
Setelah makan sahur, Varen ikut sholat subuh berjamaah ke masjid. Pulang dari masjid, dia malah nekat pergi joging, meski sudah di cegah oleh Aila. Akibatnya, sepulang dari joging dia merasa sangat kehausan.
"Makanya kalau istri ngomong itu didengarkan." Oceh Aila sambil membawakan sebotol air mineral yang diambilnya dari dalam kulkas.
"Nah, ni minumnya, mas."
"Sayang apaan sih. Mas kan puasa." Tolaknya.
"Tapi tadi mas bilang haus, mau minum. Sudah nggak kuat katanya."
"Hanya sekedar ocehan kosong saja sayang. Mas masih kuat kok. Masak iya sudah kalah sebelum berperang." Tuturnya sambil menelan ludah menatap betapa segarnya air mineral itu.
"Benaran mas masih mau lanjut puasa?"
Varen mengangguk yakin.
"Ya sudah, kalau begitu mas mandi sana. Setelah mandi, nonton tv atau main handphone atau tidur saja." Saran Aila.
Dia tahu kok betapa susahnya suaminya untuk berpuasa. Dulu juga saat pertama Aila belajar puasa, saat umurnya lima tahun, bunda selalu menawarkan agar dia melepas puasanya. Tapi Aila tidak mau dan nekat lanjut. Cara ampuh agar puasanya sampai, Aila menonton tv, bermain game bahkan sampai ketiduran.
"Mas mandi dulu ya." Mencium kening Aila.
Begitu Varen pergi mandi, Aila kedapur untuk meminum susu khusus ibu hamil. Ya, Aila tidak puasa karena dia khawatir akan membahayakan janin yang baru beberapa minggu di rahimnya.
Sementara itu, tidak jauh berbeda dengan Aila, Ririn juga tidak berpuasa. Terlebih kondisinya memang sangat lemah padahal usia kehamilannya sudah empat belas minggu. Kondisi Ririn yang sangat lemah dan tidak mau makan, membuatnya berakhir di rawat di rumah sakit.
"Mas, aku mau pulang." Rengek Ririn.
"Sayang, kondisi kamu belum memungkinkan untuk pulang. Nanti kalau sudah diizinkan dokter, baru kita pulang." Bujuk Adam.
"Tapi disini tidak enak mas. Bau rumah sakit membuat perutku terasa mual. Aku nggak kuat lagi di sini…"
Adam juga sebenarnya memang ingin segera membawa istrinya pulang. Terlebih selama hampir empat hari di rumah sakit, tidak ada perubahan sama sekali.
"Dam, ayok kita pulang. Ririn sudah tidak nyaman di sini. Lagian tidak ada perubahan juga, kan?"
Mama ikut membantu Ririn untuk membujuk Adam agar segera pulang. Tidak berapa lama, akhirnya Adam mengangguk setuju.
"Kita pulang, sayang." Mencium dahi istrinya. "Aku mengurus administrasi dulu ya ma."
"Iya. Biar mama menjaga Ririn."
Saat Adam keluar dari kamar untuk mengurus administrasi, Kinan menelpon mengabarkan, dia sedang di perjalanan menuju ke rumah sakit bersama Aila dan Varen.
"Iya, datang saja."
Panggilan berakhir. Adam melanjutkan kembali langkahnya menuju kasir.
__ADS_1
Tidak berapa lama Kinan, Varen dan Aila tiba di rumah sakit disambut langsung oleh Adam yang sengaja menunggu di depan.
"Bagaimana keadaan Ririn, mas Adam?" Tanya Aila.
"Sejauh ini masih tidak ada perubahan, bu Aila. Dia malah merasa bertambah mual karena bau rumah sakit. Jadi, hari ini saya memutuskan membawanya pulang saja." Jelas Adam.
Aila hanya mengangguk sebagai respon penjelasan Adam.
Kini mereka tiba di ruangan kamar tempat Ririn di rawat. Ruang VIP, tapi yang namanya wanita hamil memang sangat sensitif terhadap bau.
"Ririn." Sapa Aila, dia langsung menghampiri Ririn, mencium kedua pipinya dan menanyakan keadaanya.
Ririn hanya merespon dengan anggukan dan sedikit senyuman.
"Bu, apa kabar." Sapa Aila pada mama Adam. Dia mencium punggung tangan mama yang membuat mama merasa canggung, karena menurutnya dialah yang harus mencium tangan Aila, karena Aila istri dari bos Adam.
...🐯(NATM)🐯...
Varen dan Aila tiba di rumah saat azan ashar berkumandang. Mereka langsung sholat ashar berjamaah, setelah itu Varen langsung berbaring di atas kasur.
"Sayang, masih lama ya menjelang buka?" Rengeknya.
