
"Kenapa masalah Alea nggak di rundingin dulu Yah?". Ayah Bagas melipat kedua lengan di dada nya, saat mendengar protes anak sulung nya selepas selesai acara kajian.
"Bukankah Ayah sudah telepon Kamu, tapi Kamu nggak angkat?". Pertanyaan Ayah Bagas di balas helaan nafas Rafa.
Ya Rafa menyadari pada sejak pagi HP nya memang sengaja di mode silent, karena Amara sejak semalam selalu menelpon dan mengajak nya bertemu, untuk membahas kelanjutan hubungan mereka.
Padahal dua hari yang lalu Rafa sudah dengan tegas mengatakan kalau selama ini hubungan mereka hanya teman yang saling kenal saat acara seminar kemarin. Karena memang sejak awal Amara lah yang selalu mengaku sebagai kekasih Rafa.
Walau pun tak pernah mengiyakan bahkan menerima perasaan Amara, namun karena Amara yang selalu mengejar Rafa dan selalu mengatakan kalau mempunyai hubungan dekat dengan Rafa, sementara Rafa adalah orang yang malas untuk mengklarifikasi hal yang sangat tidak penting buat itu, dan membuat kalau apa yang di katakan oleh Amara adalah benar ada nya.
Namun semakin lama sikap Amara semakin menyebalkan hingga membuat Rafa pun menjadi jengah dan pada akhir nya memutuskan untuk mengklarifikasi kalau Dia dan Amara hanya saling kenal dan tidak ada hubungan spesial di antara mereka.
Namun lagi lagi, Amara menolak keputusan Rafa, bahkan gadis itu menyebarkan fitnah kalau Dia dan Rafa pernah menginap di hotel dan melakukan One Night Stand.
Hal itu membuat Rafa marah dan terpaksa menemui gadis menyebalkan itu, dan pada akhir nya membuat Rafa harus ketinggalan perundingan tentang masalah Alea yang menjadi anak angkat Ayah dan Ibu nya yang otomatis menjadi adik angkat nya.
Dan Rafa tidak suka akan hal tersebut, karena itulah Dia pun melakukan protes atas keputusan sepihak kedua orang tua nya tersebut.
"Tapi kan nggak harus mengangkat Alea sebagian anak juga, Yah". Protes Rafa yang di balas Ayah Bagas dengan menatap malas anak sulung nya.
"Kasih Bunda alasan, kenapa Kamu menolak Zahra sebagai bagian dari keluarga kita?". Rafa menghela nafas pelan, mana kala mendapati Bunda nya masuk kedalam ruang kerja Ayah nya dan ikut serta dalam percakapan nya dengan sang Ayah.
"Maksud Abang, nggak harus secepat itu untuk menjadikan Alea sebagai bagian dari keluarga kita Bunda". Bunda Arsy memutar malas kedua bola mata, dan memilih untuk duduk di samping Ayah Bagas.
"Keputusan Ayah juga Bunda untuk menjadikan Zahra bagian dari keluarga Kita sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat". Lagi lagi Rafa menghela nafas pelan kecewa karena mendengar ucapan lantang Ayah Bagas.
Pria muda itu menatap penuh harap kepada sang Bunda, namun Bunda Arsy justru terlihat santai menanggapi tatapan nya.
__ADS_1
"Tapi Bunda...".
"Kalau begitu, Bunda ulangi bertanya Bunda tadi". Bunda Arsy memotong pernyataan Rafa dan kini menatap tajam kepada anak sulung nya tersebut.
"Berikan Ayah dan Bunda alasan kenapa Abang menolak Zahra menjadi bagian dari keluarga kita?". Rafa terdiam mendengar pertanyaan Bunda Arsy.
Pria muda itu menutup rapat rapat mulut nya, walau pun dalam hati nya Dia mengucapkan alasan menolak Alea menjadi anak angkat kedua orang tua nya.
Yang otomatis membuat Alea menjadi adik nya. Dan hal itu membuat Rafa harus mengubur perasaan nya dalam dalam. Karena bisa di pastikan kedua orang tua nya kelak tidak akan merestui hubungan nya dengan Alea. Itupun kalau Alea mempunyai perasaan yang sama terhadap nya. Kalau tidak?, ya Rafa harus gigit jari karena hanya mempunyai rasa sendirian kepada Alea.
