
Lyn, Pin, pak tua koki. Ketiga manusia itu kini berada dihadapan Tiger. Apa penyebabnya? Tentu saja kalian tahu. Jangan sampai kalian melupakan malam saat Aila pertama kali dibawa keluar dari kamar oleh Pin untuk memasak makananya sendiri. Dan Tiger baru sempat menghukum mereka sore ini. Lyn dan Pin juga baru tiba tadi pagi dan Tiger baru kembali dari Hongkong sekitar dua jam yang lalu. Kebetulan dia sedang senggang dan digunakanlah untuk memanggil ketiga manusia itu menghadap padanya.
"Ada yang ingin kalian sampaikan?"
Seperti biasa Varen tampak tenang. Dia sama sekali tidak terlihat sedang emosi atau pun marah. Karena dia mengendalikan emosinya dengan baik, walaupun sebenarnya dia sangat ingin menodongkan senjata tajam kewajah wajah mengesalkan itu.
"Maafkan kami, Tiger."
Tiga manusia itu berlutut di lantai meminta maaf. Mereka menyesali apa yang telah terlanjur terjadi. Dan mereka telah berjanji akan menerima hukuman apapun yang akan diberikan oleh Tiger pada mereka.
Dan kini, Aila berada di luar ruangan itu. Dia berdiri di depan pintu sambil berdebat dengan dirinya sendiri, untuk membuka pintu itu atau kembali ke kamarnya. Dia tahu ketiga orang baik itu akan dihukum karena kesalahan yang dia lakukan. Tadinya Aila hendak menemui Pin dan Lyn setelah mendengar kabar mereka telah pulang dari Bali. Tiba tiba langkahnya terhenti saat melihat Lyn, Pin dan pak koki memasuki ruang kerja Tiger.
Hingga akhirnya, setelah perdebatan panjang dengan hati dan pikirannya, Aila membuka pintu itu. Dia melihat tiga orang itu berlutut di lantai, hingga dia pun langsung berlutut tepat di samping pak koki.
"Kau ingin menjadi pahlawan setelah kau menjerumuskan mereka, Aila?"
"Tidak tuan. Saya sungguh akan menerima semua hukuman untuk mereka, karena mereka tidak bersalah sama sekali."
Lyn dan Pin hanya bisa diam menanggapi keberanian Aila yang sangat konyol. Aila sedang dalam masalah besar. Aila menggali kuburannya sendiri.
"Kalau begitu tinggalkan Aila."
Lyn dan Pin ingin berteriak membantah, tapi jika mereka membuka mulut untuk protes, bisa bisa Tiger benar benar akan mengubur Aila hidup hidup. Akhirnya ketiga manusia baik itu meninggalkan Aila diruangan itu untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya.
__ADS_1
Varen melepas ikatan pinggangnya. Dia membelitkan setengah ikat pinggang ditangan kanannya, lalu memecutkan beberapa kali ke lantai.
"Kau harus di cambuk."
Ciissz
Ciszz.
Aila memejamkan matanya erat, dia bahkan mencoba menulikan telinganya agar tidak mendengar suara berdecis yang membuatnya sangat ketakutan. Aila punya trauma dengan ikat pinggang yang dijadikan cambuk. Dia pernah di cambuk oleh seseorang yang tidak di kenalnya saat dia berusia delapan tahun.
Aila kecil yang baru pulang sekolah, tiba tiba di culik. Aila terbangun dalam keadaan kaki dan tangan terikat, serta wajah yang ditutupi kain hitam, serta mulut yang dilakban. Suara gerakan seseorang membuka ikat pinggangnya dan memecutkan ikat pinggang ke lantai membuat Aila sangat ketakutan saat itu, bahkan Aila kecil sampai ngompol sangking ketakutannya dia.
Dan kini hari itu seakan kembali terulang. Jika saat itu om Arnold dan Adrian datang menyelamatkannya. Maka hari ini, akankah Adrian datang untuk menyelamatkannya lagi? Aila tidak yakin.
