
_Pukul 14:00 siang_
Cukup lama Aila tidak sadarkan diri. Dan sejak kedatangannya ke markas Snake, Lion king malah dilarang untuk menemui putrinya. Arnold malah mengancam akan menyakiti Aila jika Lion tidak patuh padanya. Mau tidak mau Lion patuh, dia mencoba sabar dan tetap diam demi keselamatan nyawa putrinya yang telah lama dirindukannya.
Bahkan saat Lion hendak mengirim pasukannya untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah di mansion Tiger-pun, Snake mengancam akan membunuh Aila jika Lion tidak memerintahkan anak anaknya untuk berhenti ikut campur. Sungguh Snake telah berubah menjadi pemangsa yang hebat, dia bahkan berhasil membuat Lion tidak bisa bergerak sama sekali.
"Aila benar benar luar biasa. Kehadirannya bisa membuatku membunuh dua buruan sekaligus." Gumam Snake saat dia menjenguk Aila beberapa saat yang lalu.
Dan disinilah Aila saat ini, di kamar mewah tempat Adrian dikurung sejak dia dibawa ke markas ini.
Aila mulai membuka matanya. Hal yang pertama ditangkap oleh bola matanya adalah tempat asing. Dia berada disebuah ruangan yang cukup besar, sama seperti kamar utama mansion Tiger. Tapi Aila cukup yakin ini bukan kamar utama mansion Tiger. Aila mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Saat itulah Tangannya langsung menyentuh permukaan perutnya dan Aila merasa perutnya sudah tidak sakit tapi, dia merasa sangat lemas seakan ada yang hilang dari tubuhnya. Apa yang telah terjadi? Apa dia keguguran?
"Sayang, kamu sudah bangun?"
Suara itu bukan suara Tiger. Itu suara Adrian.
"Apa yang kamu lakukan padaku, Adrian?" Aila hendak bangkit dari posisi berbaringnya. "Apa yang terjadi padaku?" Pekiknya saat melihat selang infus tertanam di pergelangan tangannya.
"Jangan banyak bergerak dulu, sayang. Kau harus istriharat dengan nyaman." Adrian mendekatinya, mencoba menyentuh wajahnya tapi segera ditepis Aila dengan kuat tangan itu.
"Apa yang kamu lakukan padaku, Adrian!"
Mata Adrian memerah. Dia sedang mencoba mengendalikan diri untuk tidak marah pada Aila. Tapi, mendapati perlakuan dingin Aila membuatnya marah. Adrian mendekatkan wajahnya hingga membuat Aila memalingkan wajahnya kesamping.
"Kamu membenciku, Aila?" Bisiknya.
Perlahan Aila menoleh pada Adrian, dia menatap bola mata Adrian yang tampak berbeda dari biasa. Bukan berbeda. Mungkin memang selama ini Adrian seperti ini, hanya saja Aila belum pernah benar benar menatap bola mata Adrian sedekat dan sejelas saat ini.
"Kamu mengalami kontraksi hebat."
Akhirnya Adrian menjauh dari Aila, setelah mendapat tatapan tajam dari Aila yang membuat Adrian merasa malu karena telah menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
"Bayiku--"
"Dokter terpaksa mengambil bayimu karena--."
"Adrian, apa hak kamu mengizinkan dokter mengambil bayiku."
"Jangan berteriak seperti itu padaku Aila. Aku hanya mencoba menyelamatkan nyawamu. Jika memilih mempertahankan bayimu maka nyawamu dalam bahaya. Aku tidak ingin kehilangan kamu Aila. Tidak lagi." Adrian mengatakan itu juga dengan berteriak dan penjelasan itu membuat Aila menangis.
__ADS_1
"Aaakkkkhhhrrr, ALLAHUUU--- Sakiiiiittttt!" Aila menekan kuat dadanya yang terasa pengap, hatinya bahkan sangat sakit seperti ada puluhan pisau yang menyayat nyayatnya.
"Aila, maafkan aku. Aku hanya tidak bisa membiarkan kamu kesakitan. Aku mohon maafkan aku Aila."
Adrian memeluk Aila. Dia mencoba menenangkan Aila yang mengamuk dan terisak sejadi jadinya, hingga akhirnya Aila kembali kehilangan kesadarannya.
...🐯(NATM)🐯...
