
Aila memilih sendiri bahan yang akan dimasaknya di mini market yang ada di mansion, tentu saja di bagian dapur. Dia dibantu oleh seorang koki yang ternyata juga beragama islam. Sungguh Aila merasa lega karena ada seorang islam yang paham akan keinginan Aila dalam memilih makanan yang halal yang bisa untuk disantapnya.
Sayangnya koki itu tidak bisa bahasa Indonesia, jadi Lyn yang menjadi penerjemah untuk mereka berkomunikasi.
Akhirnya setelah hampir setengah jam memilih bahan yang pas untuknya, Aila pun langsung memasak dibantu oleh koki islam itu. Koki itu seorang pria tua yang ramah. Meski Aila baru mengenalnya, tapi Aila merasa seakan tengah berbincang dengan kakeknya. Oh Aila sungguh merindukan kakek yang begitu tega meninggalkannya sendirian di dunia ini.
Setelah dua puluh menit berlalu, masakan Aila pun siap disantap. Dia duduk di meja makan ditemani oleh Pin dan juga koki yang tadinya takut untuk duduk di meja makan yang sama dengan Aila, tapi Aila meyakinkannya untuk bertanggung jawab jika saja sampai Tiger marah.
Pin tersenyum senang melihat Aila menyantap makan malamnya dengan sangat lahap.
"Kalian tidak ingin mencicipi masakanku?" Tanya Aila pada Pin dan sang koki.
"Tentu, nona."
Koki itu langsung mencicipi masakan Aila dan memberikan pujian pada Aila. Dia bicara dalam bahasa Thailand da Pin menerjemahkan. Aila tersenyum senang merasa tersanjung oleh pujian sang koki.
Saat sedang menyantap makan malam, Lyn dan Seon pun menuju dapur. Mereka memang ingin makan.
"Nona!" Pak tua koki langsung berdiri menjauh dari meja makan dan berlalu menuju bagian dapur. Aila menoleh dan mendapati senyuman manis dari Lyn.
"Lyn."
"Kau sedang makan? Apakah Pin tidak bisa mengantarkan makanan ke kamarmu?"
__ADS_1
Lyn tersenyum pada Aila kemudian menatap tajam pada Pin yang akhirnya menunduk. Posisi Pin masih dibawah Lyn.
"Tidak Lyn. Pin tidak bersalah. Aku yang memaksanya untuk memasak makananku sendiri, karena aku khawatir makanan yang di masakkan untukku mengandung sesuatu yang tidak boleh aku makan."
Seon menatap tajam kearah Aila yang menurutnya sangat ceroboh dan seakan menjadi tuan rumah, padahal posisinya hanya sebagai tawanan.
"Kau tau nona. Kau hanyalah tawanan dirumah ini. Kau tidak berhak memilih makanan yang harus kau makan. Apapun yang diberikan oleh majikanmu maka kau harus memakananya."
"Maafkan saya, Tuan--" Ucap Aila bergetar. Sungguh dia mulai ketakutan. Bayangan saat Tiger membuatnya kesakitan membuatnya semakin takut.
"Jangan menakutinya, Seon. Biarkan dia menghabiskan makanan terlebih dulu." Ucap Lyn sambil menarik tubuh Seon untuk ikut duduk di kursi meja makan yang sama dengan Aila dan Pin.
"Kau akan dihukum oleh Tiger, Pin. Kau tahu itu."
"Aku siap menanggung resikonya, Seon. Maafkan aku." Pin tampak menunduk.
"Makanlah makananmu, Aila. Setelah itu kembalilah ke kamarmu."
"Maafkan aku, Lyn." Ucapnya lirih.
Seon hanya menatap tidak suka pada Aila. Dia memang tidak suka pada gadis itu yang berani melakukan hal ceroboh tanpa tahu tempatnya dan posisinya sebagai apa di tempat ini.
...🐯(NATM)🐯...
__ADS_1
Usai makan malam, Pin mengantar Aila kembali ke kamarnya. Kemudian Pin pun kembali ke kamarnya. Sementara Seon dan Lyn, mereka kini sedang menikmati suasana malam di taman belakang. Mereka menatap kerlipan lampu lampu kecil yang menerangi rumah kaca. Rumah kaca adalah tempat bunga bunga kesayangan Tiger tumbuh dan berkembang.
"Kau sangat tidak menyukai Aila, Seon."
"Dia terlalu semena mena seakan dia adalah tuan putri di mansion ini. Aku tidak suka itu."
"Bukankah dia memang tuan putri?"
Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. Lyn ingin Seon menerima kenyataan bahwa Aila memang akan menjadi tuan putri di mansion ini.
"Kau tau Seon. Saat pertama kali aku dibawa ke mansion ini, aku di kurung di kamar belakang. Hari pertama aku tidak menyukai makanan yang diberikan para koki dan berakhir dengan mendapat pukulan di tanganku. Hari kedua, aku memakan makananku, tapi aku memuntahkannya kemudian, dan Tiger memukul betisku. Itu menyakitkan."
Seon menatap sendu wajah kekasihnya yang menceritakan masa lalunya. Seon menyaksikan kejadian itu, tapi Seon tahu Tiger melakukan itu untuk membuat mental Lyn yang hampir rusak kembali dengan emosi yang membara untuk membalas Tiger. Dan itu berhasil.
"Aila spesial. Pertama kau membawanya ke mansion ini, dia diletakkan di kamar utama, diamana tidak ada siapapun yang bisa memasuki kamar itu tanpa terkecuali, dan mungkin hanya pelayan yang bertugas merapikan kamar itu."
"Dia tawanan Tiger, sayang. Tiger sengaja memperlakukannya dengan cara spesial untuk menghancurkan hatinya. Tiger akan membuat gadis itu jatuh cinta padanya, lalu setelah gadis itu jatuh masuk ke perangkapnya, dia akan membunuhnya dan mengirim mayatnya kepada keluarganya."
Kalimat yang dikatakan Seon sungguh membuat Lyn bergetar. Dia baru mendengarnya saja sudah merasa simpati akan takdir buruk yang menanti Aila. Sungguh malang nasibnya.
"Bukankah Aila sudah tidak punya keluarga?"
"Kau akan tahu pada waktunya. Aku hanya bisa bicara sampai pada point itu."
__ADS_1
Seon meraih tubuh kekasihnya untuk dia peluk, lalu mereka bertukar ciuman beberapa saat, kemudian Seon mengantar Lyn kembali ke kamarnya, barulah Seon kembali melaksanakan tugasnya sebagai pasukan khusus yang akan melakukan transaksi ilegal alat senjata tajam seperti biasanya.
Sedangkan Lyn sama sekali tidak bisa menutup matanya. Ia masih memikirkan apa yang dikatakan Seon tentang nasib buruk yang akan menimpa Aila. Senyuman dan tatapan teduh gadis malang itu kembali terbayang. Dia bertanya tanya, perbuatan apa yang telah dilakukan keluarga gadis itu, hingga membuat Tiger menjadikannya tawanan dan akan menyiksanya secara perlahan.