
Pukul 21:10
Tiger kembali ke mansion. Dia mampir sebentar ke ruang kerjanya, diikuti oleh Juno.
"Apa lagi kali ini, Juno?"
"Maaf mengganggu anda, Tiger. Tapi, saya hanya menyampaikan pesan dari nona Sarwa."
"Kenapa dengan wanita itu?"
Tiger berbicara dengan nada datar dan terdengar sangat dingin dari biasanya.
"Nona Sarwa mengidam ingin ditemani tidur. Jika tidak, nona Sarwa tidak akan bisa tidur semalaman. Itu akan mempengaru--"
"Akan mempengaruhi kesehatan bayinya. Aku bahkan sudah hapal kalimat itu." Sambung Tiger memotong ucapan Juno.
"Maaf Tiger, aku hanya mengkhawatirkan keadaan bayi anda." Juno menunduk merasa bersalah karena terlalu memaksa Tiger untuk memperhatikan Sarwa yang sedang mengandung bayi-nya.
"Kau dan Phi Tam mulai membuatku risih sejak wanita itu hamil. Tapi kau tahu hal yang lucu, Juno--" Tiger mulai berjalan meninggalkan kursinya. "Aku sama sekali tidak yakin bayi yang ada di perut wanita itu adalah bayiku."
"Aku juga tidak yakin, Tiger. Karena aku tidak pernah melupakan memberi nona Sarwa pil anti kehamilan setiap kali akan menemui anda."
"Bagitukah?" Menatap tajam kedua bola mata Juno yang tampak tidak siap, hingga membuatnya langsung menunduk.
"Meski mungkin kau berbohong, aku akan mencoba percaya. Karena kau dokter terbaik kepercayaanku selama ini."
Setelah mengatakan itu, Tiger langsung keluar dari ruangannya. Langkahnya begitu cepat menuju kamar Sarwa.
"Apa yang terjadi?"
Saat pintu kamar itu terbuka, Tiger disugihi dengan pemandangan mengejutkan. Sarwa memegang pistol yang entah didapatnya dari mana. Ujung pistol itu dia letakkan tepat di perutnya yang mulai tampak membesar.
"Aku tahu kau tidak percaya bayi ini adalah bayimu, Tiger. Aku pun juga sudah muak dengan pengalaman hamil beberapa bulan terakhir ini. Aku lelah, aku capek. Aku akan membunuh bayi ini." Teriaknya dengan terus menodongkang pistol ke area perutnya.
"Silahkan. Aku tidak peduli. Mau bayi itu benar benar berasal dari benihku atau bukan. Aku tidak peduli sama sekali." Ucap Tiger dengan nada sangat tenang dan tatapan mengejek.
"Laki laki brengsek. Kau benar benar tidak punya hati, Tiger!" Teriaknya semakin menjadi. Pistol itu kini dia hadapkan kearah kepala Tiger. "Aku akan membunuhmu!"
__ADS_1
"Silahkan." Tantang Tiger sambil tersenyum sinis pada Sarwa yang sedang tersulut emosi.
Tangan Sarwa gemetar saat harus menarik pelatuk pada pistol itu. Kemudian dia menangis terisak dan kembali menodongkan senjata itu kearea perutnya saat melihat Tiger sama sekali tidak bereaksi apapun.
Saat itu juga, Juno, Kinan, Adit dan Jack masuk ke kamar Sarwa. Mereka mencoba menenangkan Sarwa agar wanita itu mau melepaskan pistol dari tangannya. Sayangnya Sarwa malah semakin mengamuk, dia bahkan menembakkan pistol itu kearah tembok kaca hingga membuat bekas retakan dengan peluru timah itu tertanam dicelah dinding kaca tersebut
Dorrr--
"Nona Sarwa!" Teriak Jack yang langsung melompat menendang pistol ditangan Sarwa, hingga pistol itu jatuh begitu saja di lantai.
Juno pun langsung sigap berlari mengejar Sarwa yang akhirnya jatuh pingsan dalam dekapan Juno. Sepertinya dia terkejut mendengar suara ledakan pistol yang ditembakkannya sendiri.
Sementara Tiger masih tetap diam berdiri ditempatnya semula, Kinan dan Adit hanya terperangah menatap apa yang baru saja terjadi dihadapan mereka.
"Tiger, tolong tenangkan nona Sarwa. Setidaknya pikirkan bayi anda." Ucap Juno sedikit memohon.
"Aku tidak butuh bayi itu. Aku juga tidak butuh wanita itu. Wanita itu kubiarkan tinggal di mansion, hanya karena phi Tam. Jadi, jangan memerintahkan aku untuk menjaga wanita itu dengan alasan demi bayi yang ada dalam perutnya."
Tiger mengatakan itu sambil mengantapkan kedua gerahamnya. Lalu, dia pun pergi meninggalkan kamar itu.