"Apa yang terjadi--" Varen hendak menyentuh wajah Aila, tapi sebelum itu terjadi Aila jatuh pingsan tepat dalam dekapannya. Varen hanya reflek menarik tubuh lemah Aila masuk dalam pelukannya.
Dia nenyentuh dahi Aila yang sangat panas. Sehingga membuatnya kaget dan langsung menggendong tubuh Aila keluar dari ruangannya. Dia membawa Aila ke kamarnya.
"Apa yang terjadi, Tiger?" Tanya Juno.
"Bawa peralatanmu ke kamar. Dia demam. Suhunya sangat panas." Oceh Varen sambil terus melangkah menuju kamarnya.
Dengan cepat Juno membawa infus dan peralatan lainnya menuju kamar Tiger. Tidak lupa Lyn dan Pin mengekor dibelakangnya. Mereka benar benar khawatir melihat keadaan Aila. Mereka tidak tahu, hukuman apa yang telah diberikan Tiger pada tubuh lemah itu hingga Aila sampai deman.
__ADS_1
Setibanya di kamar, tubuh Aila dibaringkan di tempat tidur. Juno meminta Lyn dan Pin untuk mengompres Aila agar suhu panasnya turun. Sementara dia memasangkan selang infus, kemudian menyuntikkan obat demam kedalam infus agar masuk ke tubuh Aila.
Varen hanya duduk tenang di sofa dengan kaki kanan menyilang diatas kaki kiri dan tangan bersidekap di bawah dadanya. Lyn dan Pin mengutuk pada Varen dalam hati mereka. Sungguh mengesalkan melihat Varen begitu tenangnya saat Aila tengah berjuang dalam hidup dan mati.
Setelah beberapa menit, suhu panas tubuh Aila sedikit menurun. Juno, Lyn dan Pin sudah keluar dari kamar itu meninggalkan Varen dan Aila berdua saja. Sebenarnya Lyn dan Pin ingin tetap menemani Aila, tapi di usir oleh Tiger. Sungguh mengesalkan sekali.
Varen duduk dipinggir kasur sambil menggenggam tangan Aila yang tidak terpasang selang infus. Tangan satunya ia bawa untuk menyibak bagian jilbab yang hampir menutupi mata Aila.
"Ada apa? Kenapa kau tiba tiba ketakutan hingga pingsan hanya karena aku berpura pura ingin mencambukmu? Apa mungkin kau pernah di cambuk sebelumnya?"
"Toloonggg-- jangan--- lepaskan saya---" Rengeknya mengigau.
"Kakek tolooongggg Aila takut."
Wajahnya tampak sangat ketakutan, Varen mencoba membangunkan Aila dari mimpi buruk itu.
"Hei, Aila. Kau kenapa?" Mengelus lembut pipi Aila.
Tiba tiba mata Aila terbuka, dia langsung duduk dan memeluk erat tubuh Varen. Tanpa sadar Aila menyandarkan kepalanya didada bidang milik Varen. Dan Varen hanya terdiam kaget sambil mengangkat kedua tangannya keatas. Dia sama sekali tidak membalas pelukan Aila.
Varen dapat merasakan getaran ketakutan dari tubuh Aila, karena itulah dia membiarkan Aila memeluknya. Dan perlahan tangannya pun membalas pelukan itu, bahkan Varen sampai mengelus punggung Aila sangat lembut dan mengecup puncak kepala Aila yang bersender didadanya. Rambut Aila sangat harum meski terlapisi kain jilbabnya. Oh tidak. Tiger merasa ingin memakan Aila segera. Sudah lebih dari dua minggu dia tidak menuntaskan hasratnya sama sekali pada wanita manapun.
Haruskah dia melakukannya sedangkan wanita itu dalam keadaan lemah dan demam. Tapi Varen tidak bisa menahan gejolak itu, terlebih ketika Aila yang juga tampak mulai menggodanya. Akhirnya semua terjadi begitu saja, dan anehnya Aila tampak sangat menyukai apa yang Tiger lakukan pada tubuhnya. Hal itu jugalah yang membuat Varen pun tidak mampu untuk menahan dirinya kala setiap sentuhannya membuat Aila melenguh suka.
__ADS_1