Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 62


__ADS_3

_Markas persembunyian_


"Seon--, Lyn dan Pin ada di salah satu gudang di bawah kasino, markas lama Snake."


Itu suara Kinan, dia baru saja melacak keberadaan dua wanita cantik itu begitu mereka tiba di tempat persembunyian sementara mereka.


"Kau yakin tempat itu bukan sekedar jebakan, Kinan?"


"Aku yakin Seon."


"Kinan benar, Seon. Saat ini Snake dan anak anak buahnya sedang fokus menyusun rencana untuk menyerang Lion, mereka pindah ke markas yang baru dan tampaknya mereka mengabaikan Lyn dan Pin." Ujar Ririn ikut menimpali obrolan mereka.


"Untuk kali ini aku percaya omonganmu, nona Ririn."


"Kau akan berterimakasih padaku segera, Seon."


Seon tidak menanggapi ocehan Ririn lagi, dia sudah bergegas pergi bersama Taw, Vac dan Adit. Sementara Ririn, Adam dan Kinan tetap di sana untuk merawat Rey dan Vio.


Empat orang bergerak cepat hanya dengan berlari secepat yang mereka bisa untuk bisa segera sampai ke markas Snake sebelum Snake kembali ke markasnya. Tidak ada kendaraan untuk mereka kendarai. Jadi mereka terpaksa harus berlari untuk mencapai tujuan dengan cepat.


Untuk sementara, Seon benar benar ingin mereka semua tidak terluka sampai mereka bisa kembali bertemu dengan Tiger. Ya, setidaknya Seon akan berusaha menjaga rekan rekannya yang masih bersamanya tanpa kehilangan seorangpun lagi.


Setelah hampir tiga jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di markas Snake. Benar saja, area markas kosong.


"Adit, Taw, kalian masuk lewat belakang. Aku dan Vac masuk lewat pintu depan." Titah Seon.


Mereka pun menyebar. Seon dan Vac lebih dulu masuk ke markas melalui pintu utama dan yang mereka dapati, markas itu benar benar kosong, hanya ada beberapa perabot rumahan yang telah gosong.


"Kasino disana Seon!" Vac menunjuk salah satu lorong yang menunjukkan arah untuk menuju kasino.


Tanpa pikir panjang mereka pun menerobos masuk kesana dan lagi lagi, tempat itu juga kosong. Hanya tersisa meja meja hijau yang lusuh, berantakan dan berabu sisa kebakaran. Markas ini sudah ditinggalkan sejak kejadian kebakaran waktu itu.


"Apakah kita dijebak, Seon?"


"Belum pasti, Vac. Aku tahu Snake memang telah meninggalakan markas sejak terjadinya kebakaran saat itu. Tapi aneh rasanya karena mereka membiarkan Lyn dan Pin tanpa pengawasan sama sekali."


Seon mencoba memeriksa beberapa lukisan yang tertempel didinding. Awalnya dia tidak menemukan apapun, tapi kemudian dia menemukan bom waktu yang tertanam di dinding.


"Vac, kita harus cepat menemukan Lyn dan Pin. Snake akan meledakkan markas."


Seon langsung berlari menuju lorong bawah tanah yang akan mengantarkan mereka ke gudang tempat Lyn dan Pin di kurung.


"Kita benar benar di jebak, Seon." Teriak Vac yang mengekor dibelakangnya.


"Adit, Taw, apa kalian mendengarkan kami?"

__ADS_1


"Kami mendengar, Seon. Kami siaga di terowongan belakang. Cepatlah temukan Lyn dan Pin lalu berlarilah ke lorong belakang gudang yang mengarah keterowongan." Tutur Adit yang siaga di depan terowongan yang terhubung ke arah gudang bawah tanah tempat Lyn dan Pin di kurung.


Dengan cepat Seon berlari menyusuri lorong yang semakin lama semakin gelap itu. Beruntungnya pistol milik Vac memiliki lampu LED yang menyinari langkah mereka.


"Lyn!" Teriak Seon.


"Pin! Kalian mendengarku?"


Ya, suara itu didengar oleh Lyn dan Pin yang tampak sangat lemas. Mereka bahkan sampai pipis dicelana karena benar benar tidak tahan lagi. Mereka sudah terkurung hampir tujuh jam lamanya.


"Pin, aku mendengar suara Seon? Apakah aku bermimpi--"


"Aku juga mendengarnya, Lyn. Sepertinya kita tidak sedang bermimpi--"


"Pin-- hikkss."


