Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 46


__ADS_3

Satu minggu berlalu.


Varen sibuk menyusun rencana misi rahasianya bersama Ririn. Dia melakukan itu sengaja hanya bersama Ririn karena memang hanya Ririn yang terbebas dari pengawasan musuh musuhnya.


Kini Ririn dan Varen berada di ruangan rapat, seakan mereka tengah rapat dadakan. Padahal mereka hanya sedang berdiskusi membahas persiapan misi yang hampir rampung.


"Alat ini akan terhubung secara otomatis dengan Adam saat kau menekan tombol merah." Varen menjelaskan kegunaan sebuah alat berbentuk telepon gengam jadul.


"Kapan saya bisa menekan tombol merah ini, pak?"


"Saat tidak bisa menghubungi saya sama sekali."


Ririn mengangguk paham. "Apa pak Varen benar benar akan melakukan misi ini? Apa tidak ada cara lain--"


"Tidak ada cara lain yang lebih baik dari ini, Rin. Jika saja saya mengambil cara yang mudah, itu hanya akan menyelamatkan satu nyawa. Saya tidak ingin hanya menyelamatkan satu nyawa. Jika perlu saya akan menyelamatkan semua nyawa termasuk mereka yang sudah mengkhianati saya."


"Pak Varen tidak seperti dahulu. Mengapa pak Varen memilih menyamatkan pengkhianat."


"Karena, meski bagaimanapun mereka adalah saudara saya. Mereka yang membantu saya bangkit hingga saya sampai pada titik ini. Tapi, mungkin saat saya berhasil menyelamatkan para pengkhianat itu juga, maka saat itu mereka bukan lagi saudara saya."


Varen mengatakan itu dengan sedikit bergetar. Dia benar benar tampak kecewa saat mengetahui ternyata ada beberapa orang kepercayaannya telah mengkhianatinya. Sayangnya, mereka pikir Varen tidak tahu padahal Varen tahu sejak awal dan dia juga tahu alasan dari pengkhianatan itu. Karena itulah dia berjuang sendiri untuk menyelesaikan masalah itu, meski akhirnya meminta bantuan pada Ririn.


"Lalu, apa yang akan anda lakukan pada nona Aila?"


Ririn sudah mendengar tentang Aila dari Adam sejak Varen mengaku telah menikah beberapa waktu lalu.


"Adrian akan segera menjemputnya. Saya yakin itu. Dan setidaknya, Aila akan aman bersama Adrian untuk sementara."


"Pak Varen merelakan nona Aila diambil oleh Adrian? Bagaimana kalau akhirnya nona Aila berpaling pada pria itu."


"Biarkan. Lagi pula, meski bagaimanapun Aila adalah putri dari seorang Lion king yang telah membunuh keluarga saya. Saya tidak akan pernah melupakan kejadian itu selamanya."


Ririn hanya bisa mengangguk lesu menanggapi apa yang ditegaskan oleh Varen barusan. Meski, Ririn dapat melihat jelas tatapan mata Varen tidak fokus saat mengatakan dia merelakan Aila bersama Adrian.


Sementara Tiger dan Ririn berdiskusi. Di mansion, Sarwa dan Dewi tengah bertengkar hebat. Dewi bahkan sampai menampar wajah Sarwa.

__ADS_1


"Berani beraninya kau menamparku!" Teriak Sarwa murka.


"Tentu aku berani. Karena kau tidak lebih hanya ja la ng mu ra han yang tidak tahu diri." Pekik Dewi tidak kalah lantangnya.


"Kau yang ja la ng. Kau iri kan, karena hanya aku yang bisa benar benar mengandung bayi Tiger."


"Ja la ng mu ra han--- Cuiihh." Dewi meludahi area perut Sarwa. "Bayi sialan. Kau tidak berhak lahir." Dengan seperti kesetanan, Dewi hendak mendorong Sarwa dari tangga. Beruntungnya, Juno datang tepat waktu. Dia menahan tubuh Sarwa agar tidak jatuh.


Saat itu jugalah, Jack tiba. Dia langsung menarik Dewi cukup keras hingga membuat Dewi menjerit jerit berontak. "Lepas, lepaskan aku bre ng sek. Kau tidak tahu siapa aku?"


"Diamlah Dewi. Kau hanya wanita mu ra han bagi Tiger."


