Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 84


__ADS_3

Hari pertama bulan Romadhon.


Masjid masjid menjadi sangat ramai, terlebih malam ini adalah tarawih pertama pembuka awal bulan romadhan. Semua umat muslim berbondong bondong menuju masjid untuk melaksanakan ibadah sholat tarawih. Begitu juga dengan Varen dan Aila, saat ini mereka sedang berjalan berdampingan menuju masjid terdekat di komplek perumahan mereka.


"Kenapa harus jalan kaki sih sayang, kan kita bisa naik mobil tadi ke masjidnya." Celoteh Varen yang merasa kasihan melihat Aila harus berjalan malam malam dalam keadaan hamil pula.


"Enakan juga jalan, mas. Supaya lebih berasa indahnya saat saat menuju masjid untuk tarawih bersama." Ujar Aila yang tersenyum bahagia.


"Iya sih sayang, tapi mas khawatir nanti pas nyampe masjid sayang malah kecapek-an, nah gimana mau khusuk sholatnya kalau sudah capek."


Aila hanya tersenyum. Sebenarnya apa yang dikatakan Varen ada benarnya juga, tapi Aila ingat saat dulu masih di pesantren, dia bersama teman teman santriwati berjalan berbondong bondong menuju masjid di luar pesantren untuk ikut melaksanakan sholat tarawih pertama bersama masyarakat. Rasanya berbeda dibanding datang ke masjid dengan naik kendaraan.


"Mas ya yang capek?" Tuduhnya.


"Enak saja. Mas sudah biasa berjalan ratusan kilo meter loh sayang. Jangan lupakan itu, kenyataan bahwa suami tertampanmu ini mantan mafia terkuat sejagad raya."


"Huu iya deh yang paling mafia." Ledek Aila.


"Berani mengejek nih ceritanya."


"Iya, wweee…"


Aila sedikit berlari sambil menjulurkan lidahnya menoleh kearah Varen yang tertinggal di belakangnya.


Bukannya mengejar, Varen hanya tersenyum gemas melihat tingkah Aila yang menggemaskan menurutnya.


Ya Allah, alhamdulillah Engkau perkenankan hamba menemui bulan suci penuh rahmat dan ampunan dari-Mu ini. Semoga Engkau sudi menerima amal ibadah hamba yang baru memulai untuk belajar mengenal agama indah yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang-Mu.


Rasa syukur tiada henti Varen haturkan pada Allah. Betapa bahagianya dia bisa dipertemukan dengan wanita seperti Aila. Melalui Aila pula Allah menitipkan hidayahnya untuk melembutkan hati Varen sehingga dia bisa mengenal Allah.


"Aila hati hati…" Pekik Varen tertahan saat melihat Aila hampir jatuh.


Untungnya pertahanan Aila kokoh, hingga dia tidak jadi jatuh tersungkur kedepan sana.


Dengan cepat Varen mengejar Aila dan langsung memeriksa apakah bagian tubuh Aila ada yang terluka.


"Sayang tidak apa-apa?" Varen sangat khawatir.


"Mas lebay deh. Aku tidak apa apa kok, mas. Hanya hampir jatuh, belum jatuh benaran."


"Iya hampir jatuh. Makanya hati hati, nanti kalau jatuh benaran gimana?"


"Tenang saja, mas. Aku tidak akan membahayakan bayi mas lagi kok kali ini." Sungut Aila merasa kekhawatiran Varen tertuju pada bayi mereka.

__ADS_1


"Loh, kok sayang malah ngomong gitu sih. Bukan bayi mas sendiri loh sayang, tapi bayi kita." Merangkul bahu Aila yang sudah tertutup kain mukenanya. Aila sudah memakai mukenaaya sejak dari rumah tadi.


"Mas mengkhawatirkan sayang, dan juga bayi kita." Varen menegaskan lagi untuk membuat hati Aila merasa tenang kembali.


Mendengar itu benar benar membuat mood Aila kembali membaik. Dia bahkan melangkah dengan langkah pasti dan sambil tersenyum dengan sesekali mendongak untuk menatap wajah suaminya.


Alhamdulillah. Engkau kirimkan lelaki selembut dan sebaik Varen untuk menjagaku. Semoga, Engkau izinkan pula kami bersama saling mencintai, menyayangi dan menjaga hingga sampai akhirat kelak. Aamiin ya Allah ya Robbal 'alamiin.


...🐯(NATM)🐯...


Pukul 03:25 dini hari.


Aila bangun lebih dulu. Dia pun langsung mencuci wajah, tangan dan kaki, lalu berwudu dan sholat sunnah dua rakaat.


