Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 94 Musnah


__ADS_3

Sementara itu Varen dan beberapa anak buahnya melakukan transaksi. Dia menjual hampir semua senjatanya kepada seorang pria misterius yang membayar dengan jumlah yang cukup banyak untuk semua senjata yang didapatnya.


"Tuan, persediaan senjata semakin menipis. Haruskah kita mencari pembuat senjata yang baru untuk mulai memproduksi senjata lagi?" Tanya mereka pada Varen saat sudah kembali ke pabrik.


Varen tidak langsung menjawab. Dia menelusuri setiap senjata yang masih ada di sana. Lalu, diambilnya satu senjata terbaik yang hanya ada lima saja di dunia ini dan itu masih sisa dua, sementara tiga lainnya sudah berada di tangan pria misterius tadi. Senjata terbaik ini dibuat khusus untuk Tiger seorang, dan belum pernah Tiger berikan pada siapapun dan baru pernah sekali di gunakannya saat berperang dengan Snake king waktu itu.


Senjata ini kini kembali ke tangan Varen. Bahkan pelurunya pun adalah peluru yang mematikan. Tidak akan ada yang bisa selamat jika peluru ini sudah mengenai bagian tubuh sesoarang, meski hanya di bagian lengan kaki atau lengan tangan sekalipun, orang itu akan tewas seketika.


Varen belum pernah menggunakan peluru itu sekalipun. Dulu dia berencana untuk menembak jantung Lion king, tapi tidak jadi, karena ternyata Lion king adalah ayah dari wanita yang sangat dicintainya.


"Kita tidak butuh senjata lagi. Aku akan mengakhiri taransaksi ini begitu semua senjata ini terjual habis." Gumamnya yang membuat anak anak buahnya saling bersitatap heran.


"Kenapa, tuan?" Tanya salah seorang dari mereka memberanikan diri.


Varen tidak menjawab. Dia malah memasukkan peluru tadi kedalam senjata kesayangannya itu.


"Sekarang juga, kalian bawa semua senjata ini keluar dari sini. Jual sentaja ini pada pria misterius tadi dan dapatkan uangnya. Dia sudah menunggu kalian." tutur Varen menatap satu persatu anak buahnya yang ada di sana secara bergantian.


"Kosongkan pabrik sekarang juga. Kalian semua harus pergi dari sini tanpa terkecuali!" Titah Varen menegaskan.


Dengan tanpa bertanya lagi, semua orang bergegas mengemas senjata, lalu mereka segera meninggalkan pabrik sesuai apa yang diperintahkan oleh Varen barusan.


Setelah semua orang keluar dari sana. Varen menyalakan api, lalu dengan cepat dia juga keluar dari pabrik yang ada di bawah tanah itu. Varen membakar pabrik tepat sebelum Yudit tiba. Ya, Varen tahu bahwa Yudit akan menuju pabrik dan Varen juga tahu bahwa Aila telah mengkhianatinya dengan menjadi mata mata yang bekerja untuk Tam.


"Aku Tiger king. Aku tidak akan pernah membiarkan pengkhianat hidup dan berkeliaran lagi di muka bumi ini." Dia menggertak geram.


Langkah kakinya tampak pasti menuju villa untuk menemui Aila. Senjata dipegangnya erat dan siap ditembakkan. Entahlah, apakah Varen akan menembak Aila atau mungkin akan menembak musuh?


Saat Varen menuju villa, Yudit berada di lorong menuju pabrik. Dia yang tidak tahu bahwa pabrik sedang terbakar hebat di bawah sana pun langsung melangkah memasuki lorong itu.


Duaaarrrr…

__ADS_1


Semburan api dan asap hitam membuat tubuh Yudit terpental jauh kembali keluar dari lorong itu.


Dia memekik hebat merasakan sakit pada seluruh tubuhnya yang terpental kuat serta merasakan hawa panas api yang membara. Matanya menatap kearah lorong itu yang disana kepulan asap hitam terus keluar dan juga ada semburan api yang awalnya kecil kecil, lalu berubah menjadi semburan besar yang berakhir membakar bagian Vila dan juga mansiaon.


"Tidak! Aila gadis itu berada di villa." Yudit bangkit dengan susah payah.


Lalu dia berlari kencang menuju tembok yang yerhubung dengan vila. Tapi, sebelum dia tiba disana terdengar suara tembakan yang ditujukan kearahnya.


