Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 27


__ADS_3

Aila mencoba membangunkan Adrian. Dia bahkan memindahkan kepala Adrian keatas pangkuannya. Karena lantai itu sangat dingin dan juga kotor. Adengan romantis itu dilihat langsung oleh Tiger melalui tabletnya. Dia seperti sedang menonton drama bergenre romantis.


"Adrian bangun? Adrian--" Aila hanya menggoyangkan tangan Adrian yang terbungkus lengan jaketnya. Aila tidak benar benar menyentuh kulit Adrian secara langsung dengan tanganya. Bahkan sebenarnya Aila merasa aneh dengan kepala Adrian yang berbantal di pahanya. Tapi dalam kondisi seperti ini, dia hanya mencoba melindungi Adrian.


"Aku mohon, bangun--" Tangis Aila pecah. Dia benar benar khawatir jika sampai Adrian tidak akan membuka matanya.


"Uhukk--" Adrian terbatuk. Lalu dia mulai menggerakkan matanya. Dia melihat wajah Aila yang bersedih, tapi Adrian menganggap dirinya sedang bermimpi. "Ah aku bahkan sampai bermimpi melihatmu menangis, Aila. Oh aku benar benar merindukanmu." Oceh Adrian yang masih setengah sadar.


"Adrian. Ini aku. Aku juga merindukanmu." Aila mengatakan itu sambil menghapus air matanya. Ia berhenti menangis saat Adrian mulai sadarkan diri.


Mendengar suara Aila membuat Adrian membuka lebar matanya. Dia menatap sekali lagi wajah Aila yang menunduk menatapnya. Dengan segera Adrian duduk, lalu tanpa pikir panjang, dia memeluk Aila. "Aila. Ini benar kamu?" Mengeratkan pelukannya.


Sementara Aila terdiam tak berkutik. Dia tidak menyangka Adrian akan memeluknya secara tiba tiba. Hal itu membuat Aila menyadari sesuatu, mungkin Tiger melihat adegan seperti ini. Lalu, dengan segera Aila mendorong tubuh Adrian menjauh darinya hingga pelukan mereka terlepas.


"Maafkan aku, Aila. Aku tidak bermaksud melakukan itu. Aku hanya terlalu bahagia bisa melihatmu lagi. Aku sangat merindukanmu Aila." Ungkap Adrian tanpa mengalihkan pandangannya pada wajah Aila yang sedikit menunduk.


Pin dan Taw berdehem serentak, membuat perhatian Adrian teralihkan pada mereka.


"Kamu--" Adrian menunjuk kearah Taw dengan tatapan marah, tapi kemudian, dia menatap area sekelilingnya. Dia baru menyadari bahwa saat ini dia dan Aila tengah berada di dalam penjara di ruang bawah yang dingin.


"Aila, kamu baik baik saja?"


Adrian mendekati Aila. Dia melihat Aila tampak kedinginan, itu membuatnya langsung membuka jaketnya dan memberikan pada Aila. "Kamu pasti kedinginan. Aku tahu kamu tidak tahan dingin. Pakailah ini."


Prokk--

__ADS_1


Prokk--


Suara tepuk tangan itu berasal dari Tiger. Dia melangkah sambil bertepuk tangan.


"Siapa anda? Apa yang anda inginka? Kenapa mengurung Aila ditempat ini?" Teriak Adrian murka. Sedangkan Aila masih tetap duduk diam menahan rasa dingin yang mulai menusuk hingga ke tulang. Aila benar benar benci rasa dingin.


"Kau terlalu banyak mengajukan pertanyaan. Itu sedikit membuat saya bingung harus menjawab yang mana terlebih dahulu." Jawab Tiger dengan nada suara beratnya yang mengintimidasi.


"Apa maumu?" Pekik Adrian lagi.


Saat Tiger hendak menjawab, fokusnya teralihkan pada Aila yang menarik kuat ujung baju Adrian yang berdiri tidak jauh disampingnya. Aila menggigil.


"Aila--"


Kaki Tiger hendak melangkah mendekati pintu tempat Aila dan Adrian terkurung. Tapi langkah itu berhenti saat Aila mulai bicara.


