
Dewi mendengus kesal mendapat perlakuan kasar dari Tiger pagi ini. Padahal, tadi malan Tiger sampai mengizinkannya untuk tidur di kamar utama. Dia pikir dengan hal itu Tiger sudah menganggapnya lebih dari sekedar Jala-ng-nya.
"Semua ini gara gara gadis mu-ra-han itu." Gumamnya dengan menggertakkan gigi gerahamnya.
"Aku tidak akan tinggal diam." Dewi melangkah masuk kembali ke mansion untuk menemui Aila.
Sementara Sony hanya menggelengkan kepalanya menatap kepergian wanita ular itu. "Dialah yang mu-ra-han. Pagi pagi sudah mena-warkan tubuhnya pada lelaki yang bukan suaminya. Dasar wanita mura-han." Celoteh Sony yang kembali melanjutkan menyiram kembang kembang cantik di rumah kaca.
Varen sudah dalam perjalanan menuju perusahaan. Mobilnya di kendalikan oleh sopir pribadi yang memang khusus untuknya sebagai seorang CEO.
"Tam, kau sudah di kantor?"
Varen menelepon Tam.
"Aku di Hawai. Apa aku lupa memberi tahumu?"
"Sepertinya begitu. Apa yang kau lakukan disana-"
"Menyelam sambil minum air."
Varen tersenyum. "Kau mendapatkan wanita itu?"
"Tidak pernah sekalipun aku gagal dalam misi mengejar tikus yang mencoba lari dengan membawa sejumlah uang Mark group, tuan Varen."
"Ya. Kau selalu berhasil, Tam. Tapi-- bisakah kau membawa tikus itu padaku? Kau tahu, ada sesuatu yang harus aku pastikan dari tikus itu."
"Perintah diterima dan akan segera dilaksanakan, tuan Varen."
"Berhentilah memanggilku begitu, Phi." (Phi, panggilan untuk kakak dalam bahasa Thailand)
"Kudengar kau terluka, nong?" (Nong panggilan adik dalam bahasa Thailand)
"Hanya sedikit."
"Luka tembak tidak pernah menjadi sedikit. Itu luka yang berbahaya."
"Ya, aku tahu, Phi."
"Berhentilah dari dunia itu, nong. Kau memintaku untuk tidak terlibat dengan dunia itu, tapi mengapa kau tidak mau berhenti dan tinggal bersamaku."
"Aku akan segera tinggal bersama, Phi. Tapi, aku butuh sedikit waktu untuk menyelesaikan semuanya."
__ADS_1
"Jangan menjadi pembunuh hanya untuk membalaskan dendam kedua orangtua kita, nong. Jika kau membunuh juga, bukankah itu sama saja kau menjadi seperti mereka yang membunuh kedua orangtua kita?"
Apa yang dikatakan Tam benar. Tapi, Tiger tidak bisa memaafkan begitu saja orang orang yang telah menghancurkan hidupnya.
"Pembicaraan ini mulai tidak asik. Hati hatilah, Phi. Cepat kembali."
Varen mengakhiri pembicaraan itu tanpa peduli bahwa Tam masih ingin bicara padanya.
...🐯(NATM)🐯...
Setelah membuang mawar dan menutup jendela, Aila kembali berbaring di tempat tidurnya. Entah mengapa dia merasa sangat kesal pada Tiger yang membandingkan harga mawar dengan harga dirinya.
"Apa aku serendah itu? Astaghfirullah, kenapa aku merasa sedih hanya karena hal yang tidak berarti seperti ini. Dia bukanlah pria yang patut untuk membuat hatimu terluka, Aila."
Sebentar Aila hanya berbaring diam, matanya menatap langit langit kamar yang tampak sudah usang. Disetiap sudut langit langit itu bahkan ada sarang laba laba. Kamar ini sepertinya sudah cukup lama tidak dihuni.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku mengajak Adrian kabur dari tempat ini--"
Aila tiba tiba bangkit dari tempat tidur. "Adrian. Apa yang terjadi padanya di tempat dingin itu--"
Segera Aila berlari keluar dari kamarnya. Dia melangkah cepat menuju ruangan bawah tanah dimana Adrian dikurung. Tapi, sebelum Aila benar benar sampai di lorong menuju ruang bawah tanah, seseorang menarik kuat ujung jilbabnya yang menyebabkan pentul tajam kembali menusuk bagian bawah dagunya.
"Innalillah--" Teriak Aila kaget.
Suara itu milik Dewi. Dia yang menarik jilbab Aila. Beruntungnya Aila bisa melepaskan diri hingga jilbabnya tidak terbuka.
"Apa masalahmu ja-la-ng?" Teriak Aila yang benar benar tersulut emosi.