Doorrr…


Satu timah mematikan milik Varen, berhasil menembus jantung Yudit si psikopat itu. Seketika tubuhnya ambruk begitu saja di tanah. Matanya melotot membola merasakan sakit dan perih yang teramat sangat saat timah mematikan yang panas itu menembus jantungnya. Bahkan dari kedua matanya memancarkan darah segar sangking panasnya timah yang bersarang di jantungnya saat ini.


"Nyawa harus dibalas nyawa, bung. Itu untuk Sayyidah-ku." Gumamnya menatap penuh dendam pada mayat pria psikopat bernama Yudit itu.


Setelah memastikan Yudit benar benar telah mati, barulah Varen menerobos masuk ke area villa yang tanahnya terasa hangat karena api dibawahnya yang berasal dari pabrik di bawah sana yang tepat berada di bawah villa.


"Aila!" Teriak Varen sambil menodongkan senjatanya dan dia berlari menuju kamar utama dimana Aila saat ini terikat erat di ranjang pasien.


Doorrr…


Doorrr…


"Tidak akan kubiarkan satupun pengkhianat hidup." Gertaknya dengan terus melangkah cepat menuju kamar utama.


Begitu tiba disana, dia melihat Aila terbaring dalam keadaan terikat diatas ranjang pasien. Senjatanya dia todongkan tepat kearah Aila.


"Kau mengkhianatiku!" Hardik Varen yang membuat Aila terkejut ngeri.


"Mas Varen!" serunya dengan suara gemetar. Mata Aila bahkan sudah berkaca kaca.


"Kau mengkhianatiku!" Ulang Varen, tapi kali ini dengan nada suara rendah yang menampakkan rasa penuh kecewa. Ya, dia sangat kecewa dan terluka atas pengkhianatan ini.

__ADS_1


"Tuhan berbaik hati padaku, dia membiarkan kau hidup agar aku bisa menembakmu pengkhianat!" Seru Varen lantang penuh tekanan emosi.


Aila hanya diam, air matanya menetes dari pelupuk matanya. Dia tidak takut jika memang harus mati ditangan suaminya sendiri, asalkan suaminya tidak mati ditangan orang lain.


"Aku sangat mencintaimu, suamiku." Ucap Aila dengan tulus. Lalu dia memejamkan matanya sangat erat.


Varen sudah berdiri di samping ranjangnya dan menodongkan senjatanya tepat di kening Aila. Matanya menatap penuh kebencian wajah yang dulu sangat dicintainya itu.


Doorrr…


Satu peluru mematikan milik Varen dia tembakkan keluar villa melalui jendela kaca villa di kamar utama itu.


Aaarrrggghhhkkk…


Dia berteriak histeris dan melemparkan senjatanya dengan kuat ke tembok hingga membuat senjata itu retak dan jatuh begitu saja di lantai.


"Kau sudah mati Aila. Kau sudah aku bunuh dengan tanganku sendiri." Ujar Tiger dengan suara pelan.


Aila membuka matanya dan dia semakin menangis histeris. Dia tahu, suaminya telah mengetahui pengkhianatan yang dia lakukan. Aila bahkan tadinya sudah pasrah jika memang Tiger akan membunuhnya.


"Aku akan menghukummu. Aku tidak akan pernah menceraikan kau Aila. Tapi, kau tidak boleh terlihat lagi di depan mataku sampai rasa kecewa atas pengkhianatanmu hilang dariku." Ucap Tiger menjelaskan.


Saat itu juga, Seon tiba di sana. Dia di perintahkan oleh Tiger untuk menjemput Aila dan memulangkannya kembali ke Indonesia bersama mamanya.


"Mas, izinkan aku memelukmu untuk yang terakhir…" Ujar Aila memohon. Tubuhnya yang sudah tidak terikat lagi itu kini berlutut menatap kearah punggung Tiger.


"Aku tidak sudi di peluk oleh pengkhianat dan pembohong sepertimu. Pergilah selagi aku tidak berubah pikiran untuk menceraikanmu. Oh atau kau memang ingin aku ceraikan?" Varen menoleh pada Aila yang tertunduk sedih sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Kalau begitu pergilah." Titahnya yang kembali memalingkan tatapannya dari Aila.


Seon membantu Aila berdiri, lalu dia membawa Aila keluar dari Vila melalui pintu rahasia. Varen pun juga keluar dari Vila itu tepat sebelum vila meledak dan terbakar bersamaan dengan pabrik dan juga mansion. Semuanya hangus terbakar tanpa sisa untuk yang kesekian kalinya.

__ADS_1


__ADS_2