
Varen kembali ke mansion setelah berpakaian rapi. Dia memilih sarapan di mansion ketimbang di vila. Maklum saja tuan Varen yang angkuh gensi untuk sarapan bersama Aila.
"Selamat pagi, Tiger."
Sapa Jack menyapa melalui alat kecil yang tersambung di telinga Tiger.
"Pagi Jack. Berita terkini."
"Pada pukul empat pagi ini, Dewi mengendap endap masuk ke kamar utama. Sepertinya dia mencari sesuatu, tapi mungkin tidak ditemukannya, melihat dia hanya berada dikamar utama kurang dari dua menit saja."
"Biarkan wanita itu."
"Baik Tiger. Dan berita selanjutnya, Sarwa sepertinya mengalami sakit pada bagian perutnya, setelah dia muntah beberapa menit yang lalu."
"Perintahkan maid untuk mengurusnya."
"Kau tidak ingin memeriksa keadaanya? Juno baru saja memberi kabar, bahwa kandungan Sarwa lemah. Dan dia butuh dukungan dari anda sebagai ayah dari bayi itu."
"Satu satunya wanita yang akan menjadi ibu dari anak anakku hanya Aila Khanza."
Kalimat barusan bukan hanya didengar oleh Jack saja, tapi Lyn, Pin, Kinan, Adam dan Seon yang sedang menyantap sarapanpun mendengar kalimat indah yang keluar dari mulut Tiger barusan.
"Kalian mendengarnya?"
Tiger duduk di kursi paling ujung sendirian menghadap kearah mereka semua yang menatap padanya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Kalian cemburu, karena Aila lebih spesial dari kalian?"
Tiger mulai menyantap sarapannya tanpa memperdulikan wajah wajah bingung orang orang yang ada dihadapannya itu.
"Kau serius dengan omonganmu, Tiger?"
Suara itu milik Adam. Dia sangat penasaran akan keseriusan Tiger pada apa yang diucapkannya.
"Aku hanya mengatakan satu kali, tidak akan ada pengulangan."
"Sebagai sesama wanita, tolong jaga Aila dengan baik. Jangan menyiksanya lagi, Tiger." Sambung Lyn.
"Aku tidak bisa menjanjikan itu untuk saat ini, Lyn. Jadi, habiskan sarapanmu."
Lyn hanya bisa menghela napas, lalu melanjutkan sarapannya. Seon yang mengerti mood kekasihnya itu sedang tidak baik pun memberikan elusan lembut di punggungnya.
__ADS_1
Sementara itu, di kamarnya Sarwa masih terus terusan muntah. Wajahnya terlihat sangat pucat. Sejak tiba di mansion sampai pagi ini belum ada seteguk air atau makananpun yang masuk ke perutnya. Dia mengaku mual bahkan saat melihat air putih saja.
Juno merasa kondisi Sarwa sangat mengkhawatirkan. Mau tidak mau dia harus menemui Tiger, karena Jack bilang Tiger tidak mau menemui Sarwa sama sekali.
"Kalian jangan sampai lengah. Tetap awasi nona Sarwa." Titah Juno pada dua orang maid itu.
"Baik tuan."
Langkah kaki Juno membawanya ke ruang makan yang ada di bagian sudut dapur. Beruntungnya saat tiba disana, Tiger masih menyantap sarapannya dengan tenang.
"Ada apa Juno?" Tanya Adam yang khawatir melihat ekspresi wajah Juno yang tampak bingung.
"Tiger. Maaf menggangu sarapan, anda."
Juno mengabaikan Adam, dia langsung bicara pada Tiger yang sama sekali tidak terusik olehnya.
"Nona Sarwa mengidam ingin ditemani makan oleh anda."
"Itu hanya akal akalannya saja." Celetuk Pin dengan senyum sinisnya.
"Dikasih hati minta jantung." Lyn ikut menimpali. Sedangkan Tiger masih terus sarapan dengan tenang.
Melihat Tiger tidak bereaksi, Juno melanjutkan ucapannya. "Sejak tiba di mansion sampai pagi ini nona Sarwa belum makan sama sekali. Dan pagi ini nona Sarwa terus muntah, padahal perutnya kosong. Jika dibiarkan, takutnya akan mempengaruhi bayi dalam rahimnya, Tiger."
"Apakah separah itu?" Hanya itu yang keluar dari mulut Tiger, tapi setidaknya Juno lega.
