
Seon dan Kinan tiba di gerbang utara mansion yang jaraknya cukup jauh untuk bisa sampai ke vila. Dan begitu mereka masuk melewati gerbang itu, mereka disambut dengan peluru yang ditembakkan serentak kearah mereka.
"Kinan, tetap dibelakangku!" Titah Seon yang juga menembakkan pistolnya kearah lawan. Satu persatu lawan tumbang.
Dorrr
Dorrr
Seon mulai melangkah semakin maju mendekati beberapa orang musuh yang tampak ketakutan melihat betapa marahnya Seon dengan terus menembakkan kedua pistolnya sekaligus pada mereka.
Dan saat Seon hanya fokus menembak kearah depan, rupanya seseorang mencoba menembak dari arah samping. Kinan yang melihat itu pun dengan cekatan membidikkan pistolnya kearah pria itu hingga peluru milik Kinan menembus batang leher musuh. Padahal Kinan hanya asal menembak.
Suara tembakan dari pistol Kinan membuat Seon menoleh sebentar. "Kau menembakkan senjatamu, adik kecil."
Dorrr
Dorrr
"Aku bukan adik kecilmu lagi, Seon. Aku bahkan bisa membolongi lehernya." Dia membanggakan dirinya sendiri.
"Kerja bagus, Kinan. Tiger pasti akan senang mendengar kemampuan menembakmu meningkat."
Kinan tersenyum lebar. Dia tidak sabar untuk segera menemui Tiger dan menceritakan bahwa dia menembak leher musuh.
"Jaga punggungmu, Kinan. Ini tembakan terakhir."
Dorrr
Semua musuh yang menghadang di gerbang utara berhasil ditaklukan. Kini mereka tiba di depan pintu utama mansion yang sepi. Hanya tubuh tubuh mengenaskan yang berserakan disana. Kinan bahkan sempat memeriksa apakah masih ada yang bernapas, namun ternyata semuanya telah gugur.
"Kinan, tiarap!" Teriak Seon saat beberapa musuh kembali menembakkan peluru mereka. Dengan cepat Kinan tiarap disaat Seon bertarung melawan musuh musuh itu.
"Rasakan ini, brengsekkkk---" Kinan menembakkan pistolnya dalam keadaan tiarap, dan pelurunya mengenai paha, betis dan bahkan se la ng ka ng an para musuh.
"Brapo, Kinan. Setelah perang ini selesai aku akan melantikmu menjadi timku."
Seon benar benar kagum dengan peningkatan menembak Kinan yang ternyata cukup bagus saat berada di medan perang seperti ini.
__ADS_1
Mereka melanjutkan langkah menuju ruang kerja Tiger. Namun saat tiba disana mata Seon dan Kinan dikejutkan dengan tubuh bersimbah darah milik Dino.
"Dino!"
Seon memeluk tubuh kaku yang sudah tak bernapas itu. Darah pun sudah membeku ditubuhnya. Kinan ikut duduk disamping tubuh Dino, dia ikut menangis bersama Seon.
"Aku bersumpah, aku akan menembak kepala orang yang telah membuatmu seperti ini, Dino." Gertak Seon penuh amarah.
"Seon, berhenti menghubungi Jack. Dia pengkhianat. Jack dan Juno telah mengkhianati Tiger." Suara itu milik Rey yang tersambung padanya.
"Apa kau baik baik saja, bung?" Tanya Seon sambil meletakkan perlahan tubuh Dino kembali kelantai yang sudah berlumur darah.
"Aku bersama Vio. Kami terjebak di terowongan bawah tanah. Hanya saja kami mendapat luka tembak."
"Apa yang terjadi, siapa yang menyerang?"
"Snake dan Lion."
"Bertahanlah sebentar. Aku akan menjemput kalian. Kita harus keluar dari mansion. Aku akan membakar mansion segera."
Kalimat itu membuat Kinan terperangah. Dia ingin menanyakan apa yang dimaksud Seon, mengapa tiba tiba dia ingin membakar mansion, tapi melihat raut wajah marah Seon membuatnya hanya terdiam.
"Tidak usah khawatir, Rey. Pabrik dan vila punya pengendali sendiri untuk terhindar dari kebakaran."
Seon berdiri. Dia menggamit Kinan untuk mengikuti langkahnya yang kini menuju terowongan bawah tanah. Setibanya disana, dia mendapati Rey dan Vio yang tampak lemah dengan masing masing paha mereka tertembak peluru.