"Ada apa Lyn. Kenapa kau menangis?"


"Apa kau lupa, celanaku basah dan aku bau pesing. Seon pasti akan memutuskan hubungan kami setelah dia menyelamatkan aku dari sini. Hikksss, hiikkkss--"


Pin malah tersenyum gemas mendengar ocehan Lyn dan mendengar tangisanya.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan wanita cantikku meski pun dia bau pup sekalipun."


"Seon, Vac!" Sapa Pin dengan raut wajah haru dan mata berkaca kaca.


"Maaf aku terlambat, Lyn."


Seon langsung menghampiri Lyn dan melepas ikatan tali dari tubuhnya, sedangkan Vac melepas ikatan tali di tubuh Pin.


"Seon, aku bau pesing--" Lyn hendak menjauhkan diri dari Seon, tapi Seon lebih dulu merangkul tubuh mungil kekasihnya itu dan mengecup keningnya.


Pin dan Vac hanya saling tersenyum satu sama lain menyaksikan sepasang kekasih yang saling bermesraan itu.


"Seon, kau harus ingat waktu bomnya terus bergerak, bung."


Itu suara Adit yang juga bisa didengar oleh Pin dan Lyn.


"Adit! Kau kah itu?" Pin menyahut dengan mendekatkan mulutnya ke telinga Vac.


"Ini aku, Pin. Kau baik baik saja?"


"Ya, aku baik baik saja." Jawab Pin yang bersemu merah dan tampak salah tingkah.


Lyn yang melihat wajah bersemu milik Pin saat mendengar Adit bertanya keadaannya membuat Lyn mengerti bahwa Adit pria yang disukai Pin saat ini.

__ADS_1


"Adit, Pin ngompol di celana!" Teriak Lyn tiba tiba.


"Yaaakkkk, Lyn." Pin hendak memukul Lyn, tapi dengan cepat Seon memeluk kekasihnya itu dan menjauhkannya dari Pin.


"Kita harus segera keluar."


Vac berlari lebih dulu diikuti Pin. Seon dan Lyn juga mengekor di belakang mereka.


Angka pada bom waktu terus bergerak dan hanya menyisakan lima detik saja. Namun langkah mereka masih jauh dari pintu keluar.


"Cepat, kalian harus berlari lebih cepat!" Teriak Seon pada Vac dan Pin yang tertinggal di belakang mereka.


"Aku sudah tidak kuat, Seon. Kaki ku tidak bisa digerakkan." Sahut Pin terbata.


Saat itulah, Adit datang. Dia mengulurkan tangannya pada Pin. "Ayo Pin. Aku akan menarikmu."


Vac sudah berlari lebih dulu dan berhasil mengejar Seon dan Lyn yang sudah hampir tiba di pintu. Pin juga sudah mulai kembali berlari sambil menggenggam erat tangan Adit yang berlari di depannya.


Waktu tersisa dua detik.


"Cepatttt!"


Taw berhasil menarik Seon, Lyn dan Vac keluar lebih dulu melalaui terowongan sempit dan gelap itu.


Satu detik tersisa.


"Cepaaattt, Pin!" Teriak Lyn khawatir.


Pin hampir terpeleset saat kakinya sudah hampir mencapai pintu lorong terowongan, Adit yang mengetahui itu dengan cepat menarik kuat Pin hingga tubuhnya masuk dalam dekapan pria itu.


Duaarrrr---


Ledakan besar terjadi. Kasino dan markas hancur lebur sekali lagi. Arus ledakkan yang dahsyat juga memberikan hawa yang sangat panas dipermukaan terowongan.


"Kalian baik baik saja?"


Suara itu milik Seon. Dia berteriak kedalam terowongan untuk memastikan keadaan Pin dan Adit yang kembali terdorong ke dalam terowongan saat terjadinya ledakan.


"Seon, tolong tarik tanganku." Adit mengulurkan satu tanganya sementara tangan lainnya memeluk erat tubuh Pin.


Seon pun segera menarik tangan Adit, sedangkan Taw dan Vac menarik tubuh Seon.


"Hhiiiyaaaakkkk--"


Akhirnya Pin dan Adit berhasil keluar dari terowongan. Mereka pun segera bergegas meninggalkan tempat yang sudah terbakar itu dengan aman tanpa ketahuan. Karena mereka melewati kepulan asap yang menghitam.

__ADS_1


__ADS_2