
Oma memijat kening nya perlahan-lahan. Ingin rasa nya dia memukul belakang kepala cucu kesayangan saat melihat Adit tiba-tiba mendaratkan kecupan di kening Chika. Walaupun terkena hijab Chika, namun hal itu sangat tidak pantas dilakukan oleh Adit.
Sejak kepergian kedua orang tua Chika, Adit memang sudah berniat akan menjadikan Chika sebagai pendamping hidupnya kelak sebagai bentuk pertanggung jawaban nya.
Namun mengingat ada beberapa hal yang mempengaruhi di masa lalu, membuat Oma berpikir ulang untuk mengabulkan keinginan Adit untuk menikahi Chika.
Beberapa hal yang justru akan membuat Chika celaka jikalau gadis itu melepas nama Gumilang di belakang namanya.
Hal yang bisa saja membuat nya kehilangan Chika untuk selamanya seperti yang di alami oleh kedua orang tua Chika dan Adit.
"Sepertinya hanya jalan itu satu-satunya agar Chika bisa aman dan selamat". Gumam Oma saat terlintas sebuah ide dalam pikirannya.
#######
Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Chika mulai mengerjapkan mata nya. Setiap hari di sepertiga malam gadis itu selalu terbangun. Memulai aktivitas pagi dengan mengadu kepada sang Ilahi.
Seraya menunggu waktu shubuh memanggil, gadis itu menyempatkan diri Bertilawah hingga adzan shubuh berkumandang.
Sudah menjadi kebiasaan nya setiap hari, di pagi hari gadis itu selalu menyiapkan sarapan.
"Assalamu'alaikum". Sebuah sapaan dari ruang tamu mengejutkan Chika pagi ini.
"Waalaikumsalam".
Chika mengerutkan kening nya saat samar-samar Dia melihat seorang pria memasuki dapur dengan mengenakan baju koko dan berkopiah.
"Ish ganteng nya maksimal". Gumam Chika saat terlihat jelas yang mengenakan baju koko tersebut.
"Nggak usah bengong begitu".
Adit mengusap pelan wajah Chika, karena Chika yang masih terpaku menatapnya hingga Chika pun tidak menyadari kalau Adit sudah berdiri di hadapan nya.
Suasana pun menjadi kikuk. Chika terdiam tepat di depan Adit yang sedang menatapnya.
Adit mengulum senyuman nya melihat Chika yang masih mengenakan piyama tidur bergambar pororo lengkap dengan hijab instant yang berwarna serupa dengan piyama nya.
Postur tubuh Chika yang mungil dengan piyama motif seperti itu membuat Chika terlihat seperti anak SMP bukan anak kuliahan.
"Ehm". Chika mengerjapkan kedua bola mata nya lalu mengangkat kepala nya. Tampak Adit sedang menatap lembut kepada nya.
Deg... Deg... Deg
Chika merasakan detak jantung nya mulai tak bersahabat. Ditambah lagi harum musk yang menguar dari tubuh Adit, membuat otak Chika sedikit bergeser hingga lupa beristighfar karena jarak mereka yang terlampau dekat.
"Mau buat sarapan apa?". Adit pun memutuskan lebih dahulu memecahkan kecanggungan diantara mereka berdua.
__ADS_1
"Kak Adit mau dibuatkan apa?". Chika balik bertanya.
"Kakak nggak biasa sarapan". Adit pun memilih duduk di kursi makan. Karena dapur dan ruang makan memang di satu tempat.
Chika mulai mengenakan apron pink kesayangan nya untuk mulai membuat menu sarapan, terutama untuk Oma yang memang Chika khusus kan sarapan dengan menu yang sehat.
Sayuran bening dan lauk yang lembut menjadi menu utama sarapan Oma, karena usia Oma yang menjelang 80 tahun, membuat Oma tidak bisa asal mengkonsumsi makanan. Dan tugas Chika lah mengontrol pola makan Oma.
"Mulai sekarang harus di biasakan sarapan Kak". Ucap Chika yang mulai memasak.
Pagi ini Dia akan membuat sayur bayam wortel dengan lauk salmon grilled kesukaan Oma Shinta.
"Kopi saja". Ucap Adit.
"Ish kopi itu bukan sarapan, tapi minuman". Protes Chika. Adit mengulum senyuman mendengar protes Chika yang sudah seperti seorang istri memarahi suami.
"Ya sudah kamu masak apa buat sarapan?". Chika menunjukkan bahan sayuran dan beberapa potong ikan salmon yang sudah siap di olah nya.
