
"Apa aku semenakutkan itu?" Bisik Tiger ditelinga Aila, kemudian dia menarik tubuh Aila untuk dipeluknya.
"Lepas--" Aila berontak hingga dia terlepas dari pelukan Tiger. Hal itu tentu saja membuat Tiger marah. "Maafkan aku Tuan. Jika tuan mengiginkan aku saat ini, sungguh aku tidak bisa--" Aila beranjak dari tempat tidur dia melangkah sedikit menjauh dari Tiger yang tidak melepaskan tatapan tajam mengintimidasi itu.
"Kau berani menolakku?"
"Aku tidak bermaksud--"
Belum sempat Aila menyelesaikan perkataannya, Tiger sudah kembali merengkuh tubuh itu. Aila tersudut di dinding kaca dalam kungkungan Tiger yang mencekal erat kedua pergelangan tangannya diatas kepala. Dan Tiger menatap penuh amarah. Tatapan tajam itu seakan mampu membolongi kepala Aila saat itu juga.
"Tidak ada yang bisa menolakku, Aila. Kau mulai berani karena aku terlalu lembut padamu. Kau perlu di hukum!" Tiger langsung mencium kasar Aila. Dia bahkan tanpa sadar mengcekal kedua pergelangan tangan Aila dengan sangat erat saat Aila mulai berontak.
"Tidak tuan. Tolong jangan lakukan ini--" Ucap Aila terbata bata karena Tiger berusaha menyumpal mulut Aila dengan bibirnya. Sekuat apapun Aila berontak, dia tetap tidak akan menang dari Tiger.
"Mhmm-- Akuuu-- Mhh."
Tiger sama sekali tidak memberi Aila kesempatan untuk bicara.
Satu tangan Tiger tetap fokus mencekal kedua pergelangan tangan Aila, sementara satu tangan lainnya tampak mulai melepas ikat pinggangnya. Oh tidak. Aila benar benar dalam masalah besar.
Hanya butuh tiga detik Tiger sudah melepas ikat pinggangnya. Dia juga mencoba melepas celananya. Namun, sebelum itu terjadi, entah kekuatan dari mana yang membuat Aila mau tidak mau menendang bagian inti Tiger dengan lututnya. Lalu Aila juga mendorong kuat tubuh Tiger menjauh darinya dengan tubuhnya.
"Aakkhwww--"
Suara itu milik Tiger. Dia merasakan nyilu yang teramat sangat dibagian tubuh intinya. Pegangannya pada kedua pergelangan tangan Aila terlepas, dan saat ia masih berfokus pada rasa nyilu itu Aila berlari masuk kedalam kamar mandi dengan mengunci pintunya.
"Ailaa----" Teriak Tiger murka.
__ADS_1
"Maafkan aku tuan. Sungguh aku sedang mestruasi saat ini. Kita tidak boleh melakukan itu disaat aku sedang mengalami hal ini. Maafkan aku--"
Suara Aila begitu lantang dan jelas terdengar oleh Tiger. Dan mendengar kalimat itu, membuat Tiger sedikit mengendalikan emosinya. Tapi, dia masih tetap marah pada Aila yang telah beraninya menendang kebanggaannya. Dia tidak mengerti bagaimana Aila terpikir untuk menendang itu. Apa Aila tidak berpikir, perbuatannya bisa saja menjadikan fungsi senjatanya itu jadi lemah. Bukankah jika itu terjadi, Aila juga yang akan di rugikan.
"Tuan! Apakah tuan baik baik saja?"
Aila berteriak dari dalam kamar mandi. Meski bagaimanapun dia mulai mengkhawatirkan keadaan Tiger diluar sana. Karena tidak ada suara sama sekali.
"Tuan! Tuan pingsan?"
Masih tidak ada suara. Aila benar benar merasa bersalah. Tapi, itu satu satunya cara yang terpikir olehnya untuk bisa melepaskan diri dari Tiger.
Dan Tiger. Dia sudah mulai merasa lebih baik, meski masih terasa nyilu. Tanpa menyahut panggilan Aila dari kamar mandi, Tiger pun meninggalkan kamar itu. Dia tidak mungkin melakukan itu dengan Aila karena wanita itu sedang kedatangan tamu bulanan. Dan itu artinya Aila tidak hamil seperti yang di gosipkan Lyn dan Pin.
Setidaknya ada perasaan lega dihati Tiger, karena Aila tidak benar benar hamil. Sungguh Tiger belum siap untuk yang satu itu. Meski usianya sudah cukup tua, tapi dia tidak bisa membayangkan dirinya di panggil ayah oleh seorang bayi. Tiger bahkan tidak berani untuk sekedar membayangkannya saja pun malas.
Langkah Tiger terdengar tenang. Dia menuju ruang kerjanya. Tapi sebelum itu dia meminta Jack untuk menyampaikan pesannya pada Seon untuk segera menemuinya. Dan Seon saat ini tengah bermesraan dengan Lyn di kamarnya. Suasana mendung di sore ini membuatnya butuh pelukan hangat dari kekasihnya itu.
