Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 78


__ADS_3

Hari ini, pagi pagi sekali Varen dan Aila terbang ke Jakarta bersama Bhika juga tentunya. Karena Aila harus melakukan interview dengan berbagai media untuk menyatakan bahwa dia masih hidup dan perusahaan akan diambil alih kembali olehnya. Sementara, Ririn, Adam dan Kinan sudah lebih dulu terbang ke Jakarta pukul tiga pagi tadi. Mereka membawa serta Arnold sebagai tahanan.


Begitu tiba di Jakarta, Aila disambut oleh banyaknya wartawan. Jadi, mau tidak mau, siap tidak siap, Aila pun langsung menegaskan bahwa dia baik baik saja selama ini di Thailand dan dia sudah menemukan orangtua kandungnya.


"Ini mama saya. Nyonya Bhika." Ucap Aila memperkanalkan Bhika pada wartawan.


Lalu, Aila juga menceritakan tentang Arnold yang sengaja mengirimnya ke Thailand untuk membuatnya celaka dan Arnold ingin menguasai MD group.


Kemudian, Aila menunjukkan surat wasiat sang kakek yang memberikan seluruh warisannya untuk Aila. Ririn dan Adam menemui kuasa hukum Cakra yang ada di Thailand, dan dia memberikan surat kuasa itu untuk Aila.


"Dan perlu kalian tahu, Arnold mencoba mentransfer semua saham MD group ke perusahaan baru yang sedang dia bangun di Jepang. Beruntungnya, suami saya membantu mengembalikan semua saham MD group yang sengaja di transfer oleh Arnold."


Mendengar Aila mengatakan bahwa suaminya yang membantu, wartawan pun menanyakan keberadaan suami Aila dan kapan Aila menikah.


Sebentar Aila meraih tangan Varen yang berdiri tegap bak bodyguard di sampingnya. "Dia Levarendo Mark, CEO Mark holding. Dia suami saya, kami menikah lima bulan lalu, di Thailand."


Semua wartawan terkagum kagum bisa melihat langsung Levarendo Mark yang hanya bisa mereka lihat di majalah saja selama ini.


Usai wawancara itu, Aila lansung mengajak Varen dan mamanya untuk segera pergi dari kerumuman para wartawan.


"Pak Varen, buk Aila." Teriak Kinan melambaikan tangan kearah mereka.


Kinan tampak sangat tampan dalam balutan stelan jas nya. Dia menawarkan diri untuk menjadi sopir pribadi Aila dan Varen.


"Waw, Kinan. You look so handsome." Puji Aila.


"Terimakasih bu Aila."


"Kau bertugas untuk menjemput kami Kinan?"


"Benar pak Varen." Kinan membuka pintu belakang mobil.


Aila dan Bhika pun masuk ke mobil, mereka duduk di kursi penumpang. Lalu, Kinan membukakan pintu depan untuk Varen. Ya, Varen duduk di kursi samping sopir.


"Siap berangkat pak Varen?" Tanya Kinan.


Varen hanya mengangguk gemas mendengar Kinan memanggilnya dengan sebutan pak. Rasanya aneh, karena selama ini Kinan memanggilnya dengan sebutan Tiger.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, berpacu dijalanan menuju rumah masa kecil Aila, seperti yang diinginkannya.

__ADS_1


"Apa Arnold sudah di serahkan pada pihak kepolisian?" Tanya Varen.


"Sudah pak Varen. Semua bukti bukti juga cukup nyata, hingga tidak ada kesempatan untuk Arnold bisa naik banding. Bahkan ternyata, sudah ada bukti lain yang dikirimkan oleh salah satu bawahannya yang pernah di pecatnya dulu."


"Bukti korupsinya yang lain?" Tanya Varen penasaran.


"Bukan pak Varen, tapi bukti bahwa Arnold sengaja membayar orang untuk membunuh pak Ciko dan Istrinya. Juga bukti bahwa Arnold yang sengaja membunuh Tuan Cakra." Jelas Kinan.


"Jadi, om Arnold sudah melakukan kejahatan sejak awal?" Ujar Aila yang tampak sangat sedih dan kecewa mendengar kenyataan menyakitkan itu.


"Benar bu Aila."


"Aku kira om Arnold sangat baik. Ternyata dia benar benar cerminan mafia yang kejam dan tidak punya hati."