"Tiger, maafkan aku. Tapi, aku rasa Tiger harus tahu tentang hal ini." Bisik Kinan saat langkahnya sudah mengejar Tiger.
"Katakan, Kinan."
Sebentar Kinan menatap pada Adit untuk mendapat persetujuan tentang apa yang akan dikatakannya pada Tiger. Adit menganggukkan kepalanya yakin.
"Dewi kabur. Dia kabur dengan membawa peta pabrik senjata dan juga peta vila rahasia."
Kalimat itu membuat Tiger menghentikan langkahnya. "Wanita itu ternyata tetap memilih mengkhianatiku setelah aku selamatkan." Gertak Tiger geram. Kedua tinjunya terkepal erat dengan napas yang mulai naik turun menahan luapan emosinya yang benar benar diuji hari ini.
"Mengapa kalian tidak mencegahnya, bo do h!" Teriak Tiger pada Adit dan Kinan yang sontak langsung berlutut dihadapan Tiger.
"Maafkan kami Tiger. Kami baru menyadari Dewi kabur membawa peta itu beberapa menit yang lalu. Sementara cctv memperlihatkan Dewi kabur sejak tadi siang. Dia dibantu oleh seorang asisten koki, mereka kabur lewat terowongan bawah tanah yang tidak terdeteksi kamera cctv. Karena itu lah kami terlambat menyedarinya."
Kinan dan Adit hampir bersamaan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
"Adit, kau ambil alih tugas Jack sementara. Dan Kinan, cepat kau beri tahu Seon tentang ini. Seon saat ini sedang di daerah markas Snake, katakan padanya untuk mencari wanita itu."
__ADS_1
"Baik Tiger."
Setelah Kinan dan Adit menyahut, Tiger melanjutkan langkahnya. Dia melangkah menuju vila untuk menemui Aila.
Sementara Adit mengambil tugas Jack untuk mendengar informasi terkini, Jack dan Juno masih tampak telaten mengurus Sarwa yang masih belum sadarkan diri. Sedangkan Kinan mengirim dronenya untuk menghampiri Seon.
Dan Tiger, dia kembali ke vila, tepatnya ke kamar Aila. Saat masuk ke kamar itu, dia mendengar suara merdu Aila yang sedang membaca surah Al-mulk. Hati Tiger yang tadinya berapi api perlahan menjadi lebih tenang.
Aku kira kau akan menangis ketakutan setelah kejadian tadi sore. Ternyata kau malah tampak sangat tenang. Sungguh wanita yang aneh.
Langkah kakinya perlahan mendekati Aila, hingga membuat Aila menoleh dan berhenti membaca. "Tuan!" Aila hendak berdiri menghampiri Tiger.
"Lanjutkan bacaanmu, Aila. Setidaknya itu membuat pikiranku nyaman." Ucapnya sambil mendudukkan dirinya dipinggir ranjang.
Hati Aila menghangat mendengar kalimat manis yang diucapkan Tiger. Dan dia pun melanjutkan bacaannya kembali hingga benar benar selesai dan Tiger mendengarnya dengan penuh kekhusukan.
"Kenapa berhenti?"
Aila tersenyum, dia berinsut untuk menghampiri Tiger. Kini dia tepat duduk berlutut dihadapan Tiger. Perlahan Aila meletakkan kedua tangannya diatas paha Tiger, lalu menyenderkan kepalanya disana. Tanpa perlu instruksi dari siapapun, Tiger mengelus lembut kepala Aila.
"Apa kau sudah selesai membacanya?"
"Mmhh."
"Kalau begitu, bolehkan aku memelukmu?"
Pertanyaan barusan membuat kedua bola mata Aila mebola. Benarkah Tiger meminta izin untuk memeluknya? Apakah Aila salah dengar? Seorang Tiger yang punya kuasa untuk melakukan apapun yang dia suka, kini meminta izin untuk memeluknya. Sungguh menggemaskan jika memang itu nyata.
Tadi sore dia berteriak marah seakan ingin membunuhku. Sekarang malah bersikap manis seperti ini. Apakah Tiger punya dua kepribadian yang berbeda--
"Kau tidak ingin aku peluk?" Ulang Tiger saat tidak kunjung mendapat respon dari Aila.
"Bukankah tuan bisa memelukku kapan saja? Mengapa sekarang tuan meminta izin-" Aila mendongak untuk menatap wajah Tiger.
Dia bersedih? Matanya berkaca kaca. Apa lagi yang terjadi pada anda kali ini, tuan?
Tanpa ragu, Aila langsung berdiri. Diraihnya pundak Tiger dan dipeluknya erat. Tiger membenamkan wajahnya diceruk leher Aila dengan nyaman, kedua tangannya melingkar dipinggang istrinya itu. Ya, Aila adalah istrinya satu satunya pemilik tahta tertinggi di hatinya. Tiger mulai mengakui itu.
__ADS_1