
Varen kini dalam perjalanan berangkat ke Maroko bersama dua orang kepercayaannya, Adit si pilot handal dan Adam si petarung hebat.
Adam sangat merasa bahagia saat Jack mengabarkan bahwa Tiger mengajaknya ikut ke Maroko. Bukan karena dibawa ke luar Negeri, tapi karena akhirnya Tiger memberinya tugas setelah mengabdi selama lima tahun.
"Kau akan lebih banyak menggunakan tenagamu, Adam. Apa itu tidak masalah?"
"Tenang saja, bung. Itu keahlianku." Jawab Adam penuh percaya diri.
Adit tidak mengendalikan jet pribadi milik Tiger kali ini. Adit hanya akan menjadi penembak jitu jika saja nanti di perlukan dalam misi kali ini. Tiger sengaja membawa Adit bukan Seon, karena transaksi kali ini tidaklah begitu bahaya.
Di kursi mewah kabin depan, Varen sedang memantau pergerakan Aila di dalam kamarnya. Sejak tadi dia hanya melihat wanita itu berdiri, lalu membungkuk dan bersujud. Varen tahu, Aila sedang sholat.
"Dia terlalu tenang dalam posisinya sebagai tawanan."
Ada sedikit garis senyum dibibir Varen. Sangat samar, tapi jika ada yang melihatnya, mereka akan tahu bahwa Varen sangat bahagia mengawasi wanita yang disebutnya tawanan itu. Padahal beberapa jam yang lalu Varen sangat nyaman tidur sambil memeluk tubuh 'tawanannya' itu. Benarkah hanya tawanan? Terserah Tiger mau menyebutnya apa.
Di dalam layar tabletnya yang terhubung dengan cctv kamarnya, Varen kembali melihat Aila yang sudah selesai sholat dan telah berganti pakaian. Sayangnya, Aila berganti pakaian di kamar mandi yang tidak terdeteksi oleh cctv. Itu sedikit membuat Varen kesal, padahal dia sangat ingin melihat lagi rambut panjang nan indah milik Aila. Karena kesal akhirnya dia mematikan sistem aktif cctv. Hanya dia yang bisa melakukannya meski sedang dalam jarak yang jauh.
Meninggalkan Varen yang kesal dalam perjalanan menuju Maroko. Pin membawakan makan malam untuk Aila. Sebenarnya ini tugas Lyn, tapi karena Lyn masih marah pada Tiger, dia meminta Pin untuk menggantikannya.
"Kau cantik sekali, Aila."
"Tidak. Saya hanya biasa saja."
Jawab Aila sendu. Dia tampak gelisah dan seperti sedang ingin mengatakan sesuatu pada Pin. Itu bisa terbaca jelas oleh Pin.
"Ada apa, Aila?"
"Mm-- Pin."
"Katakan, manis. Tidak usah sungkan."
Pin menata makan malam diatas meja yang terletak di sudut ruangan itu dilengkapi dengan sofa mewah berwarna abu abu tentu saja.
"Saya lapar, Pin." Ungkap Aila sambil memegangi perutnya.
Terakhir Aila makan di hotel saat masih di Pattani sebelum mereka kembali ke mansion.
"Makanan ini untukmu, manis." Pin mendekati Aila yang tampak tidak baik baik saja. "Kau bahkan tak menyentuh makan siangmu."
"Apakah itu makanan halal, Pin?"
__ADS_1
Pin bingung. Dia sungguh tidak tahu makanan halal seperti apa yang dimaksud oleh Aila. Setahu Pin makanan haram itu seperti daging babi, anjing dan mungkin alkohol. Tapi, makanan yang disajikan Pin adalah makanan sehat, sup sapi dan juga nasi, serta steik sapi yang dimasak langsung oleh koki kesayangan Tiger. Tentu rasanya akan sangat lezat.
Bahkan Pin dan seluruh anak anak Tiger belum pernah menyicipi masakan koki khusus sang Tiger. Dan lagi lagi, Aila yang pertama kalinya mendapatkan perlakuan khusus tersebut dari sang pimpinan.
"Maksud saya-- Mungkin, saya hanya ingin makan sayur dan ikan. Dan tidak perlu bumbu hanya perlu di panggang saja, sayur cukup di rebus sebentar dengan air." Lanjut Aila memberanikan diri, karena dia bisa melihat kebingungan di wajah Pin.
"Baiklah, aku akan meminta koki untuk membuatkan apa yang kamu inginkan."
Pin menaruh kembali mangkok sup dan piring steik kembali kedalam nampan.
"Tidak, Pin. Saya ingin membuatnya sendiri."
"Tentu saja tidak, Aila. Atau kau mau aku dan seluruh koki yang ada di dapur di hukum oleh Tiger karena membiarkanmu memasak makananmu sendiri?"
"Pin, Saya hanya seorang tawanan dan saya hanya sebagai alat pe-mu-as baginya. Kenapa dia akan menghukum kalian hanya karena saya--" Aila merasa sangat rendah saat mengatakan kalimat itu. Rasanya menyakitkan menerima kenyataan dirinya hanyalah tawanan dan alat pe-mu-as bagi lelaki yang mungkin bisa disebut sebagai suaminya.
"Aila, jangan bersedih. Kau tidak boleh bersedih seperti itu." Pin meletakkan nampannya kembali, lalu menghampiri Aila untuk memeluknya.
