Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 53


__ADS_3

Aila yang penasaran tentang kehamilannya pun, meminta bantuan madam Susan untuk mendapatkan alat tes kehamilan. Namun sebelum madam Susan mencarinya, Juno terlebih dahulu meminta seorang pelayan di mansion mengantarkan alat itu ke vila.


Kini Aila baru saja keluar dari kamar mandi setelah melakukan tes. Langkahnya pelan namun pasti menuju tempat tidur.


"Hasilnya positif."


Raut wajahnya tampak bingung setelah mengulang ulang dua kata diatas sejak masih di kamar mandi tadi. Aila bingung, haruskah dia bahagia atau bersedih.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" Dibenamkannya wajahnya kepermukaan bantal dan dia mulai menangis.


Saat Aila tengah kebingungan mengekspresikan kehamilannya, justru di terowongan bawah tanah tengah terjadi kegaduhan. Pasukan Lion di pimpin oleh Ben, menyusup masuk ke penjara bawah tanah, bersama dengan Baron dan Adrian.


Rey dan Vio yang menjaga terowongan pun cidera hingga tak sadarkan diri.


Pasukan itu berhasil tiba di penjara bawah tanah dan yang pertama mereka lihat adalah Dewi dan Hubo yang dikurung dalam ruangan lembab dan kecil itu.


"Tuan muda--"


Ben menghampiri Hubo yang tampak pucat terduduk di sudut ruangan kecil itu. "Bertahanlah tuan muda." Gembok rantai jeruji besi itu di hempaskan kuat oleh anak buah Ben, hingga pintu itu terbuka.


"Paman, Ben. Aku takut." Hubo langsung memeluk Ben saat pintu itu terbuka.


"Tuan muda aman sekarang."


Saat Ben tengah menenangkan Hubo, Baron membantu melepaskan Dewi dari tempat itu.


"Kau sudah berusaha cukup keras, Dewi. Kau akan mendapatkan penghargaan dari Snake." Puji Baron pada wanita itu.


"Ya, dia harus memberiku penghargaan yang sangat besar atas jasaku ini, Baron." Celetuk Dewi.


"Tunjukkan dimana Aila!"


Titah Adrian yang tidak sabaran untuk segera menemukan Aila, pujaan hatinya.


"Mari ikut saya, tuan muda." Ajak Dewi.


Mereka semua pun mengikuti langkah Dewi. Awalnya mereka mengendap endap berusaha agar tidak ketahuan penjaga mansion. Tapi, setelah melewati lorong penjara bawah tanah, ternyata seseorang telah membersihkan jalan mereka, sehingga mereka bisa berjalan santai menuju vila tanpa khawatir ketahuan.


"Kau hebat, bung." Puji Baron pada seseorang melalui alat kecil yang terpasang ditelinganya.


"Tidak masalah. Kulakukan, untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar." Jawab seseorang di ujung sana.


Langkah mereka semakin mendekati tembok yang terdapat pintu rahasia menuju vila. Adrian tampak emosi saat Dewi berhenti tepat di depan tembok tinggi itu. "Dimana Aila? Mengapa kau membawa kami kesini!" Teriak Adrian tidak sabaran.


Dewi tersenyum, kemudian dia menelpon seseorang dan mulai bicara. Melihat itu membuat Adrian hampir saja menjambak rambut Dewi, tapi tidak jadi karena tangan Dewi lebih cekatan menekan tombol rahasia hingga tembok itu terbuka membentuk pintu. Mata Adrian dan semua orang yang menyaksikan membola takjup.


"Silahkan, tuan muda. Ini pintu menuju vila, nona Aila berada di vila rahasia ini." Tutur Dewi sambil mempersilahkan Adrian masuk lebih dulu.


"Kau tidak sedang mengelabui kami, kan Dewi!" Baron waspada.

__ADS_1


"Tentu tidak, Baron. Mari aku buktikan--"


Dewi masuk lebih dulu melewati pintu itu dan diikuti oleh yang lainnya. Mereka disambut dengan hamparan bunga matahari.


"Kau yakin vila itu ada di tempat ini, Dewi?" Tanya Baron.


"Meski aku belum pernah ketempat ini, aku yakin, Baron. Kau tahu, sumber informasiku adalah orang yang dipercaya Tiger untuk keluar masuk vila rahasia kesayangannya ini."


Mendengar penuturan itu, mereka pun terus melangkah semakin mendekat kearah vila.


Sony, saat itu baru saja keluar dari vila. Dia berkunjung ke Vila untuk menemui istrinya, madam Susan. Saat kakinya hendak meninggalkan halaman vila, sayup sayup dia mendengar suara langkah kaki semakin mendekat.


"Siapa yang datang? Apakah Tiger?" Monolognya.


Karena penasaran, Sony mengintip menggunakan teropongnya, dan dia melihat segerombolan orang asing yang melangkah mendekat dipimpin oleh wanita ular yaitu Dewi.


"Apa yang terjadi? Bagaimana mereka bisa masuk ke tempat ini. Apa ini yang Tiger maksud agar aku melindungi vila--" Sony berlari kembali masuk ke vila. Dia mencoba untuk tersambung pada Jack, tapi tidak ada balasan sama sekali.


