Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 7


__ADS_3

"Pak Varen, ada email masuk dari, Arnold Bubara." Ririn, mengatakan itu sambil mengotak atik layar komputernya. Dia sekretaris Tiger di dunia nyata. Tapi, terkadang Ririn juga bekerja sebagai penyampai berita untuk dunia gelapnya.


"Arnold Bubara?"


Seperti biasa Tiger tampak tenang dan sangat berwibawa. Tapi, mengapa CEO MD group menghubunginya? Apakah perusahaan itu akhirnya menerima ajakan kerjasamanya.


"Apa pesannya?"


"Perintah untuk menyingkirkan pewaris tunggal MD group."


Varen menghela napas sebentar, rupanya Arnold mengirim email pada Tiger bukan padanya sebagai CEO Mark Holding.


"Cih. Dia meminta untuk menyingkirkan gadis yang bahkan tidak berbahaya sama sekali. Sungguh pengecut." Varen mengejek.


"Bagaimana tanggapan anda, pak Varen?" Tanya Ririn dengan sangat hati hati.


"Setujui. Kebetulan saya juga punya urusan dengan pewaris manja itu."


"Baik, pak Varen."


Setelah Ririn mengirimkan balasan, di bagian belahan Negara lain, Arnold memerintah seseorang untuk membuat rencana mengirim Aila Khanza kepada Tiger. Dia berharap Aila menghilang, hingga dia bisa menguasai perusahaan dan menjadikan putranya Adrian CEO berikutnya.


Tanpa ada rasa curiga, Aila percaya saja saat Arnold menyarankannya untuk segera terbang ke Thailand menemui kuasa hukum kakeknya yang dipercaya untuk menyampaikan masalah warisan seutuhnya.


Hari kedatangan Aila di bandara langsung disambut oleh Seon dengan sapu tangan yang sudah dibaluri obat bius. Seon membawa tubuh lemah Aila menuju mansion, dan langsung di perintahkan Tiger untuk membawanya ke kamar utama.


Seon dan Lyn sempat saling bersitatap tak yakin dengan apa yang diperintahkan Tiger. Pasalnya tidak ada satupun wanita ataupun anak anak Tiger yang boleh tidur atau hanya sekedar berbaring di ranjangnya. Tiger menuntaskan hasrat pada para wanitanya di kamar khusus yang ada di bagian belakang.


Lyn sangat penasaran dan merasa kecil hati. Pasalnya meski Tiger sangat menyayanginya, Lyn bahkan tidak diizinkan untuk masuk ke kamar Tiger kecuali ada hal yang benar benar mendesak.


"Siapa gadis ini Seon?" Tanya Lyn penasaran.


"Dia pewaris MD group."


"Benarkah? Lalu mengapa dia di bawa kemari?"

__ADS_1


"Untuk memudahkan Tiger memantaunya, sayang. Dan tentunya untuk dijadikan salah satu ja-la-ng-nya."


"Benarkah?"


Seon hanya mengangguk yakin menanggapi pertanyaan kekasihnya itu. Lyn tampak jelas tidak menyukai kehadiran Aila. Tapi akhirnya dia pun jatuh hati pada pandangan pertama saat Aila pertama kali membuka matanya. Lyn merasa ingin menyayangi Aila dan merawatnya bagaikan seorang adik kecil yang menggemaskan.


...🐯(NATM)🐯...


TIger menggeram marah di ruang kerjanya. Dia kesal karena tak dapat menyalurkan hasrat biologisnya. Sialnya, dia bahkan kalah oleh mangsanya kali ini. Tidak. Kalah? Itu tidak cocok untuk Tiger. Dia tidak kalah oke. Tiger hanya merasa sedikit kesusahan untuk menyentuh mangsanya karena sang mangsa membacakan berbagai macam mantra seperti mengusir setan dari tubuh yang dirasuki. Setidaknya itulah yang diyakini Tiger untuk saat ini.


"Apa yang terjadi?" Bisik Kinan pada Juno yang tengah meracik obat obatan. Juno seorang dokter ahli bedah yang mengabdikan dirinya untuk sang Tiger selama hampir setengah umurnya.


"Entahlah."


Juno hanya berbohong. Dia tahu apa yang sedang dialami Tiger. Dan kini dia siap untuk memeriksa kesehatan ja-la-ng yang akan ditiduri bos nya itu malam ini, akibat tidak dapat menyalurkan hasrat biologisnya pada gadis yang kini berada di kamar utama yang merupakan tempat tak tersentuh milik sang Tiger.


Benar saja, tidak selang beberapa menit seorang wanita berparas cantik dengan seragam dinas malamnya yang membuat Kinan meneguk paksa ludahnya saat menatap tubuh indah itu.


"Malam, beb."


Wanita bernama Sarwa itu mencubit manja hidung Kinan yang dianggapnya seperti bayi yang menggemaskan. Dan selalunya Kinan merasa senang dengan itu.


"Tentu siap. Tapi aku harus diperiksa terlebih dahulu. Ini menyebalkan, tapi aku suka saat harus melayani Tiger."


Wanita itu berlalu dan menghilang di balik bilik pemeriksaan kesehatan organ nya.