"Seon, Kinan." Panggil mereka yang merasa lega melihat kedatangan Seon dan Kinan.
"Kalian baik baik saja?" Tanya Vio sambil menahan rasa sakit dipahanya.
"Sperti yang kau lihat, bung." Jawab Kinan sedikit sombong.
"Bertahanlah. Kita harus meninggalkan mansion segera." Ucap Seon sambil mengikat kuat paha Rey dan Vio bergantian menggunakan lengan kemejanya yang sengaja disobeknya.
"Snake dan Lion, mereka datang mengambil nona Aila." Ujar Rey yang pahanya sudah selesai di ikat oleh Seon untuk membantu menghentikan pendarahan sementara.
"Jadi, target mereka adalah Aila."
__ADS_1
"Iya Seon. Tapi, masalahnya saat mereka membawa nona Aila, dia tampak sangat pucat dalam gendongan si Adrian itu. Dan menurut beberapa penjaga yang juga berkhianat, nona Aila tengah hamil." Rey menceritakan apa yang sempat didengarnya selama bersembunyi dibawah terowongan ini.
Seon dan Kinan saling bersitatap. Mereka tahu nona Aila hamil. Dan Tiger bahkan sangat memperhatikan kehamilan Aila sampai memberi perintah agar tidak terjadinya pembunuhan di mansion. Tapi, dimana Tiger sekarang? Apakah dia melakukan gebrakan frontal menuju mansion Lion? Ataukah mungkin dia ke markas Snake untuk mengambil Aila kembali? Entahlah, Seon benar benar tidak tahu keberadaan Tiger saat ini.
"Apa kalian tahu siapa lagi pengkhianatnya selain Jack dan Juno?"
"Phi Tam."
Jawaban Vio dan Rey membuat Kinan dan Seon terdiam. Mereka benar benar tidak menyangka phi Tam akan mengkhianati Tiger.
"Apakah ada yang mencoba masuk ke pabrik?" Seon mengalihkan pembicaraan, untuk membuat emosinya kembali tertata. Sebab jika tidak, dia bisa mengamuk dan menghabisi semua yang tersisa saat itu juga.
"Ya, Jack mencoba masuk, tapi aksesnya tertutup rapat. Sepertinya pak Sony melakukan tugasnya dengan baik."
"Lalu, pak Sony benar benar terkurung di vila?"
"Iya, Seon. Pak Sony terkurung di Vila. Dia juga menutup akses vila seutuhnya setelah nona Aila berhasil dibawa kabur."
"Tapi, bagaimana Snake bisa masuk ke vila?" Akhirnya Kinan menanyakan hal yang sejak tadi terus berputar di kepalanya sejak Rey mengatakan Snake berhasil membawa kabur Aila.
"Jack dan Juno memberi tahu akses menuju vila pada Dewi." Ujar Vio ikut menimpali, dia merasa sedikit bertenaga setelah Seon mengikat pahanya untuk menghentikan pendarahan.
"Harusnya Tiger membunuh wanita ular itu lebih awal. Lihatlah karena Tiger berbaik hati wanita ular itu malah berkhianat" Rutuk Kinan mengungkapkan rasa kesalnya.
"Mereka semua bre ng sek, aku akan membolongi leher mereka jika sampai aku melihat mereka lagi." Gertak Kinan dengan wajah sangarnya yang membuat tiga orang lainnya kagum dan sedikit merinding mendengarnya.
"Kalian jalanlah dulu keluar dari terowongan ini. Kinan, kau ikutlah bersama mereka. Aku akan menjemput Dino terlebih dahulu."
"Baik, Seon." Jawba Kinan patuh.
"Tidak Seon, kami akan menunggumu. Kita pergi bersama."
Rey yang mengatakan itu. Dia sedikit khawatir untuk membiarkan Seon sendirian.
"Kalian harus pergi lebih dulu. Jika tidak, mungkin aku akan kehilangan kalian sama seperti Dino."
"Apa terjadi sesuatu pada Dino?" Tanya Vio dan Rey hampir bersamaan.
__ADS_1
"Dino tewas." Dua kata itu saja yang keluar dari mulut Seon.
Rey dan Vio tidak bisa berkata kata saat mendengar bahwa rekan satu tim Seon tewas. Dan saat itu jugalah Seon berlari menjauh dari tiga orang itu.