Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 69


__ADS_3

Aila terperangah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Arnold yang mengatakan akan merestui pernikahannya dengan Adrian. Sungguh, Arnold manusia yang paling gila yang pernah ditemuinya. Dia akan menikahkan putranya dengan wanita yang pernah ingin dibunuhnya.


"Om tahu kan, aku telah menikah dengan Tiger. Jadi, jangan mengatakan omong kosong itu pada Adrian. Sampai kapanpun aku tidak akan menikah dengan Adrian, karena aku istri sah Tiger." Tegas Aila.


"Ckck, sungguh kau wanita yang mu ra han, Aila. Kau berpikir Tiger benar benar mencintaimu, hah. Hahahaa---" Arnold tertawa mengejeknya.


"Aaa kau harus tau, suamimu itu sudah mati di tangan ayahmu, Lion king."


Setelah mengatakan itu, Arnold meninggalkan kamar Aila. Tapi, di luar kamar dia berpapasan dengan Adrian dan mereka mengobrol yang obrolan itu terdengar hingga ke dalam kamar.


"Putraku yang malang. Kau mencintai wanita yang tidak mencintaimu. Andai bukan karena ingin menjadi papa yang baik untukmu, sudah aku lenyapkan wanita kurang hajar itu."


"Apa maksud papa mengatai Aila seperti itu." Bentak Adrian marah karena Papanya menjelekkan wanitanya.


"Kau bahkan berani membentakku hanya karena wanita itu, Adrian? Apa kau lupa, kau lah yang telah menyakitinya. Aku tidak melakukan apapun, aku bahkan membantumu merebutnya kembali dari tangan Tiger. Dan kau, kau telah menyingkirkan janin yang tumbuh di rahimnya--"


"Papa!" Teriak Adrian tidak suka papanya mengungkit masalah itu di depan kamar Aila dan mungkin saja Aila mendengarnya.


Arnold menatap tajam kedua bola mata Adrian yang merah menyala, namun beberapa detik saja bola mata Adrian tunduk tidak mampu menatap surai merah berapi api milik Arnold.


"Jika wanita itu akhirnya membuatmu menangis dan lemah, aku tidak akan segan segan untuk menggantung kepalanya di depan markasku, Adrian."


Setelah memberi peringatan itu, Arnold pun pergi dari tempat itu. Sementara Adrian langsung masuku ke kamar. Dan yang didapatinya, Aila duduk diam diatas ranjang dengan tatapan kosong.


"Aila, sayang kamu kenapa?"


"Kamu sengaja mengambil bayiku, Adrian?" Dia bertanya dengan nada suara datar dan tatapan tetap kosong.


"Tidak Aila. Apa yang kamu dengar hanya kesalah pahaman, sayang. Dokter yang menyarankan untuk menggu--"


"Tinggalkan aku sendirian Adrian. Aku ingin istirahat." Titah Aila masih dengan suara datar.

__ADS_1


"Sayang, Aila--"


"Aku mohon tinggalkan aku sendiri, Adrian." Ulangnya sambil merebahkan punggungnya kembali menemui permukaan kasur yang empuk, namun saat ini terasa bagai ribuan benda tajam menusuk punggungnya.


"Maafkan aku Aila." Ucap Adrian menyesal, namun terlambat. Aila tidak lagi memberi respon apapun. Dia terlalu lelah pagi ini, mendengar kenyataan yang sangat menyakitkan dan membuatnya ingin segera menyusul bayi dan suaminya yang telah pergi lebih dulu menemui sang Pencipta.


...🐯(NATM)🐯...


Kabar kematian Tiger tersebar hingga ke tempat persembunyian Seon dan rekan rekannya.


"Tidak mungkin. Tiger tidak akan mati semudah itu." Kinan mengamuk, dia benar benar tidak mau mempercayai kabar yang tidak masuk akal itu.


Seon yang bertindak sebagai pemimpin tim saat ini, berusaha menenangkan rekan rekannya itu.


"Lyn, kamu baik baik saja?"


"Tidak, Seon. Aku tidak baik baik saja jika sesuatu yang buruk benar benar terjadi pada Tiger." Jawab Lyn sambil terisak dalam pelukan kekasihnya itu.


"Seon, saatnya ledakkan mansion. Sepertinya Tam, juno dan Sarwa sudah kembali ke mansion setelah mendengar kematian Tiger." Ririn menyarankan agar Seon segera manekan tombol pengendali bom yang telah di letakkannya di mansion.