"Ada apa, sayang?" Susan bertanya saat melihat suaminya kembali lagi ke vila.


"Kita dalam bahaya."


"Apa maksudmu."


"Cepat, kita harus segera menyembunyikan nona Aila."


Sony berlari menuju lantai atas ke kamar Aila diikuti oleh Susan yang masih bingung dan tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.


Tanpa mengetuk pintu, Sony membuka pintu kamar Aila secara langsung dan itu membuat Aila yang masih bersembunyi dibawah selimutnya mendongakkan kepala untuk melihat kearah Sony yang tampak heboh.


"Ada apa pak Sony? Apa terjadi sesuatu pada Tiger?"


"Tidak nona, bukan itu yang terjadi. Tapi--"


"Tapi apa?"


Aila bangkit dari ranjangnya, dia membenarkan jilbabnya, meraih cardigannya dan memakainya kembali, lalu melangkah mendekat pada Sony.


"Lepass!"


Suara teriakan madam Susan terdengar jelas oleh mereka dari dalam kamar.


"Sial!!"


Tanpa aba aba Sony langsung meraih pergelangan tangan Aila dan hendak membawanya kabur, tapi sebelum itu terjadi Baron tiba di kamar itu dengan menjadikan Susan sebagai sanderanya. Pistolnya ia letakkan tepat di leher Susan.


"Mau kemana tua bangka?" Ucap Baron.


Sony mengurungkan niatnya untuk melangkah, dia menyembunyikan Aila dibalik punggungnya dan Aila memejamkan matanya, dia ketakutan setelah sempat melihat madam Susan dijadikan sasaran pistol.

__ADS_1


"Jangan pedulikan aku, Sony. Lindungi nona Aila."


Dalam keadaan genting pun Susan masih memikirkan keselamatan Aila, kalimat itu membuat Aila membuka matanya lalu dia beralih posisi dengan Sony. "Jangan sakiti mereka. Kalian boleh membawaku asal jangan sakiti mereka!"


Teriak Aila sangat lantang. Dia menatap penuh amarah kearah Baron yang menyandera Susan dan Ben yang menodongkan senjatanya kearah Sony.


"Aila, sayang. Tenanglah--"


Suara itu milik Adrian. Dia datang tepat waktu.


"Adrian!"


"Iya, ini aku Aila. Aku datang untuk menjemputmu." Adrian mengulurkan tangannya pada Aila.


"Apa mereka menyanderamu juga demi aku, Adrian?" Mata Aila berkaca kaca saat mengatakan itu.


"Tidak sayang. Akulah yang meminta bantuan mereka untuk menjemputmu."


Aila bingung, sebentar dia melirik pada Sony yang berdiri tepat dibelakangnya, lalu tatapan itu membawanya untuk melihat wajah madam Susan yang tampak ketakutan karena ada pistol dilehernya.


"Kalau begitu, lepaskan dia Adrian. Dia sangat baik padaku."


Tanpa berpikir panjang Adrian memerintahkan Baron melepaskan Susan. Tapi bukannya dilepaskan, Baron malah memerintahkan anak anaknya untuk mengikat Sony dan Susan.


"Adrian, apa yang mereka lakukan? Jangan menyakiti madam Susan dan pak Sony--"


Tiba tiba Aila merasakan sakit yang teramat sangat pada perutnya.


"Sayang, kamu kenapa?"


Adrian menghampiri Aila, dia memapah tubuh Aila untuk duduk di atas ranjangnya.


"Adrian, perutku sangat sakit. Aaakhh--"


"Tahan sebentar sayang-- Baron, kita harus segera membawa Aila keluar dari sini." Teriak Adrian.


"Kamu mau membawaku kemana Adria-- Aawwwkhhggrr sakiit, Allah huuuu---" Jerit Aila dengan kedua tangannya memegangi perutnya.


"Aila kita harus meninggalkan tempat ini. Tiger sedang menyusun rencana untuk membunuhmu." Tutur Adrian berbohong.


"Mmmhhh---" Itu suara teriakan Susan yang ingin mengatakan pada Aila bahwa Adrian berbohong.


Adrian benar Tiger mungkin akan segera membunuhku dan bayiku. Tapi aku tidak bisa pergi begitu saja sebelum aku menanyakan sendiri pada Tiger apa yang akan dia lakukan padaku dan bayiku.


Aila kembali menjerit sambil memegangi perutnya yang semakin terasa sakit bahkan rasanya dia sudah tidak kuat menahan sakitnya.


Adrian tidak tahan lagi melihat Aila kesakitan. Tanpa berpikir terlalu lama, dia menggendong tubuh Aila keluar dari tempat itu. Meski Aila sempat meronta ronta, Adrian tidak peduli. Yang ada dalam pikirannya saat ini, dia harus segera membawa Aila pergi dan menyembuhkan rasa sakit yang kini menyerang Aila. Pasukannya mengikuti langkah Adrian. Sama seperti tadi, mereka akhirnya berhasil keluar dari mansion dengan aman.


"Mmmh--- hhrrggg--"

__ADS_1


Sony dan Susan hanya bisa berteriak tertahan karena mulut mereka di tutup lakban, sedangkan tubuh mereka terikat kuat menyatu dengan bagian kaki lemari pakaian di kamar itu.


__ADS_2