
Malam terasa sangat dingin, membuat Aila terusik, dia kembali membuka matanya sambil menarik selimut tebal.
"Aila, apa kau kedinginan."
Itu Adrian, dia masuk ke kamar itu dan mulai menyalakan penghangat ruangan. Lalu, dia duduk di pinggir ranjang tempat Aila berbaring.
"Kau merasa lebih baik?" Hendak menyentuh wajah Aila, tapi cepat ditepis olehnya.
"Harusnya kau tahu aku tidak bersentuhan dengan pria yang tidak halal untukku, Adrian." Ujarnya dengan nada judes dan juga dingin. Sebab Adrian sudah terlalu sering memeluk dan menyentuhnya secara tiba tiba dan itu membuatnya tidak nyaman.
Adrian kecewa mendapati sikap Aila yang dingin padanya. Tapi, dia tidak menyerah untuk tetap bersikap baik dan perhatian pada pujaan hatinya itu. Dia juga mencoba untuk memahami apa yang tidak disukai dan apa yang disukai Aila.
"Maafkan Aku, Aila. Tapi aku rasa aku harus mengatakan ini padamu."
Aila diam saja tidak berminat memberi respon pada Adrian sama sekali.
"Tiger tidak benar benar mencintaimu. Dia hanya menjadikan kamu sandera untuk membalaskan dendamnya pada Lion king yang telah membunuh kedua orangtua dan adiknya."
Masih tidak ada respon dari Aila. Itu karena Aila tahu, Tiger memang hanya menjadikannya tawanan. Tapi, mengapa Tiger memanfaatkannya untuk membalas dendam pada Lion king itu apa maksudnya Aila tidak mengerti, tapi dia malas membuka mulut untuk bertanya.
"Kau tahu, Lion king itu adalah kelompok mafia yang dua puluh tahun lalu kehilangan bayi mereka dan bayi mereka di curi oleh Tiger king, ayah dari pria itu."
Kalimat barusan membuat Aila merespon, dia pun langsung duduk dari posisi berbaringnya. "Apa maksudmu Lion itu yang membunuh orangtua Tiger?"
Sejenak Adrian terdiam, dia terkejut Aila langsung merespon dengan pertanyaan yang seakan Aila sudah tahu tentang cerita ini.
"Kau tahu kedua orangtua Tiger dibunuh oleh--"
"Ya aku tahu kedua orangtua Tiger dibunuh oleh kelompok mafia lain, Adrian. Tapi, aku sama sekali tidak mengerti mengapa dan apa alasannya Tiger memanfaatkan aku untuk misi balas dendamnya itu?"
Satu sudut bibir Adrian terangkat. Akhirnya dia berhasil membuat Aila benar benar akan melupakan Tiger setelah mendengar akhir cerita ini.
"Kenapa kamu diam saja, Adrian. Apa kamu juga tidak tahu alasan--"
"Kamu adalah putri Lion king yang hilang dua puluh tahun lalu, Aila."
__ADS_1
Pernyataan itu membuat Aila terperangah kaget. "Apa maksudmu, Adrian?"
Sebentar Adrian menghela napas, lalu dia memperbaiki posisi duduknya untuk bisa berhadapan langsung dengan Aila.
"Aila, sebenarnya kamu adalah bayi Lion king yang hilang dua puluh tahun lalu."
"Bagaimana kamu mengatakan itu Adrian, kita sudah bersama sejak lahir. Kamu tahu siapa aku dan siapa orangtua ku Adrian."
"Aku juga awalnya bingung dan tidak percaya saat papa mengatakan cerita tidak masuk akal ini, Aila. Tapi--" Adrian mengeluarkan handphonenya lalu membuka satu file video yang diperlihatkan Baron waktu itu saat mencoba meyakinkannya tentang kebenaran siapa sebenarnya Aila.
Dengan ragu Aila menatap lekat layar handphone yang memutarkan rekaman saat detik detik dirinya tertukar dengan bayi yang seharusnya menjadi anak dari kedua orangtua yang dikiranya adalah keluarga kandungnya.
"Adrian--" Aila tampak bingung. Dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dia adalah putri dari pria yang telah membunuh keluarga pria yang dicintainya. "Tidak Adrian, ini tidak mungkin." Aila terisak.