Lyn membuka matanya, dia sudah siuman. Sayangnya tubuhnya terikat dalam keadaan berdiri, tapi kakinya tidak benar benar menapak dilantai. Dia menoleh kesegala arah yang bisa dicapai oleh matanya, tidak ada apa apa diruangan itu, selain lantai dan dinding yang berlumut.
Tiba tiba Lyn merasa ada seseorang yang bergerak dibelakang punggungnya yang menempel kuat kepermukaan tiang besar yang dingin. Tangan asing itu menyentuh punggung tanganya.
"Hei siapa kau!" Lyn bertanya dan berusaha untuk bisa melihat siapa pemilik tangan itu tapi tidak bisa.
"Lyn, apakah itu kau?"
Itu suara Pin. Oh Tuhan Lyn merasa sedikit lega karena ternyata dia bersama Pin di tempat kumuh ini. "Pin, kau ternyata bersamaku sejak tadi."
"Ya. Mereka mengurung kita di tempat dingin ini."
"Kau baik baik saja Pin?"
"Tahan sebentar, Pin. Jangan gerakkan kakimu, biarkan sampai kesemutannya hilang."
"Itulah yang kulakukan saat ini. Apa kau baik baik saja Lyn?"
"Aku lebih buruk Pin. Aku sudah menahan pipis sejak tadi. Rasanya lebih menyiksa dibanding kakimu yang kesemutan."
Mendengar penuturan Lyn membuat Pin tersenyum geli.
"Dimana ini, Pin?"
"Aku rasa kita berada di markas Snake. Aku melihat simbol kepala ular di tembok."
"Aku juga melihat simbolnya. Ini semua karena kebodohanku. Maafkan aku Pin. Aku begitu cepat percaya pada apa yang dikatakan bocah itu."
"Kau hebat Lyn. Kau sangat berhati mulia. Kau tahu, sikap keibuanmu itu lah yang membut Seon jatuh hati padamu."
"Hey, mengapa tiba tiba membahas Seon?"
__ADS_1
"Ya aku harus mengatakan itu. Karena, jujur aku lebih dulu menyukai Seon."
"Apa? Kau serius, Pin?"
Lyn tidak pernah tahu Pin menyukai Seon. Tidak sekalipun Lyn melihat ada yang mencurigakan dari Pin saat sedang berinteraksi dengan Seon.
"Aku serius."
"Kenapa kau mengatakannya sekarang? Apa kau berniat untuk mengambil Seon dariku?"
Pin tertawa cukup keras. Hal itu membuat Lyn pun ikut tersenyum meski hatinya sedikit terusik saat mengetahui bahwa Pin menyukai kekasihnya.
"Ya, aku akan mengambil hati Seon jika kau tidak bisa keluar dengan selamat dari tempat ini. Tapi, kalau kau yang selamat, berarti aku tidak akan pernah bisa mendapatkan Seon."
"Kita akan selamat, Pin. Kau boleh merebut Seon dariku jika kita sama sama selamat."
Lyn tidak benar benar serius mengatakan itu. Dia hanya sedang menghibur diri dan juga berusaha membuat suasana menjadi sedikit lebih tenang.
"Aku sudah tidak menyukai Seon. Aku menyukai pria lain, sekarang--"
Lyn tersenyum. Rasanya dia menyadari, Pin hanya sekedar mengoceh untuk membuat mereka sedikit lebih tenang.
"Siapa? Jack?"
"Tidak. Kau salah. Kau sangat tidak peka, Lyn."
"Aku tahu, kau menyukai Adam, kan?"
"Adam berkencan dengan Ririn."
"Apa? Wah Adam ternyata pembohong." Rutuk Lyn kesal. Karena baru beberapa minggu lalu Adam mengaku belum bisa move on darinya dan dia percaya itu.
"Adam hanya sekedar ingin menggodamu Lyn. Ah sudahlah kau sungguh polos." Oceh Pin malas.
Lyn menghela napas hingga rasa ingin pipis itu kembali menyerangnya. "Pin aku mau pipis. Haruskah aku pipis sekarang dalam keadaan seperti ini--"
"Coba saja kalau kau ingin aku mengadukannya pada Seon."
"Pin--- Jangan lakukan itu. Aaaarrrrr aku sudah tidak tahaaaannnn."
__ADS_1
Bukannya mencarikan solusi Pin malah tertawa terbahak bahak mendengar jeritan Lyn yang tidak tahan ingin segera melepaskan air seninya.