"Sayur bayam wortel sama salmon grilled". Adit mengangguk pelan.
"Tapi Kakak nggak suka sayur bayam, Ka". Chika membulatkanmatanya kepada Adit mengisyaratkan kepada Adik bahwa tidak ada penolakan menu sarapan pagi ini.
"Iya iya. Kakak sarapan sesuai yang kamu masak". Ucap Adit pasrah dan menerima kenyataan kalau dia harus memakan sayuran yang tidak di sukai nya. "Tambahkan wortel yang agak banyakan Ka" Chika mengangguki ucapan Adit.
"Mau di buatkan kopi juga?". Tanya Chika karena melihat Adit sibuk dengan HP nya.
"Boleh, kopi hitam 2 sendok kecil sama gula nya 1/2 sendok kecil". Ucap Adit, Chika pun mengangguk dan segera membuatkan kopi buat Adit.
"Silahkan". Chika menyodorkan kopi buatan nya di hadapan Adit.
"Makasih Liby". Ucap Adit. Lagi-lagi panggilan Liby sukses membuat wajah Chika menjadi merah merona.
"Assalamu'alaikum". Sapa Oma saat tiba di ruang makan.
"Waalaikumsalam Oma". Sahut Chika dan Adit bersamaan.
Adit pun beranjak dari duduk nya. Dia segera menghampiri Oma Shinta dan membawanya ke kursi yang biasa di duduki Oma.
"Mbak Iyah kemana Chika?". Tanya Oma saat akan duduk di kursi yang Adit siapkan.
"Semalam Mbak Iyah chat Chika, kalau sehabis shubuh mau pergi kepasar dengan Pak Yono Oma". Jawab Chika mulai mengambilkan nasi untuk Oma dan juga Adit.
"Segini cukup Kak?" Adit mengangguk.
"Sarapan yang banyak Dit". Lagi-lagi Adit mengangguk.
__ADS_1
"Ngangguk melulu udah kaya burung pelatuk Kamu". Adit tersenyum meringis mendengar celotehan Oma nya.
"Oh iya Dit. Oma rencana nya mau menerima lamaran Dito buat Chika. Gimana menurut Kamu?".
Adit dan Chika yang sedang mengunyah pun langsung tersedak.
"Kok mendadak Oma?". Tanya Adit dan Chika bersamaan.
"Bukan nya Oma sudah setuju dengan rencana Adit?". Adit pun kembali mengajukan pertanyaan.
"Ngak baik nolak jodoh kan?". Adit mengepalkan tangan nya di bawah meja saat mendengar ucapan Oma Shinta.
"Gimana menurut Kamu Chika?". Chika terdiam namun sesekali tatapannya diarahkan kepada Adit yang saat ini sedang menatap nya dengan tatapan seolah tolak keinginan Oma.
"Chika terserah Oma saja. Kalau memang itu baik untuk Chika, InsyaAllah Chika siap Oma".
Adit terlihat kecewa dengan jawaban Chika. Dia pun beranjak dari duduk nya tanpa menghabiskan sarapan nya.
"Mau kemana Kamu Dit". Seru Oma namun tak di hiraukan Adit yang terus berjalan meninggalkan ruang makan.
Oma menahan Chika yang hendak mengejar Adi. "Biar Oma yang bicara dengan Adit". Chika mengangguk pasrah.
Chika merutuki diri nya yang menyetujui keinginan Oma Shinta. Dia tidak kuasa jikalau menolak keinginan orang yang sudah menjaga dan merawat nya sejak kecil.
Namun hati kecil nya hanya bisa berontak ingin menolak tanpa bisa berucap.
"Dito lelaki yang baik. Oma yakin Dia bisa menjadi imam yang baik buat Kamu". Chika mengangguk lemah.
########
Chika merebahkan tubuh nya di atas ranjang nya. Percakapan dengan Oma selepas Adit pergi meninggalkan sarapan membuat nya bingung.
Di satu sisi Dia tidak ingin Oma kecewa karena Dia menolak lamaran Dito. Namun di satu sisi, dia pun tidak bisa menolak pesona juga rasa yang kini ada untuk Adit.
Tok... Tok... Tok
"Chika". Chika beranjak dari pembaringan nya saat mendengar suara Adit dari balik pintu.
"Kak Adit". Gumam Chika
########
JANGAN LUPA DI LIKE YA
########
__ADS_1