
"Aila masih disana, Pa. Aku tidak bisa membiarkan Aila sendirian di sana bersama pria itu!"
Adrian mengamuk, karena Arnold menolak keinginanya untuk kembali ke mansion Tiger menjemput Aila.
"Papa! Setidaknya izinkan aku keluar dari ruangan ini? Apa papa menjemputku hanya untuk kembali mengurungku." Adrian menggedor gedor pintu ruangan kamar tempatnya di kurung oleh Arnold.
"Lebih baik aku dikurung di penjara dingin itu, setidaknya aku bisa melihat Aila. Aku tidak suka tempat ini!"
Meski Adrian berteriak hingga menghabiskan seluruh suaranya pun, Arnold sama sekali tidak terusik. Karena yang ada di kepalanya saat ini, hanya rencana untuk bernegosiasi dengan Lion king agar bisa menaklukan Tiger king.
Rencana awalnya telah gagal, Lion king marah karena mereka tidak bisa membawa Aila keluar dari mansion Tiger king.
"Baron, aturkan pertemuan dengan Lion king sekali lagi."
"Baik, Snake."
Baron langsung menghubungi mansion Lion king. Dia memohon untuk pertemuan kali ini. Baron bahkan mengatakan akan mendapatkan Aila kali ini tanpa ada kata gagal lagi. Dan akhirnya Lion king setuju.
"Pertemuan di markas Lion. Lion king berharap kita memiliki rencana bagus untuk mendapatkan Aila kembali."
"Bagus. Seperti yang saya duga, Lion king sangat mudah luluh dan mudah percaya. Sekali lagi, saya akan membuatnya menghabisi Tiger hingga keakar akarnya. Lalu, saya akan menjadi pemilik pabrik senjata hebat itu_"
Arnold tertawa saat membayangkan apa yang akan didapatkannya sebentar lagi.
Sementara itu, Lion king masih setia menemani istrinya yang juga tak kunjung membuka matanya.
"Lion, sepertinya kita mendapat kiriman dari Tiger." Ben datang memberitahukan bahwa mereka menerima sebuah rekaman yang dikirim oleh Tiger beberapa menit yang lalu.
"Kiriman apa lagi kali ini?"
Lion beranjak menjauh dari istrinya. Langkahnya meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Ben.
"Hubo_" Bisik Ben sambil menunduk.
"Apa? Mereka menyakiti putraku?" Lion tersulut emosi. Dengan cepat langkahnya menuju ruang kerjanya. Disana sudah ada anak buahnya yang siap memperlihatkan video rekaman yang dikirimkan Tiger itu.
"Oh putraku yang malang. Kalian lengah!" Teriaknya memaki pada anak buahnya.
"Maafkan kami, Lion." Mereka hanya bisa tertunduk diam sambil meminta maaf.
Lion sudah tidak mendengar permintaan maaf anak anak buahnya. Mata dan telinganya fokus menatap layar laptop yang memperlihatkan Hubo putranya. Hubo duduk diatas kursi dengan tangan dan kaki terikat. Wajahnya tampak ketakutan.
(Ayah! Aku takut. Tolong jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Aku akan baik baik saja, jika ayah tidak mengikuti tuan Arnold. Tiger berjanji akan membiarkan aku dan nona Aila, jika ayah berhenti berkomunikasi dengan tuan Arnodl.)
__ADS_1
Hubo menangis setelah mengatakan kalimat itu. Lion tahu, putranya hhnya dipaksa untuk mengatakan kalimat itu. Dia sangat mengenal Tiger, tidak mungkin Tiger membiarkan putranya dan juga putrinya baik baik saja.
"Putraku, oh inikah karma atas apa yang telah aku lakukan pada Tiger king dua puluh tahun yang lalu."
Lion king merasa sangat menyesal karena dulu terlalu terburu buru tanpa menyelidiki terlebih dahulu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Lion, beri saya perintah untuk menyerang mansion Tiger dan membawa tuan muda juga nona Aila keluar dari sarang macan itu."
Ben sudah sangat siap untuk menyerang Tiger. Dia memang merasa menyesal atas perbuatannya di masa lalu. Tapi, melihat bagimana Tiger berhasil menjadikan tuan mudanya tawanan mengubur kembali rasa penyesalan itu.
"Jangan lakukan pergerakan apapun, Ben. Jangan gegabah. Selidiki terlebih dahulu secara benar. Saya tidak ingin terjadi pertumpahan darah lagi. Nyawa putra dan putriku ada di tangan Tiger. Sedikit saja kesalahan, saya akan kehilangan mereka."