Aila tersenyum gemas, dihampirinya suaminya itu dielusnya kedua pipi suaminya. "Sebentar lagi, mas. Tidur saja dulu, aku mau bantu bik Nur masak dulu ya."
"Sayang disini saja. Temani mas ya, rasanya mas sudah tidak kuat, lemas, haus.." Menahan Aila dengan menggenggam erat kedua tangan Aila.
"Kalau sudah tidak kuat, mas boleh kok buka sekarang.. mau aku ambilkan minum?"
"Ya makanya, mas tidur saja dulu. Aku mau bantu bik Nur masak untuk buka puasa. Mas mau dimasakin apa?" Mengelus kepala Varen dengan lembut.
"Sayang juga harusnya istirahat saja. Biarkan bik Nur yang masak. Sayang jangan sampai kecapek an." Menahan agar Aila tidak pergi ke dapur.
"Iya deh mas, ini aku juga baring istirahat."
Aila akhirnya mengalah, dia ikut berbaring di sebelah Varen. Dan mereka benar benar hanya berbaring saja, bedannya Aila berbaring sambil membaca buku tentang seputar kehamilan. Sementara Varen berbaring dengan memejamkan matanya, hingga ketiduran.
Satu jam kemudian, Aila bangkit dari tempat tidur. Dia pergi mandi sebentar. Setelah mandi, Aila membangunkan Varen dengan sangat perlahan dan hati hati agar Varen tidak terkejut.
"Mas bangun.. mas bangun yok, sudah mau buka puasa."
Varen menggeliat manja, perlahan matanya terbuka dan dia pun duduk sambil meletakkan kepalanya di bahu Aila.
"Jam berapa sekarang sayang?" Dia bertanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Sudah jam setengah enam, mas. Bentar lagi buka puasa. Gih mas mandi dulu.." Mengusak kepala suaminya.
"Ya sudah mas mandi dulu ya."
__ADS_1
"Aku duluan ke dapur ya mas, bantu bik Nur menyiapkan makanan untuk buka."
"Iya. Tapi jangan terlalu kecapk an."
"Siap, suamiku."
Saat Varen melangkah menuju kamar mandi, Aila pun pergi ke dapur untuk membantu bik Nur.
Dan ternyata ada Bhika yang sejak tadi membantu bik Nur mulai dari memasak menu buka, dan juga menyiapkan takjil.
"Halo sayang." Sapa Bhika dengan menggerakkan tangannya.
"Mama.." Aila langsung masuk dalam pelukan Bhika. "Aku sibuk bepergian hari ini, sampai melupakan mama." Rengeknya manja dalam pelukan Bhika.
Sementara Bhika hanya mengelus punggung putrinya dengan lembut, karena dia tidak mengerti apa yang diucapkan Aila barusan.
Aila melepaskan pelukan, lalu dia menghampiri Nur yang tampak sedikit kerepotan menyusun gorengan dan kue kue untuk buka puasa nanti.
"Bibik tadi membeli semua ini di pasar beduk?" Tanya Aila yang mulai membantunya.
"Iya non. Tadi nyonya yang memilih takjil dan kue kue ini." Tuturnya.
"Mama ikut bibik ke pasar beduk?"
"Iya non. Nyonya memaksa mau ikut tadi…"
Aila tersenyum menatap ibunya.
Lalu, mereka pun duduk di kursi masing masing menunggu waktu buka puasa. Saat itu juga Varen yang sudah segar selesai mandi menghampiri mereka.
"Ma." Sapa Varen.
Bhika hanya mengangguk sambil tersenyum. Sementara Varen sudah duduk di samping Aila.
"Bik Nur, mau kemana?" Tanya Aila dan Varen bersamaan.
"Mau siap siap buka di belakang, non, den."
"Loh kok buka di belakang sih, bik. Udah sini buka bareng kita saja. Nggak boleh buka sendiri." Tegas Varen dengan suara khas mafianya dulu yang akhirnya berhasil membuat Nur mengurungkan niatnya untuk kebelakang.
Saat itu juga suara azan berkumandang.
"Alhamdulillah.." Ujar Aila.
"Mas, udah waktunya buka." Aila menuangkan segelas es teh untuk suaminya.
"Loh pertanda buka puasanya mana, sayang?" Tanyanya bingung.
__ADS_1
"Azan itu pertanda sudah waktunya buka puasa, mas." Jelas Aila.
Varen mengangguk, lalu dia memimpin membaca doa buka puasa yang telah di hafalnya seharian. Dan mereka pun buka puasa bersama menikmati hidangan yang tersaji di meja makan. Varen bahkan tampak sangat lahap makan bahkan sambil terburu buru sangking laparnya katanya. Hal itu membuat Bhika, Aila dan Nur tertawa.