
Di ruangan tempatnya dirawat, Varen sudah siuman. Kedua matanya terbuka sempurna.
"Anda melihat saya?" Dokter melambaikan tangannya di depan wajah Varen.
Varen tidak langsung merespon, dia malah melirik sekeliling ruangan yang tampak asing. "Dimana ini?" Tanyanya yang tampak kebingungan.
"Tuan, apa anda bisa mendengar saya?"
"Iya saya mendengar anda pak dokter. Justru anda yang tidak bisa mendengarkan saya--" Jawab Varen yang berhasil merubah posisinya menjadi duduk.
"Oh Tuhan, syukurlah akhirnya anda sudah kembali."
"Siapa anda pak dokter?"
"Saya, dokter pribadi tuan Arjin."
Mendengar dokter itu menyebutkan nama pria yang telah menghancurkan hidupnya, membuat Varen melotot tajam pada dokter itu.
"Kau bilang, kau dokter pribadi Arjin?" Ulangnya sekali lagi untuk sekedar memastikan.
"Iya, tuan."
"Dimana tua bangka itu?"
Varen melepas semua alat kesehatan yang terpasang di tubuhnya, lalu dia turun dari ranjang itu.
"Tuan, anda masih harus melalui pemeriksaan--" Dokter itu mencoba menahan langkah kaki Varen yang hampir tiba di depan pintu.
"Minggir atau kupatahkan leher anda, pak dokter!" Teriaknya murka.
Karena ketakutan dokter itu pun menyingkir dari hadapan Varen, kemudian dia langsung meraih ganggang pintu itu, memutarnya secara paksa hingga ganggang itu lepas dari pintu dan terbukalah pintu itu.
Langkah kaki Varen tanpa ragu mendekati pintu ruangan lain di sebelah ruangan tempatnya tadi di rawat.
"Tuan, anda tidak boleh memasuki ruang itu--" Cegah dokter yang mengekor dibelakangnya.
Varen tidak menghiraukan ocehan dokter, dia terus melangkah dengan langkah pasti, hingga tiba di depan pintu itu. Sama seperti tadi, Varen hendak menarik paksa ganggang pintu yang dia kira juga sama terkunci itu, tapi ternyata pintu itu tidak terkunci hingga saat terbuka menimbulkan suara bantingan yang sangat lantang.
Suara bantingan keras pintu itu membuat penghuni ruangan itu terkejut. Arjin langsung memeluk erat tubuh istrinya yang gemetar hebat, sedangkan Aila malah terduduk begitu saja di lantai.
"Disini rupanya kau tua bangka!" Teriak Tiger menatap penuh amarah kearah Arjin yang bertambah terkejut mengetahui Varen lah yang membuka pintu dengan bantingan cukup keras.
Varen melangkah perlahan tanpa mengalihkan tatapannya pada wajah Arjin yang sedikit gugup. Hingga Varen sama sekali tidak menyadari keberadaan Aila diruangan itu.
"Kau sudah bangun, Tiger?" Tanya Arjin ragu.
__ADS_1
"Apa kau berharap aku mati, tua bangka?"
"Tidak, Tiger. Aku tidak--"
Varen melangkah semakin cepat hingga membuat Arjin tidak lagi mampu melanjutkan perkataannya. Bahkan kini Varen sudah sangat dekat dengan Arjin. Sebentar ditatapnya wajah wanita pucat dalam pelukan Arjin yang sekilas mirip dengan Aila. "Dia istrimu, Arjin?"
"Jangan sakiti istriku, Tiger. Aku berhak mendapat hukuman darimu, tapi tolong jangan sakiti istriku." Arjin semakin mengeratkan pelukannya pada istrinya yang masih gemetar ketakutan.
"Apakah waktu ibu ku memohon untuk keselamatan nyawanya dan nyawa adikku kau bahkan mendengarkannya!" Teriak Tiger murka.
"Maafkan suami saya-- tolong ampuni kami--"
Itu Bhika yang bicara sambil terbata bata dan gemetar hebat.
Tanpa peduli apapun, Tiger yang sudah tidak bisa membendung amarahnya lansung mencekik leher Arjin dengan kedua tangannya, bahkan dia membanting tubuh Arjin ke tembok, lalu kembali mencekiknya lagi.
Melihat kejadian itu, membuat Bhika kembali pingsan. Sementara Aila yang masih duduk di samping ranjang Bhika juga gemetar hebat. Dia ketakutan, tapi juga merasa sedikit lega karena ternyata Tiger, suaminya itu masih hidup.