Begitu Aila usai sholat, dia langsung membangunkan Varen sebelum beranjak ke dapur untuk memasakkan menu sahur pertama sang suami.


"Mas, bangun. Saatnya makan sahur…"


Suara Aila sangat lembut membangunkan suaminya. Tangannya bahkan mengusak lembut penuh kasih bagian kening suaminya itu.


"Mmm hhhooamm... jam berapa sekarang, sayang?"


"Hampir jam empat. Ayok bangun, aku mau masak dulu. Mas mau dimasakin apa untuk sahur pertama mas?"


"Siap suamiku."


Sebelum ke dapur, Aila memberikan ciuman di pipi dan dahi Varen yang membuat mata Varen benar benar melek.


Setibanya di dapur, bik Nur rupanya sudah memasak sambel ayam dan juga ikan panggang.


"Wah, bibik sudah selesai masak nih."


"Iya, non." Nur menyusun makanan diatas meja makan.


"Masih ada ikan mentah bik?"


"Ada non."


"Tidak apa ya bik, aku masak ikan goreng. Soalnya mas Varen mau makan pakai ikan goreng katanya, sama sambel kecap seperti yang kemaren saya bikin." Tutur Aila sambil mengeluarkan satu ekor ikan gurame ukuran sedang dari dalam kulkas.


"Biar bibik saja yang goreng ikannya non."


"Tidak usah bik, biar aku aja. Itung itung mau nambah stok pahala."

__ADS_1


Nur pun hanya bisa tersenyum menanggapi Aila. Yang mulai melumuri ikannya dengan bumbu racik praktis. Kebetulan ikannya sudah dibersihkan tadi oleh Nur, jadi tugas Aila lebih ringkas.


"Bibik bantu iris bawang dan cabe untuk sambel kecap, ya non."


"Iya bik. Terimakasih loh di bantuin." Ujar Aila senang.


"Ini mah memang tugas bibik, non."


"Iya juga ya bik. Tapi, maksudnya aku ingin mendapat pahala juga, seperti memasak untuk suami, mencuci pakaian suami.. ya yang seperti itu loh bik."


Nur hanya tersenyum. Dia mengerti apa yang dimaksud Aila. Tapi, meski bagaimanapun Nur adalah pembantu yang tugasnya ya, membersihkan rumah, memasak untuk majikan dan juga mencuci pakaian dan sebagainya.


"Non Aila mirip dengan mendiang nyonya. Dia juga selalu memasak dan mencuci pakaian tuan Ciko sendiri. Katanya supaya mendapat pahala dan berkah serta keridhoan dari tuan Ciko sebagai suami nyonya." Tutur Nur mengingat sosok nyonya terdahulu.


"Aku merindukan bunda, bik. Senyum bunda, pelukan hangat bunda dan cara bunda menatap aku. Mmm… aku merindukan semua tentang bunda."


Aila membalik ikan yang digorengnya dan sudah hampir matang.


"Sayang.." Panggil Varen yang sudah tampak segar. Dia melangkah kearah dapur untuk menghampiri istrinya.


"Pagi den Varen." Sapa Nur.


"Pagi bik. Bik Nur ikut sahur juga kan?" Tanya Varen yang sudah duduk nyaman di kursi.


"Iya, den. Tapi bibik sudah sahur duluan."


"Loh kok malah sahur duluan sih, bik. Harusnya sahurnya bareng bareng, supaya rame dan nggak ngantuk. Dan satu lagi, supaya selera makan bertambah."


Sambel kecap sudah selesai diracik oleh Nur dan langsung di letakkan di hadapan Varen.


"Terimakasih bik."


Hanya anggukan respon dari Nur. Lalu dia membantu Aila mengangkat ikan gorengnya yang telah matang.


"Taraaa… gurame goreng bumbu kesukaan mas."


Aila meletakkan ikan goreng itu dihadapan suaminya, lalu dia duduk di kursi tepat di sebelah Varen. Sementara Nur sudah menghilang di balik pintu kamarnya. Dia tidak ingin mengganggu majikannya yang sedang sahur bersama.


"Lain kali, minta bantuan bik Nur saja menggoreng ikannya, sayang."


"Iih nggak apa apa kok mas. Aku mau belajar menjadi istri yang baik dan berbakti sama suami. Istri sholehah." Tegasnya.


"Boleh kok kalau sayang mau menjadi istri yang berbakti. Tapi, mas khawatir, sayang kecapek an dan repot."

__ADS_1


Varen mengelus lembut kepala Aila, lalu mencium puncak kepalanya. Dan Aila hanya tersenyum patuh mendengar ocehan suami tercintanya itu.


__ADS_2