"Ck. Ditanya malah diam. Pantas aja Si Amara itu udah kaya parasit. Orang Kamu sebagi lelaki cuma bisa nya diam doang. Ngomong doang dalam hati". Ucap Ayah Bagas kesal melihat Rafa hanya terdiam tanpa memberikan alasan yang di minta kedua orang tua nya.
Rafa menghela nafa dan menghembuskan nya dengan cepat, lalu menatap penuh harap kepada kedua orang tua nya.
"Karena Abang tidak sudi Alea menjadi adik Abang".
Ayah Bagas, Bunda Arsy dan Rafa mengalihkan pandangan mereka kearah pintu ruang kerja Ayah Bagas yang terbuka setelah terdengar suara benda pecah.
Tampak Alea menundukkan tubuh nya untuk mengambil pecahan kaca dari teko juga gelas yang tadi Alea bawa.
Memang sebelum Bunda Arsy masuk kedalam ruang kerja Ayah Bagas, Bunda meminta Alea untuk membawakan seteko teh hangat juga empat buat cangkir ke ruang kerja Bagas.
Namu teko juga cangkir itu terlepas dari kedua telapak tangan Alea, karena gadis itu terkejut dengan penolakan Rafa yang tidak setuju Alea menjadi anak angkat keluarga Bagaskara.
"Zahra, jangan di...".
"Nggak usah di pungut pakai tangan". Protes Rafa yang memotong ucapan Bunda Arsy, dan bergegas berjalan menghampiri Alea yang tengah menjongkokkan tubuh nya memunguti pecahan teko.
__ADS_1
Pria itu langsung menepis tangan Alea yang sedang memunguti pecahan beling, dan kemudian mensejajarkan posisi nya di hadapan Alea guna menggantikan posisi Alea memunguti pecahan beling.
Alea mengusap lembut kedua pipi nya yang mulai meneteskan air mata.
"Maaf. Saya tidak sengaja...". Gumam Alea yang masih bisa di dengar oleh Ayah Bagas dan Bunda Arsy yang sedang melihat kearah Alea dan Rafa.
"Sudah di bilang, Kamu jangan punguti". Bentak Rafa kepada Alea, karena gadis itu kembali memunguti pecah beling.
Alea tersentak mendengar bentakan Rafa. Hal yang sama pun terjadi kepada Ayah Bagas dan Bunda Arsy yang terkejut mendengar suara bentakan Rafa.
"Rafasya Ananda Bagaskara". Rafa menundukkan kepala nya dalam dalam mana kala mendengar suara kedua orang tua nya memanggil nama lengkap nya dengan nada tinggi.
"Maaf". Ucap Rafa pelan.
"Zahra, ambil sapu dan sekop di belakang pintu ruangan". Titah Bunda Arsy yang langsung di patuhi Alea.
Gadis itu bergegas mengambil sapu dan sekop yang berada di dalam ruang kerja Ayah Bagas, dan kemudian mulai membersihkan pecahan beling tang tersisa.
"Kak Rafa bisa bangun dulu, Ara mau bersihkan pecahan kaca nya". Ucap Alea pelan dengan nada sedikit terisak.
Rafa pun berdiri dari posisi nya, dan kemudian merampas sapu yang sedang di pegang oleh Alea dan kemudian mulai membersihkan pecahan beling yang tersisa hingga bersih.
"Ck, nggak Ayah nggak Anak sama aja. Kalau suka tuh bilang bukan di pendam". Gerutu Arsy kesal melihat ulah putra semata wayang nya yang tampak malu malu menatap Alea yang masih menundukkan kepala nya karena sedang berhadapan dengan Rafa yang tengah membersihkan pecahan teko dam gelas.
"Eits, Itu mah Bunda. Kalau Ayah mah kan selalu To The Point. Langsung lamar malah". Bela Ayah Bagas yang di hadiahi Bunda Arsy kerucutan bibir.
Bantu Like juga komen nya ya
__ADS_1
See you next bab