"Aaakkhrrrr--- Aku akan membunuhmu, brengsek!"
"Amp-- amm-- ampun--"
Varen semakin kuat mencekiknya hingga Arjin bahkan tidak mampu untuk menyelesaikan kata katanya.
"Bunuh aku! Bunuh saja akuuu---" Teriak Aila lantang sambil gemetar.
"Bunuh aku saja. Aku yang menyebabkan pria itu membunuh kedua orangtua anda tuan. Jadi bunuh saja aku!" Pekik Aila diikuti dengan tetesan deras air matanya.
"Aila!"
Varen benar benar langsung melepaskan Arjin, dia langsung berlari mengejar Aila.
Brruuugg--
Tubuhnya begitu kuat menghantam tubuh Aila yang lemah, hingga Aila hampir terjatuh jika saja Varen tidak mengeratkan lingkaran tangannya di punggung Aila.
"Aila, sayang. Apa kamu baik baik saja?" Tanya Varen yang juga terisak, dia menangis sambil menciumi puncak kepala Aila berkali kali.
Tidak ada respon dari Aila sama sekali. Mendapat pelukan hangat dari suaminya itu membuatnya merasa semakin bersalah.
"Sayang, kenapa diam saja? Kamu baik baik saja, kan?"
Varen melepas pelukannya. Dipengangnya lembut kedua bahu Aila sambil menatap mata Aila yang berkaca kaca.
"Aila, kamu--"
__ADS_1
Aila mendorong kuat tubuh Varen menjauh darinya. Hal itu membuat Varen terdiam.
*Apa perbuatanku menyakitimu, sayang?*
"Aila, aku--"
"Jangan mendekat!" Teriak Aila histeris.
"Aila kehilangan bayinya, dia keguguran. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga calon bayi kalian." Gumam Arjin sedikit terbata.
Tiger mendengar jelas apa yang dikatakan Arjin, tapi tidak dia hiraukan sama sekali.
"Aila."
"Jangan mendekat. Anda sudah berhasil memporak porandakan hidupku, tuan. Aku bahkan telah kehilangan bayiku--"
Aila kembali jatuh terduduk di lantai, dia menangis sambil memukul mukul dadanya yang terasa sesak.
Varen langsung mengejar Aila dan kembali memeluknya. Dia tidak memperdulikan saat Aila bahkan berontak meminta untuk dilepaskan.
Arjin sudah mulai merasa lebih baik, dia melangkah mendekati istrinya. Tapi, Arjin tidak bisa melakukan apapun untuk membuat istrinya kembali sadarkan diri. Sehingga dia hanya bisa menangis sambil memeluk istrinya sama seperti yang dilakukan Varen.
"Aila, maafkan aku. Sungguh jangan seperti ini!" Ucap Varen yang semakin khawatir karena Aila mulai mengalami kejang lagi seperti saat itu.
"Tolong, tolong selamatkan istriku!" Teriaknya sambil terus berusaha membuat Aila lebih tenang.
Mendengar teriakan Varen membuat Arjin berhenti menangis dan dia melihat tubuh Aila kejang dalam pekukan Varen. Tampa pikir panjang, dia segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan putrinya.
"Apa yang terjadi, tuan?"
"Tolong istriku. Tolong selamatkan dia, aku mohon!" Dia sampai menundukkan kepalanya pada dokter itu.
Melihat itu membuat Arjin sedikit lega, karena setidaknya putrinya dicintai dengan tulus Tiger.
"Tuan bisa pindahkan nona Aila ke ruangan anda tadi."
Dengan segera Varen menggendong tubuh Aila menuju ruangan tempatnya terbangun tadi. Dibaringkannya perlahan tubuh Aila di kasur itu, tapi tetap menggengam erat jemari tangan Aila dan terus menciumnya tanpa henti.
"Saya akan menyuntikkan obat penenang untuk nona Aila, tuan." Izin pak dokter yang langsung disetujui Varen.
Dan ya, setelah beberapa detik kemudian Aila kembali tenang. Dia sudah tidak kejang, tapi kini dia tertidur lelap karen pengaruh obat yang masuk ke tubuhnya.
"Sayang, maafkan aku--"
"Sungguh maafkan aku. Aku tidak bermaksud memperlihatkan amarhaku didepan matamu. Aku hanya tidak menyadari kehadiranmu, sayang."
__ADS_1
Tidak henti hentinya Varen meminta maaf pada Aila yang bahkan tidak mendengar sama sekali apa yang dikatakan oleh suaminya itu.