"Beraninya kau menghinaku, Jack."


"Ya aku berani karena kau memang mu ra han dan kau telah mengkhianati Tiger, jangan lupakan itu."


Dewi benar benar murka. Dia menggerakkan tubuhnya bahkan sampai membuat Jack hampir terjungkal. Beruntungnya ada rekannya yang menahan agar dia tidak terjungkal.


"Kurung Dewi di penjara bawah tanah." Titah Juno.


"Lepassss, hey bre ng sek lepaskan akuuuu--"


Dewi terus terusan berteriak saat Jack mulai melangkah menjauhi ruangan tempatnya dikurung.


Sementara itu, di vila. Aila sedang menanam bunga tulip di petak kosong taman mini milik ibunya Varen. Sebelumnya Susan sudah memperingatkan agar Aila berhenti menanam bunga tulip, karena Tiger akan sangat marah. Tapi, Aila tak menghiraukan ocehan Susan, dia terus saja menanam bibit bibit bunga tulip.


"Sebaiknya nona jangan menanamnya di sini. Tiger akan benar benar marah, nona. Madam Susan dan semua maid termasuk saya akan terkena dampak amarah Tiger." Nam memperingatkan agar Aila berhenti.


"Tidak usah khawatir, Nam. Dia hanya akan marah padaku. Lagi pula Tiger sangat membenciku, aku harap dengan membuat bunga tulip kembali tumbuh, kebenciannya semakin meningkat dan dia bisa mengusirku dari vila atau bahkan menyingkirkan aku dari dunia ini." Tuturnya tanpa ada raut ketakutan ataupun khawatir di wajahnya.


"Kau benar benar keras kepala, Aila."


Itu suara Tiger. Dia baru saja tiba di vila. Nam sudah berlalu pergi beberapa saat lalu atas titahnya.


"Ya, aku memang keras kepala."

__ADS_1


Aila masih melanjutkan acara menyiram bibit bibit tulip yang sudah ditanamnya.


"Kau tidak ingin berhenti!"


"Tidak."


"Kau sengaja ingin membuatku marah?"


"Iya." Kali ini Aila menghentikan aktivitasnya, dia menatap tajam pada Tiger yang ternyata malah menatapnya dengan tatapan sendu.


Ada apa dengan tatapan itu? Apa Varen mengalami hari yang sulit hari ini. Mengapa akhir akhir ini dia sering memperlihatkan tatapan sendu seperti itu padaku? Apakah ini bagian dari rencananya untuk membuatku luluh--


Sejenak suasana benar benar menjadi hening. Tiger tidak berniat membuka mulutnya untuk bicara, begitu juga dengan Aila.


Aku benci diriku sendiri, ibu. Aku tidak bisa marah dan membenci wanita ini, bu. Aku tidak bisa. Dia bahkan menanam tulip yang aku benci, dia mencoba membuatku untuk marah tapi aku tidak bisa--


"Tuan ada apa? Apa sesuatu yang buruk terjadi?" Aila akhirnya mulai bicara.


Menyadari pertanyaan Aila yang sedikit mengganggunya, membuat Varen memalingkan wajahnya dari Aila.


"Tuan sakit?"


"Tidak. Kau pikir aku lemah, sakit setiap saat!" Jawabnya dengan suara serak nan berat seperti biasanya.


"Berhentilah mencoba membuat bunga jelek itu tumbuh Aila. Aku tidak suka."


"Aku tidak akan berhenti, karena aku menyukainya." Aila kembali menyiram bakal bunga tulip yang baru ditanamnya itu.


Tapi, beberapa detik kemudian Tiger merebut paksa teko penyiram bunga ditangan Aila. Dihempaskannya teko berisi air itu ke tanah dengan cukup kuat.


"Kau telah merasa menjadi nyonya dirumah ini? Aku bilang jangan lakukan, maka jangan di lakukan. Aku benci manusia pembangkang…" Teriak Tiger menggelegar. Membuat Aila terdiam gemetar.


Maafkan aku, Aila. Aku tidak bermaksud membuatmu terkejut. Aku hanya--


Tiger hendak memeluk Aila, tapi sebelum itu terjadi Aila melangkah menjauh darinya dan berlari kecil untuk kembali masuk ke vila menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2