Kemudian dia melambaikan tangannya mengiringi langkah Aila yang mengekor dibelakang Juno.


Kau mirip sekali dengan Sunee. Tapi, kau lebih beruntung karena bisa membuat Tiger mencintai-mu nona Aila.


"Nona Aila pergilah ambil pakaian terlebih dahulu. Setelah itu temui aku di ruang tamu utama." Titah Juno.


"Baiklah." Dengan langkah gontai Aila masuk kembali ke mansion. Kakinya menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar Tiger untuk mengambil beberapa baju dan juga mukenanya yang sudah dipindahkan lagi ke kamar itu oleh Lyn dan Pin tadi siang.


Sedangkan Juno melangkah menuju ruang tamu utama. Mereka kedatangan tamu spesial sore ini.


"Juno. Apa kau sehat!"


Tam menyambut Juno dan memberi pelukan hangat pada dojter Juno yang sudah seperti adiknya sendiri.


"Tentu sehat. Phi Tam bagaimana?"


"Sehat pastinya." Jawabnya cepat.


Setelah bertegur sapa mereka kembali duduk di sofa ruang tamu yang sudah tertata rapi sejak awal. Hampir semua sofa terisi, karena memang sore ini mereka berkumpul menyambut kedatangan kakak tertua mereka yaitu Tam.


Namun, diantara mereka ada seorang wanita yang tak asing, tapi dia bukanlah bagian dari mereka.


"Mengapa nona Sarwa bisa ada di sini?" Tanya Juno penasaran.


Hanya dia yang belum tahu bahwa Sarwa datang bersama Tam ke mansion ini. Sementara yang lain sudah tahu karena mereka lebih dulu menyambut kedatangan Tam saat Juno sedang menemui Aila.


"Sarwa hamil."

__ADS_1


Tam menjawab to the point tanpa berbasa basi. Pernyataan itu membuat Juno terperangah kaget.


"Hamil-- maksudnya kau hamil anak Tiger?" Tanya Juno langsung pada wanita yang sejak tadi tertunduk diam.


"Dia sudah melakukan tes dna, dan bayi itu 99,9% milik Tiger." Tam yang membantu menjawab, karena Sarwa tampak tidak ingin membuka mulutnya.


Juno terdiam mendengar penjelasan itu. Dari sekian banyak wanita yang ditiduri Tiger, tidak ada yang sampai benar benar mengandung benih Tiger, karena saat melakukan pemeriksaan pada wanita wanita itu sebelum berhubungan dengan Tiger, Juno tidak pernah lupa membuat mereka menelan pil anti kehamilan. Jadi, bagaimana bisa Sarwa mengandung bayi Tiger. Sungguh mencurigakan.


"Phi Tam yakin hasilnya tidak direkayasa?" Tanya Juno sangat hati hati.


"Aku yakin. Karena aku sendiri ikut saat dilakukan tes tersebut. Dokter yang memeriksa pun adalah sahabat baikku. Jadi, sudah dapat dipastikan hasilnya murni tanpa rekayasa."


Penjelasan Tam sangat tenang dan jelas. Tatapan matanya pun tampak tidak sedang mengarang cerita. Jika benar, Juno dalam masalah besar. Tiger pasti akan mengamuk padanya karena kurang teliti mengurus ******-nya.


Sejenak suasana menjadi hening. Lyn dan Pin sejak tadi terus menatap penuh curiga pada Sarwa, hingga membuat wanita itu yampak tidak nyaman dengan tatapan keduanya. Sementara yang lain hanya terdiam dan percaya dengan apa yang dikatakan Tam tentang Sarwa. Tam sangat memegang teguh kesetiaannya pada Tiger, sudah pasti apa yang dikatakannya benar tidak ada unsur kebohongan didalamnya.


Pembicaraan barusan ternyata didengar jelas oleh Aila. Dia datang tepat saat Tam menyatakan Sarwa hamil. Tadinya Aila hendak memanggil Juno dan mengatakan bahwa dia sudah siap untuk diantar ke vila. Tapi, mendegar pernyataan yang mengatakan bahwa wanita bernama Sarwa itu hamil, membuatnya terdiam dibalik lemari hias tepat di belakang sofa ruang tamu.


"Nona Aila!"


Suara itu milik Adam. Dia yang pertama menyadari kehadiran Aila di ruang tamu. Semua mata menoleh kearah Aila, hal.itu membuat Aila merasa terpojokkan, tapi beberapa detik kemudiaa dia tersenyum sangat manis seakan dia tidak mendengar apapun sebelumnya.


"Sore, Adam." Sapanya ramah. "Maaf menggangu, aku datang untuk memanggil Juno." Lanjutnya.


"Kau sudah siap untuk pergi ke vila?" Tanya Lyn yang melangkah menghampiri Aila.


"Ya, tentu aku sudah siap, Lyn."


"Kau kah itu, nona Aila!"


Suara itu milik Tam. Dia berdiri sambil menggamit kearah Aila berdiri. "Kemarilah, Aila. Kurasa kita belum berkenalan."


Sebelum menghampiri Tam, terlebih dahulu Aila menarik dan membuang napasnya sebanyak yang dia bisa. Setelah dirasa cukup, barulah dia mulai melangkah mendekat untuk duduk di sofa kosong tepat disamping Tam.


"Tuan benar, sepertinya ini pertemuan pertama kita. Saya Aila." Dia memperkenalkan dirinya dengan anggun, menundukkan sedikit kepalanya tanpa mengulurkan tangan sama sekali.


Secantik dan seanggun ini Aila. Wajar saja Varen jatuh hati padanya.


"Saya, Tam. Panggil saja Phi Tam. Jangan menggunakan kata tuan. Itu sedikit membuat kita terasa berjarak."


"Halo, phi Tam." Sapa Aila sambil tersenyun manis.

__ADS_1


Siapa lagi pria ini? Apakah dia bagian dari Tiger juga? Pikir Aila mencoba menebak. Lalu sebentar dia melirik kearah Sarwa yang tampak sedang mengelus perutnya yang masih datar.


__ADS_2