Saat Seon masuk ke ruang kerja Varen. Dia mendapati Varen tengah merintih kesakitan sambil mengelus bagian inti tubuhnya. Awalnya Seon pikir Varen sedang menuntaskan hasratnya hingga membuatnya hampir mengurungkan niat untuk menemui Varen. Namun, mendengar suara rintihan itu membuat Seon penasaran dan memutuskan menghampiri Varen yang duduk di sofa dengan kedua kaki terbuka lebar.
"Apa yang terjadi, Tiger?"
Mendengar suara Seon membuat Varen menghentikan aktivitasnya. Dia pun langsung menatap Seon dengan tatapan tenang seperti biasanya.
"Kau disini rupanya--" Varen berdiri, dia melangkah dengan cara yang aneh saat menuju mejanya.
"Punyamu terluka?"
__ADS_1
Pertanyaan Seon barusan mengubah tatap mata tenang Varen menjadi tatapan tajam setajam mata elang yang siap menangkap mangsanya.
"Maaf Tiger. Sepertinya aku mengatakan hal yang tidak seharusnya." Seon sedikit menundukkan kepala sebagai tanda permohonan maafnya.
"Lupakan tentang itu. Ada yang jauh lebih penting dari masalah ini." Tangan Varen mengambil sesuatu yang kecil dari laci mejanya. "Kau harus melihat apa yang aku temukan di dalam Sd card sialan ini."
"Sd card ini-- dari tubuh Mask Rabbit?" Seon masih sangat ingat tentang buruannya yang berhasil dilumpuhkannya beberapa bulan yang lalu.
"Kau akan terkejut setelah melihatnya."
Tanpa berpikir lama lama, Seon langsung memasukkan Sd card itu untuk disambungkan ke layar laptop yang ada di meja kerja Tiger. Dengan sangat fokus dia mulai menonton sebuah rekaman cctv yang merekam rumah sakit bersalin yang ada di salah satu kota di Indonesia.
"Apa yang dia lakukan di sana?"
Seon terus menonton video itu, hingga beberapa saat kemudian dia dapat memahami suatu kenyataan yang amat sangat mengejutkan.
Mask Rabbit membunuh bayi dan membuangnya di tong sampah rumah sakit tersebut. Setelahnya mask Rabbit menghubungi seseorang yang disebutnya Arnold yang dipanggilnya Snake king. Pria itu mengatakan bahwa dia telah membunuh bayi dari Lion king yang berhasil dicurinya dari rumah sakit bersalin di Thailand. Tapi, yang dibunuh oleh pria itu bukanlah bayi Lion king melainkan cucu kandung Cakra.
Kedua bayi itu tertukar saat mask Rabbit meninggalkan bayi Lion king sebentar di keranjang bayi, sementara dirinya ke toilet. Saat bersamaan seorang suster datang ke ruangan itu, dan membawa keranjang bayi yang didalamnya adalah bayi Lion king, bayi itu di bawa oleh Suster itu ke ruangan istri Ciko Tuniwara. Suster itu mengira bayi yang dibawanya adalah bayi yang beberapa jam lalu telah dilahirkan oleh istri Ciko. Dan Cakra menyambut bahagia Cucunya itu. Dia yang pertama menggendong bayi yang dia kira benar benar cucunyanya.
Sementara itu, di ruangan bayi. Tampak seorang Suster baru saja kembali setelah memandikan bayi yang sebenarnya adalah Cucu dari Candra dan anak dari Ciko. Suster itu bahkan tampak bingung, karena kehilangan keranjang bayi yang telah di beri nama untuk bayi malang itu. Suster meletakkan bayi malang itu di keranjang bayi tanpa nama, dia pergi sebentar untuk mengambil sesuatu. Pada saat itulah Mas Rabbit kembali dari toilet dan langsung membawa bayi malang itu tanpa memeriksa kembali.
Bayi malang itulah yang telah di bunuh oleh mask Rabbit. Sementara bayi Lion king berada dalam gendongan Cakra Tuniwara.
Seon terdiam setelah menyaksikan video itu. Sebentar dia menatap wajah tenang Tiger. Bagaimana mungkin Tiger bisa setenang ini setelah mengetahui kenyataan bahwa Arnold yang telah menculik bayi Lion king. Arnold sengaja melakukan itu untuk mengadu domba Lion king dan Tiger king.
Lion king benar benar mengira bayinya di curi oleh Tiger king. Hingga Lion king murka, dia memerintahkan anak buahnya untuk menculik istri dan anak bungsu Tiger king, menjadikan mereka sanderaan, lalu menjadikan si bungsu sebagai umpan untuk akhirnya membunuh Tiger king. Hari itu, saat itu, Varen si putra sulung king Tiger kehilangan kedua orangtua dan adiknya sekaligus. Lion king memerintahkan anak buahnya untuk membunuh tiga orang terkasihnya sekaligus.
__ADS_1
Mmm, 😔😟 Author sedih deh, kok nggak ada yang komen ya??
Komen dong readers nim, supaya Author tambah semangat nulisnya. 🙈🙊🙏