"Kau tahu, Tiger mungkin menganggapmu seperti itu. Tapi, percayalah hanya kau yang diperlakukan spesial olehnya di mansion ini. Jadi sudah pasti kau berharga untuknya, manis. Dan cobalah untuk bicara santai padaku dan juga Lyn."
"Tidak Pin. Dia tidak begitu."
Aila melepas pelukan Pin, dia kembali duduk diatas ranjang sambil menghapus air mata yang hampir tumpah itu.
"Aku paham apa yang kau rasakan, Aila. Tapi kau harus tau, Tiger tidak sejahat yang kau pikirkan. Dia sangat baik jika saja kau bisa meraih hatinya. Bersikap sopan dan penurut padanya, maka dia akan memperlakukanmu dengan baik." Pin mengelus lembut punggung Aila.
Krrrruuukkk--
Itu suara perut Aila, yang akhirnya membuat Pin maupun dia tertawa.
"Baiklah, karena kau sudah sangat lapar mari kita masak makananmu ke dapur."
"Bolehkah?"
"Mungkin. Tapi apapun yang akan terjadi nanti, aku akan menghadapinya, manis. Asalkan perutmu terisi."
Aila tersenyum senang. Kemudian mereka melangkah menuju dapur. Ini kali pertama Aila keluar dari kamar itu dan sedikit berkeliling di mansion untuk menuju dapur.
"Tempat apa itu, Pin?"
Aila menunjuk kearah ruang kerja Tiger yang tertutup rapat.
__ADS_1
"Itu ruang kerja Tiger."
"Kenapa kalian memanggilnya Tiger? Apa Tiger itu sebenarnya, Pin?" Aila tidak tahan ingin menanyakan perihal itu. Dia tahu Tiger adalah harimau. Tapi, apa itu harimau yang dimaksud disini. Apakah mereka sekelompok organisasi mafia yang menyebut diri mereka harimau? Jika iya, apa yang mereka lakukan sebenarnya dan kenapa dirinya terjebak ditempat ini?
"King Tiger merupakan gelar kehormatan untuk tuan Varen. Dan semua yang ada di mansion ini bagian dari Tiger yang disebut sebagai anak anak Tiger."
Pin menjawab pertanyaan Aila, tentunya karena telah mendapat izin dari Tiger secara langsung. Dan Aila mengangguk paham, sejauh ini Aila menganggap mereka sekelompok mafia yang bergelar Tiger.
"Apa mungkin Tiger dan kalian semua bisa disebut seperti sekelompok mafia?" Akhirnya Aila menanyakan hal itu untuk lebih meyakinkan kecurigaannya pada Varen.
Pin sedikit terkejut dengan pertanyaan Aila. Tapi, dia menjawab dengan tenang sambil tersenyum. "Ya. Tiger dan kami adalah mafia."
"Dan aku seorang tawanan mafia. Tapi, apa yang Tiger harapkan dari menjadikan aku tawanan? Mungkin, kamu tahu sesuatu tentang itu Pin."
Pin menggeleng dia tidak tahu tentang itu dan memang Tiger pun tidak mengizinkan siapapun memberitahu Aila jika saja mereka tahu alasan Aila menjadi tawanan Tiger.
Langkah mereka semakin jauh, Aila melihat tempat tempat lain seperti cafe dan disebelahnya seperti klinik. Hal itu mengalihkan perhatiannya dari pembicaraan yang masih belum bisa ia simpulkan tentang mengapa dirinya menjadi tawanan sekelompok mafia.
"Itu mini bar. Tempat Tiger dan semua anak anak Tiger menikmati minuman yang kau sebut haram." Pin mengatakan itu sambil tersenyum pada Aila yang tampak bingung karena Pin seperti bisa mengetahui isi pikirannya. "Dan di sebelahnya adalah klinik.",
"Mansion ini sangat luas. Ada bar dan Klinik juga di sini. Pasti ada mini market juga di sini dan lapangan tempat olahraga mungkin." Aila mulai menebak.
"Wah, kau bahkan bisa menebak dengan benar, manis."
Aila tersenyum senang, karena ternyata tebakannya benar. Dia hanya asal menebak saja padahal.
"Dibelakang sana juga ada arena berkuda dan ada tempat memanah, latihan bela diri dan juga tentunya tempat latihan menembak."
"Benarkah? Bolehkah aku menunggangi kuda dan memanah?"
Aila tampak bersemangat. Dia pernah berkuda sambil memanah saat masih di pesantren. Itu olahraga yang dikhususkan untuk para santriwati terutama Aila.
"Kau bisa menunggangi kuda?"
"Tentu. Aku disebut atlit berkuda dan memanah yang berbakat dulu."
"Wow, mengagumkan sekali. Tapi bagaimana kau melakukannya dengan pakaianmu seperti ini atau-- aku tidak bisa membayangkan kau memakai pakaian berkuda yang super ketat." Pin melirik tampilan Aila dari atas sampai bawah.
Aila selalu memakai stelan tunik selama beberapa hari di mansion ini.
"Aku bisa melakukannya dengan pakaian seperti ini, Pin. Lagi pula meski memakai rok, aku tidak melupakan celana panjang juga dalam rokku."
__ADS_1
Aila sedikit menarik keatas roknya untuk memperlihatkan celana treningnya yang tentunya dibelikan juga oleh Lyn saat di Pattani.
"Kau luar biasa, manis." Puji Pin pada Aila.