"Lanjutkan Seon, kami akan baik baik saja."


Setelah mendapat persetujuan pak Sony, akhirnya Seon menekan tombol untuk meledakkan bom.


Duarrr---


Mansion hancur seketika bersama dengan para anak buah Tam yang bertugas menjaga mansion. Sementara Tam, Juno dan Sarwa yang baru tiba di gerbang utama mansion, terperangah kaget melihat ledakan dahsyat memporak porandakan seluruh isi mansion.


"Apa yang terjadi? Siapa yang berani meledakkan mansionku!" Teriak Tam histeris, dia bahkan sampai berlari masuk menerobos kobaran asap hitam dan percikan api yang menyala melahap semua isi mansion.


"Phi Tam!" Teriak Sarwa hendak menyusul ayah dari calon bayi-nya itu.

__ADS_1


"Tidak nona Sarwa, jangan mendekat--" Juno menarik tangan Sarwa untuk menjauh dari kobaran api.


"Phi Tam--"


"Phi Tam, berhenti!" Teriak Juno namun tak dihiraukan oleh pria itu. Dia seperti kesetanan, melewati kobaran api tak peduli bahkan lengan kemejanya terkena percikan api dan mulai membakar bajunya.


"Milikku, aku harus menjaga milikku!" Ujar Tam yang bahkan tak merasakan panas api yang kini sudah mulai merambat ke area punggungnya. Dia hanya terus mekangkah semakin cepat untuk menyelamatkan yang katanya adalah miliknya.


"Tidak, phi Tam!" Jerit Sarwa dan Juno melihat Tam yang dilahap si jago merah.


Melihat kejadian na'as itu membuat Sarwa shok berat hingga dia pingsan. Dan Juno, dia melarikan diri sendiri karena rombongan Snake mulai berdatangan. Juno meninggalkan Sarwa tergeletak tak sadarkan diri di tanah yang dingin.


Begitu Baron dan anak buahnya tiba di area mansion yang tertutupi asap hitam tebal, mereka hanya bisa menghela napas kesal. Karena mereka mengira pabrik senjata terbesar milik Tiger juga ikut hangus terbakar.


"Semuanya habis terbakar. Bahkan pabrik senjatapun juga pasti telah hangus terbakar melihat kobaran api berasal dari arah dalam mansion." Salah satu anak buah Baron menjelaskan padanya tentang apa yang telah terjadi.


Meninggalkan Baron yang hanya bisa menatap kecewa melihat mansion terbakar hangus tanpa bisa memadamkan kobaran api, justru di markas tepatnya di kamar tempat Aila di rawat tengah terjadi kegaduhan.


"Aila tenang sayang, aku mohon jangan seperti ini Aila!" Adrian memeluk erat tubuh Aila yang mengalami kejang hebat. Sudah hampir satu jam Aila seperti ini sejak dia mengetahui bahwa Adrian sengaja mengambil calon bayinya.


"Dokter, tolong bantu tenangkan Aila. Aku tidak sanggup melihatnya seperti ini--"


Kejang yang dialami Aila sangat berbeda dari kejang yang pernah ditangani dokter itu, sehingga membuatnya tidak begitu yakin untuk melakukan sesuatu agar membuat kejang yang dialami Aila berhenti.


"Tolong dokter!" Teriak Adrian.


"Baiklah, tuan muda. Saya akan mencoba sebisa saya, meski saya tidak yakin hasilnya akan seperti apa." Dia mulai mengeluarkan jarum suntiknya dan mengambil cairan bening yang mungkin adalah bius penenang.


"Aila, aku mohon bertahanlah sayang. Jangan seperti ini, aku minta maaf Aila. Maafkan aku, sungguh maafkan aku Aila--" Celoteh Adrian yang terus memeluk erat tubuh kejang Aila sambil menangis terisak.


"Saya akan menyuntikkan obat penenang pada nona Aila." Dokter itu mulai menyuntikkan obat penenang itu pada Aila, dan setelah beberapa saat berlalu kejang itu semakin berkurang dan lama kelamaan Aila pun kembali tenang.

__ADS_1


Adrian dibantu oleh dokter meletakkan kembali tubuh Aila keatas ranjang. Lalu dokter kembali memasaagkan selang infus padanya.


"Maafkan aku, sayang." Ucap Adrian penuh rasa penyesalan.


__ADS_2