
Tiger memerintahkan anak anaknya untuk menguburkan semua mayat yang tewas di mansion hari ini. Dan setelah menyelesaikan pemakaman, Tiger mengajak Seon untuk melihat kuburan Dino dan juga phi Tam yang ada di area mansionnya yang sudah hangus terbakar.
Sementara Seon menemani Tiger, anggota lainnya tetap di mansion Lion. Mereka menemani nyonya Bhika dan Aila yang masih berkabung.
Sementara, Ben di bantu oleh Adit, Adam dan Kinan untuk mempersiapkan strategi untuk melawan penyerangan Snake king nanti malam. Ben benar benar menggebu gebu. Dia ingin menembak langsung kepala Arnold yang ternyata adalah dalang dari semua perselisihan ini.
Sedangkan Ririn menyelidiki MD group untuk mencari bukti bahwa Arnold merupakan pimpinan yang korupsi. Ya, rencana yang di instruksikan Tiger adalah memenjarakan Snake beserta semua bawahannya tanpa terkecuali. Bahkan sebenarnya Tiger juga ingin agar Adrian mendapatkan hukum penjara. Sayangnya, Adrian keluar dari misi yang direncanakan Tiger, hingga pria malang itu mati mengenaskan.
Bhika akhirnya terlelap setelah menangis cukup lama. Bagaimana dia tidak menangis, dia baru saja kembali dari tidur panjangnya dan baru saja beberapa jam bertemu suaminya, namun suaminya malah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
"Aila, kau baik baik saja?"
"Hmm." Angguk Aila pelan.
Sebenarnya dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, sebab dia masih belum bisa merasakan kasih sayang kedua orangtua kandungnya itu. Jadi, meski tahu ayahnya sudah tiada, Aila hanya merasakan sedikit kesedihan saja.
"Aku akan membawa mama bersamaku, Lyn."
"Ya. Kau harus, Aila. Karena hanya kau yang dia punya saat ini."
Lyn memberikan pelukan hangat pada Aila untuk membuat suasana hatinya membaik.
"Nona Aila, Lyn. Saya sudah menyiapkan makanan, dibantu oleh maid di sini. Mereka meminta kita semua untuk segera makan."
"Mama sendirian di sini. Kalian makan saja dulu, aku akan menyusul." Ucap Aila.
"Biar saya yang menjaga nyonya Bhika, nona Aila."
"Tidak usah madam. Kalian pergilah makan duluan."
Sebentar Susan melirik kearah Lyn yang tersenyum sambil mengangguk seakan memintanya untuk mematuhi Aila.
"Baiklah, kalau begitu kami makan duluan, nona Aila."
Aila mengangguk sambil tersenyum mengiringi kepergian Lyn dan madam Susan.
...🐯(NATM)🐯...
_Markas Snake_
__ADS_1
Kabar tewasnya Adrian dan Baron, menggemparkan semua penghuni markas, terutama Arnold.
"Bajingan itu membunuh Adrian." Gertaknya mengantapkan geraham dan mengepalkan tinjunya.
"Semua ini gara gara wanita pembawa sial itu."
Yang lebih membuatnya marah adalah saat mengetahui ternyata Lion menukar tubuh Tiger dengan mayat lain, sementara Lion menyembunyikan Tiger di mansionnya selama ini.
Napasnya naik turun, emosinya tak terbendung. "Siapkan pasukan, malam ini kita hancurkan masion Lion. Beraninya dia mengkhianatiku dengan berkomplotan dengan Tiger."
"Siap Snake." Jawab salah seorang anak buahnya yang juga memiliki kemampuan menembak dan bela diri yang hampir selevel dengan Baron.
Pria itu pun langsung mengumpulkan semua pasukannya. Dia memberikan instruksi tersusun untuk penyerangan malam ini.
"Tidak ada yang boleh lengah. Ini perang. Jika kita tidak bisa mendapatkan nyawa Tiger, maka tidak ada alasan untuk kita melepaskan Aila." Tegasnya pada anak buahnya.
"Siap kapten."
Sentaja pun dipersiapkan sedemikian rupa. Pasukan mereka cukup banyak jika dibandingkan pasukan Lion ditambah rombongan Tiger. Setidaknya itu membuat Snack merasa dia lebih unggul dan akan memenangkan perperangan ini.
...🐯(NATM)🐯...
MALAM PERTEMPURAN.