Bhika merangkul bahu Aila. Dielusnya lembut punggung putrinya itu. Meski Bhika tidak mengerti apa yang dikatakan Aila, tapi setidaknya dia tahu bahwa putrinya itu tengah merasa sedih.


...🐯(NATM)🐯...


Begitu tiba di rumah, Aila disambut oleh bik Nur pengasuhnya sejak kecil.


"Bik Nur, aku rindu sekali sama bibik." Aila memeluk erat tubuh wanita tua itu yang menangis haru bisa melihat kembali majikannya yang lima bulan lalu diberitakan telah meninggal.


"Non, bibik juga sangat merinduka non Aila. Syukurlah non Aila baik baik saja."


"Bik, ini mama kandung saya. Namanya Bhika."


"Saya Nur, nyonya. Selamat datang di rumah ini. Senang bertemu anda nyonya bhika."


Varen menerjemahkan apa yang dikatakan bik Nur pada mama mertuanya.


"Terimakasih. Saya juga senang bertemu anda."


Varen juga menerjemahkan ucapan mama mertuanya pada bik Nur.


"Tapi, anda siapa tuan?" Tanya Bik Nur menatap wajah tampan Varen.


"Saya Levarendo Mark, bik. Saya suami Aila."


"Apa? Non Aila sudah menikah?"

__ADS_1


"Iya, bik. Ceritanya panjang dan rumit. Tapi, yang jelas kami menikah secara sah menurut agama. Dan sekarang, karena kami memutuskan untuk menetap di Jakarta, maka besok kami akan mendaftarkan pernikahan kami di KUA setempat." Ungkap Aila menjelaskan yang hanya direspon dengan anggukan senang oleh bik Nur.


"Bik Nur, tolong antar mama kekamarnya. Dan tolong temani mama juga ya bik."


"Baik non."


Nur sudah mempersiapkan kamar khusus untuk Bhika sesuai perintah dari Ririn pagi tadi. Katanya Ririn membawa perintah dari Aila. Tanpa protes ataupun bertanya, Nur langsung melaksakan perintah tersebut.


"Dimana Kinan?" Tanya Varen.


"Kinan mengantar Adam dan Ririn ke rumah orangtua Adam."


"Jadi, siapa yang akan mengurus pendaftaran pernikahan kita, sayang?"


"Adam lah. Siapa lagi."


Aila menggandeng tangan Varen, menariknya untuk naik nenuju kamarnya di lantai dua rumah ini.


"Besok Adam akan mendaftarkan pernikahannya dan juga pernikahan kita sekaligus. Setelah terdafar dan disetujui pihak KUA, baru deh kita mengadakan pesta pernikahan yang meriah." Ujar Aila tampak sangat bahagia.


"Apa sayang sangat bahagia?"


"Tentu. Aku sangat bahagia, suamiku." Bisik Aila menggoda Varen.


Alhasil, Varen langsung menggendong Aila. Membawanya menuju kamar yang ditunjukkan Aila sebagai kamar mereka.


Saat tiba di kamar, Varen membaringkan Aila diatas tempat tidur. Dia tentu saja berada diatas Aila dengan menjadikan tangannya sebagai tumpuan agar tidak menyakiti istri tersayangnya itu.


"Bisakah kita melakukan itu saat ini?"


Aila mengangguk malu malu.


"Sayang tidak capek?" Varen khawatir Aila kecapek an karena mereka baru saja tiba di Jakarta.


Aila kembali mengangguk. Dan Varen pun merebahkan tubuhnya disamping Aila. Diselipkannya tangan kirinya dibawah kepala Aila, lalu ditariknya tubuh Aila untuk dipeluknya.


"Istirahatlah sayang. Aku juga capek. Kita butuh istirahat yang cukup agar besok bisa kembali melanjutkan banyak pekerjaan untuk bisa menetap di sini selamanya."


"Mmh.."

__ADS_1


Aila membenamkan wajahnya di dada bidang suami tercintanya itu.


Takdir memang benar benar rahasia Allah. Aku tidak pernah membayangkan akan berjodoh dengan seorang pria yang berasal dari dunia mafia yang kejam. Tapi, kini pria kejam ini telah dilembutkan hatinya oleh Allah. Sehingga kini aku benar benar berada dalam pelukannya yang hangat.


__ADS_2