"Maafkan aku Aila. Tapi inilah kenyataannya. Kamu adalah putri dari pria yang telah membunuh keluarga Tiger. Dan kamu harus sadari itu, Tiger akan membunuh kedua orangtuamu juga meski kamu sudah tidak menjadi sanderanya."
"Cukup Adrian. Aku tidak mau mendengar apapun--"
Aila kembali berbaring. Dia menyembunyikan tubuhnya dibawah selimut. Dia menangis sejadi jadinya.
Adrian sendiri hanya bisa melihat dan menemani Aila sampai dia berhenti menangis.
Pukul 23:30 hampir tengah malam.
Adrian sudah keluar dari kamar Aila, begitu tangisan Aila tidak lagi terdengar. Kini dia berada di ruang kerja papa nya untuk menemui Baron.
"Dimana papa, Baron?"
"Tuan Arnold sedang berada di markas rahasia, tuan muda."
"Apa yang papa lakukan disana?"
"Mmm, sepertinya tuan Arnold berhasil menahan Tiger."
"Benarkah?" Selidik Adrian.
__ADS_1
"Iii iya, tuan muda."
Sebentar Adrian tampak memikirkan sesuatu. "Bisakah kau mengatakan pada papa pesan dariku?"
"Tentu, tuan muda."
"Kalau begitu pergilah temui papa. Katakan padanya aku ingin besok Tiger dipastikan tewas dan buat seakan Lion-lah yang membunuhnya."
"Apa?"
Baron bertanya bukan karena tidak mendengar apa yang dikatakan Adrian, tapi lebih tepatnya dia kaget dan sedikit takjup akan perubahan tuan mudanya yang sangat cepat. Dari seorang pemuda yang baik hati, lemah lembut dan sopan, berubah menjadi pria kejam yang menginginkan kematian musuhnya.
"Kau ingin aku mengulangi lagi ucapanku?"
"Tidak, tuan muda. Saya akan segera menyampaikan pesan tuan muda pada tuan Arnold segera."
"Bagus."
"Saya permisi, tuan muda." Baron memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan itu.
Mata Adrian menatap tajam kepergian Baron hingga punggung pria itu benar benar menghilang dari pandangannya.
"Jika kamu tidak bisa mencintai aku, maka tidak ada satu pun pria yang bisa kamu cintai Aila. Selamanya kamu hanya milikku. Aku akan menyingkirkan semuanya, semua yang menghalangi kita, sayang." Gumam Adrian dengan tatapan yang berapi api dan kedua tangan terkepal erat.
Adrian yang manis dan baik hati benar benar telah berubah menjadi pribadi yang ganas dan dingin.
"Besok kamu hanya akan melihat mayat pria itu, Aila. Kamu mungkin akan menangis dan sangat sedih menerima kenyataan itu." Adrian tersenyum sinis.
"Tapi, jangan takut Aila. Aku akan selalu ada untuk menemani kamu. Aku akan dengan sabar menunggu sampai air mata kesedihanmu mengering. Aku akan menunggu hingga saatnya kamu membalas cintaku dan hanya aku satu satunya pria yang kamu cintai selama sisa hidupmu, Aila ku tersayang."
Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna membentuk senyuman yang sedikit menyeramkan untuk dilihat. "Hah haahha, haahahaahaa---" Tawanya menggema memenuhi setiap sudut ruangan itu.
"Aku tidak sabar menunggu besok. Matahari, cepatlah bersinar."
Adrian kembali tertawa terbahak bahak. Jika saja Aila melihat adegan ini, Aila pasti akan langsung berlari sejauh mungkin agar tidak tertangkap oleh Adrian yang telah menjelma bak iblis yang sangat kejam.
__ADS_1
Cukup lama Adrian tertawa, bahkan dari ujung matanya sampai mengeluarkan air. Dan kini tawa itu mulai mereda, dia sudah kembali kemode awal, menjadi Adrian yang lembut dan penuh perhatian.
"Aku harus kembali melihat Aila. Siapa tahu dia terbangun karena mengalami mimpi buruk." Gumamnya sambil melangkah santai dengan satu tangan berdiam didalam satu celana sementara tangan lainnya dibiarkan melambai lambai mengikuti ketukan langkah kakinya.