"Posisi satu siap!" Ucap Seon.
"Posisi dua siap!" Balas Taw.
"Kinan siap kapten."
"Duo cantik juga siap di posisi tengah." Lyn dan Pin menjaga di depan pintu kamar Bhika dan Aila.
"Adam siap di posisi, kapten."
Adam dan Sony berada di gerbang belakang masion menunggu musuh yang memilih masuk lewat belakang.
"Bagus. Ini perang. Ingat kalian harus mengutamakan keselamatan. Sebisa mungkin hindari tembakan yang bisa membunuh lawan. Perperangan ini bukan untuk membasmi musuh, tapi hanya untuk menangkap mereka hidup hidup dan memberikan mereka pada pihak kepolisian."
Itu suara Tiger. Dia berada di luar gerbang mansion, sendirian tanpa penjaga lain sama sekali.
__ADS_1
"Siap Tiger."
Setelah hampir satu jam mereka bersiap di posisi, Snake king dan pasukannya datang menyerbu dengan langsung membidikkan peluru begitu mendekati area mansion.
Tiger pun dengan lihai menghindari peluru peluru itu dengan baik sambil sesekali menembak lawan diarea kaki, tangan bahu dan paha.
Melihat cara Tiger menembak, membuat Arnold berpikir bahwa Tiger telah kehilangan keahlian menembaknya setelah hampir tewas waktu itu. Hingga dengan percaya dirinya dia membidikkan pelurunya untuk melukai Tiger.
Dorrr
Dorrr
Dorrr
Tidak satupun peluru Arnold yang bisa mengenai tubuh Tiger. Bukan karena Tiger terlalu lihai menghindar, justru dia dibantu oleh Taw dan Vac yang mengalihkan arah peluru dari pistol Arnold kearah lain.
Trik seperti itu memang keahlian khusus yang hanya dimiliki oleh Taw, Vac dan Dino. Jika saja Dino masih ada pastilah perperangan ini akan bertambah seru.
"Kalian semakin luar biasa." Puji Tiger yang ditujukan pada Taw dan Vac.
Sementara Tiger menghindari serangan peluru yang berkali kali hendak menuju tubuhnya, justru Seon dan Adit malah adu jotos dengan pasukan Snake yang mau menerobos masuk. Dan di gerbang belakang, Adam dan Sony juga adu jotos dengan pasukan yang jumlahnya cukup banyak, hingga membuat mereka lumayan kelelahan. Tapi, belum ada satupun pasukan Snake yang bisa masuk ke mansion.
"Madam, apa Tiger akan baik baik saja?"
Aila tampak khawatir. Dia tidak bisa duduk diam, sejak tadi dia mondar mandir di kamar itu membuat Bhika dan Susan ikut khawatir.
"Tiger handal dalam segala hal, nona Aila. Jadi berdoa saja semoga Tiger baik baik saja."
"Harusnya aku tidak melarangnya untuk membunuh jika memang harus dilakukan untuk membela diri." Celotehnya menyesal karena meminta Tiger berjanji padanya untuk tidak membunuh lagi dalam keadaan apapun.
"Haruskah aku mengatakan pada Tiger untuk membunuh musuh?"
"Aila, sayang. Tenanglah, nak. Suamimu seorang pria yang luar biasa hebat. Dia tidak akan terbunuh dan tidak akan membunuh seperti janjinya pada kamu, sayang. Lihatlah, dia bisa memaafkan mama dan ayah demi kamu. Dia pria yang baik, sayang. Jadi, percayalah saja padanya." Bujuk Bhika yang berucap sangat lembut dan hati hati.
"Mama benar."
Aila melangkah menghampiri wanita yang masih asing baginya itu. "Maukah mama memelukku?"
Senyum terlihat diwajah Bhika, direntangkannya tangannya dan Aila masuk kedalam pelukan mamanya. "Terimakasih karena telah melahirkan aku, ma. Maafkan aku, karena ingin melindungiku ayah sampai membunuh dan berakhir terbunuh." Bisik Aila dalam pelukan hangat Bhika.
__ADS_1
Air mata Bhika menetes tak terbendung lagi. Dia menangis sambil mengelus punggung Aila dan mengecup pipi serta kening Aila berkali kali.
Susan pun ikut menangis haru melihat ibu dan anak itu yang memiliki hati yang cukup luas untuk bisa saling memaafkan dan mencintai satu sama lain.