Dia mengatai Dewi ja-la-ng dan menatap mengejek pada wanita yang telah mencoba menyakitinya itu.
"Apa? Yaaaa--" Dewi hendak menampar wajah Aila, tapi dengan cepat Aila menahan pergelangan tangan Dewi, hal itu membuat Dewi semakin murka.
"Berani sekali kau mengataiku ***-***. Kau pikir kau berbeda! Kau juga ***-*** murahan--" Pekik Dewi mencoba melepaskan tangannya dari Aila.
"Kau yang mura-han!" Balas Aila sambil menghempas kuat pergelangan tangan Dewi hingga membuat Dewi jatuh terduduk di lantai.
Pertengkaran itu membuat Juno, Adam, Jack, Seon, Adit, Kinan, Lyn dan Pin yang sedang menyantap sarapan pun terganggu. Mereka langsung melangkah menuju sumber keributan terjadi.
"Aila!" Teriak Lyn saat melihat Dewi yang kembali berdiri dan sudah memegang kepala Aila.
Dewi berusaha menjambak rambut Aila yang tersembunyi dibalik jilbabnya. Aila tidak bisa fokus mendorong Dewi menjauh darinya, karena kedua tangannya harus mempertahankan hijabnya agar tidak lepas.
__ADS_1
"Apa apan ini, berhenti kalian!"
Suara tegas itu milik Seon.
Tapi, tidak ada yang mendengar. Dewi dan Aila masih terus saling menjambak. Bahkan Lyn dan Pin ikut menarik tubuh Dewi agar menjauh dari Aila.
"Oh my God." Kinan tercengang melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya.
"Dewi!"
Seon memanggil nama Dewi dengan suara melengkingnya. Dan itu berhasil membuat Dewi berhenti. Dia melepaskan tangannya dari kepala Aila, begitu juga sebaliknya.
"Aila, kau baik baik saja?"
Lyn dan Pin membantu Aila memperbaiki hijabnya. Sedangkan Dewi sibuk memperbaiki rambutnya dan juga gaunnya yang terangkat hingga memperlihatkan pangkal pahanya yang menggoda.
Adit, Jack dan Juno menikmati pemandangan indah itu. Mereka bahkan sampai menelan ludah kasar melihat betapa mulus dan menggodanya paha putih Dewi. Sedangkan Kinan, berusaha menutup matanya menggunakan kedua tangannya, tapi dia malah mengintip dibalik jemarinya yang sengaja dia buat celah disana. Hanya Adam yang benar benar mengalihkan pandangannya kearah Aila, Lyn dan Pin.
"Dewi, apa kau tidak punya baju lain? Kau pikir ini rumah pela-curan!" Teriak Seon murka. "Ganti pakaianmu atau ku usir dari sini--"
"Siapa kau berani mengusirku? Tiger yang membawaku. Dia bahkan mengizinkan aku tidur di kamar utama. Apa kau lupa apa artinya itu--"
"Itu artinya kau ja-la-ngnya!"
Suara itu milik Aila. Dia benar benar tidak menyukai Dewi. Bayangan saat Tiger berhubungan dengan Dewi di ruang kerjanya sebulan yang lalu membuat kebenciannya semakin bertambah pada wanita itu.
"Yaaa, kau juga ja-la-ng-- sialan!" Teriak Dewi hendak memukul Aila, tapi ditahan oleh Adam.
"Berhenti menyentuh Aila atau kau akan berhadapan denganku." Adam memperingatkan.
Dia langsung menarik Dewi menjauh dari sana.
"Lepas-- lepaskan aku, brengsek--" Sekuat apapun Dewi mencoba berontak, pada akhirnya dia akan kalah. Dan kini Adam mendorong kuat tubuh Dewi kembali masuk ke kamarnya. Kemudian Adam mengunci wanita itu didalam kamarnya.
Adam kembali menghampiri Aila. Saat dia kembali, Aila sudah tidak disana. Dia sudah pergi menuju ruang bawah tanah untuk menemui Adrian. Sedangkan Lyn dan Pin kembali ke meja makan, begitu juga dengan yang lainnya.
"Kenapa kalian membiarkan Aila ke ruang bawah tanah? Bukankah kemarin dia pingsan karena tidak tahan dingin--"
"Biarkan dia. Tiger memerintahkan kita untuk mengawasi pergerakan Aila. Kita tidak boleh melarang apapun yang ingin Aila lakukan." Tutur Pin menjelaskan.
Ya. Tiger bahkan meminta Lyn dan Pin untuk berhenti mengantarkan makanan pada Aila.
__ADS_1
"Dia bahkan belum sarapan!" Lyn merasa tidak berselera saat mengingat Aila belum sarapan pagi ini.