Ya, Lion memilih untuk tidak bertindak gegabah. Dia akan mengatur rencana yang matang terlebih dahulu, barulah melakukan pergerakan untuk membebaskan putra dan putrinya dengan cara jika memungkinkan tanpa adanya pertumpahan darah.
...🐯(NATM)🐯...
Aila baru terbangun, saat Lyn membawakan sarapan untuknya. Perlahan dia mencoba bangkit, namun ternyata kepalanya masih terasa pusing.
"Masih pusing?"
Lyn bertanya sambil mendekati Aila. Dia bahkan duduk di pinggir ranjang untuk kemudian memijatkan kepala Aila.
"Kau baik baik saja, Lyn?"
"Tentu. Asap beracun itu tidak terlalu berbahaya, hanya sekedar memberi efek ngantuk dan muntah bagi yang menghirupnya. Aku sudah baikan setelah muntah cukup banyak."
"Bisa dibilang begitu. Tapi, tidak usah terlalu khawatir. Kau akan kembali membaik." Tangannya meraih piring sarapan yang diletakkanya di atas nakas beberapa waktu lalu. "Makanlah dulu, setelah itu minum obat ini."
"Obat apa ini, Lyn?" Aila meraih sebutir pil bewarna putih dari tangan Lyn yang satunya.
"Hanya vitamin."
Sebentar Aila terdiam, kemudian dia mengambil alih piring makanan di tangan Lyn dan mulai menyantap sarapannya dengan lahap.
Lyn menemani hingga Aila selesai dan meminum pil vitamin yang bisa membantu mensterilkan pernapasan dan lambung.
"Lyn, boleh aku bertanya?"
"Boleh dong, Aila."
"Apa Tiger pernah punya pacar atau mungkin istri sebelumnya?"
Pertanyaan yang sebenarnya sangat mengganggu dipikirannya, akhirnya dia utarakan juga.
__ADS_1
"Mmm, mau jawaban bohong atau jujur?"
"Sebenarnya ingin jawaban jujur, tapi bisakah kau memberitahuku juga jawaban bohong seperti apa?"
Lyn menghela napas sebentar sebelum menjawab pertanyaan Aila. "Ehemmm-- Eee, baiklah. Bagaimana kalau jawaban bohong terlebih dahulu."
Aila mengangguk antusias menunggu jawaban dari Lyn.
"Tiger tidak pernah jatuh cinta."
"Hah? Berarti jawaban jujurnya Tiger pernah jatuh cinta--" Wajah Aila tampak sendu. Hatinya terasa nyilu tanpa alasan mendengar kenyataan Tiger pernah mencintai wanita lain.
"Namanya Sunee. Dia gadis yang sangat cantik, baik dan juga penyayang." Tutur Lyn mengingat wajah Sunee.
"Lalu, dimana dia?"
"Sudah meninggal lima tahun yang lalu."
"Meninggal?"
"Iya. Sunee mengidap penyakit jantung."
"Dia siapa? Maksudku apa dia tinggal di sini--"
"Ya, dia pemilik kamar yang kau tempati kemarin. Dia putri pak Sony."
Mata Aila membola mendengar penuturan Lyn. Ternyata aku benar benar hanya wanita penghibur untuk Tiger.
"Kau baik baik saja, Aila?" Lyn khawatir melihat Aila diam dengan raut wajah yang sendu.
"Sunee beruntung. Menjadi satu satunya wanita yang dicintai Tiger sampai dia meninggal." Ujar Aila tanpa sadar.
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Aila, Lyn mengetahui bahwa Aila tengah cemburu. Entah mengapa Aila menggemaskan saat cemburu seperti ini.
"Kau ingin tahu jawaban yang jujurnya, nona Aila?"
Sebentar Aila menghela napas, lalu dia memberikan anggukan sebagai respon pertanyaan Lyn.
"Tiger sangat mencintai Sunee sebagai adik sama seperti Tiger mencintaiku. Kau tahu Aila, Tiger belum pernah mencintai wanita manapun--"
Pernyataan Lyn, sungguh tidak membuat hati Aila merasa lega, justru itu membuatnya tambah sedih, karena kenyataannya, mungkin Tiger juga tidak akan pernah mencintainya.
"Apa masih ada pertanyaan lagi, Aila?"
__ADS_1
"Tidak. Aku ingin istirahat, mataku terasa berat." Aila berbohong. Sebenarnya dia hanya butuh waktu untuk sendiri.
"Baiklah. Kalau begitu aku permisi." Lyn memperbaiki selimut Aila. "Oh iya, Tiger belum pernah menikahi wanita manapun sebelumnya. Kau satu satunya wanita yang dinikahinya sebelum disentuhnya, darling."