Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 96 Kehidupan baru Aila


__ADS_3

Saat tiba di Jakarta, Aila dan mamanya disambut oleh Adam dan Ririn.


Tangisan Aila pecah saat Ririn memeluknya. Dia menangis meluapkan segala rasa yang berkecamuk di hatinya. Ririn yang sudah tahu apa yang terjadi pun hanya bisa diam dan terus memeluk Aila sambil mengelus punggungnya.


Cukup lama Aila menangis, sampai akhirnya tangisanpun reda dan dia langsung berpamitan pada Adam dan Ririn.


"Kamu mau kemana Aila?" Tanya Ririn khawatir.


"Entahlah Rin, yang pasti akun ingin pergi jauh." Ucapnya sendu.


Ririn ingin melarang Aila, tapi Adam memberi kode agar Ririn tidak menghalangi Aila.


"Jika butuh sesuatu, hubungi aku Aila. Ingat kamu masih punya kami Aila."


"Terimakasih Rin. Tapi, pengkhianat sepertiku tidak berhak menerima kebaikan dari kalian."


"Jangan terlalu mengambil hati ucapan Tiger, nyonya Aila. Dia hanya sedang emosi. Percayalah dia sangat mencintai nyonya."


Itu Adam. Dia yang merespon ucapan Aila. Apa yang Adam katakan benar. Tiger tidak benar benar menganggap Aila pengkhianat. Dia hanya sedang dikuasai emosi dan juga masih kecewa pada Aila. Tapi, soal hati jangan pernah diragukan, tidak ada yang Varen cintai melebihi cintanya pada Aila.


Bahkan Varen kembali ke dunia Mafia pun untuk menuntaskan apa saja yang mungkin akan membahayakan Aila. Dia ingin memastikan Aila akan tinggal di dunia yang nyaman tanpa perlu dihantui ketakutan lagi. Sanyangnya dalam menyelesaikan misi itu, Aila yang masih labil pun dengan mudahnya terhasut omongan musuh, hingga dia mengkhianati Varen.


Kembali pada Aila. Dia terdiam mendengar ucapan Adam barusan. Dia tidak tahu harus merespon seperti apa. Hingga akhirnya dia jatuh terduduk di lantai begitu saja, dia kembali terisak dan memegangi dadanya yang semakin terasa sesak.


"Aila.." Ririn pun langsung memeluk Aila lagi, mengelus punggungnya agar Aila merasa lebih tenang.


"Aku merindukan mas Varen, Rin. Aku sangat merindukannya." Ungkap Aila.


Adegan itu di video kan oleh Adam dan dia kirimkan pada Varen. Adam tahu, Varen sudah melarangnya memberi tahu tantang Aila, tapi Adam tidak tega melihat keadaan Aila saat ini.


"Aku harus pergi, Rin. Aku tahu Tiger tidak akan bisa melupakan pengkhianatanku. Aku tidak akan lari darinya. Tapi dia tidak mau melihatku sama sekali. Jadi aku harus pergi."

__ADS_1


Aila akhirnya pergi bersama mamanya. Dia pergi ke pedesaan dan menyewa salah satu rumah kosong milik ketua Rt di desa itu. Tentu Adam juga memberitahukan pada Tiger dimana keberadaan Aila. Tapi, dari apa yang dikabarkan Adam pada Tiger, tidak satupun yang dapat respon dari pria egois itu.


...🐯(NATM)🐯...


Dua bulan kemudian.


Aila dan mamanya sudah nyaman tinggal desa. Penduduk desa juga sangat ramah dan baik hati. Sehingga Aila tidak merasa kesusahan tinggal di desa. Karena mereka semua membantunya, seperti memberikan Aila pekerjaan dengan menaman padi di sawah mereka. Aila juga membantu berbagai macam pekerjaan di kebun penduduk dan dia mendapat upah.


Terkadang mereka memberi Aila uang sebagai upah, tidak banyak juga yang membayar Aila dengan hasil kebun mereka sebagai upah.


Aila bahagia dan sangat bersyukur dengan kehidupannya di desa. Ya, memang agak keras dan harus bisa tahan panas dan juga hujan. Terlebih Bhika juga sangat lihai membantu Aila. Dia bahkan lebih mahir mengerjakan banyak hal dibanding Aila. Oh iya, mama Bhika juga sudah mahir bahasa Indonesai loh. Terlebih bahasa penduduk desa yang memakai bahasa sunda.