"Iya, Tiger. Nona Sarwa akan terus muntah dan tidak bisa memakan makanannya karena rasa mualnya. Dia bilang mungkin mualnya akan hilang, jika Tiger bersedia menemaninya makan."
"Kalau begitu bawa dia ikut bergabung di sini. Karena aku tidak akan sudi mendatanginya."
"Baik Tiger."
Saat Juno sudah beranjak pergi untuk menjemput Sarwa, Lyn dan Pin menyudahi sarapan mereka. Dengan tanpa memberi hormat, Lyn langsung pergi. Sementara Pin, dia memberi hormat terlebih dahulu sebelum meninggalkan meja makan.
Kinan tampak bingung, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jika beranjak meninggalkan meja makan, dia merasa sangat tidak sopan pada Tiger yang masih lahap menyantap sarapannya. Berbeda dengan Kinan, Adam dan Seon pun juga mengikuti Pin dan Lyn. Bedanya mereka memberi hormat terlebih dahulu pada Tiger.
"Kau tidak pergi, Kinan?"
"Ya? Ah, bolehkah saya pergi, Tiger--"
"Alangkah lebih baik jika kau tetap disini menemani saya dan wanita itu. Rasanya akan sangat tidak nyaman hanya berdua saja dengannya." Ungkap Tiger tanpa menoleh sama sekali kearah Kinan.
__ADS_1
Wajah Kinan kembali tampak bingung. Dia tidak tahu harus memaknai bagaimana ucapan Tiger barusana. Apakah Tiger mengatakan yang sebenarnya, ataukah menyindirnya agar segera meninggalkan meja makan.
Tidak berselang lama, Juno kembali dengan memapah tubuh lemah Sarwa. Dengan hati hati Juno membantu Sarwa duduk di kursi yang berdekatan dengan Tiger.
Ah aku rasa aku harus pergi. Pikir Kinan yang langsung berdiri.
"Kinan, apa kau tidak mendengar apa yang barusan aku katakan?"
"Ya? Ah, ya." Kinan pun kembali duduk.
"Juno, kau pun harus sarapan."
"Baik Tiger."
Juno ikut duduk agak jauh dari Sarwa dan Tiger. Dia duduk berhadapan dengan Kinan.
"Kau mau sarapan apa?" Tanya Tiger dengan nada datarnya.
Sarwa menunjuk salah satu menu sarapan. Tiger pun langsung mendekatkan piring yang berisi makanan yang ditunjuk Sarwa.
"Makanlah. Kau butuh tenaga untuk menjaga agar bayimu tetap baik baik saja."
Sarwa tersenyum sangat lebar, dia merasa bahagia dan seketika rasa mualnya benar benar hilang. Dia menyantap sarapannya dengan lahap sampai hampir tersedak, beruntungnya Tiger siaga memberikan segelas air putih padanya.
Ternyata Tiger romantis sekali. Dia bahkan terlihat baik dan siaga menjaga nona Sarwa yang sedang hamil. Pikir Kinan yang diam diam memperhatikan tindakan Tiger yang tampak sangat menjaga Sarwa.
"Selesaikan sarapanmu. Aku harus segera pergi." Tiger menyelesaikan sarapannya lebih cepat. Dia langsung melangkah pergi tanpa peduli Sarwa menatap dengan tatapan sedih.
"Nona Sarwa baik baik saja?" Tanya Juno.
"Tidak."
"Makan saja sarapanmu, nona Sarwa. Jangan berharap terlalu banyak pada Tiger. Aku rasa kau pun cukup tahu seperti apa seorang Levarendo Mark."
Suara itu milik Kinan. Dia pun meninggalakan meja makan, selera makannya hilang melihat bagaimana ekspresi wajah Sarwa yang sok sok an menjadi korban.
Mata Sarwa merah menyala menatap punggung Kinan, tangannya pun ikut menggenggam erat sendok yang ada ditangannya. "Hiaaaakkkk---" Pekiknya tapi tertahan, hingga suara yang keluar pun hanya sedikit saja.
"Juno, bisa kau habisi anak kecil itu? Mulutnya sangat tidak sopan."
"Sebaiknya tahan emosi anda, nona. Itu lebih baik jika anda tak ingin di usir dari mansion."
__ADS_1
Mendengar kalimat itu membuat Sarwa sedikit lebih tenang. Dia pun akhirnya melanjutkan sarapannya dengan lahap.