"Tolong, jangan sakiti Adrian, Tuan. Hanya Adrian yang aku punya-- Aku rela menjadi budak Tuan selamanya, bahkan-- aku rela menerima segala cambukan-- atau apapun itu, asalkan tuan membebaskan Adrian-- Dia satu satunya yang aku punya."


Suara Aila gemetar hebat, tapi dia mampu menyelesaikan kalimatnya dengan baik dan jelas, meski terbata bata. Dan Adrian tidak tinggal diam setelah mendengar apa yang diucapkan Aila. Dia lansung menarik tubuh Aila untuk dipeluknya sekali lagi.


Mata Tiger merah, dia sangat tidak suka melihat Adrian memeluk Aila. Hingga tanpa sadar, dia mendekat, membuka pintu itu dan menarik tubuh Aila menjauh dari Adrian. Tubuh Aila yang menggigil itu digendongnya ala pengantin baru.


"Tetap awasi dia." Ucap Tiger pada Pin dan Taw sebelum dia membawa tubuh Aila keluar dari tempat dingin itu.


Adrian terdiam menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Tatapan Tiger menyatakan kemarahannya. Dia marah karena Adrian menyentuh miliknya. Itulah yang dapat ditangkap Adrian dari tatapan Tiger beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Tiger membawa Aila kembali ke kamar. Dia membaringkan tubuh Aila diatas kasur, dan menyelimutinya dengan selimut tebal. Lalu Tiger menyakan penghangat ruangan.


"Apa rasanya lebih baik?" Tanya Tiger sambil mengelus wajah Aila lembut. Dia merasa iba pada gadis itu.


"Tuan, saya mohon lepaskan Adrian." Ucap Aila yang berhasil memancing kemarahan Tiger. Tangannya yang tadi mengelus lembut wajah Aila, beralih menggenggam erat pinggiran kasur.


"Berhenti memohon untuk pria yang merupakan putra dari seseorang yang menginginkan kematianmu, Aila." Tiger memunggungi Aila sambil mengatakan itu, bahkan Tiger mengeraskan rahangnya.


"Apa maksud anda, tuan?"


Suara Aila terdengar sangat pelan dan lemah. Dia masih mencoba bertanya padahal kondisinya saat ini tengah sekarat.


"Arnold memerintahkan seseorang untuk membunuhmu. Dan kau malah memohon untuk keselamatan nyawa putranya?" Teriak Tiger menjelaskan. Dia sudah tidak ingin merahasiakan hal ini lagi dari Aila.


Aila tersenyum. Tiger bahkan melihat sekilas senyum yang didalamnya ada segurat luka yang tersimpan.


"Jika Adrian tahu om Arnold ingin membunuhku, Adrian pasti akan membunuh om Arnold demi menyelamatkan nyawaku, tuan. Itulah mengapa aku memohon pada anda untuk melepaskan Adrian. Jangan sakiti dia, tuan. Aku mohon. Hanya dia satu satunya yang aku miliki didunia ini." Oceh Aila terbata bata, sambil menggigil tapi selalu menekankan kalimat yang jelas.


"Kau bodoh Aila. Kau dibutakan oleh cinta. Kau rela memohon demi pria yang ayahnya menginginkan nyawamu." Rutuk Tiger.


"Aku memang bodoh tuan. Aku bahkan mencintai pria yang akan segera membunuhku--" Itu kalimat terakhir yang keluar dari mulut Aila, setelahnya dia benar benar kehilangan kesadarannya.


Mata Tiger bergetar saat mendengar kalimat yang diucapkan Aila barusan. Wajahnya berbalik untuk menatap wajah pucat gadis itu yang tampak sudah terlelap. Secara otomatis, tangannya kembali menyentuh wajah itu dengan lembut. Tiger bahkan memberikan kecupan hangat dikening Aila sebelum dia meninggalkan kamar itu.


Aku juga bodoh, Aila. Aku mulai menginginkanmu padahal kau adalah putri dari pria yang telah membunuh kedua orangtua dan adikku.

__ADS_1


__ADS_2