Bhika dan Aila pulang dari kebun sudah sangat sore, karena tadi mereka kehujanan di jalan jadi berteduh dulu deh di rumah pemilik kebun yang mereka rawat.


"Ma, perutku mual. Kepalaku rasanya pusing." ucap Aila saat keluar dari kamar mandi.


Bhika langsung menghampiri Aila. Dipapahnya Aila menuju kamar, lalu membantu Aila berbaring di ranjang.


Aila mengangguk. Bhika pun menyelimuti tubuh Aila, lalu dia pun segera bergegas keluar dari rumah untuk memanggil dokter Dimas yang ada di puskesmas setempat.


Saat Bhika sedang tidak ada, Aila pun muntah muntah. Dia bahkan sampai terjatuh dari ranjangnya dan tergeletak lemah di lantai yang dingin tanpa selimut.


Aila memejamkan matanya, entah dia tidur atau hanya sekedar memejamkan matanya. Saat itu juga dia melihat Varen mengahmpirinya. Ya, Aila berhalusinasi sangking dia merindukan suaminya itu.


"Mas… mas Varen. Maafkan aku mas!" Seru Aila.


Dia memeluk erat tubuh Varen dalam imajinasinya. Aila menanangis terisak memeluk kaki ranjangnya seakan dia memeluk suaminya.


Ah andai Varen melihat ini, pasti Varen akan langsung memeluk Aila. Dia pasti tidak akan tega melihat Aila dalam keadan sakit seperti ini.


Saat Bhika dan dokter Dimas tiba di rumah, betapa terkejutnya Bhika melihat keadaan Aila yang menagis memeluk kaki ranjang sambil memanggil manggil Varen dan juga muntah Aila berceceran di lantai.

__ADS_1


"Sayang, Aila." Bhika langsung menyelimuti tubuh Aila yang hanya memakai daster lusuhnya.


Dokter Dimas yang melihat keadaan itu pun melangkah keluar dari kamar. Dia menunggu di ruang tengah.


Bhika membersihkan muntah Aila, mengganti dasternya, lalu membaringkannya kembali ke atas ranjang.


"Mama, aku sangat merindukan mas Varen. Ma, katakan sama mas Varen, aku minta maaf. Aku tidak akan pernah berbohong lagi padanya. Aku tidak akan mengkhianatinya lagi." Rengek Aila dengan keadaanya yang sangat memprihatinkan.


"Ma, katakan pada mas Varen. Aku sudah tidak kuat menjalani hukuman ini. Aku sangat merindukannya, ma."


Bhika menangis mendengar betapa mengasihankannya keadaan putrinya saat ini. Andai Bhika bisa menghubungi Adam, dia akan langsung mengatakan keadaan Aila pada Adam agar memberitahukan pada Varen. Tapi, sayangnya Aila sendiri yang memutus komunikasi dengan Adam dan Ririn.


"Dokter, tolong periksa putri saya." Bhika memanggil dokter Dimas.


"Baik, ibu."


Dokter Dimas memeriksa keadaan Aila tentu dengan pengawasan Bhika.


"Nona Aila…" Dokter Dimas tampak ragu untuk mengatakan keadaan Aila pada Bhika.


"Ada apa, dok? Kenapa dengan putri saya?" Tanya Bhika khawatir.


"Maafkan saya ibu. Nona Aila tengah mengandung." Ujar Dokter Dimas.


Mendengar itu Bhika terdiam. Dia masih belum mengerti, apakah Aila mengandung anak Varen atau bukan.


Sedangkan Dokter Dimas yang tidak mengetahui Aila telah bersuami dan diam diam dia menaruh hati pada Aila pun merasa kecewa mengetahui Aila hamil. Dia kecewa. Aila yang berpenampilan agamis, bisa hamil tanpa suami. Sungguh itu membuat dokter Dimas yang mengaguminya merasa kecewa pada Aila.


Bhika tersadar, dia menatap wajah aneh dokter Dimas. Dia tahu dokter Dimas pasti memandang rendah putrinya. Tentu Bhika tidak diam saja. Dia lansung menjelaskan pada dokter Dimas bahwa sebenarnya Aila sudah bersuami dan suami Aila bekerja di Thailand.


Mendengar penjelasan itu membuat dokter Dimas bertambah kecewa. Hatinya hancur seketika mendengar wanita yang dikaguminya ternyata telah berstatus istri orang.

__ADS_1


__ADS_2