Seketat itu Tiger. Dia suka tidur dengan wanita yang terjamin kesehatannya. Tiger tidak mau mati konyol hanya karena tertulari penyakit dari wanita yang diti-duri-nya.


...🐯(NATM)🐯...


Sejak tadi malam Aila tidak bisa memejamkan matanya, dia terlalu takut. Pikirannya pun terlalu ribut hingga membuatnya terjaga sepanjang malam sampai pagi menjelang. Aila sedang menstruasi dan hari ini adalah hari terakhirnya yang seharusnya dia sudah membersihkan diri dengan mandi besar untuk mensucikan diri dari darah menstruasi tersebut. Tapi, Aila kebingungan. Dia tidak punya pakaian lain sama sekali selain gaun tidur yang kini masih melekat ditubuhnya. Ia hanya membalut dirinya dengan selimut tebal itu sejak menyadari bahwa pakaiannya telah berganti.


Aila sudah mencari pakaian yang awalnya di pakai sebelum gaun tidur ini melekat di tubuhnya. Tapi rupanya pakaian itu tidak ada dimanapun di kamar itu termasuk di kamar mandi. Aila benar benar kebingungan. Dia bahkan sempat mencoba membuka lemari pakaian di kamar itu, tapi hanya ada stelen jas, kemeja dan celana yang cukup besar. Dan Aila tahu pakaian itu pasti milik pria yang menakutkan itu. Dia tidak mau mati konyol hanya karena berani menyentuh pakaian pakaian itu.


Saat Aila tengah merasa bingung, Lyn tiba tepat waktu. Dia datang ke kamar itu dengan membawa nampan yang didalamnya ada sepiring makanan, mungkin seperti nasi goreng dan juga ada segelas jus apel.

__ADS_1


"Kau sudah bangun, nona Aila."


Mata Aila menatap seakan memberitahu Lyn bahwa dia ingin bicara. Tapi Aila tak yakin dia diizinkan untuk bicara pada wanita itu.


"Kau ingin mengatakan sesuatu?"


Ya Lyn mengerti arti tatapan Aila. Dia menghampiri Aila yang membalut seluruh tubuh bahkan kepalanya dengan selimut tebal itu.


"Dimana pakaian saya?"


Lyn tersenyum. "Sedang dalam proses pengeringan. Untuk sementara--" Lyn melangkah menuju lemari pakaian dan mengambil satu kemeja milik Tiger. Lyn sudah mendapat izin dari Tiger untuk melakukan hal itu. "Gunakan kemeja ini."


Aila mengambil kemeja itu, memakainya untuk menutupi gaun tidur yang yang super mini dan tipis itu. Kemeja itu sangat besar hingga menjulur sampai ke lutut Aila, tangannya bahkan tenggelam dibalik lengan kemeja tersebut.


"Maaf, tapi baju ini tidak bisa menutup seluruh tubuh saya. Sungguh saya tidak biasa dengan pakaian yang--"


"Gunakan sementara untuk pergi ke kamar mandi. Kau harus mandi, setelah kau mandi aku sudah akan kembali membawa pakaianmu." Lyn meyakinkan Aila untuk tidak perlu khawatir soal pakaian.


Sebentar Aila terdiam. Dia merasa bersyukur setidaknya wanita yang saat ini di dekatnya masih memperlakukannya dengan baik. "Terimakasih banyak, nona-" Aila bingung harus memanggil dengan sebutan apa. Sungguh dia tidak terbiasa dengan semua ini.


"Lyn. Panggil saja Lyn."


"Terimakasih banyak, Lyn." Ulangnya sekali lagi sambil sedikit menundukkan kepala.


"Pergilah mandi, lalu makan sarapanmu. Aku akan kembali dengan membawa pakaianmu, nona Aila."


Aila segera menuju kamar mandi. Dia sudah tahu seluruh isi kamar ini. Tapi, tiba tiba saja langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar mandi. Lyn yang melihat itu pun mengurungkan niatnya yang hendak berbalik untuk meninggalkan kamar.


"Ada sesuatu yang kau butuhkan, nona Aila?"


Aila mengangguk cepat dan tampak ragu untuk mulai mengatakan apa yang dia butuhkan.


"Sesuatu apa yang kau butuhkan? Handuk, sabun, sampo, pasta gigi, sikat gigi, semuanya sudah ada disana, nona."


"Bukan itu, Lyn. Tapi--" Aila tidak melanjutkan ucapannya. Rasanya dia terlalu berani untuk mengatakan bahwa dia membutuhkan mukena dan sajadah untuk sholat. Terlebih ini negara yang minoritas islam, dan sepertinya Lyn pun non muslim. Tidak mungkin Lyn tahu apa yang diinginkannya.

__ADS_1


"Katakan, nona Alia."


"Maaf, Lyn. Sepertinya sesuatu yang saya butuhkan bukan hal yang penting. Sekali lagi terimakasih banyak, Lyn." Aila langsung masuk ke kamar mandi tanpa melihat lagi ekspresi bingung Lyn yang masih menunggu jawaban Aila untuk mengatakan apa yang sebenarnya dibutuhkannya.


__ADS_2